Jumat, 30 Desember 2022

Camping di Cimelati, Jalur Pendakian Resmi ke Gunung Salak

Hola teman teman, ini adalah tulisan pertama saya di Wordpress setelah saya boyong konten-konten yang pernah saya tulis di Blogspot saya. Boleh jadi ini juga merupakan ajang untuk mengakrabkan diri dengan user interface-nya Wordpress.

Okay saya mau cerita pengalaman di akhir November 2022 tepatnya di tgl 25 yang lalu. Saya dan teman-teman beraktivitas camping di sebuah tempat baru bagi kami semua. Yap di antara tujuh peserta yang hadir dalam perhelatan, selain saya sendiri ada: Yoke, Doyok, Gustan, Rejos, Badok, dan terakhir adalah Boger, tidak seorangpun yang pernah berkunjung ke sini.

Ide pemilihan tempatnya bermula dari keinginan saya pribadi dan Doyok yang ingin memberikan pengalaman berkesan untuk camping pertamanya Boger. Yap camping kali ini merupakan perdana bagi Boger, bener kali pertama Boger main dan camping di sebuah camping ground. Di kesempatan camping yang lain Boger memang belum sempat join dan mungkin juga belum tertarik untuk mencoba.

Akhirnya saya dan Doyok mencoba mengulik tempat lain yang kriterianya antara lain: relatif sepi dan kondusif, ada curugnya, ada jalur trekkingnya. Kenapa kita pilih camp ground yang ada jalur trekkingnya sebab Boger memang kali pertama camping tapi doi pernah beberapa kali ikutan full marathon loh, dan dia pun katanya juga penasaran untuk mencoba trail run dan hiking. Oleh sebab itu kita coba cari camp ground yang agak "menantang" sedikit.

Okay buat teman-teman yang belum tahu di mana Cimelati berada kalian bisa klik link di bawah yang saya kulik dari google map. Dan dari link di bawah pun kami berpatokan, dan menset tujuan di google map kami. Kali perdana juga nih buat kita semua. Ini ye linknya: 

Mount Halimun-Salak National Park Cimelati trailhead office

https://maps.app.goo.gl/p8b6bwckEJ4hQHjY7

Di google map kalian juga bisa mengintip foto-foto nih tempat yang diunggah oleh pengunjung lain sebagai bahan referensi ketimbang kalian hanya sekedar membayangkan kaya apa kondisi tempatnya.

Dari tempat saya tinggal di Limo, Depok. Jarak menuju ke titik tersebut sekitar 70km jika kalian menggunakan mobil dan via jalan tol BOCIMI (Bogor, Ciawi, Sukabumi) dengan estimasi waktu tempuh sekitar kurleb 1 jam 30 menitan. Oh ya trip kali ini adalah perdana bagi saya merasakan tol BOCIMI.

Kami berangkat dari Limo lumayan kesiangan nih mengingat musti menunggu Yoke yang berangkat menemui kami dari Bekasi. Kira-kira jam 9 pagi rombongan komplit dan siap bertolak dari Limo. Tapi kita ga bisa langsung gas ke tol nih musti beli beberapa logistik makanan tambahan untuk perbekalan selama camping. Beres belanja logistik baru deh kita bisa menuju tol pintu tol Kukusan untuk langsung nyambung ke tol Jagorawi dan akhirnya masuk ruas tol Bocimi. Oh ya kita keluar dari tol Bocimi di pintu gerbang keluar yang pertama ya, pintu Cigombong.

Foto rombongan sebelum cabs dari Limo, Depok.

Okay setelah keluar dari tol perjalanan kami diarahkan menuju jalan raya Sukabumi dan masih mengikuti google map rombongan kami sempat diajak muter-muter karena tiba-tiba google map yang ada di hape saya beberapa kali reroute dan akhirnya kita mengambil jalur yang sebetulnya secara jarak tempuh jadi sedikit menjauh dari rute asli.

