Sabtu, 31 Desember 2022

Curug Citaman, Keindahan tersembunyi di Jalur Cimelati Gunung Salak

Hola teman-teman di tulisan kali ini saya melanjutkan bercerita mengenai keseruan lainnya saat kami camping di Jalur Cimelati di kaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat. Jadi selain berkemah, main masak-masakan, hahahihi, kami pun melakukan ativitas trekking ke Jalur pendakian Gunung Salak via Cimelati. Hhm ada keindahan yang ngumpet yang kita temukan saat kita trekking, kami mengunjungi sebuah curug di kaki Gunung Salak, Curug Citaman namanya. Penasaran kaya mana wujud curugnya, cek foto di bawah yah gess:

Gimana manteman menurut kalian?! Sumpah ini curug asik sekali dipake buat berenang, karena di bagian tengahnya berbentuk seperti kolam yang menyerupai mangkok, dengan bagian terdalam mungkin tidak sampai 2 meter sehingga asik sekali dipakai buat berenang. Airnya jernih, sepi dari pengunjung, hanya minusnya adalah kurang luas aja kali ya.

Okay jadi sebelum kami berangkat ke camp ground, sebetulnya dari hasil riset kami lewat youtube dan googling, kami sudah terinfo mengenai keberadaan curug ini, namun tidak menyangka kondisi airnya begitu jernih, dan yang paling berharga tidak ada rombongan lainnya di sini selain kami. Hal ini membuat seakan akan kamilah pemilik dari tempat ini.

Jadi rencana trekking ke curug ini merupakan sebuah itinerary khusus yang kami siapkan untuk Boger yang belum pernah mencoba trekking, dan belum pernah melihat air terjun langsung di alam bebas. Secara jarak dari camp ground tempat kami mendirikan tenda mungkin hanya 1 KM lebih sedikit sih, dan waktu tempuh tidak sampai dari sejam perjalanan jalan kaki.

Okay di hari ke-dua camping kita, di Sabtu 26 November 2022, seberes kami sarapan, yah kurang lebih sebelum jam 10 saya dan 6 orang teman, ada Yoke, Doyok, Rejos, Gustan dan Boger segera bersiap untuk menjajal trekking ke Curug Citaman. Oh ya di trip ini, hanya Badok yang mengambil keputusan untuk tidak ikutan, doi merasa ga yakin akan kuat diajak trekking, alhasil diapun akhirnya menunggu di tenda sembari menjaga barang-barang yang kami tinggalkan.

Untuk trekking, kami membawa sebuah tas kecil milik Badok yang tidak dia pakai. Kami mengisinya dengan obat-obatan, cemilan, logistik, kompor, nesting dan gas portabel. Kita memang berencana untuk ngopi dan masak mie instan di lokasi. Makanya kita bawa aja deh tuh kompor, oh ya ga lupa juga kita pun membawa jas hujan plastik untuk antisipasi jika nanti hujan turun, headlamp dan batre cadangan juga kita bawa loh, amit2 kita nyasar kita masih bawa alat penerangan, dan bahkan emergency blanket dari bahan aluminium foil pun kami bawa. Oh ya teman-teman, jika kalian beraktivitas ke alam bebas, sekalipun mungkin jarak tempuhnya tidaklah jauh kalian musti mempersiapkan trip kalian sebaik dan seaman mungkin ya. Paling tidak di dalam tas kalian selalu ada obat-obatan, cemilan, air minum, penerangan, jas hujan plastik dan juga baju ganti seperlunya ya! Ingat yah potensi bahaya dari perubahan cuaca di alam bebas kita musti selalu persiapkan antisipasinya ya.

Mengenai kondisi medan menuju ke curug, menurut kami yang berat adalah dari camp ground menuju persimpangan jalur pendakian dan jalur ke Curug Citaman. Jadi curug ini memang tidak ada di jalur pendakian menuju puncak Manik Gunung Salak, tapi ada di sisi kanan dari persimpangan jalur pendakian. Dan menuju persimpangan ini dari camp ground mungkin hanya kurleb 10 menit, dengan medan yang menanjak terus, di etape ini lumayan berat nih apalagi buat yang ga pernah berolahraga.

Kira-kira kondisi gambarannya seperti di dua gambar di bawah ya, oh ya sampai dengan ke curug jalannya sebetulnya sudah dibeton loh ges, tapi tetap hati-hati ya sebab di bagian jalur beton yang jarang terkena sinar matahari jalur betonnya cukup licin loh, apalagi jika outsole sepatu atau sandal kalian sudah cukup aus.

