Kamis, 23 Juli 2026

Menilik Kembali Media Sosial dan Market Place yang Dilahirkan Internet

 


Media sosial kian berkembang sejalan dengan perkembangan internet. Kemudahan akses terhadap internet membuat media sosial menjelma menjadi beragam wujud dan kian besar dampaknya bagi manusia.


Tak berlebihan jika dampak media sosial bisa melahirkan sebuah generasi yang betul-betul "baru" dan belum pernah ada sebelumnya. Jika kalian tidak percaya dengan pernyataan tersebut, kalian bandingkan saja "model" generasi orang tua kita dengan sebuah generasi yang berlabel Gen Z.

Generasi ini lahir dan berkembang di tengah internet menjelma menjadi sebuah kebutuhan pokok baru.


Layaknya semua hal di dunia, perkembangan internet dan media sosial juga memiliki dua sisi yang berbeda, sisi baik dan dampak buruk di sisi lainnya. Kalian bisa mencari sendiri artikel terkait hal ini. Di tulisan ini saya hanya akan membahas dalam dua aspek saja, dari aspek ekonomi dan sosial. 


Pada ranah ekonomi perkembangan internet dan sosial media mampu melahirkan sebuah interaksi pasar yang belum pernah ada sebelumnya. Jaman dahulu sebuah pasar bekerja dengan interaksi fisik antara penjual dan pembeli. Namun hal ini berubah total dengan lahirnya loka pasar atau market place di dalam jaringan internet. Sebuah pasar baru mampu menjalankan transaksi jual beli hanya melalui interaksi dalam jaringan.


Pola interaksi ini membuat transaksi berjalan jauh lebih cepat dan efisien. Hal ini pada akhirnya mampu mendongkrak volume transaksi di sebuah pasar dan akhirnya ekonomi bergerak lebih cepat. Pada masa pandemi, ketika segala interaksi fisik sangat dibatasi, market place mampu bergerak bahkan jauh lebih aktif.


Market place menjelma menjadi sebuah kekuatan bisnis yang mampu menggerakkan pelaku usaha lain seperti penjual dan perusahaan kurir atau logistik yang berperan aktif menopang distribusi barang dari penjual ke pembelinya. Digadang gadang market place lah yang menjadi penyelamat bisnis logistik yang sempat meredup.


Berbarengan dengan kenaikan volume transaksi di market place, perusahaan penyedia loka pasar juga mempermudah terjadinya transaksi, mulai dari cara pembayaran perbankan daring atau online ataupun pembayaran melalui toko-toko minimarket atau agen pembayaran resmi yang bekerjasama dengan bank dan loka pasar.  Puncaknya terciptalah sebuah "hal" baru yang bernama dompet elektronik atau e wallet yang merupakan wadah lain dari uang cash kita yang dulu lazimnya ada di dompet saku kita atau di rekening bank kita.


Market place juga mampu memberikan kontribusi positif bagi penjualan barang-barang dari industri lokal atau bahkan para pelaku UMKM. Beberapa market place bahkan menyediakan halaman khusus untuk penjual barang asli buatan dalam negeri dan para pelaku UMKM lainnya. Dan label 100% Indonesia atau Bangga Lokal sering kali disematkan sebagai pemikat bagi usaha pemasaran mereka.


Penulis pribadi pun termasuk yang tergoda untuk mencoba belanja melalui halaman tersebut. Menurut pengamatan penulis, maraknya media sosial juga mampu membakar semangat untuk mencintai produk-produk lokal, gerakan ini juga diperkuat oleh market place dan dengan salah satu cara seperti yang di atas telah penulis singgung.


Namun kolaborasi antara market place dan media sosial juga mampu meningkatkan kecenderungan kita untuk menjadi lebih boros, dan cenderung konsumtif yang membabi buta hehehe. Okay contoh ya dari pengalaman pribadi saya, terkadang saya sering kali membeli sebuah barang dengan alasan barang tersebut sedang diskon atau ada promo bundling dari market place misalnya atau ada potongan harga dengan membeli melalui transaksi dengan menggunakan e wallet tertentu misalnya, padahal jika saya pikir kembali sebetulnya saya belum terlalu perlu untuk membeli barang tersebut.


Contoh perilaku konsumtif di luar nalar yang lain adalah kita jadi ikut-ikutan membeli sebuah barang karena idola kita di sosial media membeli barang tersebut atau memang mereka mempromosikan barang tersebut lewat akun media sosial mereka.


Nah kecenderungan menjadi konsumtif tersebut akhirnya melahirkan pula sebuah hal baru yang bernama "pinjol" atau pinjaman online. Skema berhutang yang terjadi dalam sebuah jaringan internet.


Bahkan market place juga memberikan pelayanan serupa dengan nama pay later atau kalian bisa membeli dulu barang inceran kalian kemudian bayar kemudian. Pinjol ini akhirnya mampu menelan korban yang tidak sedikit loh. Banyak sudah para korban yang akhirnya terjerat hutang dan akhirnya gagal membayar hutang yang terlanjur menumpuk dan senantiasa berbunga. Ngeri yaa!


Nah semua hal di atas yang digerakkan oleh market place diperkuat gaungnya oleh sosial media. Tiap market place menjadikan media sosial apapun bentuknya sebagai corong promosi mereka.


Ditambah dengan penggunaan artis, influencer, selebgram ataupun nama lainnya yang merujuk ke para pengguna media sosial yang memiliki banyak pengikut dan mampu "menggerakan" orang lewat media sosialnya. Mereka sangat berperan dalam memperkuat gaung promosi si market place. Kombinasi hal di atas lah yang menjadi racun dahsyat untuk mendorong kita berperilaku lebih konsumtif.


Itu semua mungkin dampak positif dan negatif dari aspek ekonomi. Kemudian bagaimana internet dan media sosial berdampak di sektor sosial? Di bawah saya akan mencoba menulisnya dalam perspektif saya dan dari kapasitas dan kapabilitas otak saya yang sangat terbatas hehehe.


Di awal saya sudah menyinggung mengenai sebuah generasi baru yang berlabel Gen Z. Yap generasi ini merupakan sebuah generasi yang lahir di era internet amat sangat jamak digunakan oleh semua kalangan. Di atas saya berpendapat bahwa generasi ini lahir dimana internet telah merangkak naik ke lapisan kebutuhan primer/pokok.


Beberapa sumber di internet mengatakan generasi ini adalah mereka yang lahir pada rentang waktu tahun 1996 sampai dengan 2009. Dari rentang waktu tersebut, usia tertua dari gen z saat awal tahun 2023 sekitar 26 tahunan. 


Kemudian apa yang membuat mereka berbeda dengan generasi sebelumnya, katakanlah dengan penulis yang masuk dalam kategori milenial. Okay pandangan penulis secara pribadi yang penulis rangkum dari sumber-sumber di internet, Gen Z merupakan generasi yang mengalami paparan perkembangan internet mungkin hampir sepanjang hidupnya. Dengan kata lain dosis mereka mengonsumsi internet paling besar ketimbang milenial katakanlah. 


Sebagai contoh, misal gen Z yg lahir di tahun 1996, saat tahun 2009 mungkin mereka sudah duduk di bangku SMP. Dan saat itu internet sudah mulai jamak dikonsumsi, artinya internet mungkin sudah banyak dipasang di rumah-rumah. Bandingkan ketika saya seusia mereka, mungkin internet masih belum banyak menjangkau rumah. Dan hanya di warnet lah kita bisa berselancar di dalam jaringan internet. Dan itupun terbatas secara waktu. 


Okay kemudian apa dampak dari paparan internet dosting tersebut?! Hhm pertama, mereka merupakan generasi yang mudah mendapatkan informasi melalui internet, informasi apapun bisa mereka dapatkan dengan mudah melalui internet. Sebagai contoh, misal di usia saya SMP, saat saya gemar mengikuti perkembangan liga Italia, dan ingin mengetahui hasil pertandingan dari team favorit, mungkin sumber informasi pertama saya adalah dari berita di TV atau ulasan lebih lengkapnya bisa dibaca dari tabloid olahraga. Namun gen z bisa mendapatkan berita tersebut dengan lebih cepat dan lengkap melalui jaringan internet.


Sumber informasi yang melimpah tersebut menjadikan mereka cepat mengenal dan mempelajari hal-hal baru, baik terkait dengan kesenangan pribadi mereka atau bahkan hal-hal terkait pendidikan.


Faktor sumber informasi yang melimpah tadi pada akhirnya membuat generasi milenial dan juga gen z berkembang menjadi generasi yang mandiri. Namun apakah hal ini membuat mereka mudah menjadi "ahli" dalam suatu bidang?! Jawabannya tentu tidak.


Sekalipun pasokan informasi penunjang keilmuan dan skill mudah sekali didapatkan para gen z, namun pasokan yang sangat melimpah di dunia internet membuat kami milenial dan juga gen z mengalami tsunami informasi yang terlampau banyak. 


Hal ini membuat kelelahan dalam menyortir informasi yang dinilai paling berguna, sehingga pada akhirnya kami hanya mengulik sedikit dan akhirnya cukup sering tidak dituntaskan. Ditambah lagi keengganan untuk mengulik informasi pelengkap yang biasanya ada dalam format tulisan.


Hal yang tadi disebutkan di atas membuat kami menjadi generasi yang banyak tahu sekedar kulitnya saja tanpa jauh menyelam lebih details dan mencoba mempraktikan dalam tindakan nyata sebagai tahapan dalam mengasah skill tadi.


Segala informasi yang teramat mudah didapatkan tadi membuat kami menjadi generasi yang ingin segalanya cepat dan mudah alias instan, namun di antara generasi kami yang tergolong tekun, ada juga yang mengulik jauh lebih dalam dan pula rajin mengasah skill mereka. Dan dari hasil pengamatan minim dari penulis, populasi mereka yang tekun amat sangat sedikit jumlahnya.


Sikap dan perilaku “instan” dari gen z dan mungkin juga milenial menciptakan dinamika interaksi baru di lingkungan pekerjaan. Gap generasi yang ada di lingkungan pekerjaan, seringkali membuat gen z dilabeli sebagai generasi yang sulit diajak bekerjasama. Sulit menerima tanggung jawab baru, dirasa sok pintar, namun hasil kerjanya berantakan.


Hhm mengenai dinamika interaksi di atas, penulis pribadi berpendapat bahwa gen z sebetulnya lahir sebagai pribadi yang punya bakat alami sebagai “fast learner”. Sebab mereka amat terbiasa untuk mandiri mencari sumber penyelesaian pekerjaan mereka namun sayangnya mereka amat minim mendapat bimbingan teknis terkait skill mereka dari para generasi di atas mereka.


Selaras dengan yang saya ucapkan di atas bahwa, segela info, tutorial, panduan dan lainnya mudah mereka dapatkan dengan bantuan internet dan media sosial, yang mereka kurang hanya perkara berlatih untuk mempraktikkan “modal” tadi sehingga menjadikan skill baru bagi mereka. Dan jangan lupa perkara praktiknya mereka yang kurang baik, boleh jadi ada andil kita-kita juga yang lebih tua. Kita kadung menganggap mereka sulit diajak bekerjasama sehingga bimbingan dari kita ke mereka minim sekali. Hai para milenial dan generasi yang lebih tua, sadarkah kalian bahwa dunia kerja bagi gen z merupakan hal baru yang sedang mereka alami di hidupnya?!


Okay sekarang apa sih yang aneh pada pola interaksi mereka dengan generasi yang berbeda di dalam lingkup pekerjaan? Gen z tumbuh dengan kemudahan akses ke dunia informasi, hal ini menjadikan mereka punya bakat alami menjadi seorang fast learner dan menjadikan pribadi yang sangat mandiri. Kemandirian mereka memberikan kesan bagi kita yang lebih tua sebagai sebuah sikap yang dinilai kurang kolaboratif. 


Padahal perkara kerjasama, di dalam pikiran penulis pangkal masalahnya adalah komunikasi. Hahaha klise banget ya, tapi coba jika kita renungkan, gw yakin akan sampai pada titik itu juga kok. Kita milenial yang tumbuh dalam budaya “nongkrong” mulai dari era sekolah, kampus, sampai di masyarakat mustinya mampu berperilaku lebih luwes ke mereka dong, baik interaksi dalam konteks pergaulan dan kudunya mampu memilah metode komunikasi yang paling efektif dan “nyambung”.


Ingat frens, pengalaman interaksi gen z terbesar boleh jadi ada di dalam media sosial, mereka mungkin sedikit bergaul dengan para senior di lingkungan tongkrongan, mereka mungkin ga pernah banyak hidup dalam lingkup pergaulan yang sarat dengan tekanan senioritas, jadi wajar mereka kurang luwes dalam bergaul. 


Nah kita yang kenyang bergaul, musti sabar dan pelan-pelan menjalin interkasi dan komunikasi yang efektif dengan adik kita tadi.


Okay segini dulu ya, ini merupakan pendapat pribadi dari penulis ya, masih jauh dari sempurna dan perlu ditelaah dan sangat perlu dikritisi ulang. Semoga interaksi sempurna antara kita milenial yang merupakan populasi terbesar di rata-rata kantor dengan adik kita yang gen z mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih maju sehingga bonus demografi bisa diraih.


Adios frens, sampai ketemu di tulisan dan cerita yang lain yak.










Selintas mengenai fungsi XLOOKUP pada EXCEL

Kenapa XLOOKUP Adalah "Raja Baru" Excel: 5 Alasan Buat Meninggalkan VLOOKUP Selamanya!

Halo manteman, balik lagi di tulisan gw! Bagi banyak pengguna Excel, apalagi buat gw yang sehari-hari bekerja dengan data di excel yang perlu diolah, formula pencarian data itu sering kali menjadi sumber rasa cemas. Apakah kalian pernah merasa tertekan saat harus mengubah struktur tabel karena takut formula VLOOKUP kalian bakal rusak? Atau mungkin bosan melihat tugas atau laporan kerja dipenuhi pesan error #N/A yang membuat tampilannya menjadi tidak profesional?

Sebagai orang yang lumayan suka mengulik biar kerjaan lebih efisien, gw mau memperkenalkan kalian pada XLOOKUP. Ini bukan sekadar pembaruan kecil frens, tapi ini solusi revolusioner yang memangkas kerumitan dan membuang jauh-jauh aturan kaku VLOOKUP atau kerumitan INDEX/MATCH. Mari kita bedah kenapa formula ini layak menjadi investasi waktu terbaik buat produktivitas kalian!

1. Selamat Tinggal Batasan "Mencari ke Kanan"

Kelemahan paling nyebelin dari VLOOKUP adalah sifatnya yang kaku banget: doi cuma bisa mencari data ke arah kanan dari kolom referensi. Kalau kolom kunci ada di tengah dan data yang kalian butuhkan ada di sebelah kirinya, kalian terpaksa memindahkan kolom secara manual. XLOOKUP menghapus beban pikiran ini sepenuhnya!

Dengan memisahkan antara kolom tempat mencari data (lookup_array) dan kolom hasil yang ingin ditampilkan (return_array), kalian memiliki kebebasan total. Misalnya nih, kalian mengetahui Nama karyawan (kolom B) dan ingin mencari ID-nya yang terletak di sebelah kiri (kolom A), XLOOKUP bisa melakukannya tanpa kedipan mata.