Oke setelah diajak sedikit keder oleh gogle map, kebingungan selanjutnya adalah mencari tempat parkir yang dekat dengan jalur menuju camp ground. Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dari beberapa youtuber yang pernah hiking ke Gunung Salak via Cimelati, lahan parkir untuk kendaraan para pendaki biasanya ada di halaman rumah penduduk yang ada di dekat mushola. Namun setelah kita berhasil menemukan musholanya ternyata rumah tersebut merupakan sebuah vila dan pemiliknya tidak lagi menerima halaman vilanya dijadikan lahan parkir.

Kemudian saat kami tengah kebingungan mencari lahan parkir, ada warga sekitar yang menawarkan untuk parkir di halaman vila yang lain. Sayangnya lokasi vilanya sudah terlewat alhasil kami musti memutar balik mobil kami dan mengarah untuk sedikit turun lagi. Okay akhirnya ga jauh dari lokasi awal kami, vilanya kami temukan. Jika dari arah bawah lokasinya ada di sebelah kanan kita. Di seberang vilanya (di sisi kiri jalan) ada saung dari kayu sebagai patokan kalian. Nah ternyata vila ini merupakan vila yang saya lihat di channel youtubenya Maz Ediz, wah halaman villannya memang luas loh teman-teman, selain itu viewnya cakep uga frens!

Begini kira-kira view dari parkiran vilanya:

Ini view menuju vila tempat parkir, dengan latar belakang Gunung Salak yang tertutup awan mendung:

Oh ya biaya parkir di sini untuk satu mobil per malam adalah 50 ribu rupiah, dibayarkan langsung ke penunggu vilanya ya. Di sini kalian juga bisa numpang ke kamar mandi, istirahat nglurusin kaki dulu sebelum trekking, atau mau menikmati view sejenak dari halaman villa. Berhubung saat kami beres nurunin barang bawaan yang seabrek, maklum logistik untuk 2 malem, gerimis yang sedari tadi mulai membesar. Ya udh deh akhirnya kita sebats dua bats di vila, sembari packing ulang. Dan ternyata barang bawaan kami sangat banyak dong, dan akhirnya barang-barang tersebut kami angkut dalam dua batch.

Okay jarak tempuh dari vila sampai ke pos pendaftaran taman nasional kurang lebih adalah 800M s.d 1KM deh. Dan mustinya secara waktu tempuh tidak memakan waktu lebih dari satu jam sih. Dugaan awal saya medannya itu tidak terlalu menanjak, dan ternyata saya salah nih. Lumayan menanjak sih sekalipun masih didominasi oleh jalur yang relatif datar. 

Kita mulai treking dengan membagi rombongan menjadi 2, saya ada di rombongan ke-dua bersama Doyok, Rejos, dan Badok. Sedang yang pertama ada Yoke, Boger, dan Gustan. Rombongan pertama jalan di depan kami. Dan di tengah jalan tiba-tiba Badok yang memang jarang berolahraga mengalami kepayahan, dan minta berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga. Dengan senang hati pun rombongan juga berhenti dan tidak pernah ada dalam kamus kami, ketika melakukan trekking dan ada teman yang kepayahan kemudian kami tinggalkan, kami temani dong. Dan kalian juga yah ketika hiking jangan pernah meninggalkan atau kalian memisahkan diri dari rombongan ya, bisa berbahaya loh akibatnya baik bagi kalian yang meninggalkan atau teman yang kalian tinggalkan. Bisa jadi teman kalian sedang sakit dan butuh bantuan kalian. So, jangan pernah meninggalkan teman perjalanan kalian selama hiking ya!