Setelah kalian bertemu persimpangan antara jalur pendakian dan arah ke curug, kalian ambil jalur ke kanan ya. Jalur ke kiri yang merupakan jalur pendakian ke puncak, masuk ke hutan dan masih terus menanjak, sedangkan arah ke curug jalurnya relatif datar. Dan di sini banyak area yang jalur betonnya licin loh, so watch your step yes!

Setelah lewat dari persimpangan, jalan betonnya mulai menurun loh, dan nanti setelah menurun kalian akan menjumpai emergency shelter di sisi kiri kalian dan ada kamar mandi dan keran air di sisi kanannya.

Hhhm sebetulnya jika kalian memang ingin merasakan camping dengan nuansa yang lebih wild kalian bisa memilih camping di sekitaran emergency shelter dijamin lebih sepi, tenang, dan ga jauh juga dari sumber air. Di keheningan malam mungkin kalian bisa mendengar sayup-sayup suara gemericik air sungai dan curug, dan mungkin jika beruntung kalian juga bisa melihat kunang-kunang terbang di sekitar tenda kalian. Oh ya di sekitar tenda kami, ada juga loh satu kunang-kunang nyasar yang kami temukan, apalagi di tempat yang tenang dan dekat dengan sumber air kemungkinan besar kunang-kunang mudah untuk ditemukan. Oh ya buat kalian yang belum tahu banyak mengenai kunang-kunang, serangga ini merupakan serangga yang senang hidup di daerah rawa atau daerah yang dekat dengan sumber air.

Lepas dari shelter, kalian akan menemukan jalur dengan rumput dan semak-semak yang pendek, dan jalurnya menurun kembali dengan jalur yang berbatu besar dan menurun.

Setelah menuruni batu di atas, kalian akan menuju ke arah sungai, dan curug Citaman nanti akan ada di sisi kanan kalian dengan kolam renang alaminya yang airnya sangat jernih.

View kolam yang jernih membuat Gerry sangat puas dan kami yang lain segera tidak sabar untuk menjajal berenang di airnya yang jernih. Selain berenang kami yang lain juga sempat mengajarkan Doyok teknik dasar untuk berenang, btw doi doang di antara kami berenam yang tidak bisa berenang. Selesai dan puas berenang kita segera menyeduh air untuk membuat kopi.

Saat kami tengah menyeduh air, tiba-tiba kabut turun dan sepertinya akan turun hujan. Melihat kondisi cuaca yang berubah drastis kami bergegas untuk menjauhi sungai dan segera pindah ke lokasi yang lebih tinggi. Penting buat kalian ingat ya teman-teman, ketika cuaca di sekitar sungai tempat kalian berubah mendung, segeralah kalian jauhi sungai yah teman-teman, khawatir di bagian hulu sungai sudah hujan deras, dan yang paling seram adalah ketika banjir bandang tiba-tiba datang. Jadi saran dari saya jika cuaca sepertinya akan hujan atau aliran air berubah menjadi keruh, kalian segera pindah ke lokasi yang lebih tinggi dari sungai atau menjauh sekalian ya, catat dan ingat yah!

Di lokasi yang lebih tinggi dari sungai, kami melanjutkan kegiatan masak kami, menu yang kami buat hanyalah mie instan, tapi percaya deh mie yang dinikmati di tengah alam bebas dengan suguhan view yang luar biasa akan membuat rasa mie kalian dan cemilan yang kalian nikmati menjadi makin sodap, sebuah nikmat sederhana yang patut kami syukuri, dengan nikmat kesehatan yang tak ternilai, ditemani kehangatan persahabat, sajian mie, kopi dan cemilan biskuit, mantap sangat, puji syukur untuk Tuhan penguasa alam semesta.

Oh ya ada satu insiden kecil yang menimpaku di tengah kegiatan masak memasak. Mengingat lokasi yang kami pakai cukup lembab dan berada di bawah pepohonan, sepertinya ini adalah habitatnya si pacet nih, dan tiba-tiba betul ada satu pacet yang sedang menempel di leher saya. Widih untunglah ini bukan kali pertama saya berurusan dengan pacet vampire, untungnya kami membawa hand sanitizer semprot yang mengandung alkohol, segera Yoke menyemprotkan larutan tersebut ke leher ku, dan seketika dalam hitungan detik si pacet langsung copot. Nah satu tips lagi nih buat kalian, jika kalian beraktivitas di area yang banyak pacet, bawalah hand sanitizer yang mengandung alkohol ya buat menghalau si pacet, ini terbukti jauh lebih ampuh dan praktis ketimbang cairan mengandung tembakau.

