Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?
Halo Frens!
Dahulu, mungkin kenangan kolektif
kita tentang pendaki gunung terpaku pada satu pola dan gaya seragam:
sosok-sosok maskulin berambut gondrong dan kadang mengenakan bandana/slayer,
memikul carrier jumbo yang tampak lebih berat dari tubuh mereka, dan
memiliki ketangguhan fisik yang ditempa dalam diksar komunitas pecinta alam.
Mereka adalah orang-orang yang paham mana bentuk awan yang mengandung uap air dan
tahu arah mata angin yang bergerak menembus pekatnya kabut dalam sunyi.
Namun hari ini, lanskap itu
telah bergeser secara drastis. Gunung bukan lagi sebuah altar sakral yang hanya
bisa dimasuki segelintir orang. Saat kita menelusuri rute-rute pendakian
panjang seperti jalur Gunung Slamet via Dusun Bambangan, misalnya, kita akan
melihat ruang yang jauh lebih "demokratis & egaliter". Kini,
jalur pendakian dipenuhi oleh keluarga muda, pekerja kantoran yang mencari jeda
dari kepenatan rutinitas, hingga para pembuat konten yang membawa perlengkapan
studio ke ketinggian.
Sosok Anisa Mawar Ningrum
menjadi saksi hidup sekaligus ilustrasi sempurna dari transisi ini. Meski
secara visual ia tampak seperti lifestyle influencer yang mencerahkan
layar ponsel kita, Anisa memiliki akar yang jauh lebih dalam. Melalui suaminya
yang aktif di Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI) serta organisasi
legendaris Wanadri, ia berdiri di titik temu antara tradisi pendakian yang disiplin
dan ledakan gaya hidup modern. Kehadiran figur seperti dirinya memicu sebuah
pertanyaan mendasar: Mengapa di era yang menjanjikan segala kemudahan instan
ini, kita justru berbondong-bondong membayar mahal untuk sebuah kelelahan yang
nyata?
Dari Seluloid ke Algoritma:
Konstruksi Keindahan
Pergeseran ini tentu tidak
terjadi secara organik. Konstruksi imajinasi publik mengenai gunung mengalami
titik balik melalui layar lebar—khususnya film 5 cm—yang berhasil
meruntuhkan persepsi bahwa mendaki adalah kegiatan ekstrem yang menyeramkan.
Gunung bertransformasi menjadi sebuah pengalaman hidup yang "estetik"
dan seolah wajib dicoba oleh siapa pun.
Setelah layar lebar membuka
pintu, media sosial mengambil alih estafetnya. Bahkan saat saya sedang
mereka-reka konsep dan slogan untuk membangun sebuah channel YouTube
khusus outdoor enthusiast, saya menyadari betul hal ini: gunung kini
telah menjadi komoditas visual yang masif. Matahari terbit, lautan awan, kopi
yang mengepul di atas teko trangia, hingga hammock yang tergantung
di antara barisan pinus diproduksi secara berulang sebagai konten digital yang
menggiurkan.
Fenomena ini kian
terakselerasi pasca-pandemi. Ada semacam "balas dendam" massal
terhadap ruang tertutup. Kita merindukan udara yang tidak melewati saringan AC
dan memiliki kebutuhan eksistensial untuk memastikan bahwa dunia luar yang
autentik masih benar-benar ada.
Geografi Rupiah: Ketika
Sunyi Menjadi Komoditas
Sebagai seseorang yang
sehari-hari berkutat dalam urusan penyusunan dan analisa laporan keuangan,
insting saya langsung menyala melihat pergeseran ini. Ledakan minat pada alam
liar bukan sekadar tren hobi yang numpang lewat, melainkan sebuah mesin ekonomi
dengan daya dorong raksasa.
Bayangkan saja, skala industri
wisata petualangan global kini telah melampaui angka USD 400 miliar dan
diproyeksikan akan terus membengkak hingga menyentuh lebih dari USD 1 triliun
sebelum pertengahan dekade mendatang. Di Indonesia sendiri, catatan Badan Pusat
Statistik (BPS) menunjukkan angka fantastis: 1,02 miliar perjalanan wisatawan
nusantara sepanjang tahun 2024. Ini adalah rekor tertinggi yang sebagian besar
ditopang oleh sektor wisata alam.
Angka-angka makro ini bukan
sekadar statistik dingin. Mereka mencerminkan perubahan cara generasi kita
mencari makna. Pertumbuhan pesat merek peralatan outdoor lokal dan
menjamurnya jasa open trip membuktikan lahirnya sebuah "ekonomi
pengalaman", di mana kelelahan fisik kini dianggap sebagai investasi
spiritual yang amat berharga.
