Areta adalah nama belakang adik terkecilku, yang dari mulut kecilnya apapun suara yang keluar sungguh menginspirasi ku yang 20 Tahun lebih tua darinya, dan Namanyapun akhirnya ku jadikan Nama untuk Laman Blog ku ini, semoga lewat ini bisa sungguh memberikan inspirasi bagi siapapun tanpa terbatas umur, golongan, dan sekat-sekat lainnya. Silahkan menyimak Cerita Areta.
Senin, 23 Januari 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
With My Own Two Hands - Lyrics
Jack Johnson Featuring Ben Harper
I can change the world
With my own two hands
Make it a better place
With my own two hands
Make it a kinder place
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I can make peace on earth
With my own two hands
I can clean up the earth
With my own two hands
I can reach out to you
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I'm going to make it a brighter place
With my own two hands
I'm going to make it a safer place
With my own two hands
I'm going to help the human race
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I can hold you
With my own two hands
I can comfort you
With my own two hands
But you've got to use
Use your own two hands
Use your own
Use your own two hands
With our own
With our own two hands
With my own
With my own two hands
I can change the world
With my own two hands
Make it a better place
With my own two hands
Make it a kinder place
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I can make peace on earth
With my own two hands
I can clean up the earth
With my own two hands
I can reach out to you
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I'm going to make it a brighter place
With my own two hands
I'm going to make it a safer place
With my own two hands
I'm going to help the human race
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I can hold you
With my own two hands
I can comfort you
With my own two hands
But you've got to use
Use your own two hands
Use your own
Use your own two hands
With our own
With our own two hands
With my own
With my own two hands
Selasa, 10 Januari 2012
Kertas Berpesan
Ia duduk di beranda pada jam 9
malam
Mengais-ngais keberanian yang
diterbangkan hujan
Demi melayangkan seuntai pesan
Tapi keberaniannya sudah
terlampau jauh melayang
Lalu dia tuliskan pesan di
sehelai kertas
Kemudian dia lipat, sampai esok
masih terlipat
Dan...
Kertas-kertas berpesan,
akhirnya tak pernah sampai padanya...
Minggu, 08 Januari 2012
Inginku Dibalas Tuhan, Tunai ..
Hari-hari
dalam minggu ini, aku benar-benar mendambakan akhir pekan,
Akhir
pekan yang tenang, dan bisa istirahat panjang
Bisa
ngopi sambil tiduran
Dan
sesekali merokok kretek ketengan
Dan
Tuhan memang betul adanya Maha Mendengar..
Dia
balas tunai semua keinginan ku di hari-hari lalu
Akhir
pekan ini, Bumi Jakarta diguyur hujan tak sudah-sudah
Mulai
dari gerimis, kemudian menderas, dan gerimis lagi
Kemudian
udara Jakarta berubah menjadi sangat bersahabat
Jadi
momen yang tepat untuk berlama-lama di kasur
Membuat
diri ini nikmat bergulung di balik kehangatan Sleeping Bag
Bisa
bangun rada siang, kemudian balik lagi ke kamar tanpa harus merasa gerah
Terima
kasih Tuhan, kamu dengar apa yang ku inginkan
Akhir
pekan ini aku bisa istirahat panjang
Bisa
baca buku sambil tiduran,
Bisa
ngopi dengan tenang, di tengah musik yang mengalun
Semoga
besok semua tantangan terasa ringan...
Sabtu, 07 Januari 2012
Cerita Tentang Tjilik Riwut
Nama
Tjilik Riwut, secara jelas atau samar-samar tentulah kalian pernah
mendengarnya.
Apa
yang terlintas di dalam kepala kalian ketika pertama mendengar nama Tjilik
Riwut?
Nama
Pahlawan Nasional ?!
Nama
Bandar Udara kah ?!
Atau
justru melintas dalam kepala kalian tentang Pulau Kalimantan dan Suku Dayaknya
?!
Tiga
hal yang aku sebutkan di atas memang benar adanya berhubungan erat dengan nama Tjilik
Riwut.
Beliau
memang betul seorang Pahlawan Nasional yang diakui oleh bangsa ini semenjak
ditetapkan secara resmi pada tahun 1998.
Nama
belliaupun dipakai untuk Nama Bandara Kalimantan Tengah, yang dulu
bernama Bandara Panarung.
Dan
sang Pahlawan kita yang satu ini memang betul anak asli Suku Dayak yang
bersumpah setia kepada NKRI di tahun 1946, di hadapan Presiden Soekarno.
Tjilik
Riwut, nama yang terdengar asing dan unik di telinga ku
ketika pertama kali mengetahuinya saat belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di
bangku SD dulu.
Unik
karena kata “cilik” merupakan salah satu kata dalam bahasa Jawa
yang berarti kecil, tapi beliau bukanah berasal dari Jawa, malahan asli Kalimantan.
Dan
riwut adalah kata yang asing sekali di telinga ku, bahkan aku berpikir kata ini
mustilah bukan berasal Bahasa Indonesia.
Yang
familiar di telingaku mungkin adalah kata Ribut, Ruwet, Rumit atau bahkan
Rawit, dan kata Riwut sungguh asing sekali bagi ku.
Jujur
ketika pertama kali mendengar nama ini, bayanganku tentang orang ini adalah
orang yang berperawakan kecil yang suka berbuat onar dan keributan tapi sungguh
disegani orang, seperti kata peribahasa “kecil-kecil cabe rawit”.
Tjilik
Riwut lahir di wilayah Kasongan, yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten
Katingan, Propinsi Kalimantan Tengah. Beliau lahir pada tanggal 2
Februari 1918 dari orang tua yang asli Suku Dayak Ngaju.
Beliau
semenjak muda dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai Kalimantan, beserta
Suku Dayak dan Kebudayaannya.
Bahkan
ketika beliau, beliau pernah tiga kali mengelilingi Pulau Kalimantan dengan
berjalan kaki, naik perahu ataupun rakit !!
Nah
sampai sini, ceritanya mirip dengan Ernesto “Che” Guevara kan, yang masa
mudanya juga pernah berkeliling Amerika Selatan dengan Sepeda Motornya !?
Boleh
dibilang Tjilik Riwut adalah orang Dayak pertama yang menuntut ilmu
sampai Ke Pulau Jawa. Dan beliaupun pernah tercatat sebagai anggota Komite
Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
Setelah
Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaannya, Tjilik kembali pulang ke kampung
halamannya di Kalimantan Tengah.
Beliau
pulang sembari mengemban tugas dari Pemerintah Republik Indonesia untuk
memberikan persepsi yang sama tentang kemerdekaan kepada 142 Suku Dayak yang
tersebar di seluruh Pulau Kalimantan.
Dan
tugas ini dijalani dengan hasil yang memuaskan, ketika pada tahun 1946
di hadapan Presiden Soekarno, Tjilik Riwut yang mewakili 142 suku Dayak
mengangkat sumpah untuk setia sampai mati membela NKRI.
Semenjak
saat itu Tjilik Riwut aktif dalam Pemerintahan di tanah kelahirannya. Dan pada
puncaknya beliau pernah dipercaya untuk naik menjadi Gubernur Kalimantan Tengah.
Karena
beliau asli suku Dayak, maka tak heran rasanya jika cerita tentang belliau juga
erat dengan hal-hal yang berbau mistik.
Konon
ketika beliau belum lahir ke dunia, kedua orang tua Tjilik Riwut sering
malakukan “Balampah” atau bertapa memohon kepada Hattala (Dewa
Tertinggi Dalam Kepercayaan Suku Dayak Ngaju) di sebuah tempat bernama Bukit
Batu.
Kedua
orang tua Tjilik sedari dulu memang mendambakan kehadiran sosok anak laki-laki.
Namun berkali-kali sang Ibu, Piai Riwut melahirkan anak laki-laki selalu
saja meninggal saat usian balita.
Hal
inilah yang mendorong sang Ayah, Riwut Dahiang, untuk melakukan Balampah
kepada Sang Hattala.
Di
salah satu pertapaannya, Riwut Dahiang memperoleh wangsit yang isinya, kelak
ketika pasangan ini dikaruniai anak laki-laki, anak tersebut akan menjadi
seorang pemimpin besar yang akan mengemban tugas khusus bagi sukunya.
Dan
ternyata wangsit itu menjadi kenyataan.
Sejak
kecil, Tjilik kerap kali diajak oleh Riwut Dahiang mengunjungi Bukit Batu.
Dan
pada akhirnya, setelah dewasa Tjilik mengikuti kebiasaan sang Ayah untuk
melakukan Balampah di Bukit Batu.
Konon
keputusan Tjilik untuk meninggalkan kampung halamannya untuk menuju tanah Jawa
juga dikarenakan oleh wangsit yang diterimanya kala bertapa di Bukit Batu.
Ada
satu lagi cerita mistik saat masa perang merebut kemerdekaan RI.
Tjilik
yang bertugas memimpin perang melawan Penjajah, selalu mencari wangsit dengan
bertapa di Bukit Batu.
Sampai
pada suatu ketika, Tjilik menemukan batu pipih yang berbentuk mirip dengan Daun
Telinga sepulangnnya dari melakukan Balampah.
Dan
batu ini bukanlah sembarang batu, jika ditempelkan ke telinga, batu ini akan
memberikan kekuatan yang dapat mendengarkan dan memonitor keberadaan musuh dan
strategi perang yang tengah disusun musuh.
Sehingga
lewat bantuan batu ini, tiap kali berperang dengan musuh-musuhnya pasukan
Tjilik selalu dapat memenangkan Pertempuran.
Namun
setelah kemerdekaan berhasil diraih, batu itu tiba-tiba hilang secara misterius
dan tak meninggalkan bekas..
Sampai
sekarang, tempat bernama Bukit Batu masih ada. Terletak sekitar 40 KM dari
pusat Kota Palangkaraya, atau hanya berjarak 10 KM dari Kabupaten
Katingan, tanah kelahiran Tjilik Riwut.
Tempat itu sekarang dikenal sebagai Pertapaan Tjilik
Riwut, dan menjadi salah satu objek wisata sejarah yang kerap kali dikunjungi
wisatawan.
Demikian
cerita tentang Tjilik Riwut, yang bagi ku ceritanya sama hebatnya dengan cerita
tentang Winnetou dan Che Guevara, tapi ini adalah tokoh asli dari Indonesia.
Dan
semoga dengan cerita ini makin menambah wawasan kita dan memupuk kecintaan kita
kepada tokoh Pahlawan Nasional.
Kamis, 05 Januari 2012
Kisah dari dusun Kinahrejo
Liburan
saya terkahir ke buminya Sultan HB X, saya menyempatkan diri berkunjung ke
dusun Kinahrejo, tanah kelahiran dari Raden Ngabehi Surakso Hargo atau
kalian lebih mengenalnya Mbah Maridjan, dari kaki gunung Merapi.
Pasca
erupsi Merapi terakhir di bulan November dan awal Desember 2010, akhirnya dusun
kinahrejo kembali menggeliat dengan dibukanya wisata erupsi merapi di dusun
Kinahrejo, Sleman, DI Yogyakarta.
Betul-betul
bangkit kondisi di sana, terlihat dengan tidak adanya warga yang meminta-minta
sumbangan seperti biasa kita saksikan di Jakarta.
Penduduk
di sekitar daerah erupsi sudah betul-betul mandiri dan kembali melajutkan
perjuangan hidup, tanpa mengharap belas kasihan pihak lain. Setidaknya begitulah
yang saya saksikan ketika November 2011 saya ke sana.
Satu
hal yang saya catat, penduduk di sana sangat bangga dengan Mbah Maridjan,
terbukti ketika saya bertanya tentang lokasi Dusun Kinahrejo, warga sekitar
menyebutkan bahwa jika mau menuju rumahnya AYAH, saya sudah berada di jalur
yang tepat.
Penduduk
sekitar memanggil Mbah Maridjan dengan sebutan AYAH, saya rasa ini bukti bahwa
mereka sungguh sangat menghormati dan menyayangi beliau.
Ada
satu nasihat dari Mbah Maridjan, yang saya baca di Banner dekat rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo,
bunyinya begini :
“Ajining
Manungsa Iku Gumantung Ana Ing Tanggung Jawabe Maring Kewajibane, Kehormatan
Seseorang Dinilai dari Tanggung Jawab terhadap Kewajibannya”
Mari
sama-sama kita renungkan nasihat ini...
Dari
Mbah Maridjan saya belajar bahwa loyalitas bukanlah berlaku untuk seorang budak
saja, tapi loyalitas adalah sebuah kehormatan dan tolak ukur kemuliaan.
Labik Lamem Basan Rahi
Minggu ini sungguh
berat terasa, hampir satu minggu full balik di atas jam normal.
Hari-hari dalam
minggu ini sungguh saya amat mendambakan akhir pekan
Rindu kasur
Rindu tidur nyenyak
Rindu kopi yang bisa
dinikmati dengan tenang
Hari-hari dalam
minggu ini sungguh saya semakin sadar betapa beratnya perjuangan hidup,
Makin ngerti akan
kata-kata orang tua bahwa nyari duit itu susah,
Makin ngerti bahwa
jadi orang dewasa beban hidup juga semakin sarat
Bagusnya saya masih
bisa ketawa-tawa di kantor,
bagusnya saya masih berani bangun pagi untuk
kembali berjuang di kantor.
Yah ini hidup, kadang
kita musti berlelah lelah menempuh perjalanan hidup,
kata orang manisnya hidup
akan terasa ketika kita telah lelah berjuang.
(mencoba menyemangati
diri)
Selasa, 03 Januari 2012
Untuk Kamu Yang Tersipu Dan Memerah
Kamu gadis manis,
sederhana, yang senang dengan berdiam
Anggun memang, dan
aku yang dari jauh ingin sekali bertukar lisan
Tapi ,melihatmu yang
selalu tenggelam dalam diam
Membuatku enggan
bercampur sungkan
Enggan jika ternyata
sapaku tidak berbalas
Lalu jadi sungkan karena aku sadar, diantara aku dan kamu tergaris batas..
Minggu, 01 Januari 2012
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di
antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang
siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
-Sapardi
Djoko Damono-
Langganan:
Postingan (Atom)
ART CRAFT & Kemunculan AI Clone Software
Apakah Anda pernah merasa lelah terus-menerus membayar biaya langganan bulanan hanya untuk menggunakan perangkat lunak yang sama selama bert...
-
Jadi pada tanggal 17 Juli 2026 yang lalu, karya terbaru Christopher Nolan yang berjudul The Odyssey akhirnya tayang di jaringan bioskop yang...
-
Halo Frens pada tulisan kali ini gw mau mencoba memberikan perspektif personal dari hasil perenungan Lagunya Efek Rumah Kaca yang berjudul M...
-
Halo Frens, buat kalian yang biasa menggunakan laptop sebagai alat bantu kerja kalian sehari-hari pastinya pernah berurusan dengan batre yan...