Dan ternyata cuaca tidak jadi hujan dan ini juga berkah buat kami semua nih, jadi kita ga perlu repot-repot pakai jas hujan dan berjalan berlicin licin ria. Beres sebats dua bats, menghabiskan kopi dan cemilan, kami cabs meninggalkan Curug Citaman yang indah dan ngangenin, semoga suatu saat bisa balik lagi nih. Oh ya sampah yang kami hasilkan pastinya kita bereskan ya, sayang dong jika tempat sebagus ini kita kotori dengan sampah, hayuk mulai kebiasan sadar sampah dan sayang merawat lingkungan hidup, dengan menjaga kebersihan, kalian juga menjaga arena bermain kalian loh, masak iya mau sih arena bermain kalian kotor dan menjijikan?!

View dengan kabut tipis selama perjalanan pulang menuju camp ground.

Okay segini dulu cerita dari kami mengenai Curug Citaman yang sangat tampan dan mempesona, semoga kalian bisa juga main kemari ya. Jangan lupa dijaga kebersihannya ya!

Jumat, 30 Desember 2022

Camping di Cimelati, Jalur Pendakian Resmi ke Gunung Salak

Hola teman teman, ini adalah tulisan pertama saya di Wordpress setelah saya boyong konten-konten yang pernah saya tulis di Blogspot saya. Boleh jadi ini juga merupakan ajang untuk mengakrabkan diri dengan user interface-nya Wordpress.

Okay saya mau cerita pengalaman di akhir November 2022 tepatnya di tgl 25 yang lalu. Saya dan teman-teman beraktivitas camping di sebuah tempat baru bagi kami semua. Yap di antara tujuh peserta yang hadir dalam perhelatan, selain saya sendiri ada: Yoke, Doyok, Gustan, Rejos, Badok, dan terakhir adalah Boger, tidak seorangpun yang pernah berkunjung ke sini.

Ide pemilihan tempatnya bermula dari keinginan saya pribadi dan Doyok yang ingin memberikan pengalaman berkesan untuk camping pertamanya Boger. Yap camping kali ini merupakan perdana bagi Boger, bener kali pertama Boger main dan camping di sebuah camping ground. Di kesempatan camping yang lain Boger memang belum sempat join dan mungkin juga belum tertarik untuk mencoba.

Akhirnya saya dan Doyok mencoba mengulik tempat lain yang kriterianya antara lain: relatif sepi dan kondusif, ada curugnya, ada jalur trekkingnya. Kenapa kita pilih camp ground yang ada jalur trekkingnya sebab Boger memang kali pertama camping tapi doi pernah beberapa kali ikutan full marathon loh, dan dia pun katanya juga penasaran untuk mencoba trail run dan hiking. Oleh sebab itu kita coba cari camp ground yang agak "menantang" sedikit.

Okay buat teman-teman yang belum tahu di mana Cimelati berada kalian bisa klik link di bawah yang saya kulik dari google map. Dan dari link di bawah pun kami berpatokan, dan menset tujuan di google map kami. Kali perdana juga nih buat kita semua. Ini ye linknya: 

Mount Halimun-Salak National Park Cimelati trailhead office

https://maps.app.goo.gl/p8b6bwckEJ4hQHjY7

Di google map kalian juga bisa mengintip foto-foto nih tempat yang diunggah oleh pengunjung lain sebagai bahan referensi ketimbang kalian hanya sekedar membayangkan kaya apa kondisi tempatnya.

Dari tempat saya tinggal di Limo, Depok. Jarak menuju ke titik tersebut sekitar 70km jika kalian menggunakan mobil dan via jalan tol BOCIMI (Bogor, Ciawi, Sukabumi) dengan estimasi waktu tempuh sekitar kurleb 1 jam 30 menitan. Oh ya trip kali ini adalah perdana bagi saya merasakan tol BOCIMI.

