BAB 2 Buku:TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764-1962
Halo Frens, gw mau melanjutkan
rangkuman dari e book yang gw punya yang berjudul: TAREKAT MASON BEBAS DAN
MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764 – 1962
Ini buku merupakan karya dari Dr.
Th. Stevens yang judul aslinya adalah Vrijmetselarij en samenleving in
Nederlands-Indiƫ en Indonesie 1764-1962.
Di rangkuman kali ini kita
masuk ke Bab 2 yang berjudul “TRANSISI KE ZAMAN BARU 1870-1890”. Silahkan
disimak ya, kali aja menemuka hal yang menarik dan layak untuk dimasukkan ke media penyimpanan pengetahuan di dalam otak kalian.
Jejak Modernitas yang
Terlupakan: 5 Hal Tak Terduga dari Era Transisi Hindia Belanda (1870–1890)
Halo manteman, balik lagi di
tulisan gw! Pernah ga sih kalian merasa kalau dunia zaman sekarang ini
bergeraknya terlalu cepat? Menariknya, perasaan "akselerasi zaman"
ini ternyata bukan monopoli generasi internet saja, lho. Di paruh kedua abad
ke-19, penduduk Hindia Belanda juga merasakan guncangan yang sama.
Titik baliknya itu terjadi
pada tahun 1869, saat Terusan Suez resmi dibuka. Jarak Eropa dan Asia Tenggara
yang tadinya membentang ribuan kilometer mendadak menciut. Waktu tempuh yang
tadinya butuh berbulan-bulan, sukses dipangkas hanya menjadi hitungan minggu.
Transisi dari kapal layar ke kapal api ini bukan sekadar pergantian teknologi
transportasi, tapi juga mengubah ritme kecepatan hidup. Dari periode 1870–1890
inilah lahir fondasi gaya hidup modern yang struktur dasarnya—mulai dari jam
kerja kantoran sampai birokrasi yang gemuk—masih bisa kita temui sampai detik
ini.
Yuk, kita bedah 5 hal tak
terduga dari era transisi ini!
1. Runtuhnya "Budaya
Bujang" dan Lahirnya Keluarga Modern
Sebelum tahun 1870, Hindia
Belanda itu ibarat wilayah "pionir kaum lelaki". Karena perjalanan
dari Eropa ke sini sangat sulit dan ada aturan ketat yang membatasi kedatangan
pasangan menikah, sedikit sekali wanita Eropa yang menginjakkan kaki di tanah
jajahan. Ujung-ujungnya, muncul deh "budaya bujang", di mana para
pria Eropa biasanya hidup berdampingan dengan selir atau nyai. Sifat
campuran ini sering terekam di foto-foto lama keluarga kolonial.
Namun, pembukaan Terusan Suez
perlahan mengubah wajah sosiologis ini. Gelombang wanita Eropa
"totok" mulai berdatangan, membawa serta standar moral dan struktur
sosial baru yang lebih bernuansa Eropa. Komunitas yang tadinya lumayan membaur dan
cair, perlahan bertransformasi menjadi masyarakat yang lebih kaku dan
terpisah-pisah. Pertumbuhan orang Eropa di Jawa pun melonjak tajam, dari
sekitar 44.000 jiwa di tahun 1860, melompat menjadi 91.000 jiwa pada tahun
1900.
2. Sisi Gelap Kolonial:
Nasib "Golongan Paria" Indo-Eropa
Di balik kemegahan rumah-rumah
berventilasi besar dengan lantai marmer, ternyata ada cerita sedih yang sering
terabaikan. Tidak semua orang berdarah Belanda itu hidup mewah frens. Sejarawan
Rob Nieuwenhuys sampai menggunakan istilah "golongan paria" untuk
menggambarkan komunitas Indo-Eropa yang terpinggirkan akibat kalah bersaing
dengan kaum "totok" yang baru datang.
Mereka banyak yang hidup dalam
kemiskinan dan terjebak masalah sosial seperti penyelundupan opium. Ironisnya,
meski secara hukum menyandang status "Eropa", sebuah penelitian
mengungkap fakta mengejutkan: 41% anak Eropa yang masuk sekolah dasar sama
sekali tidak bisa berbahasa Belanda. Mereka lebih akrab dengan bahasa daerah
atau bahasa Melayu pasar. Realitas ini sukses membuat mereka makin tertekan di
pasar tenaga kerja yang semakin menuntut kualifikasi formal.
3. "Amerika di
Timur": Eksperimen Kewirausahaan di Deli
Sementara pemerintah pusat di
Jawa tengah pusing mengurus krisis keuangan akibat biaya infrastruktur dan
Perang Aceh yang sangat mahal, ada fenomena berbeda yang muncul di pesisir
timur Sumatra. Di wilayah Deli, terjadi transformasi fisik yang sangat agresif.
Hutan belantara yang tak terjamah disulap menjadi kota modern dalam sekejap
berkat semangat kapitalisme swasta yang berani.
Deli seolah menjadi anomali.
Semangat bisnis tembakau dan karet di sana menciptakan iklim "Amerika di
Timur", sebuah model sukses wirausaha Barat yang bertolak belakang dengan
birokrasi Jawa yang kaku. Tetapi ada ironi besar di sini, undang-undang agraria
baru yang memberi ruang bagi swasta justru menuntut pengawasan pemerintah yang
lebih ketat—mulai dari pendaftaran tanah hingga batas upah minimum. Alhasil,
aparat birokrasi malah bertambah besar. Di sinilah cikal bakal dari apa yang
kita sebut "negara pegawai negeri" mulai terbentuk.
4. Freemasonry: Bukan
Sekadar Rahasia, Tapi Agen Sosial
Satu elemen yang sering
disalahpahami dalam sejarah kita adalah peran Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij).
Jauh dari sekadar sekte rahasia yang menyeramkan, pada masa transisi ini mereka
justru berfungsi sebagai agen sosial aktif yang mencoba mengisi celah
penderitaan masyarakat melalui inisiatif nyata:
·
Bank Pembantu (Hulpbank): Ini
adalah upaya konkret mereka untuk melawan rentenir. Mereka memberikan pinjaman
dengan bunga yang sangat manusiawi, kontras banget dengan rentenir yang
bunganya bisa mencekik klien.
·
Pendidikan dan Keterampilan: Mereka
mempelopori sekolah TK (Frobel), sekolah pertukangan (ambachtsschool),
sampai kursus dagang. Tujuannya jelas, yaitu membekali kaum miskin agar bisa
bersaing di zaman baru.
·
Literasi Masyarakat: Melalui perpustakaan
rakyat "De Verlichting" di Semarang, mereka berusaha mencegah
masyarakat di pedalaman agar tidak "tumpul secara rohani" akibat
terisolasi.
Gedung-gedung loji ini juga
menjadi ruang pertemuan unik yang melintasi batas rasial. Di sanalah para elite
Belanda bisa berdiskusi dengan tokoh pribumi progresif seperti Pangeran Ario
Notodirodjo dan Raden Adipati Tirto Koesoemo.
5. Penutup: Warisan dalam
Struktur dan Pikiran
Periode 1870–1890 ini
benar-benar meletakkan fondasi fisik bagi Indonesia modern: mulai dari rel
kereta api yang membelah Jawa, sistem irigasi raksasa, sampai modernisasi
pelabuhan. Namun, warisan yang paling membekas mungkin adalah lahirnya
"negara pegawai negeri" tadi. Struktur birokrasi yang gemuk ini
muncul karena pemerintah kolonial tetap ingin menjadi faktor pengendali utama
di tengah arus liberalisasi ekonomi.
Sebagai penutup, ada pertanyaan reflektif nih buat kita renungkan: Kalau infrastruktur dan institusi kita hari ini banyak yang lahir dari rahim transisi kolonial tersebut, sejauh mana sih mentalitas "zaman baru" itu—baik semangat wirausahanya yang berani maupun ketergantungannya pada birokrasi yang kaku—masih mengendap dalam cara kita bernegara saat ini? Hhm, menarik untuk dipikirkan ya manteman.

Komentar
Posting Komentar