Menilik Kembali Media Sosial dan Market Place yang Dilahirkan Internet
Media sosial kian berkembang sejalan dengan perkembangan internet. Kemudahan akses terhadap internet membuat media sosial menjelma menjadi beragam wujud dan kian besar dampaknya bagi manusia.
Tak berlebihan jika dampak media sosial bisa melahirkan sebuah generasi yang betul-betul "baru" dan belum pernah ada sebelumnya. Jika kalian tidak percaya dengan pernyataan tersebut, kalian bandingkan saja "model" generasi orang tua kita dengan sebuah generasi yang berlabel Gen Z.
Generasi ini lahir dan berkembang di tengah internet menjelma menjadi sebuah kebutuhan pokok baru.
Layaknya semua hal di dunia, perkembangan internet dan media sosial juga memiliki dua sisi yang berbeda, sisi baik dan dampak buruk di sisi lainnya. Kalian bisa mencari sendiri artikel terkait hal ini. Di tulisan ini saya hanya akan membahas dalam dua aspek saja, dari aspek ekonomi dan sosial.
Pada ranah ekonomi perkembangan internet dan sosial media mampu melahirkan sebuah interaksi pasar yang belum pernah ada sebelumnya. Jaman dahulu sebuah pasar bekerja dengan interaksi fisik antara penjual dan pembeli. Namun hal ini berubah total dengan lahirnya loka pasar atau market place di dalam jaringan internet. Sebuah pasar baru mampu menjalankan transaksi jual beli hanya melalui interaksi dalam jaringan.
Pola interaksi ini membuat transaksi berjalan jauh lebih cepat dan efisien. Hal ini pada akhirnya mampu mendongkrak volume transaksi di sebuah pasar dan akhirnya ekonomi bergerak lebih cepat. Pada masa pandemi, ketika segala interaksi fisik sangat dibatasi, market place mampu bergerak bahkan jauh lebih aktif.
Market place menjelma menjadi sebuah kekuatan bisnis yang mampu menggerakkan pelaku usaha lain seperti penjual dan perusahaan kurir atau logistik yang berperan aktif menopang distribusi barang dari penjual ke pembelinya. Digadang gadang market place lah yang menjadi penyelamat bisnis logistik yang sempat meredup.
Berbarengan dengan kenaikan volume transaksi di market place, perusahaan penyedia loka pasar juga mempermudah terjadinya transaksi, mulai dari cara pembayaran perbankan daring atau online ataupun pembayaran melalui toko-toko minimarket atau agen pembayaran resmi yang bekerjasama dengan bank dan loka pasar. Puncaknya terciptalah sebuah "hal" baru yang bernama dompet elektronik atau e wallet yang merupakan wadah lain dari uang cash kita yang dulu lazimnya ada di dompet saku kita atau di rekening bank kita.
Market place juga mampu memberikan kontribusi positif bagi penjualan barang-barang dari industri lokal atau bahkan para pelaku UMKM. Beberapa market place bahkan menyediakan halaman khusus untuk penjual barang asli buatan dalam negeri dan para pelaku UMKM lainnya. Dan label 100% Indonesia atau Bangga Lokal sering kali disematkan sebagai pemikat bagi usaha pemasaran mereka.
Penulis pribadi pun termasuk yang tergoda untuk mencoba belanja melalui halaman tersebut. Menurut pengamatan penulis, maraknya media sosial juga mampu membakar semangat untuk mencintai produk-produk lokal, gerakan ini juga diperkuat oleh market place dan dengan salah satu cara seperti yang di atas telah penulis singgung.
Namun kolaborasi antara market place dan media sosial juga mampu meningkatkan kecenderungan kita untuk menjadi lebih boros, dan cenderung konsumtif yang membabi buta hehehe. Okay contoh ya dari pengalaman pribadi saya, terkadang saya sering kali membeli sebuah barang dengan alasan barang tersebut sedang diskon atau ada promo bundling dari market place misalnya atau ada potongan harga dengan membeli melalui transaksi dengan menggunakan e wallet tertentu misalnya, padahal jika saya pikir kembali sebetulnya saya belum terlalu perlu untuk membeli barang tersebut.
Contoh perilaku konsumtif di luar nalar yang lain adalah kita jadi ikut-ikutan membeli sebuah barang karena idola kita di sosial media membeli barang tersebut atau memang mereka mempromosikan barang tersebut lewat akun media sosial mereka.
Nah kecenderungan menjadi konsumtif tersebut akhirnya melahirkan pula sebuah hal baru yang bernama "pinjol" atau pinjaman online. Skema berhutang yang terjadi dalam sebuah jaringan internet.
