Halo Frens!
Pernah ga sih lo di tengah kesibukan
sehari-hari—entah itu saat sedang penat menyusun laporan keuangan, berjibaku
dengan tugas kuliah, atau sekadar menembus kemacetan jalan raya—kita mendadak
merasa ada sesuatu yang kosong? Di usia gw yang kini tengah masuk kepala empat,
gw sering kali merenung. Kita kadang terlalu sibuk berlari mengejar pencapaian,
tapi di saat yang sama seolah berubah menjadi "plastik" yang
artifisial dan kehilangan ruh.
Perasaan semacam ini
mengingatkan gw pada satu karya favorit gw dari band Sore, yaitu "Plastik
Kita". Lagu yang tergabung dalam album Los Skut Leboys (2015) ini
bukan sekadar tembang indie pop dengan nada retro yang ear catchy,
melainkan sebuah kritik sosial dan sebuah piranti bercermin bagi kita semua.
Nah di kesempatan perjumpaan
kita kali ini gw mau agak sotoy dengan membedah dan menelaah lirik lagu tersebut,
tentunya dari kesotoy-an dan perspektif gw pribadi ye.
Mari kita bedah pelan-pelan
apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh mendiang abang gw, Bang Ade Paloh melalui liriknya
yang magis ini.
1. Rutinitas yang Mematikan
Rasa
Saat manusia
Tua-muda malam-siang rejam
rasa
Mencari titik kelam usia
Tak berbinar, tak bertuah
Sengajakah kita?
Sore langsung membuka lagu ini
dengan sebuah tamparan realita. Baik tua maupun muda, kita sering terjebak
dalam siklus rutinitas yang perlahan "merejam rasa". Kita bertambah
usia, namun justru menuju titik yang kelam, kehilangan binar kehidupan, dan
kehilangan keberkahan (tak bertuah). Pertanyaan “Sengajakah kita?”
membuat gw berpikir: apakah kita secara sadar memang merancang hidup untuk
menjadi mesin yang selalu "nyala" tapi mati rasa?
2. Hawa Nafsu dan
Keserakahan
Tiadakah puas
Yang bersandar, yang
menjulang pada nikmat
Yang t'lah diberikan-Nya?
Di mana batas kehausan?
Bait ini menyoroti ambisi
manusia yang tidak pernah ada ujungnya. Kita terus menumpuk kekayaan dan mengejar
nikmat duniawi, tapi lupa menyeimbangkan neraca kehidupan dengan rasa syukur.
Hal ini sering mengingatkan gw pada filosofi wayang golek, khususnya karakter
Cepot. Warna merah pada wajah Cepot adalah simbol dari kemarahan dan hawa nafsu
duniawi yang menyala-nyala. Ketika nafsu itu mengambil alih, batas kehausan
kita tidak akan pernah ada, sebuah pengejaran yang abadi dan tak berbatas.
3. Kehampaan dan Pelarian
Menuju yang "Nyata"
Salahkah kita menjalankan
hidup?
Di mana arah tak bertujuan
Sepikah kita?
Sejarah berulang
Kita sirna berpakaian kehampaan
Ketika hidup sudah terasa
artifisial, wajar jika batin kita memberontak dan kita merasa kesepian di
tengah keramaian. Kita perlahan hancur (sirna) namun luarnya tetap
terlihat rapi dibalut “pakaian kehampaan”. Mungkin krisis eksistensial
inilah yang membuat aktivitas seperti lari ke alam bebas selalu terasa
memanggil jiwa. Berada di tengah hutan yang sunyi, sekadar mengandalkan
ketajaman pisau bushcraft untuk bertahan, atau memacu langkah di jalur
pendakian yang curam, menjadi cara yang ampuh untuk kembali merasakan sesuatu
yang otentik dan menanggalkan kepalsuan kota.
4. Teguran untuk Hati yang
Padam
Tak bisakah rasa
Mengalahkan keharusan yang
menjajah
Segenap kalam surga yang
tersimpan
Di hati yang dalam?
Salam, salam
Pada hati yang telah padam,
karam
Bagian outro ini
dinyanyikan berulang-ulang seperti sebuah ironi yang tragis. Tuntutan sosial
dan tekanan materi sering kali menjadi “keharusan yang menjajah” nurani
kita. Akhirnya, lagu ini ditutup dengan sebuah ucapan selamat tinggal (salam)
pada hati yang sudah terlanjur mati, padam, dan karam oleh gaya hidup yang
serba plastik.
Melalui tulisan kali ini, gw
hanya ingin mengajak kita semua untuk sejenak rehat dan menyadari sepenuhnya
tiap helaan nafas kita. Di tengah roda dunia yang berputar makin cepat, jangan
sampai kita kehilangan esensi sebagai manusia. Mari jaga hati agar tak lekas
padam, dan pastikan kita hidup bukan sekadar menjadi tumpukan plastik yang
hampa makna.
Adios, sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar