Kamis, 30 Juli 2026

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?


Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?

Halo Frens!

 

Dahulu, mungkin kenangan kolektif kita tentang pendaki gunung terpaku pada satu pola dan gaya seragam: sosok-sosok maskulin berambut gondrong dan kadang mengenakan bandana/slayer, memikul carrier jumbo yang tampak lebih berat dari tubuh mereka, dan memiliki ketangguhan fisik yang ditempa dalam diksar komunitas pecinta alam. Mereka adalah orang-orang yang paham mana bentuk awan yang mengandung uap air dan tahu arah mata angin yang bergerak menembus pekatnya kabut dalam sunyi.

Namun hari ini, lanskap itu telah bergeser secara drastis. Gunung bukan lagi sebuah altar sakral yang hanya bisa dimasuki segelintir orang. Saat kita menelusuri rute-rute pendakian panjang seperti jalur Gunung Slamet via Dusun Bambangan, misalnya, kita akan melihat ruang yang jauh lebih "demokratis & egaliter". Kini, jalur pendakian dipenuhi oleh keluarga muda, pekerja kantoran yang mencari jeda dari kepenatan rutinitas, hingga para pembuat konten yang membawa perlengkapan studio ke ketinggian.

Sosok Anisa Mawar Ningrum menjadi saksi hidup sekaligus ilustrasi sempurna dari transisi ini. Meski secara visual ia tampak seperti lifestyle influencer yang mencerahkan layar ponsel kita, Anisa memiliki akar yang jauh lebih dalam. Melalui suaminya yang aktif di Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI) serta organisasi legendaris Wanadri, ia berdiri di titik temu antara tradisi pendakian yang disiplin dan ledakan gaya hidup modern. Kehadiran figur seperti dirinya memicu sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa di era yang menjanjikan segala kemudahan instan ini, kita justru berbondong-bondong membayar mahal untuk sebuah kelelahan yang nyata?

Dari Seluloid ke Algoritma: Konstruksi Keindahan

Pergeseran ini tentu tidak terjadi secara organik. Konstruksi imajinasi publik mengenai gunung mengalami titik balik melalui layar lebar—khususnya film 5 cm—yang berhasil meruntuhkan persepsi bahwa mendaki adalah kegiatan ekstrem yang menyeramkan. Gunung bertransformasi menjadi sebuah pengalaman hidup yang "estetik" dan seolah wajib dicoba oleh siapa pun.

Setelah layar lebar membuka pintu, media sosial mengambil alih estafetnya. Bahkan saat saya sedang mereka-reka konsep dan slogan untuk membangun sebuah channel YouTube khusus outdoor enthusiast, saya menyadari betul hal ini: gunung kini telah menjadi komoditas visual yang masif. Matahari terbit, lautan awan, kopi yang mengepul di atas teko trangia, hingga hammock yang tergantung di antara barisan pinus diproduksi secara berulang sebagai konten digital yang menggiurkan.

Fenomena ini kian terakselerasi pasca-pandemi. Ada semacam "balas dendam" massal terhadap ruang tertutup. Kita merindukan udara yang tidak melewati saringan AC dan memiliki kebutuhan eksistensial untuk memastikan bahwa dunia luar yang autentik masih benar-benar ada.

Geografi Rupiah: Ketika Sunyi Menjadi Komoditas

Sebagai seseorang yang sehari-hari berkutat dalam urusan penyusunan dan analisa laporan keuangan, insting saya langsung menyala melihat pergeseran ini. Ledakan minat pada alam liar bukan sekadar tren hobi yang numpang lewat, melainkan sebuah mesin ekonomi dengan daya dorong raksasa.

Bayangkan saja, skala industri wisata petualangan global kini telah melampaui angka USD 400 miliar dan diproyeksikan akan terus membengkak hingga menyentuh lebih dari USD 1 triliun sebelum pertengahan dekade mendatang. Di Indonesia sendiri, catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka fantastis: 1,02 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang tahun 2024. Ini adalah rekor tertinggi yang sebagian besar ditopang oleh sektor wisata alam.

Angka-angka makro ini bukan sekadar statistik dingin. Mereka mencerminkan perubahan cara generasi kita mencari makna. Pertumbuhan pesat merek peralatan outdoor lokal dan menjamurnya jasa open trip membuktikan lahirnya sebuah "ekonomi pengalaman", di mana kelelahan fisik kini dianggap sebagai investasi spiritual yang amat berharga.

 Negosiasi dengan Realitas di Dunia yang Serba Digital

Secara filosofis, ketertarikan kita pada alam liar adalah bentuk negosiasi dengan realitas. Di dunia yang dikepung oleh notifikasi ponsel dan tuntutan algoritma yang melelahkan, alam menawarkan kejujuran yang mutlak. Di gunung, batu tetaplah batu, lereng tetaplah terjal, dan hujan lebat sama sekali tidak peduli pada jabatan atau status sosial kita di kantor.