Negosiasi dengan Realitas di Dunia yang Serba Digital
Secara filosofis, ketertarikan
kita pada alam liar adalah bentuk negosiasi dengan realitas. Di dunia yang
dikepung oleh notifikasi ponsel dan tuntutan algoritma yang melelahkan, alam
menawarkan kejujuran yang mutlak. Di gunung, batu tetaplah batu, lereng tetaplah
terjal, dan hujan lebat sama sekali tidak peduli pada jabatan atau status
sosial kita di kantor.
Gunung memaksa kita
menanggalkan ego. Di sana, esensi bertahan hidup kembali pada hal-hal mendasar
yang esensial—seperti saat kita menimbang-nimbang kepraktisan merawat pisau bushcraft
berbahan stainless steel atau ketajaman ekstra dari pisau carbon
saat membelah kayu di kesunyian hutan. Di momen-momen seperti itulah, tantangan
fisik tak bisa lagi dimanipulasi oleh filter foto.
"We need the tonic of
wildness." — Henry David Thoreau
Apa yang ditawarkan oleh
gunung sebenarnya bukanlah sekadar pemandangan, melainkan sebuah perspektif
baru. Ketinggian memiliki cara unik untuk mengecilkan masalah-masalah kota yang
tadinya terasa raksasa. Dari puncak, kita diingatkan bahwa ambisi dan gengsi
kita hanyalah debu di tengah semesta yang maha luas. Gunung mengembalikan
proporsi ego kita ke tempat yang semestinya.
Beban Tersembunyi:
Tantangan Carrying Capacity
Namun, euforia ini membawa
konsekuensi yang berat. Jawot, seorang akademisi dan dosen pariwisata,
memberikan peringatan kritis mengenai carrying capacity atau daya dukung
lingkungan. Keberhasilan sebuah destinasi wisata gunung tidak boleh diukur dari
seberapa penuh pengunjung yang datang membludak, melainkan dari seberapa lama
ekosistem tersebut mampu bertahan hidup tanpa kehilangan kualitas ekologisnya.
Di sinilah muncul ironi yang
dirasakan oleh pelaku industri seperti Anisa dan suaminya. Mereka hidup dari
perputaran ekonomi industri ini, namun mereka jugalah yang paling sadar akan
kerapuhan ekosistem yang mereka cintai. Peningkatan volume pendaki berbanding
lurus dengan timbulan sampah, erosi jalur yang masif, hingga tekanan pada
sumber air lokal. Belum lagi risiko keselamatan yang membengkak akibat pendaki
pemula nan fomo yang datang hanya bermodal "keberanian dan dorongan dari sebuah video estetik di tiktok",
tanpa pemahaman teknis soal cuaca maupun etika berkegiatan luar ruangan.
Mencintai dengan Benar:
Dari Euforia Menuju Karakter
Bagi Anisa—dan rasanya bagi
kita semua—tantangan ke depan bukan lagi soal bagaimana mengajak orang untuk
mencintai gunung. Gunung sudah terlalu ramai. Tantangan terbesarnya adalah:
mengajarkan cara mencintai alam dengan benar. Keberlanjutan bukan sekadar soal
aturan dari pengelola taman nasional, melainkan soal pembentukan karakter.
Mencintai gunung berarti
memahami bahwa foto keemasan saat matahari terbit tidak akan pernah sepadan
dengan nyawa yang dipertaruhkan secara sembrono. Keindahan lanskap alam tidak
sepadan dengan jejak sampah yang kita tinggalkan. Kita harus sampai pada
kesadaran paling dalam: alam memiliki batas, dan kita hanyalah tamu yang
seharusnya tahu diri.
"Alam tak membutuhkan
kita. Kitalah yang membutuhkan alam."
Akhirul Kalam: Membawa Pulang
Rasa Hormat
Jika kebangkitan tren outdoor
ini hanya sekadar memindahkan keramaian kota ke tempat sunyi tanpa disertai
perubahan karakter pendakinya, maka kita sedang memanen sebuah ironi besar.
Gunung yang ramai mungkin kabar baik bagi perputaran ekonomi lokal, namun
keberhasilan sejatinya baru tercipta ketika setiap orang yang turun dari puncaknya
membawa pulang rasa hormat yang jauh lebih besar terhadap alam semesta dan seisinya.
Pada akhirnya, sebuah
pertanyaan tajam layak kita ajukan kepada diri sendiri di akhir setiap
perjalanan: Apakah saat turun gunung, kita membawa pulang kesadaran baru
yang mengubah cara kita memandang hidup, atau kita hanya membawa turun tumpukan
foto untuk memberi makan beranda media sosial kita?
Sampai jumpa di catatan
perjalanan Areta Bercerita selanjutnya, temukan makna di setiap kelana!
Ini adalah sebuah tulisan yang
saya buat untuk merespons apa yang saya baca pada sebuah tulisan menarik pada
link di bawah:
https://www.distrikutara.com/article/ketika-gunung-menjadi-ramai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar