HOMO DEUS BAB 1 (Sebuah Rangkuman)
Frens adakah di antara kalian yang telah membaca karya-karya Pak Yuval Noah Harari? Btw gw udh kelar baca satu buku beliau yang berjudul Sapiens. Dan nih buku keren frens, buat lo yang seneng membaca gw sangat merekomendasikan buku ini, biar kalian tahu apa sih faktor paling menentukan yang membuat homo sapiens bisa bertahan sampai hari ini.
Tapi di kesempatan kali ini gw
belum mau menulis tentang ringkasan versi gw dari buku Sapiens, tapi justru gw
mau meringkas Bab 1 dari buku beliau yang berjudul Homo Deus (Buku kedua setelah Sapiens). Kebetulan nih
buku masih in progress untuk gw selesaikan. Jadi simak aja dulu
Bab 1 yang gw udh kelarin ye.
Oh ya ini ada sedikit
informasi tentang Pak Yuval Noah Harari yang sebenernya sih bisa kalian googling
sendiri di internet. Tapi gw copas aja di sini yah hasil pencarian gw.
Yuval Noah Harari adalah seorang sejarawan, filsuf, dan penulis sains populer asal Israel. Ia merupakan profesor di Departemen Sejarah Universitas Ibrani Yerusalem dan penulis buku mega-bestseller global seperti "Sapiens: A Brief History of Humankind", "Homo Deus", dan "21 Lessons for the 21st Century".
Lahir di Israel pada 24 Februari 1976, ia meraih gelar PhD di bidang sejarah dari Universitas Oxford pada tahun 2002. Harari dikenal luas karena kemampuannya merangkum sejarah manusia, biologi, dan masa depan peradaban secara komprehensif, multidisiplin, dan mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Okay sekarang kita lanjut aja lah yah ke ringkasan Bab 1 dari buku HOMO DEUS nya Beliau. Dicek yah frens, kali aja ada yang memicu kalian untuk berpikir dan merenung. Atau bisa jadi ada hal yang bisa kalian bawa ke tongkrongan kalian untuk dibahas ketimbang kalian capek dan emosi bahas isu EMBEGE mulu ya kan!
Dari Makhluk Kelaparan Jadi
Tuhan: 5 Transformasi Radikal Agenda Manusia ala 'Homo Deus'
Pernah ga sih kalian
ngebayangin hidup di abad pertengahan? Selama ribuan tahun, eksistensi manusia
tuh dikepung sama yang namanya aroma busuk kematian massal. Kalau kalian
melihat lukisan The Triumph of Death yang isinya kerangka-kerangka
menyeret kereta tengkorak, itu tuh bukan fiksi horor frens, tapi laporan
realitas masa lampu tadi frens.
Kelaparan, wabah, dan perang
itu ibarat trio maut yang dianggap takdir ilahi atau hukum alam yang kaga bisa
dihindari. Doa jadi satu-satunya teknologi pertahanan yang kita miliki kala
itu. Tapi yaa, hari ini kita lagi menyaksikan "pengkodean ulang"
besar-besaran buat sistem operasi kemanusiaan kita. Di balik cahaya steril
laboratorium bioteknologi di Silicon Valley sana, agenda Homo sapiens
lagi mengalami pergeseran tektonik. Kita kaga lagi sekadar mencoba bertahan
hidup; kita lagi bersiap untuk menjadi Tuhan.
Hhm, rada lebay sedikit sih
mungkin pilihan istilahnya, tapi emang begitu kenyataannya hehehe. Yuk kita
bedah 5 transformasi radikal yang lagi mengubah arah sejarah kita ini!
1. Kelaparan, Wabah, dan
Perang: Dari Takdir Menjadi Kegagalan Politik
Dahulu pas wabah hitam menyapu
Eropa, manusia cuman bisa bersimpuh pasrah. Kematian adalah misteri metafisis.
Tapi coba deh kalian perhatikan statistik hari ini yang bakal bikin nenek
moyang kita terperangah: saat ini, lebih banyak orang meninggal karena obesitas
ketimbang kelaparan, dan lebih banyak orang meninggal karena bunuh diri
ketimbang menjadi korban perang atau terorisme!
Perubahan ini bukan sekadar
kemajuan medis sih menurut gw, tapi lebih ke pergeseran akuntabilitas. Kalau hari
ini terjadi kelaparan massal, kita kaga lagi menyalahkan Tuhan karena menahan
hujan; kita menyalahkan pemerintah karena gagal dalam logistik dan kebijakan.
Kelaparan kini dianggap sebagai kejahatan politik, bukan bencana alam. Perang
pun, buat sebagian besar negara maju, bukan lagi keniscayaan ekonomi melainkan
cuman "kekhilafan teknis" dalam diplomasi.
“Umat manusia tidak lagi
memandang bencana sebagai hukuman Tuhan, melainkan sebagai kegagalan manajemen
yang bisa dievaluasi.”
2. Kematian Itu Cuman Kesalahan
Teknis, Bukan Keniscayaan Metafisis
Selama ribuan tahun, kematian
tuh dipandang sebagai momen sakral, transisi jiwa yang diputuskan sama otoritas
langit. Sains modern menghancurkan ilusi itu. Melalui lensa mikroskop, kita
kaga melihat malaikat maut; kita cuman melihat patogen, kegagalan oksidasi,
atau mutasi seluler.
Nah, kalau kematian adalah
kegagalan sistem biologis, maka secara teoretis, ia bisa
"disembuhkan" dong. Ambisi manusia kini bergeser dari sekadar
memperpanjang usia menjadi upaya mencapai keabadian (immortality).
Kematian bukan lagi hukum alam frens, melainkan "kesalahan teknis"
yang menunggu solusi teknologi. Bayangkan dampaknya: kalau manusia mulai
menginvestasikan triliunan dolar untuk menyembuhkan penuaan, seluruh struktur
sosial kita—dari kontrak pernikahan sampai sistem pensiun—bakal runtuh dan
harus didesain ulang dari nol. Pusing ga tuh bayanginnya hahaha.
3. Kolonisasi Biologi:
Planet Sebagai Unit Produksi Raksasa
Keberhasilan agenda manusia
ini ternyata harus dibayar dengan harga yang mengerikan oleh penghuni bumi
lainnya. Data yang dikumpulkan Pak Yuval menunjukkan dominasi biomassa yang
njomplang banget:
·
Manusia: 300 juta ton.
·
Binatang Ternak (Sapi, Babi, Ayam): 700
juta ton.
·
Hewan Liar (Gajah, Paus, Singa): kurang
dari 100 juta ton.
Ironisnya, kita menganggap
diri kita sebagai spesies paling bermoral, sementara kita telah mengubah planet
ini menjadi pabrik raksasa. Hewan-hewan yang memiliki perasaan kini hanya
dianggap sebagai bahan baku dalam lini produksi industri peternakan yang
mekanis. Kita telah "mengkolonisasi" biologi itu sendiri, mendesain
ulang alam liar menjadi sistem pendukung bagi ambisi Homo sapiens.
4. Pencarian Kebahagiaan
Lewat Manipulasi Biokimia
Setelah perut kenyang dan
kematian bisa ditunda, agenda berikutnya adalah kebahagiaan abadi (bliss).
Tapi masalahnya, evolusi tidak mendesain kita untuk bahagia; ia mendesain kita
untuk bertahan hidup. Itulah sebabnya kita sering terjebak dalam hedonic
treadmill—di mana pencapaian hebat cuman memberikan kepuasan sesaat sebelum
kita menginginkan lebih.
Untuk memutus rantai evolusi
ini, manusia mulai melakukan eksperimen biokimia internal. Perhatikan deh
eksperimen pada tikus dalam wadah air; kegigihan dan perasaan "puas"
mereka dapat dimanipulasi melalui zat kimia. Kita mulai memperlakukan otak
manusia bukan sebagai kuil kesadaran, melainkan sebagai bejana kimia yang bisa
diatur. Targetnya jelas: jika mengubah lingkungan tidak membuat kita cukup
bahagia, maka kita akan mengubah biokimia otak kita sendiri agar tetap berada
dalam kondisi kepuasan permanen. Asli, ngeri-ngeri sedap ya!
5. Menjadi 'Homo Deus':
Evolusi Menuju Manusia Tuhan
Puncak dari transisi ini
adalah ambisi untuk melakukan upgrade besar-besaran. Kita kaga lagi puas
menjadi Homo sapiens. Kita ingin menjadi Homo deus. Tapi ingat
ya, "Menjadi Tuhan" di sini bukan berarti menjadi sosok spiritual
yang maha kuasa, melainkan memiliki kendali teknis total atas kehidupan.
Bayangkan kekuasaan raja-raja
Asyur kuno dalam relief perburuan singa. Bagi mereka, kemampuan untuk
mengendalikan hidup dan mati atau memprediksi masa depan adalah mukjizat dewa.
Hari ini, apa yang dulu dianggap sebagai kekuatan ilahi para Firaun hanyalah
sebuah fitur standar dalam pengaturan algoritma atau rekayasa genetika kita.
Melalui perpaduan Kecerdasan
Buatan (AI) yang mengemudikan mobil kita dan bioteknologi yang mampu mengedit
DNA, kita sedang membangun kemampuan untuk mencipta dan menghancurkan kehidupan
sesuai keinginan. Kita kaga lagi membutuhkan Tuhan yang duduk di atas awan jika
kita memiliki algoritma yang bisa memprediksi setiap detak jantung dan
keinginan kita.
Penutup: Tanggung Jawab
atas Kekuatan Baru
Kita ini sedang berakselerasi
kenceng banget frens, dari makhluk yang gemetar ketakutan karena kelaparan
menjadi spesies yang memegang kendali atas biologi dan teknologi. Selama ribuan
tahun, kemanusiaan kita dibentuk oleh keterbatasan. Sekarang, saat batasan-batasan
itu runtuh, kita menghadapi pertanyaan eksistensial yang buat gw pribadi sangat
provokatif:
"Jika kita benar-benar
memiliki kekuatan teknis untuk menjadi Tuhan, spesies seperti apa yang ingin
kita ciptakan, dan apa yang akan tersisa dari kemanusiaan kita yang lama?"
Di dunia di mana kematian bisa
dianggap sebagai interupsi teknis dan kebahagiaan bisa diprogram lewat pil,
tanggung jawab untuk mendefinisikan makna hidup sepenuhnya jatuh ke pundak kita
sendiri. Kita sedang menciptakan masa depan, tapi pertanyaannya, apakah kita
akan tetap menjadi manusia di dalamnya?


Komentar
Posting Komentar