Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?
Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah? Halo Frens! Dahulu, mungkin kenangan kolektif kita tentang pendaki gunung terpaku pada satu pola dan gaya seragam: sosok-sosok maskulin berambut gondrong dan kadang mengenakan bandana/ slayer , memikul carrier jumbo yang tampak lebih berat dari tubuh mereka, dan memiliki ketangguhan fisik yang ditempa dalam diksar komunitas pecinta alam. Mereka adalah orang-orang yang paham mana bentuk awan yang mengandung uap air dan tahu arah mata angin yang bergerak menembus pekatnya kabut dalam sunyi. Namun hari ini, lanskap itu telah bergeser secara drastis. Gunung bukan lagi sebuah altar sakral yang hanya bisa dimasuki segelintir orang. Saat kita menelusuri rute-rute pendakian panjang seperti jalur Gunung Slamet via Dusun Bambangan, misalnya, kita akan melihat ruang yang jauh lebih "demokratis & egaliter". Kini, jalur pendakian dipenuhi oleh keluarga muda, pekerja kantoran yang mencari jeda dari ke...