Kami berangkat dari Limo lumayan kesiangan nih mengingat musti menunggu Yoke yang berangkat menemui kami dari Bekasi. Kira-kira jam 9 pagi rombongan komplit dan siap bertolak dari Limo. Tapi kita ga bisa langsung gas ke tol nih musti beli beberapa logistik makanan tambahan untuk perbekalan selama camping. Beres belanja logistik baru deh kita bisa menuju tol pintu tol Kukusan untuk langsung nyambung ke tol Jagorawi dan akhirnya masuk ruas tol Bocimi. Oh ya kita keluar dari tol Bocimi di pintu gerbang keluar yang pertama ya, pintu Cigombong.

Foto rombongan sebelum cabs dari Limo, Depok.

Okay setelah keluar dari tol perjalanan kami diarahkan menuju jalan raya Sukabumi dan masih mengikuti google map rombongan kami sempat diajak muter-muter karena tiba-tiba google map yang ada di hape saya beberapa kali reroute dan akhirnya kita mengambil jalur yang sebetulnya secara jarak tempuh jadi sedikit menjauh dari rute asli.

Oke setelah diajak sedikit keder oleh gogle map, kebingungan selanjutnya adalah mencari tempat parkir yang dekat dengan jalur menuju camp ground. Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dari beberapa youtuber yang pernah hiking ke Gunung Salak via Cimelati, lahan parkir untuk kendaraan para pendaki biasanya ada di halaman rumah penduduk yang ada di dekat mushola. Namun setelah kita berhasil menemukan musholanya ternyata rumah tersebut merupakan sebuah vila dan pemiliknya tidak lagi menerima halaman vilanya dijadikan lahan parkir.

Kemudian saat kami tengah kebingungan mencari lahan parkir, ada warga sekitar yang menawarkan untuk parkir di halaman vila yang lain. Sayangnya lokasi vilanya sudah terlewat alhasil kami musti memutar balik mobil kami dan mengarah untuk sedikit turun lagi. Okay akhirnya ga jauh dari lokasi awal kami, vilanya kami temukan. Jika dari arah bawah lokasinya ada di sebelah kanan kita. Di seberang vilanya (di sisi kiri jalan) ada saung dari kayu sebagai patokan kalian. Nah ternyata vila ini merupakan vila yang saya lihat di channel youtubenya Maz Ediz, wah halaman villannya memang luas loh teman-teman, selain itu viewnya cakep uga frens!

Begini kira-kira view dari parkiran vilanya:

Ini view menuju vila tempat parkir, dengan latar belakang Gunung Salak yang tertutup awan mendung:

Oh ya biaya parkir di sini untuk satu mobil per malam adalah 50 ribu rupiah, dibayarkan langsung ke penunggu vilanya ya. Di sini kalian juga bisa numpang ke kamar mandi, istirahat nglurusin kaki dulu sebelum trekking, atau mau menikmati view sejenak dari halaman villa. Berhubung saat kami beres nurunin barang bawaan yang seabrek, maklum logistik untuk 2 malem, gerimis yang sedari tadi mulai membesar. Ya udh deh akhirnya kita sebats dua bats di vila, sembari packing ulang. Dan ternyata barang bawaan kami sangat banyak dong, dan akhirnya barang-barang tersebut kami angkut dalam dua batch.

Okay jarak tempuh dari vila sampai ke pos pendaftaran taman nasional kurang lebih adalah 800M s.d 1KM deh. Dan mustinya secara waktu tempuh tidak memakan waktu lebih dari satu jam sih. Dugaan awal saya medannya itu tidak terlalu menanjak, dan ternyata saya salah nih. Lumayan menanjak sih sekalipun masih didominasi oleh jalur yang relatif datar. 

Kita mulai treking dengan membagi rombongan menjadi 2, saya ada di rombongan ke-dua bersama Doyok, Rejos, dan Badok. Sedang yang pertama ada Yoke, Boger, dan Gustan. Rombongan pertama jalan di depan kami. Dan di tengah jalan tiba-tiba Badok yang memang jarang berolahraga mengalami kepayahan, dan minta berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga. Dengan senang hati pun rombongan juga berhenti dan tidak pernah ada dalam kamus kami, ketika melakukan trekking dan ada teman yang kepayahan kemudian kami tinggalkan, kami temani dong. Dan kalian juga yah ketika hiking jangan pernah meninggalkan atau kalian memisahkan diri dari rombongan ya, bisa berbahaya loh akibatnya baik bagi kalian yang meninggalkan atau teman yang kalian tinggalkan. Bisa jadi teman kalian sedang sakit dan butuh bantuan kalian. So, jangan pernah meninggalkan teman perjalanan kalian selama hiking ya!