"XLOOKUP bebas mencari ke arah mana saja."

2. Manajemen Error yang "Bersih" Tanpa IFERROR

Di masa lalu, buat menyembunyikan pesan kesalahan #N/A saat data tidak ditemukan, kita harus "membungkus" formula dengan fungsi IFERROR. Asli, ini membuat formula menjadi panjang, berbelit, dan susah diperbaiki. XLOOKUP menyederhanakan penulisan ini lewat argumen keempatnya, yaitu [if_not_found].

Sekarang, kalian tidak perlu lagi membungkus formula. Cukup memasukkan teks seperti "Data Tidak Ditemukan" langsung ke dalam fungsinya. Kalau data gak ada, Excel bakal menampilkan pesan rapi tersebut. Fitur ini menjaga laporan kalian tetap terlihat profesional, sekaligus menghemat waktu kalian dalam menyusun logika formula hahaha.

3. Satu Formula, Banyak Hasil (The Spill Effect)

Pernah ga sih kalian harus menarik data Nama, Departemen, dan Gaji sekaligus buat satu ID karyawan? Kalau pakai cara lama, kalian kudu menulis tiga formula berbeda di tiga kolom. Nah, XLOOKUP memperkenalkan efisiensi lewat fitur Spill Array.

Kalian cukup menentukan return_array yang mencakup rentang beberapa kolom sekaligus. Kalian cuma perlu mengetik formula satu kali di sel pertama. Excel secara otomatis bakal memunculkan seluruh hasil ke sel-sel di sebelahnya secara berurutan. Ini bener-bener menghemat waktu dan meminimalisir risiko kesalahan pengetikan formula frens!

4. Pencarian Cerdas Menggunakan Wildcard

Manusia mah sering kali lupa detail data yang sempurna ya kan. Kalau kalian cuma ingat nama klien dimulai dengan "An...", kalian gak perlu lagi mencari satu per satu. XLOOKUP ini terasa jauh lebih pintar karena mendukung pencarian sebagian kata menggunakan tanda bintang (*).

Dengan menggabungkan tanda bintang pada lookup_value (misalnya "An*") dan mengaktifkan match mode angka 2, XLOOKUP bakal memahami kalau kalian sedang mencari data yang diawali dengan huruf tersebut. Fitur ini sangat membantu pas kita berurusan sama basis data yang super besar.

5. Kekuatan Koordinat dengan Two-Way Lookup

Buat pengguna tingkat lanjut, mencari data berdasarkan baris dan kolom sekaligus (matriks) itu tantangan tersendiri. Dulu, kita kudu bergelut sama kombinasi INDEX/MATCH yang legendaris tapi bikin pusing logika luar-dalamnya. XLOOKUP menyederhanakan metode pencarian dua arah ini menjadi jauh lebih logis.

Bayangkan kalian memiliki tabel pendapatan cabang per kuartal. Buat menemukan angka penjualan Bandung di Q3, kalian cukup menggabungkan dua XLOOKUP (Nesting). Metode ini jauh lebih masuk akal: kalian cukup bertanya, "Mencari di kolom mana?" lalu "Mencari di baris mana?". Hasilnya adalah titik potong yang akurat.

"Two-Way Lookup ibarat mencari titik koordinat pada peta. XLOOKUP membuat proses ini jauh lebih intuitif karena kalian hanya menggabungkan dua logika dasar."

Kesimpulan

Oke manteman, intinya XLOOKUP ini bukan sekadar formula tambahan; doi adalah standar baru efisiensi bagi siapa pun yang serius bekerja menggunakan data. Dengan segala fitur ajaibnya, XLOOKUP adalah alat yang bakal membuat kalian terlihat kaya ahli banget di mata rekan kerja atau dosen hehehe.

Ini kite kasih lagi bonus infografis yang digenerate via Google Notebooklm.





Kalau ada alat yang lebih cepat, aman dari kesalahan, dan jauh lebih mudah dibaca, apakah kalian masih mau bertahan dengan cara lama yang kaku? Hhm kayanya segini dulu celotehan gw kali ini. Beralih ke XLOOKUP adalah pernyataan tegas kalau kalian siap menaklukkan kompleksitas tugas masa kini. Terima kasih sudah membaca, dan terus bergerak maju!

Merawat Batre Laptop (Bonus) Infografis dari Google Notebooklm

Halo Frens, buat kalian yang biasa menggunakan laptop sebagai alat bantu kerja kalian sehari-hari pastinya pernah berurusan dengan batre yang gampang lowbat.

Masalah seperti ini sebetulnya amat lumrah dan sering terjadi jika kita menggunakan peralatan elektronik yang memiliki batre sebagai sumber tenaganya.

Contoh deh masalah lowbat pada batre handphone kalian. Ini masalah udh dari jaman masih dumbphone nya Nokia sudah terjadi bahkan hingga era smartphone sekarang ini.

Namun jahatnya industri elektronik saat ini tidak memudahkan kita untuk mengganti batre kaya jaman nokia dulu, saat ini batre smartphone sudah ditanam di dalam device sehingga jika sudah mulai error kita agak susah untuk menggantinya. Beda dengan jaman dulu yang memang Batrenya si HP didisain untuk bisa digonta ganti dengan mudah. Begitu pun dengan batre laptop jaman sekarang.

Nah berhubung batre ori baik untuk HP atau laptop cukup mahal dan bisa menguras kantong kalian, baiknya kita ketahui nih tip-tips untuk merawat batre agar lebih awet dan tidak cepat rusak.

Dari hasil baca-baca, inti dari ngerawat baterai itu sebetulnya cuman dua hal aja frens: mengelola siklus pengisian daya sama menjaga suhu laptop biar kaga kepanasan. Cekidot tips lengkapnya di bawah ini!


1. Kebiasaan Charging yang Bener

Yap, ini aturan main pertama. Usahakan buat menjaga persentase daya baterai kalian di kisaran 20% sampai 80%. Asli, hindari kebiasaan membiarkan baterai benar-benar habis (0%) atau malah dicolok terus-terusan sampai mentok 100%. Mengisi daya pas udah mencapai 20% dan mencabutnya pas di 80% itu ternyata bisa mengurangi tekanan pada sel baterai loh.

Terus, usahakan selalu menggunakan charger bawaan yang asli ya. Jangan tergiur charger abal-abal dari pihak ketiga yang kaga sesuai spesifikasi, bisa mokat tuh baterai dan komponen internal laptop kalian hahaha. Oh ya, kalau laptop modern kalian punya fitur smart charging (yang otomatis membatasi pengisian daya di angka tertentu), mending diaktifkan saja fiturnya.


2. Jaga Suhu Laptop, Jangan Sampai Kepanasan!

Musuh bebuyutan baterai lithium-ion itu adalah suhu panas manteman. Suhu yang terlalu tinggi bisa menyebabkan degradasi alias penurunan kapasitas baterai kalian secara permanen.

Nah, kebiasaan yang sering banget kita lakuin nih: menggunakan laptop di atas kasur, selimut, atau bantal. Hhm, mending dihindari deh, soalnya itu bakal menghalangi ventilasi udaranya. Gunakan di atas meja atau pakai cooling pad sekalian. Menggunakan laptop pas lagi di-charge sebetulnya aman-aman saja, tapi ya jangan sambil dipakai buat kerjaan berat kaya main game atau rendering video, ntar suhunya malah naik drastis. Pastikan juga kalian menjauhkan laptop dari sinar matahari langsung ya.


3. Ngatur Sistem dan Kebiasaan Pemakaian

Oke, lanjut ke urusan software nih. Jangan ragu buat menggunakan mode Battery Saver yang ada di Windows atau macOS kalian. Mode ini lumayan membantu menghemat daya dengan membatasi aktivitas aplikasi di belakang layar.