Nih saya kasih gambaran jalur dari vila menuju ke pos registrasi:

Di tempat kami beristirahat untungnya masih mendapatkan sinyal untuk komunikasi telephone seluler kami, dan ternyata kami beristirahat di sini lumayan lama loh, mungkin setengah jam lebih. Badok akhirnya muntah dan detak jantungnya lumayan tinggi, sudah diukur menggunakan garminnya Doyok dan amazfit milik saya, dan detak jantungnya menunjukkan angka yang tidak berbeda jauh, di sekitar 160-180 bpm, dan anehnya detaknya tidak juga turun sekalipun sudah istirahat. Hal ini sempat membuat saya cukup khawatir nih. Alhasil saya coba mengontak Gustan dan rombongan pertama, tidak lupa saya juga meminta titik lokasi mereka agar saya bisa memperkirakan jarak antara kami dan mereka. Ternyata kita terpisah hanya sekitar 100 m, dan artinya hanya 100 meteran lagi pos pendaftaran sudah bisa kita capai.

Alhasil Yoke dan Boger berinisiatif untuk menyusul kami untuk menawarkan membawa barang bawan dan membawa kompor untuk membuatkan Badok teh manis atau minuman lainnya agar kondisi Badok lekas pulih. Namun ternyata Badok bisa melanjutkan perjalanan kembali dan bisa finish dengan strong di pos pendaftaran, alhamdulillah!!

Oh ya rombongan ke-dua sampai di pos pendaftaran sekitar jam 5an, dan lucunya di sebuah Taman Nasional sekelas TN Gunung Halimun Salak ini di posnya tidak ada penjaganya dong, emang rada laen nih Gunung Salak, betul-betul bukan gunung favorit pendaki. Tapi dari Gustan yang sempat mengobrol dengan penjaga warung, nanti setelah maghrib sih biasanya ada lagi penjaga yang balik piket di pos registrasi. Oh ya nih suami dari penjaga warungnya adalah juga petugas di pos registrasi loh, beliau bernama Mang Aceng, jadi buat kalian yang ingin ke sini juga dan butuh informasi lainnya, entah reservasi blok camp ground, penyewaan alat camping atau sekedar bertanya mengenai kondisi cuaca di sekitar camp ground bisa hubungi beliau ya, Mang Aceng Cimelati di nomer whatsapp 0838 1951 0277. Pasti akan dilayani dengan ramah oleh beliau.

Oh ya setelah semua rombongan sampai di pos registrasi akhirnya hujan cukup deras turun nih, dan kami pun akhirnya membuka kompor untuk menyeduh kopi, teh dan minuman lainnya pertama buat menunggu Yoke dan Boger yang tengah mengambil sebagian barang bawaan kami yang masih ada di vila, dan juga untuk membuat Badok segar kembali. Lagian sekarang pun juga sedang hujan, rasanya terlalu repot untuk segera memasang tenda, saatnya santai sejenak, sebats, menikmati pemandangan puncak Pangrango dan Gede yang ada di depan kami.

Hhm sayang nih di foto di atas Pangrango dan Gedenya tertutup awan. 

Okay setelah Yoke dan Boger kembali ke warung, dan selesai mereka menikmati kopi dan adzan maghrib selesai kami memulai untuk memilih lokasi berkemah dan mendirikan tenda-tenda kami. Kali ini berhubung ada tujuh peserta, kami membawa 3 tenda, agar tidur lebih leluasa dan barang logistik dan peralatan bisa masuk ke tenda semua.

Okey info terakhir dari saya terkait dengan biaya camping di sini adalah 25 ribu per orang per malam, ditambah dengan uang kebersihan yang dibebankan per tenda senilai 15 ribu rupiah, overall saya mau kasih rekomendasi untuk nih tempat camping. Buat kalian yang suka dengan tempat camping yang tidak bising, view city lights, hutan yang masih asri, bersih dan pastinya fasilitas kamar mandi yang jempolan, sumber air melimpah dan mudah serta kalian bisa menggunakan listrik di warung yang ada di pos tentunya dengan biaya yang murah kok, kalian bisa datang ke sini ya, ke Cimelati! Sekian yah ceritanya, nanti akan saya sambung dengan hidden gems lain yang ada di Cimelati, tunggu aja tulisan berikutnya ya.

Sabtu, 12 Februari 2022

Cerita tentang Album Pure Saturday : Self Titled

Buat teman-teman penggemar musik tentunya punya lagu favorit atau bahkan album favorit yang menjadi “soundtrack of your life”, hhm rada lebay sedikit sih mungkin pilihan istilahnya. Tapi yaa maksud gw adalah lagu yang kalian dengerin atau kalian pilih untuk diputar buat mewakili kondisi mood tertentu atau mungkin momen spesial dalam hidup kalian. Kira-kira itu sih maksud gw.

 


Buat gw pribadi album favorit gw sepanjang masa adalah album pertama Pure Saturday yang rilis 25 tahun lalu, di tahun 1996. Self titled album yang berisi 9 lagu. Ini lagu sudah menemani gw dari mulai tahun 2003 sampai dengan tulisan ini gw buat gw juga sembari mendengarkan nomer-nomer yang ada di album tersebut.



Pure Saturday merupakan sebuah band indie asal Bandung Jawa Barat yang dinilai para pengamat musik layak dilabeli legenda skena indie Indonesia. Kalian bisa baca banyak artikel di internet mengenai sepak terjang mereka, kala itu album selt titled mereka hanya bisa dinikmati lewat cara distribusi yang betul-betul baru ada di Indonesia, album tersebut didistribusikan lewat mailing list yang diinisiasi oleh Majalah HAI, cara ini merupakan sebuah cara baru dalam menjual karya musik yang bahkan KFC saja blm pernah kepikiran buat jual CD di era itu hahaha.

 


Oke gw ga akan cerita lebih banyak mengenai sepak terjang mereka ya, gw akan lebih banyak bercerita mengenai lagu-lagu di dalam album yang buat gw merupakan harta karun yang patut lo simpen di era digital ini.

 


Lagu pembuka di Side A kaset mereka berjudul “SILENCE”, dibuka dengan intro kombinasi petikan gitar akustik dan sedikit efek di kejauhan telinga kalian. Buat gw intro lagu ini cukup mampu melahirkan nuansa depresi. Masuk ke bagian pertama lirik lagu ini, raungan efek makin terasa namun masih di kejauhan kemudian raungan makin keras ketika masuk di part lirik “Suddenly it comes to me so fast”, mulai ada di depan tuh raungan gitarnya kang Adhi.

 

Interpretasi bebas gw mengenai isi lirik lagu ini mungkin ya, bercerita tentang isi kepala yang bisa jadi berupa kecemasan, kekhawatiran yang berkecamuk di dalam kepala yang membuat kadang kita merasa beneran tertekan dengan cara kerja otak yang mengajak berpikir sesuatu yang belum bener-bener terjadi namun kita sadari bahwa hal tadi hanya ada di alam pikiran tapi kalian musti sadari kadang kita tidak akan pernah bisa bebas dari beban pikiran tersebut dan biasanya sih momen yang jadi pemicu kita suka “overthinking” adalah ketika hening (Silence) bisa jadi di jam-jam begadang kalian mungkin.

 

Yap karena interpretasi di atas lagu ini kerap gw puter ketika memang gw cemas dan banyak hal sedang gw “takuti” tapi anehnya buat gw pribadi efek depresi lagu ini malah bereaksi sebaliknya buat gw, gw merasa mendapat sumber energi baru buat tetep “strong” frase akhir lirik lagu ini mungkin yang buat gw merasa bahwa kita ga akan bisa lepas dari jerat kepala kita, tapi masak iya kita akan kalah oleh sesuatu yang sebetulnya belum “exist” nih frase yg buat gw strong banget efeknya kaya double shot espresso buat otak gw :

 

“When we ever realised

We will never be free at all

I just won't stay here and wait

So what else it could be anymore”

 

