Kamis, 30 Juli 2026

Tentang "Plastik Kita" nya Sore, Lagu yang Merefleksikan Kehampaan

 


Halo Frens!

Pernah ga sih lo di tengah kesibukan sehari-hari—entah itu saat sedang penat menyusun laporan keuangan, berjibaku dengan tugas kuliah, atau sekadar menembus kemacetan jalan raya—kita mendadak merasa ada sesuatu yang kosong? Di usia gw yang kini tengah masuk kepala empat, gw sering kali merenung. Kita kadang terlalu sibuk berlari mengejar pencapaian, tapi di saat yang sama seolah berubah menjadi "plastik" yang artifisial dan kehilangan ruh.

Perasaan semacam ini mengingatkan gw pada satu karya favorit gw dari band Sore, yaitu "Plastik Kita". Lagu yang tergabung dalam album Los Skut Leboys (2015) ini bukan sekadar tembang indie pop dengan nada retro yang ear catchy, melainkan sebuah kritik sosial dan sebuah piranti bercermin bagi kita semua.

Nah di kesempatan perjumpaan kita kali ini gw mau agak sotoy dengan membedah dan menelaah lirik lagu tersebut, tentunya dari kesotoy-an dan perspektif gw pribadi ye.

 

Mari kita bedah pelan-pelan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh mendiang abang gw, Bang Ade Paloh melalui liriknya yang magis ini.

 

1. Rutinitas yang Mematikan Rasa

Saat manusia

Tua-muda malam-siang rejam rasa

Mencari titik kelam usia

Tak berbinar, tak bertuah

Sengajakah kita?

Sore langsung membuka lagu ini dengan sebuah tamparan realita. Baik tua maupun muda, kita sering terjebak dalam siklus rutinitas yang perlahan "merejam rasa". Kita bertambah usia, namun justru menuju titik yang kelam, kehilangan binar kehidupan, dan kehilangan keberkahan (tak bertuah). Pertanyaan “Sengajakah kita?” membuat gw berpikir: apakah kita secara sadar memang merancang hidup untuk menjadi mesin yang selalu "nyala" tapi mati rasa?

 

2. Hawa Nafsu dan Keserakahan

Tiadakah puas

Yang bersandar, yang menjulang pada nikmat

Yang t'lah diberikan-Nya?

Di mana batas kehausan?

Bait ini menyoroti ambisi manusia yang tidak pernah ada ujungnya. Kita terus menumpuk kekayaan dan mengejar nikmat duniawi, tapi lupa menyeimbangkan neraca kehidupan dengan rasa syukur. Hal ini sering mengingatkan gw pada filosofi wayang golek, khususnya karakter Cepot. Warna merah pada wajah Cepot adalah simbol dari kemarahan dan hawa nafsu duniawi yang menyala-nyala. Ketika nafsu itu mengambil alih, batas kehausan kita tidak akan pernah ada, sebuah pengejaran yang abadi dan tak berbatas.

 

3. Kehampaan dan Pelarian Menuju yang "Nyata"

Salahkah kita menjalankan hidup?

Di mana arah tak bertujuan

Sepikah kita?

Sejarah berulang

Kita sirna berpakaian kehampaan

Ketika hidup sudah terasa artifisial, wajar jika batin kita memberontak dan kita merasa kesepian di tengah keramaian. Kita perlahan hancur (sirna) namun luarnya tetap terlihat rapi dibalut “pakaian kehampaan”. Mungkin krisis eksistensial inilah yang membuat aktivitas seperti lari ke alam bebas selalu terasa memanggil jiwa. Berada di tengah hutan yang sunyi, sekadar mengandalkan ketajaman pisau bushcraft untuk bertahan, atau memacu langkah di jalur pendakian yang curam, menjadi cara yang ampuh untuk kembali merasakan sesuatu yang otentik dan menanggalkan kepalsuan kota.

4. Teguran untuk Hati yang Padam

Tak bisakah rasa

Mengalahkan keharusan yang menjajah

Segenap kalam surga yang tersimpan

Di hati yang dalam?

Salam, salam

Pada hati yang telah padam, karam

Bagian outro ini dinyanyikan berulang-ulang seperti sebuah ironi yang tragis. Tuntutan sosial dan tekanan materi sering kali menjadi “keharusan yang menjajah” nurani kita. Akhirnya, lagu ini ditutup dengan sebuah ucapan selamat tinggal (salam) pada hati yang sudah terlanjur mati, padam, dan karam oleh gaya hidup yang serba plastik.

 

Melalui tulisan kali ini, gw hanya ingin mengajak kita semua untuk sejenak rehat dan menyadari sepenuhnya tiap helaan nafas kita. Di tengah roda dunia yang berputar makin cepat, jangan sampai kita kehilangan esensi sebagai manusia. Mari jaga hati agar tak lekas padam, dan pastikan kita hidup bukan sekadar menjadi tumpukan plastik yang hampa makna.

 

Adios, sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah? Halo Frens!   Dahulu, mungkin kenangan kolektif kita tentan...