Bahkan market place juga memberikan pelayanan serupa dengan nama pay later atau kalian bisa membeli dulu barang inceran kalian kemudian bayar kemudian. Pinjol ini akhirnya mampu menelan korban yang tidak sedikit loh. Banyak sudah para korban yang akhirnya terjerat hutang dan akhirnya gagal membayar hutang yang terlanjur menumpuk dan senantiasa berbunga. Ngeri yaa!
Nah semua hal di atas yang digerakkan oleh market place diperkuat gaungnya oleh sosial media. Tiap market place menjadikan media sosial apapun bentuknya sebagai corong promosi mereka.
Ditambah dengan penggunaan artis, influencer, selebgram ataupun nama lainnya yang merujuk ke para pengguna media sosial yang memiliki banyak pengikut dan mampu "menggerakan" orang lewat media sosialnya. Mereka sangat berperan dalam memperkuat gaung promosi si market place. Kombinasi hal di atas lah yang menjadi racun dahsyat untuk mendorong kita berperilaku lebih konsumtif.
Itu semua mungkin dampak positif dan negatif dari aspek ekonomi. Kemudian bagaimana internet dan media sosial berdampak di sektor sosial? Di bawah saya akan mencoba menulisnya dalam perspektif saya dan dari kapasitas dan kapabilitas otak saya yang sangat terbatas hehehe.
Di awal saya sudah menyinggung mengenai sebuah generasi baru yang berlabel Gen Z. Yap generasi ini merupakan sebuah generasi yang lahir di era internet amat sangat jamak digunakan oleh semua kalangan. Di atas saya berpendapat bahwa generasi ini lahir dimana internet telah merangkak naik ke lapisan kebutuhan primer/pokok.
Beberapa sumber di internet mengatakan generasi ini adalah mereka yang lahir pada rentang waktu tahun 1996 sampai dengan 2009. Dari rentang waktu tersebut, usia tertua dari gen z saat awal tahun 2023 sekitar 26 tahunan.
Kemudian apa yang membuat mereka berbeda dengan generasi sebelumnya, katakanlah dengan penulis yang masuk dalam kategori milenial. Okay pandangan penulis secara pribadi yang penulis rangkum dari sumber-sumber di internet, Gen Z merupakan generasi yang mengalami paparan perkembangan internet mungkin hampir sepanjang hidupnya. Dengan kata lain dosis mereka mengonsumsi internet paling besar ketimbang milenial katakanlah.
Sebagai contoh, misal gen Z yg lahir di tahun 1996, saat tahun 2009 mungkin mereka sudah duduk di bangku SMP. Dan saat itu internet sudah mulai jamak dikonsumsi, artinya internet mungkin sudah banyak dipasang di rumah-rumah. Bandingkan ketika saya seusia mereka, mungkin internet masih belum banyak menjangkau rumah. Dan hanya di warnet lah kita bisa berselancar di dalam jaringan internet. Dan itupun terbatas secara waktu.
Okay kemudian apa dampak dari paparan internet dosting tersebut?! Hhm pertama, mereka merupakan generasi yang mudah mendapatkan informasi melalui internet, informasi apapun bisa mereka dapatkan dengan mudah melalui internet. Sebagai contoh, misal di usia saya SMP, saat saya gemar mengikuti perkembangan liga Italia, dan ingin mengetahui hasil pertandingan dari team favorit, mungkin sumber informasi pertama saya adalah dari berita di TV atau ulasan lebih lengkapnya bisa dibaca dari tabloid olahraga. Namun gen z bisa mendapatkan berita tersebut dengan lebih cepat dan lengkap melalui jaringan internet.
Sumber informasi yang melimpah tersebut menjadikan mereka cepat mengenal dan mempelajari hal-hal baru, baik terkait dengan kesenangan pribadi mereka atau bahkan hal-hal terkait pendidikan.
Faktor sumber informasi yang melimpah tadi pada akhirnya membuat generasi milenial dan juga gen z berkembang menjadi generasi yang mandiri. Namun apakah hal ini membuat mereka mudah menjadi "ahli" dalam suatu bidang?! Jawabannya tentu tidak.
Sekalipun pasokan informasi penunjang keilmuan dan skill mudah sekali didapatkan para gen z, namun pasokan yang sangat melimpah di dunia internet membuat kami milenial dan juga gen z mengalami tsunami informasi yang terlampau banyak.
Hal ini membuat kelelahan dalam menyortir informasi yang dinilai paling berguna, sehingga pada akhirnya kami hanya mengulik sedikit dan akhirnya cukup sering tidak dituntaskan. Ditambah lagi keengganan untuk mengulik informasi pelengkap yang biasanya ada dalam format tulisan.
Hal yang tadi disebutkan di atas membuat kami menjadi generasi yang banyak tahu sekedar kulitnya saja tanpa jauh menyelam lebih details dan mencoba mempraktikan dalam tindakan nyata sebagai tahapan dalam mengasah skill tadi.
Segala informasi yang teramat mudah didapatkan tadi membuat kami menjadi generasi yang ingin segalanya cepat dan mudah alias instan, namun di antara generasi kami yang tergolong tekun, ada juga yang mengulik jauh lebih dalam dan pula rajin mengasah skill mereka. Dan dari hasil pengamatan minim dari penulis, populasi mereka yang tekun amat sangat sedikit jumlahnya.
Sikap dan perilaku “instan” dari gen z dan mungkin juga milenial menciptakan dinamika interaksi baru di lingkungan pekerjaan. Gap generasi yang ada di lingkungan pekerjaan, seringkali membuat gen z dilabeli sebagai generasi yang sulit diajak bekerjasama. Sulit menerima tanggung jawab baru, dirasa sok pintar, namun hasil kerjanya berantakan.
Hhm mengenai dinamika interaksi di atas, penulis pribadi berpendapat bahwa gen z sebetulnya lahir sebagai pribadi yang punya bakat alami sebagai “fast learner”. Sebab mereka amat terbiasa untuk mandiri mencari sumber penyelesaian pekerjaan mereka namun sayangnya mereka amat minim mendapat bimbingan teknis terkait skill mereka dari para generasi di atas mereka.
Selaras dengan yang saya ucapkan di atas bahwa, segela info, tutorial, panduan dan lainnya mudah mereka dapatkan dengan bantuan internet dan media sosial, yang mereka kurang hanya perkara berlatih untuk mempraktikkan “modal” tadi sehingga menjadikan skill baru bagi mereka. Dan jangan lupa perkara praktiknya mereka yang kurang baik, boleh jadi ada andil kita-kita juga yang lebih tua. Kita kadung menganggap mereka sulit diajak bekerjasama sehingga bimbingan dari kita ke mereka minim sekali. Hai para milenial dan generasi yang lebih tua, sadarkah kalian bahwa dunia kerja bagi gen z merupakan hal baru yang sedang mereka alami di hidupnya?!
Okay sekarang apa sih yang aneh pada pola interaksi mereka dengan generasi yang berbeda di dalam lingkup pekerjaan? Gen z tumbuh dengan kemudahan akses ke dunia informasi, hal ini menjadikan mereka punya bakat alami menjadi seorang fast learner dan menjadikan pribadi yang sangat mandiri. Kemandirian mereka memberikan kesan bagi kita yang lebih tua sebagai sebuah sikap yang dinilai kurang kolaboratif.
Padahal perkara kerjasama, di dalam pikiran penulis pangkal masalahnya adalah komunikasi. Hahaha klise banget ya, tapi coba jika kita renungkan, gw yakin akan sampai pada titik itu juga kok. Kita milenial yang tumbuh dalam budaya “nongkrong” mulai dari era sekolah, kampus, sampai di masyarakat mustinya mampu berperilaku lebih luwes ke mereka dong, baik interaksi dalam konteks pergaulan dan kudunya mampu memilah metode komunikasi yang paling efektif dan “nyambung”.
Ingat frens, pengalaman interaksi gen z terbesar boleh jadi ada di dalam media sosial, mereka mungkin sedikit bergaul dengan para senior di lingkungan tongkrongan, mereka mungkin ga pernah banyak hidup dalam lingkup pergaulan yang sarat dengan tekanan senioritas, jadi wajar mereka kurang luwes dalam bergaul.
Nah kita yang kenyang bergaul, musti sabar dan pelan-pelan menjalin interkasi dan komunikasi yang efektif dengan adik kita tadi.
Okay segini dulu ya, ini merupakan pendapat pribadi dari penulis ya, masih jauh dari sempurna dan perlu ditelaah dan sangat perlu dikritisi ulang. Semoga interaksi sempurna antara kita milenial yang merupakan populasi terbesar di rata-rata kantor dengan adik kita yang gen z mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih maju sehingga bonus demografi bisa diraih.
Adios frens, sampai ketemu di tulisan dan cerita yang lain yak.
Komentar
Posting Komentar