Nih saya kasih gambaran jalur dari vila menuju ke pos registrasi:

Di tempat kami beristirahat untungnya masih mendapatkan sinyal untuk komunikasi telephone seluler kami, dan ternyata kami beristirahat di sini lumayan lama loh, mungkin setengah jam lebih. Badok akhirnya muntah dan detak jantungnya lumayan tinggi, sudah diukur menggunakan garminnya Doyok dan amazfit milik saya, dan detak jantungnya menunjukkan angka yang tidak berbeda jauh, di sekitar 160-180 bpm, dan anehnya detaknya tidak juga turun sekalipun sudah istirahat. Hal ini sempat membuat saya cukup khawatir nih. Alhasil saya coba mengontak Gustan dan rombongan pertama, tidak lupa saya juga meminta titik lokasi mereka agar saya bisa memperkirakan jarak antara kami dan mereka. Ternyata kita terpisah hanya sekitar 100 m, dan artinya hanya 100 meteran lagi pos pendaftaran sudah bisa kita capai.

Alhasil Yoke dan Boger berinisiatif untuk menyusul kami untuk menawarkan membawa barang bawan dan membawa kompor untuk membuatkan Badok teh manis atau minuman lainnya agar kondisi Badok lekas pulih. Namun ternyata Badok bisa melanjutkan perjalanan kembali dan bisa finish dengan strong di pos pendaftaran, alhamdulillah!!

Oh ya rombongan ke-dua sampai di pos pendaftaran sekitar jam 5an, dan lucunya di sebuah Taman Nasional sekelas TN Gunung Halimun Salak ini di posnya tidak ada penjaganya dong, emang rada laen nih Gunung Salak, betul-betul bukan gunung favorit pendaki. Tapi dari Gustan yang sempat mengobrol dengan penjaga warung, nanti setelah maghrib sih biasanya ada lagi penjaga yang balik piket di pos registrasi. Oh ya nih suami dari penjaga warungnya adalah juga petugas di pos registrasi loh, beliau bernama Mang Aceng, jadi buat kalian yang ingin ke sini juga dan butuh informasi lainnya, entah reservasi blok camp ground, penyewaan alat camping atau sekedar bertanya mengenai kondisi cuaca di sekitar camp ground bisa hubungi beliau ya, Mang Aceng Cimelati di nomer whatsapp 0838 1951 0277. Pasti akan dilayani dengan ramah oleh beliau.

Oh ya setelah semua rombongan sampai di pos registrasi akhirnya hujan cukup deras turun nih, dan kami pun akhirnya membuka kompor untuk menyeduh kopi, teh dan minuman lainnya pertama buat menunggu Yoke dan Boger yang tengah mengambil sebagian barang bawaan kami yang masih ada di vila, dan juga untuk membuat Badok segar kembali. Lagian sekarang pun juga sedang hujan, rasanya terlalu repot untuk segera memasang tenda, saatnya santai sejenak, sebats, menikmati pemandangan puncak Pangrango dan Gede yang ada di depan kami.

Hhm sayang nih di foto di atas Pangrango dan Gedenya tertutup awan. 

Okay setelah Yoke dan Boger kembali ke warung, dan selesai mereka menikmati kopi dan adzan maghrib selesai kami memulai untuk memilih lokasi berkemah dan mendirikan tenda-tenda kami. Kali ini berhubung ada tujuh peserta, kami membawa 3 tenda, agar tidur lebih leluasa dan barang logistik dan peralatan bisa masuk ke tenda semua.

Okey info terakhir dari saya terkait dengan biaya camping di sini adalah 25 ribu per orang per malam, ditambah dengan uang kebersihan yang dibebankan per tenda senilai 15 ribu rupiah, overall saya mau kasih rekomendasi untuk nih tempat camping. Buat kalian yang suka dengan tempat camping yang tidak bising, view city lights, hutan yang masih asri, bersih dan pastinya fasilitas kamar mandi yang jempolan, sumber air melimpah dan mudah serta kalian bisa menggunakan listrik di warung yang ada di pos tentunya dengan biaya yang murah kok, kalian bisa datang ke sini ya, ke Cimelati! Sekian yah ceritanya, nanti akan saya sambung dengan hidden gems lain yang ada di Cimelati, tunggu aja tulisan berikutnya ya.

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah? Halo Frens!   Dahulu, mungkin kenangan kolektif kita tentan...