Gunung memaksa kita menanggalkan ego. Di sana, esensi bertahan hidup kembali pada hal-hal mendasar yang esensial—seperti saat kita menimbang-nimbang kepraktisan merawat pisau bushcraft berbahan stainless steel atau ketajaman ekstra dari pisau carbon saat membelah kayu di kesunyian hutan. Di momen-momen seperti itulah, tantangan fisik tak bisa lagi dimanipulasi oleh filter foto.

"We need the tonic of wildness." — Henry David Thoreau

Apa yang ditawarkan oleh gunung sebenarnya bukanlah sekadar pemandangan, melainkan sebuah perspektif baru. Ketinggian memiliki cara unik untuk mengecilkan masalah-masalah kota yang tadinya terasa raksasa. Dari puncak, kita diingatkan bahwa ambisi dan gengsi kita hanyalah debu di tengah semesta yang maha luas. Gunung mengembalikan proporsi ego kita ke tempat yang semestinya.

Beban Tersembunyi: Tantangan Carrying Capacity

Namun, euforia ini membawa konsekuensi yang berat. Jawot, seorang akademisi dan dosen pariwisata, memberikan peringatan kritis mengenai carrying capacity atau daya dukung lingkungan. Keberhasilan sebuah destinasi wisata gunung tidak boleh diukur dari seberapa penuh pengunjung yang datang membludak, melainkan dari seberapa lama ekosistem tersebut mampu bertahan hidup tanpa kehilangan kualitas ekologisnya.

Di sinilah muncul ironi yang dirasakan oleh pelaku industri seperti Anisa dan suaminya. Mereka hidup dari perputaran ekonomi industri ini, namun mereka jugalah yang paling sadar akan kerapuhan ekosistem yang mereka cintai. Peningkatan volume pendaki berbanding lurus dengan timbulan sampah, erosi jalur yang masif, hingga tekanan pada sumber air lokal. Belum lagi risiko keselamatan yang membengkak akibat pendaki pemula nan fomo yang datang hanya bermodal "keberanian dan dorongan dari sebuah video estetik di tiktok", tanpa pemahaman teknis soal cuaca maupun etika berkegiatan luar ruangan.

Mencintai dengan Benar: Dari Euforia Menuju Karakter

Bagi Anisa—dan rasanya bagi kita semua—tantangan ke depan bukan lagi soal bagaimana mengajak orang untuk mencintai gunung. Gunung sudah terlalu ramai. Tantangan terbesarnya adalah: mengajarkan cara mencintai alam dengan benar. Keberlanjutan bukan sekadar soal aturan dari pengelola taman nasional, melainkan soal pembentukan karakter.

Mencintai gunung berarti memahami bahwa foto keemasan saat matahari terbit tidak akan pernah sepadan dengan nyawa yang dipertaruhkan secara sembrono. Keindahan lanskap alam tidak sepadan dengan jejak sampah yang kita tinggalkan. Kita harus sampai pada kesadaran paling dalam: alam memiliki batas, dan kita hanyalah tamu yang seharusnya tahu diri.

"Alam tak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan alam."

Akhirul Kalam: Membawa Pulang Rasa Hormat

Jika kebangkitan tren outdoor ini hanya sekadar memindahkan keramaian kota ke tempat sunyi tanpa disertai perubahan karakter pendakinya, maka kita sedang memanen sebuah ironi besar. Gunung yang ramai mungkin kabar baik bagi perputaran ekonomi lokal, namun keberhasilan sejatinya baru tercipta ketika setiap orang yang turun dari puncaknya membawa pulang rasa hormat yang jauh lebih besar terhadap alam semesta dan seisinya.

Pada akhirnya, sebuah pertanyaan tajam layak kita ajukan kepada diri sendiri di akhir setiap perjalanan: Apakah saat turun gunung, kita membawa pulang kesadaran baru yang mengubah cara kita memandang hidup, atau kita hanya membawa turun tumpukan foto untuk memberi makan beranda media sosial kita?

Sampai jumpa di catatan perjalanan Areta Bercerita selanjutnya, temukan makna di setiap kelana!

 

Ini adalah sebuah tulisan yang saya buat untuk merespons apa yang saya baca pada sebuah tulisan menarik pada link di bawah:

https://www.distrikutara.com/article/ketika-gunung-menjadi-ramai

Kalian bisa baca sendiri tulisan menarik di atas yah frens, dan silahkan berargumen dan tuliskan apa yang ada di benak dan kepala kalian!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah? Halo Frens!   Dahulu, mungkin kenangan kolektif kita tentan...