Terus, rajin-rajinlah menutup aplikasi yang ngga dipakai. Layar juga termasuk komponen yang paling boros daya, jadi menurunkan tingkat kecerahan ke level yang nyaman di mata itu ngaruh banget buat menghemat baterai. Matikan juga Wi-Fi atau Bluetooth kalau lagi ngga digunakan. Terakhir, kalau kalian berencana meninggalkan laptop dalam waktu lama, mending di-shut down atau hibernate aja sekalian ketimbang dibiarkan masuk mode sleep yang diam-diam masih mengonsumsi daya.


4. Kalibrasi Buat Baterai Jadul

Nah, khusus buat kalian yang pakai laptop dengan baterai yang usianya sudah lumayan tua, kadang indikator persentase dayanya suka ngga akurat kan? Kalian bisa melakukan kalibrasi.

Caranya gampang: biarkan baterai kosong sampai laptop mati sendiri, terus isi dayanya sampai penuh 100% tanpa menggunakan laptopnya sama sekali. Lakukan trik ini setiap beberapa bulan sekali biar indikatornya kembali akurat frens.


Penutup

Dengan menerapkan akal-akalan di atas, gw jamin laptop kalian ngga cuma panjang umur baterainya, tapi performanya juga bakal tetap asik buat menemani keseharian kalian dalam jangka waktu yang lebih lama.

Okay, demikian sebuah kiat untuk merawat batre laptop kalian semoga bermangpaat, akhir kata kite ucapkan terima kasih buat manteman yang sudah membaca tips yang sebetulnya udah banyak orang tahu juga hahaha.




 

Rabu, 22 Juli 2026

HOMO DEUS BAB 1 (Sebuah Rangkuman)



Frens adakah di antara kalian yang telah membaca karya-karya Pak Yuval Noah Harari? Btw gw udh kelar baca satu buku beliau yang berjudul Sapiens. Dan nih buku keren frens, buat lo yang seneng membaca gw sangat merekomendasikan buku ini, biar kalian tahu apa sih faktor paling menentukan yang membuat homo sapiens bisa bertahan sampai hari ini.

 

Tapi di kesempatan kali ini gw belum mau menulis tentang ringkasan versi gw dari buku Sapiens, tapi justru gw mau meringkas Bab 1 dari buku beliau yang berjudul Homo Deus (Buku kedua setelah Sapiens). Kebetulan nih buku masih in progress untuk gw selesaikan. Jadi simak aja dulu Bab 1 yang gw udh kelarin ye.

 

Oh ya ini ada sedikit informasi tentang Pak Yuval Noah Harari yang sebenernya sih bisa kalian googling sendiri di internet. Tapi gw copas aja di sini yah hasil pencarian gw.

 

Yuval Noah Harari adalah seorang sejarawan, filsuf, dan penulis sains populer asal Israel. Ia merupakan profesor di Departemen Sejarah Universitas Ibrani Yerusalem dan penulis buku mega-bestseller global seperti "Sapiens: A Brief History of Humankind", "Homo Deus", dan "21 Lessons for the 21st Century".

Lahir di Israel pada 24 Februari 1976, ia meraih gelar PhD di bidang sejarah dari Universitas Oxford pada tahun 2002. Harari dikenal luas karena kemampuannya merangkum sejarah manusia, biologi, dan masa depan peradaban secara komprehensif, multidisiplin, dan mudah dipahami oleh masyarakat umum.


Okay sekarang kita lanjut aja lah yah ke ringkasan Bab 1 dari buku HOMO DEUS nya Beliau. Dicek yah frens, kali aja ada yang memicu kalian untuk berpikir dan merenung. Atau bisa jadi ada hal yang bisa kalian bawa ke tongkrongan kalian untuk dibahas ketimbang kalian capek dan emosi bahas isu EMBEGE mulu ya kan!

 

Dari Makhluk Kelaparan Jadi Tuhan: 5 Transformasi Radikal Agenda Manusia ala 'Homo Deus'

Pernah ga sih kalian ngebayangin hidup di abad pertengahan? Selama ribuan tahun, eksistensi manusia tuh dikepung sama yang namanya aroma busuk kematian massal. Kalau kalian melihat lukisan The Triumph of Death yang isinya kerangka-kerangka menyeret kereta tengkorak, itu tuh bukan fiksi horor frens, tapi laporan realitas masa lampu tadi frens.



Kelaparan, wabah, dan perang itu ibarat trio maut yang dianggap takdir ilahi atau hukum alam yang kaga bisa dihindari. Doa jadi satu-satunya teknologi pertahanan yang kita miliki kala itu. Tapi yaa, hari ini kita lagi menyaksikan "pengkodean ulang" besar-besaran buat sistem operasi kemanusiaan kita. Di balik cahaya steril laboratorium bioteknologi di Silicon Valley sana, agenda Homo sapiens lagi mengalami pergeseran tektonik. Kita kaga lagi sekadar mencoba bertahan hidup; kita lagi bersiap untuk menjadi Tuhan.

Hhm, rada lebay sedikit sih mungkin pilihan istilahnya, tapi emang begitu kenyataannya hehehe. Yuk kita bedah 5 transformasi radikal yang lagi mengubah arah sejarah kita ini!

1. Kelaparan, Wabah, dan Perang: Dari Takdir Menjadi Kegagalan Politik

Dahulu pas wabah hitam menyapu Eropa, manusia cuman bisa bersimpuh pasrah. Kematian adalah misteri metafisis. Tapi coba deh kalian perhatikan statistik hari ini yang bakal bikin nenek moyang kita terperangah: saat ini, lebih banyak orang meninggal karena obesitas ketimbang kelaparan, dan lebih banyak orang meninggal karena bunuh diri ketimbang menjadi korban perang atau terorisme!

Perubahan ini bukan sekadar kemajuan medis sih menurut gw, tapi lebih ke pergeseran akuntabilitas. Kalau hari ini terjadi kelaparan massal, kita kaga lagi menyalahkan Tuhan karena menahan hujan; kita menyalahkan pemerintah karena gagal dalam logistik dan kebijakan. Kelaparan kini dianggap sebagai kejahatan politik, bukan bencana alam. Perang pun, buat sebagian besar negara maju, bukan lagi keniscayaan ekonomi melainkan cuman "kekhilafan teknis" dalam diplomasi.

“Umat manusia tidak lagi memandang bencana sebagai hukuman Tuhan, melainkan sebagai kegagalan manajemen yang bisa dievaluasi.”

2. Kematian Itu Cuman Kesalahan Teknis, Bukan Keniscayaan Metafisis

Selama ribuan tahun, kematian tuh dipandang sebagai momen sakral, transisi jiwa yang diputuskan sama otoritas langit. Sains modern menghancurkan ilusi itu. Melalui lensa mikroskop, kita kaga melihat malaikat maut; kita cuman melihat patogen, kegagalan oksidasi, atau mutasi seluler.

Nah, kalau kematian adalah kegagalan sistem biologis, maka secara teoretis, ia bisa "disembuhkan" dong. Ambisi manusia kini bergeser dari sekadar memperpanjang usia menjadi upaya mencapai keabadian (immortality). Kematian bukan lagi hukum alam frens, melainkan "kesalahan teknis" yang menunggu solusi teknologi. Bayangkan dampaknya: kalau manusia mulai menginvestasikan triliunan dolar untuk menyembuhkan penuaan, seluruh struktur sosial kita—dari kontrak pernikahan sampai sistem pensiun—bakal runtuh dan harus didesain ulang dari nol. Pusing ga tuh bayanginnya hahaha.

3. Kolonisasi Biologi: Planet Sebagai Unit Produksi Raksasa

Keberhasilan agenda manusia ini ternyata harus dibayar dengan harga yang mengerikan oleh penghuni bumi lainnya. Data yang dikumpulkan Pak Yuval menunjukkan dominasi biomassa yang njomplang banget:

·        Manusia: 300 juta ton.

·        Binatang Ternak (Sapi, Babi, Ayam): 700 juta ton.

·        Hewan Liar (Gajah, Paus, Singa): kurang dari 100 juta ton.

Ironisnya, kita menganggap diri kita sebagai spesies paling bermoral, sementara kita telah mengubah planet ini menjadi pabrik raksasa. Hewan-hewan yang memiliki perasaan kini hanya dianggap sebagai bahan baku dalam lini produksi industri peternakan yang mekanis. Kita telah "mengkolonisasi" biologi itu sendiri, mendesain ulang alam liar menjadi sistem pendukung bagi ambisi Homo sapiens.

4. Pencarian Kebahagiaan Lewat Manipulasi Biokimia

Setelah perut kenyang dan kematian bisa ditunda, agenda berikutnya adalah kebahagiaan abadi (bliss). Tapi masalahnya, evolusi tidak mendesain kita untuk bahagia; ia mendesain kita untuk bertahan hidup. Itulah sebabnya kita sering terjebak dalam hedonic treadmill—di mana pencapaian hebat cuman memberikan kepuasan sesaat sebelum kita menginginkan lebih.

Untuk memutus rantai evolusi ini, manusia mulai melakukan eksperimen biokimia internal. Perhatikan deh eksperimen pada tikus dalam wadah air; kegigihan dan perasaan "puas" mereka dapat dimanipulasi melalui zat kimia. Kita mulai memperlakukan otak manusia bukan sebagai kuil kesadaran, melainkan sebagai bejana kimia yang bisa diatur. Targetnya jelas: jika mengubah lingkungan tidak membuat kita cukup bahagia, maka kita akan mengubah biokimia otak kita sendiri agar tetap berada dalam kondisi kepuasan permanen. Asli, ngeri-ngeri sedap ya!

5. Menjadi 'Homo Deus': Evolusi Menuju Manusia Tuhan

Puncak dari transisi ini adalah ambisi untuk melakukan upgrade besar-besaran. Kita kaga lagi puas menjadi Homo sapiens. Kita ingin menjadi Homo deus. Tapi ingat ya, "Menjadi Tuhan" di sini bukan berarti menjadi sosok spiritual yang maha kuasa, melainkan memiliki kendali teknis total atas kehidupan.

Bayangkan kekuasaan raja-raja Asyur kuno dalam relief perburuan singa. Bagi mereka, kemampuan untuk mengendalikan hidup dan mati atau memprediksi masa depan adalah mukjizat dewa. Hari ini, apa yang dulu dianggap sebagai kekuatan ilahi para Firaun hanyalah sebuah fitur standar dalam pengaturan algoritma atau rekayasa genetika kita.

Melalui perpaduan Kecerdasan Buatan (AI) yang mengemudikan mobil kita dan bioteknologi yang mampu mengedit DNA, kita sedang membangun kemampuan untuk mencipta dan menghancurkan kehidupan sesuai keinginan. Kita kaga lagi membutuhkan Tuhan yang duduk di atas awan jika kita memiliki algoritma yang bisa memprediksi setiap detak jantung dan keinginan kita.

Penutup: Tanggung Jawab atas Kekuatan Baru

Kita ini sedang berakselerasi kenceng banget frens, dari makhluk yang gemetar ketakutan karena kelaparan menjadi spesies yang memegang kendali atas biologi dan teknologi. Selama ribuan tahun, kemanusiaan kita dibentuk oleh keterbatasan. Sekarang, saat batasan-batasan itu runtuh, kita menghadapi pertanyaan eksistensial yang buat gw pribadi sangat provokatif:

"Jika kita benar-benar memiliki kekuatan teknis untuk menjadi Tuhan, spesies seperti apa yang ingin kita ciptakan, dan apa yang akan tersisa dari kemanusiaan kita yang lama?"

Di dunia di mana kematian bisa dianggap sebagai interupsi teknis dan kebahagiaan bisa diprogram lewat pil, tanggung jawab untuk mendefinisikan makna hidup sepenuhnya jatuh ke pundak kita sendiri. Kita sedang menciptakan masa depan, tapi pertanyaannya, apakah kita akan tetap menjadi manusia di dalamnya?

Oke deh, berhubung kepala gw udah agak anget bikin ringkasan ini, gw udahin dulu tulisan kali ini ya. Nanti klo ada waktu senggang dan mood yang mendukung gw akan lanjutin Bab berikutnya. Tapi ya nunggu gw kelar baca dulu ya, yang sabar ya frens, maklum speed baca gw agak keong sih actually. Thanks yah udah mampir!

Berkenalan Lebih Jauh dengan Pajak Tangguhan (Deferred Tax)

 


Mengenal Pajak Tangguhan: Analogi "Voucher Diskon" dan "Tagihan Paylater"

Halo manteman, balik lagi di tulisan gw! Kali ini gw mau ngebahas sesuatu yang lumayan bikin dahi berkerut nih, apalagi buat kita-kita yang lagi berkutat sama laporan keuangan. Yap, ngomongin Pajak Tangguhan. Jujur aja, pas gw lagi membedah materi kuliah Akuntansi Keuangan Menengah 1, topik ini sempet bikin gw pusing sendiri hahaha.

Kenapa sih konsep ini terasa ribet banget dan sering jadi momok? Akar masalahnya sebetulnya sederhana: ada beda "kacamata" antara aturan negara (Fiskal) dan aturan internal perusahaan (Komersial). Di proses yang kita sebut Rekonsiliasi Fiskal, kita sering menemukan bahwa apa yang menurut buku akuntansi kita adalah biaya, menurut negara belum tentu boleh dikurangkan saat ini.

Perbedaan sudut pandang inilah yang menciptakan selisih. Tapi kabar baiknya, selisih ini bisa dijelaskan dengan logika yang sangat manusiawi kok, asalkan kita berhenti sejenak dari istilah teknis yang berat. Cekidot!

1. Inti Masalahnya Cuma Soal "Geser-Geser" Waktu

Pada dasarnya, Pajak Tangguhan ini lahir murni karena perbedaan waktu bayar. Negara sama perusahaan seringkali sepakat soal apa yang harus dipajaki, tapi mereka kaga sepakat soal kapan pajak itu harus diakui dan dibayarkan.

"Pajak Tangguhan itu cuma urusan geser-geser waktu bayar. Kalau negara memaksa kita bayar lebih mahal hari ini, itu jadi Aset (Deposit) buat kita karena besok-besok kita bayarnya lebih murah. Kalau negara ngasih keringanan bayar murah hari ini, itu jadi Kewajiban (Utang) karena besok-besok kita pasti ditagih sisa kekurangannya."

Jadi, alih-alih mengartikan ini sebagai denda atau pajak tambahan, mending kita anggap ini sebagai penyesuaian waktu biar laporan keuangan perusahaan mencerminkan realita ekonomi yang jujur.

2. Aset Pajak Tangguhan Tuh Ibarat "Voucher Diskon" Masa Depan

Coba kita pakai analogi beli tiket terusan ya. Bayangkan kalian masuk ke taman bermain. Menurut hitungan kalian (Akuntansi), kalian cukup membayar 5 tiket sesuai wahana yang mau dinaiki. Tapi, aturan taman bermain (Pajak) mewajibkan kalian membeli paket 10 tiket di muka.

Hari ini, uang tunai kalian emang keluar lebih banyak. Tapi kelebihan ini kaga hilang frens; kalian memegang sisa tiket tersebut sebagai Aset Pajak Tangguhan (DTA). Contoh nyatanya di neraca biasanya muncul dari Penyisihan Piutang Tak Tertagih atau Rugi Fiskal yang bisa disimpan sebagai pengurang pajak di masa depan.

Karakteristik utamanya kira-kira begini:

·        Kondisi Hari Ini: Perusahaan membayar pajak tunai ke negara lebih besar dari hitungan beban akuntansi internal.

·        Logika: Kita terlanjur bayar lebih sekarang, sehingga kita memiliki deposit atau tabungan.

·        Dampak Masa Depan: Tagihan pajak di tahun-tahun mendatang akan menjadi lebih ringan karena kita sudah punya "voucher" pengurang.

3. Kewajiban Pajak Tangguhan Adalah Fitur "Paylater" Perusahaan

Sebaliknya nih, ada kalanya negara memberikan kelonggaran. Pakai analogi "makan buka tab" alias paylater. Kalian makan senilai Rp50.000, tapi pemilik warung membolehkan kalian membayar Rp20.000 saja hari ini.

Uang tunai yang keluar hari ini emang sedikit, tapi kalian sadar ada sisa Rp30.000 yang tetap harus dibayar nanti. Nah, sisa inilah yang disebut Kewajiban Pajak Tangguhan (DTL). Walaupun uangnya belum keluar secara tunai saat ini, perusahaan wajib mencatatnya sebagai utang karena ini adalah beban yang pasti akan menagih kalian di masa depan.

4. Kaga Semua Perbedaan Melahirkan Pajak Tangguhan

Penting banget buat kita untuk memilah mana perbedaan yang sifatnya sementara dan mana yang permanen. Kalau perbedaannya adalah soal apakah suatu biaya diakui (seperti biaya sumbangan atau denda pajak), maka itu adalah Beda Tetap. Sampai kiamat pun, negara kaga akan mengakui biaya ini hahaha. Pajak tangguhan cuma muncul dari Beda Temporer, di mana ujung-ujungnya total akhir bakal sama persis.

Kriteria

Beda Tetap (Permanent)

Beda Temporer (Temporary)

Akar Masalah

Perbedaan pengakuan (Boleh vs Tidak)

Perbedaan waktu (Tahun Berapa)

Sifat

Mutlak dan Final

Sementara (Akan berbalik/terhapus)

Total Angka Akhir

Berbeda selamanya

Sama persis pada akhirnya

Dampak Pajak

Tidak ada Pajak Tangguhan

Menghasilkan Aset (DTA) atau Kewajiban (DTL)

5. Prinsip Kehati-hatian dan Aturan Main (PSAK 212)

Sebagai tambahan amunisi buat kalian, aturan ini sekarang mengacu pada PSAK 212. Ada tiga aturan emas yang wajib kita pegang:

·        Asimetri Pengakuan: Akuntansi itu sangat konservatif. Kalau ada potensi utang (DTL), kalian wajib mencatatnya. Tapi, kalau itu berupa aset (DTA/Voucher), kalian hanya boleh mencatatnya jika kondisinya sangat mungkin (probable) perusahaan akan menghasilkan laba di masa depan untuk memakai voucher tersebut.

·        Tarif Masa Depan: Ini poin krusial. Kita tidak menghitung pajak tangguhan menggunakan tarif hari ini secara buta, melainkan menggunakan tarif pajak yang diperkirakan akan berlaku saat aset tersebut dipulihkan atau kewajiban tersebut diselesaikan.

·        Aturan "Netting": Di neraca, kalian tidak bisa sembarangan mengurangkan DTA dengan DTL (saling-hapus). Hal ini cuma boleh dilakukan jika perusahaan memiliki hak legal untuk menyelesaikannya secara neto.

6. Contoh Nyata dalam Penyusutan Mesin

Biar makin kebayang, penyusutan ini contoh paling klasik dari "Paylater Pajak". Perhatikan alurnya:

1.      Beli Mesin: Harga Rp100.000.000.

2.      Fase Akumulasi (Tahun 1–4): Pajak memperbolehkan mesin disusutkan cepat dalam 4 tahun (Rp25 juta/tahun), sementara Akuntansi menyusutkannya 10 tahun (Rp10 juta/tahun). Karena beban pajak lebih besar, laba kena pajak jadi kecil. Kita membayar pajak lebih murah hari ini—nah inilah momen kita membangun "Utang Paylater" (DTL).

3.      Fase Pembalikan (Tahun 5–10): Secara pajak, mesin sudah habis disusutkan (beban nol). Tapi secara akuntansi, masih ada beban Rp10 juta/tahun. Di sinilah "tagihan paylater" datang; laba kena pajak akan lebih tinggi dan perusahaan harus membayar pajak lebih mahal daripada hitungan akuntansinya.

4.      Hasil Akhir: Di akhir tahun ke-10, total biaya penyusutan di kedua buku akan sama persis (Rp100 juta). Ini membuktikan kalau ini murni masalah waktu doang frens!

Penutup: Melampaui Angka di Neraca

Oke manteman, memahami pajak tangguhan ini sebetulnya adalah kunci buat memprediksi kesehatan arus kas di masa depan. Aset dan kewajiban ini selalu disajikan sebagai pos Tidak Lancar (Non-Current), mengingatkan kita bahwa ini adalah komitmen jangka panjang perusahaan dengan negara.

Sebagai penutup obrolan kita hari ini, coba deh tengok kembali laporan posisi keuangan kalian dan renungkan:

"Apakah saat ini perusahaan kalian sedang memegang banyak 'voucher diskon' yang bisa memperkuat arus kas, atau justru sedang menimbun 'utang paylater' yang tak terlihat dan siap menagih di masa depan?"

Semoga tulisan ini bisa memberikan efek recharged buat otak kalian ya! Terima kasih sudah membaca, dan terus bergerak maju!

BAB 2 Buku:TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764-1962

 


Halo Frens, gw mau melanjutkan rangkuman dari e book yang gw punya yang berjudul: TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764 – 1962

Ini buku merupakan karya dari Dr. Th. Stevens yang judul aslinya adalah Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands-Indiƫ en Indonesie 1764-1962.

 

Di rangkuman kali ini kita masuk ke Bab 2 yang berjudul “TRANSISI KE ZAMAN BARU 1870-1890”. Silahkan disimak ya, kali aja menemuka hal yang menarik dan layak untuk dimasukkan ke media penyimpanan pengetahuan di dalam otak kalian.

 

Jejak Modernitas yang Terlupakan: 5 Hal Tak Terduga dari Era Transisi Hindia Belanda (1870–1890)

Halo manteman, balik lagi di tulisan gw! Pernah ga sih kalian merasa kalau dunia zaman sekarang ini bergeraknya terlalu cepat? Menariknya, perasaan "akselerasi zaman" ini ternyata bukan monopoli generasi internet saja, lho. Di paruh kedua abad ke-19, penduduk Hindia Belanda juga merasakan guncangan yang sama.

Titik baliknya itu terjadi pada tahun 1869, saat Terusan Suez resmi dibuka. Jarak Eropa dan Asia Tenggara yang tadinya membentang ribuan kilometer mendadak menciut. Waktu tempuh yang tadinya butuh berbulan-bulan, sukses dipangkas hanya menjadi hitungan minggu. Transisi dari kapal layar ke kapal api ini bukan sekadar pergantian teknologi transportasi, tapi juga mengubah ritme kecepatan hidup. Dari periode 1870–1890 inilah lahir fondasi gaya hidup modern yang struktur dasarnya—mulai dari jam kerja kantoran sampai birokrasi yang gemuk—masih bisa kita temui sampai detik ini.

Yuk, kita bedah 5 hal tak terduga dari era transisi ini!

1. Runtuhnya "Budaya Bujang" dan Lahirnya Keluarga Modern

Sebelum tahun 1870, Hindia Belanda itu ibarat wilayah "pionir kaum lelaki". Karena perjalanan dari Eropa ke sini sangat sulit dan ada aturan ketat yang membatasi kedatangan pasangan menikah, sedikit sekali wanita Eropa yang menginjakkan kaki di tanah jajahan. Ujung-ujungnya, muncul deh "budaya bujang", di mana para pria Eropa biasanya hidup berdampingan dengan selir atau nyai. Sifat campuran ini sering terekam di foto-foto lama keluarga kolonial.

Namun, pembukaan Terusan Suez perlahan mengubah wajah sosiologis ini. Gelombang wanita Eropa "totok" mulai berdatangan, membawa serta standar moral dan struktur sosial baru yang lebih bernuansa Eropa. Komunitas yang tadinya lumayan membaur dan cair, perlahan bertransformasi menjadi masyarakat yang lebih kaku dan terpisah-pisah. Pertumbuhan orang Eropa di Jawa pun melonjak tajam, dari sekitar 44.000 jiwa di tahun 1860, melompat menjadi 91.000 jiwa pada tahun 1900.

2. Sisi Gelap Kolonial: Nasib "Golongan Paria" Indo-Eropa

Di balik kemegahan rumah-rumah berventilasi besar dengan lantai marmer, ternyata ada cerita sedih yang sering terabaikan. Tidak semua orang berdarah Belanda itu hidup mewah frens. Sejarawan Rob Nieuwenhuys sampai menggunakan istilah "golongan paria" untuk menggambarkan komunitas Indo-Eropa yang terpinggirkan akibat kalah bersaing dengan kaum "totok" yang baru datang.

Mereka banyak yang hidup dalam kemiskinan dan terjebak masalah sosial seperti penyelundupan opium. Ironisnya, meski secara hukum menyandang status "Eropa", sebuah penelitian mengungkap fakta mengejutkan: 41% anak Eropa yang masuk sekolah dasar sama sekali tidak bisa berbahasa Belanda. Mereka lebih akrab dengan bahasa daerah atau bahasa Melayu pasar. Realitas ini sukses membuat mereka makin tertekan di pasar tenaga kerja yang semakin menuntut kualifikasi formal.

3. "Amerika di Timur": Eksperimen Kewirausahaan di Deli

Sementara pemerintah pusat di Jawa tengah pusing mengurus krisis keuangan akibat biaya infrastruktur dan Perang Aceh yang sangat mahal, ada fenomena berbeda yang muncul di pesisir timur Sumatra. Di wilayah Deli, terjadi transformasi fisik yang sangat agresif. Hutan belantara yang tak terjamah disulap menjadi kota modern dalam sekejap berkat semangat kapitalisme swasta yang berani.

Deli seolah menjadi anomali. Semangat bisnis tembakau dan karet di sana menciptakan iklim "Amerika di Timur", sebuah model sukses wirausaha Barat yang bertolak belakang dengan birokrasi Jawa yang kaku. Tetapi ada ironi besar di sini, undang-undang agraria baru yang memberi ruang bagi swasta justru menuntut pengawasan pemerintah yang lebih ketat—mulai dari pendaftaran tanah hingga batas upah minimum. Alhasil, aparat birokrasi malah bertambah besar. Di sinilah cikal bakal dari apa yang kita sebut "negara pegawai negeri" mulai terbentuk.

4. Freemasonry: Bukan Sekadar Rahasia, Tapi Agen Sosial

Satu elemen yang sering disalahpahami dalam sejarah kita adalah peran Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij). Jauh dari sekadar sekte rahasia yang menyeramkan, pada masa transisi ini mereka justru berfungsi sebagai agen sosial aktif yang mencoba mengisi celah penderitaan masyarakat melalui inisiatif nyata:

·        Bank Pembantu (Hulpbank): Ini adalah upaya konkret mereka untuk melawan rentenir. Mereka memberikan pinjaman dengan bunga yang sangat manusiawi, kontras banget dengan rentenir yang bunganya bisa mencekik klien.

·        Pendidikan dan Keterampilan: Mereka mempelopori sekolah TK (Frobel), sekolah pertukangan (ambachtsschool), sampai kursus dagang. Tujuannya jelas, yaitu membekali kaum miskin agar bisa bersaing di zaman baru.

·        Literasi Masyarakat: Melalui perpustakaan rakyat "De Verlichting" di Semarang, mereka berusaha mencegah masyarakat di pedalaman agar tidak "tumpul secara rohani" akibat terisolasi.

Gedung-gedung loji ini juga menjadi ruang pertemuan unik yang melintasi batas rasial. Di sanalah para elite Belanda bisa berdiskusi dengan tokoh pribumi progresif seperti Pangeran Ario Notodirodjo dan Raden Adipati Tirto Koesoemo.

5. Penutup: Warisan dalam Struktur dan Pikiran

Periode 1870–1890 ini benar-benar meletakkan fondasi fisik bagi Indonesia modern: mulai dari rel kereta api yang membelah Jawa, sistem irigasi raksasa, sampai modernisasi pelabuhan. Namun, warisan yang paling membekas mungkin adalah lahirnya "negara pegawai negeri" tadi. Struktur birokrasi yang gemuk ini muncul karena pemerintah kolonial tetap ingin menjadi faktor pengendali utama di tengah arus liberalisasi ekonomi.

Sebagai penutup, ada pertanyaan reflektif nih buat kita renungkan: Kalau infrastruktur dan institusi kita hari ini banyak yang lahir dari rahim transisi kolonial tersebut, sejauh mana sih mentalitas "zaman baru" itu—baik semangat wirausahanya yang berani maupun ketergantungannya pada birokrasi yang kaku—masih mengendap dalam cara kita bernegara saat ini? Hhm, menarik untuk dipikirkan ya manteman.

Perjalanan PULANG: 5 Pelajaran Tersembunyi dari Petualangan Odiseus (Odyssey) yang Masih Relevan Sampe Sekarang



Jadi pada tanggal 17 Juli 2026 yang lalu, karya terbaru Christopher Nolan yang berjudul The Odyssey akhirnya tayang di jaringan bioskop yang ada di Indonesia. Dan sebagai penikmat karya beliau, gw akhirnya menyempatkan diri juga untuk ikutan nonton karya terbaru beliau. Sebuah film kolosal dengan durasi 3 jam kurang 8 menit yang diangkat dari karya klasik penulis asal Yunani Homer yang aslinya merupakan buku-buku full puisi yang epik dan monumental. Kenapa gw bilang “buku-buku” karena emang karya asli Homer tentang petualangan Odiseus sepulang perang Troya berjumlah 24 buku!

 

Nah pada tulisan kali ini gw cuman mau merangkum cerita asli dari petualangan Odiseus sang pahlawan dan veteran perang Troya! Konon menurut banyak penggemar karya sastra klasik petualangan pulangnya Odiseus ini bukan hanya seru, tapi sarat dengan pelajaran tersembunyi. Oh ya balik lagi ke film adaptasinya Bang Nolan, kali ini film ini disajikan dengan plot yang cenderung sederhana, dan jauh dari typical karya Nolan yang lain. So buat kalian yang mau nonton, siapin aja cemilan yang pas, jangan lupa pipis dulu takut kebelet pipis di tengah film berjalan. Kaga bisa dipause coy klo nonton di bioskop mah. Buat gw pribadi nih film nuansanya mirip kaya triloginya Batman, jadi lo kaga usah berangkat dengan mode otak yang kritis dan on fire buat menerka “teka-teki” khas filmnya beliau! Just chill and watch aja Frens!

 

Pernah kaga sih lo pada ngerasa kejebak nungguin sesuatu yang kayanya kaga ada ujungnya? Atau mungkin lagi pusing nyari "jalan pulang" tapi hambatannya bikin emosi jiwa? Perasaan "nunggu lama banget" ini ternyata jadi nyawa dari cerita Odysseia karya Homer, epos Yunani kuno soal perjalanan Odiseus yang butuh waktu 20 taun buat balik ke rumah kelar Perang Troya.

Tapi frens, gw pribadi ngeliat cerita ini kaga cuman sekadar dongeng fiktif ngelawan monster atau dewa-dewi doang. Asli, karya yang nyampe 24 buku ini tuh kaya cermin psikologi kita pas lagi kena musibah. Lewat ceritanya yang megah, kita bisa metik pelajaran soal mental baja, nurunin ego, sampe kesetiaan yang masih ngena banget sama kerasnya kehidupan di jaman AI. Cekidot 5 pelajarannya!

1. Kekuatan Mulai dari Tengah (In Medias Res)

Homer nih pinter, doi kaga nyeritain dari awal secara urut. Doi pake teknik in medias res, yang langsung ngelempar kita ke tengah-tengah kekacauan di Ithaca, 20 taun abis perang kelar. Kita kaga diajak liat masa jayanya si pahlawan, tapi malah ngeliat galaunya keluarga yang ditinggalin. Teknik ini bikin kita ikutan ngerasain seberapa daruratnya sikon yang dirasain anaknya, Telemakhos, sama istrinya, Penelope.

"Istana Odiseus dikepung sama 108 cowok ningrat songong yang maksa Penelope kawin lagi. Mereka kaga cuman ngincer tahta, tapi juga pesta pora ngabisin hartanya Odiseus tiap hari, bikin krisis moral dan finansial di pusat kerajaan."

Di hidup nyata, kita juga sering kan nemuin diri kita kudu ngeberesin kekacauan di depan mata—masalah yang kudu gercep diselesaiin—sebelum bisa nyantai ngerayain kejayaan masa lalu. Strategi in medias res ini ngajarin kalo titik balik perjuangan tuh seringnya dimulai dari keberanian ngadepin masa-masa paling ancur, bukan pas lagi persiapan mateng.

2. Bahayanya Haus Pengakuan: Belajar dari Polifemos

Nah, ini salah satu adegan paling ikonik pas Odiseus ketemu raksasa kiklops Polifemos. Di sini keliatan banget bedanya antara kecerdikan murni sama kesombongan yang bikin hancur. Awalnya Odiseus sukses nyelamatin krunya pake trik nipu si raksasa, bilang kalo namanya "Bukan Siapa-siapa" (Noman).

Tapi pas udah berhasil kabur ke kapal, egonya Odiseus meledak frens. Doi kaga nahan pengen diakuin. Diteriakin dah tuh nama aslinya ke Polifemos, biar dunia tau siapa yang udah naklukin anaknya dewa laut Poseidon itu. Sumpah, pamer ginian malah jadi bumerang maut.

Kalo Polifemos kaga tau nama aslinya, doi kaga bakal bisa minta bapaknya ngutuk Odiseus. Jebule pas namanya disebut, kena dah tuh kutukan. Pelajarannya? Kadang musuh paling ngeri tuh bukan rintangan di luar sana, tapi ego kita sendiri yang kehausan pengakuan (hubris). Gara-gara ego ini, perjalanan yang harusnya cepet malah molor jadi penderitaan 20 taun!

3. Kesetiaan Tanpa Suara dari Si Anjing Argos

Setelah 20 taun dines ke Troya plus perjalanan mudiknya, Odiseus balik ke Ithaca dengan wujud yang kaga dikenalin. Dewi Athena membantu doi menyamar menjadi pengemis tua gembel biar bisa nyusup ke istananya sendiri. Penyamarannya gokil banget sampe manusia aja ketipu, tapi kaga buat sebuah kesetiaan yang murni.

Cuman Argos, anjing tuanya Odiseus yang lagi sakaratul maut, yang bisa ngenalin tuannya pake insting. Yah cuman insting dari seekor hewan, tapi di sini insting terbukti lebih setia ketimbang kepintaran!

"Di tengah kumpulan cowok-cowok yang mengkhianati rumahnya, cuman Argos yang ngenalin Odiseus. Pas liat tuannya balik abis dua dekade, tuh anjing ngibasin ekornya buat terakhir kali sebelum mati dengan tenang."

Asli, adegan ini ngena banget frens. Di dunia yang isinya intrik politik sama kepentingan pribadi, kesetiaan sejati seringnya dateng dari hal sederhana yang kaga minta imbalan apa-apa.

4. Tes Kecerdasan Penelope dan Ranjang Pohon Zaitun

Sering banget Penelope cuman dicap sebagai "istri yang setia nunggu". Padahal naskah aslinya nunjukin kalo doi tuh cerdas banget dan setara sama suaminya. Bahkan kelar Odiseus ngebantai semua pelamarnya, Penelope kaga langsung percaya gitu aja. Doi ngetes Odiseus dengan nyuruh pelayan mindahin ranjang kimpoi mereka.

Odiseus langsung ngamuk, soalnya doi tau rahasia tuh ranjang: dipahat langsung dari batang pohon zaitun yang akarnya masih nancep kuat di tanah istana! Rahasia ini cuman mereka berdua doang yang tau. Simbolis banget kan? Hubungan yang sehat dan tangguh tuh dibangun di atas fondasi "rahasia bersama" yang akarnya dalem, kaga gampang goyah ditebas badai waktu. Penelope ngebuktiin kalo sikap kritis tuh bentuk perlindungan diri yang mantep.

5. Keadilan Brutal dan Campur Tangan Ilahi

Bagian ujung epos ini lumayan berdarah-darah frens. Odiseus balas dendam ngebantai 108 pelamar itu kaga pake ampun di dalem istana. Tapi kemenangan ini kaga lantas bikin damai. Keluarga pelamar yang mokat langsung nuntut balas dendam, bikin ancaman siklus kekerasan yang kaga kelar-kelar.

Di sinilah Dewi Athena turun tangan buat nyetop tumpah darah. Pelajaran pentingnya: konflik yang udah mendarah daging tuh kaga bisa kelar cuman modal menang satu pihak doang. Butuh kesadaran bareng buat bener-bener mencapai perdamaian abadi. Keadilan emang udah ditegakin lewat panahnya Odiseus, tapi damai cuman bisa kejadian kalo semua pihak sepakat mutusin rantai kebencian. Jadi pemenang aja kaga cukup, lo kudu bisa bawa damai.

Penutup: Apa Sih Arti "Pulang" Sebenernya?

Perjalanan panjang Odiseus pada akhirnya bukan cuman soal ngarungin ribuan mil lautan, tapi soal proses ngikis ego sampe ke intinya. Buat bisa beneran "pulang", doi kudu belajar jadi "Bukan Siapa-siapa", nelen gengsinya, dan berani nanggung akibat dari kelakuannya.

Buat kita-kita sekarang, "pulang" mungkin bukan sekadar lokasi di peta frens, tapi soal balik ke jati diri abis tersesat ngejar ambisi duniawi. Hhm, sisa satu pertanyaan nih buat bahan renungan kita semua:

"Kalo lo jadi Odiseus, lo bakal milih tetep jadi 'Bukan Siapa-siapa' demi cepet nyampe rumah, atau milih teriak nyebut nama lo dan nerjang badai demi sebuah pengakuan?"

Okay, kayanya segini dulu celotehan gw. Nanti di tulisan selanjutnya gw bakal sambung lagi dengan topik yang kaga kalah seru ya manteman!

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah? Halo Frens!   Dahulu, mungkin kenangan kolektif kita tentan...