Nomer ke-dua di album ini adalah “KOSONG”, yep bisa jadi ini adalah lagu paling populer di album ini mengingat memang PS membuat vidio klip untuk lagu ini. Lirik lagu ini berbahasa Indonesia. Teman-teman bisa jadi punya interpretasi pribadi mengenai arti dari liriknya. Gw pribadi mendengarkan lagu ini ketika gw merasa ketika orang-orang terdekat gw sedang tidak hadir di masa-masa gw lagi butuh dukungan dari mereka hehe mungkin ini kali yang potongan lirik yang bisa jadi berhubungan dengan interpretasi gw di atas :

 

“Temukan diri dalam dunia

Tak terkira, oh-ha

Semua mati dan menghilang

Terlalu pagi

Temukan arti

 

Jalanan panjang semakin lapang

Hanya dahan kering yang terpanggang

Tak ada teman telah terpencar

Namun waktu terus berputar”

 

Yap sama dengan efek yg gw dapet dari Silence, lagu ini awalnya mampu membuat gw larut dalam kondisi sepi tapi kemudian merenung bahwa jalan hidup mah kudu dihadepin dengan cara bergerak maju, sebab waktu terus berputar, perkara menemukan arti hidup saat ini masih terlalu pagi lah, yang penting gerak terus!

 

“Peduli apa terjadi, Terus berlari tak terhenti”

 

Nah lagu berikutnya yang berjudul “ENOUGH” bercerita mengenai Perang, kalian bebas sih mengartikan perang di sini, gw pribadi mengartikan perang melawan diri sendiri kali ya hahaha sok bijak inih, tapi ketimbang mengartikan perang dalam arti sebenernya kayanya terlalu berat buat gw hehehe. Tapi jika kalian membaca liriknya dan kalian interpretasikan Perang yang sebenernya, sangat-sangat masuk sih, dan kualitas lirik lagu ini mungkin sekelas dengan tulisannya Bang John Lennon lah. Lebay ga!? Tapi asli keren liriknya.

 

Lanjut ke lagu berikutnya, lagu paling manis dari album ini, yap “DESIRE” lagu yang dulu saat ketika sedang jatuh cinta gw berkhayal gw yang nulis liriknya nih! Wah ini lagu cinta dosis tinggi nih, paduan lirik dan musik yang paten dari awal lagu ini dimulai sampai akhir dan part akhir liriknya

 

“Bring you something… bring you something..”

 

Gw yakin ketika kalian dengar saat kalian jatuh cinta pasti nyanyi keras-keras part di atas!

 

Lagu lanjutan dari Desire berjudul “SIMPLE” jujur nih gw ga mampu membedah maksud liriknya, tapi buat gw ini adalah lagu jagoan gw di album ini, gw taruh di paling atas secara rating buat gw pribadi, gw akan puter lagu ini ketika gw bener-bener ada di kondisi paling bawah! Dan gilanya nih lagu efeknya seger banget buat gw, jarang banget gw ga kena efek “Recharged” setelah dengerin ini. Jujur banyak jasanya nih lagu buat gw pribadi melewati masa paling berat di hidup gw, sampai saat ini ketika beban makin berat dan makin kompleks efek lagu ini buat gw masih sama! Terima kasih PS buat lagu ajaibnya!

 

Oke setelah Silence masih ada tiga lagu lagi, “Coklat” yang penuh metaforik, lagu yang katanya dibuat PS tentang sosok Polisi yang berbaju coklat hehehe, cocok nih buat didengerin di jalan atau sambil garap kerjaan di depan laptop.

 

Setalah coklat ada “A SONG” lagu penuh optimisme yang selalu gw puter bersama temen-temen di tengah jalur pendakian. Efek lagu ini selalu sangat positif buat gw selaras dengan isi liriknya, dan biasanya ketika gw “down” gw akan puter lagu ini setelah gw dengerin “SIMPLE”. Kombinasi ajib nih buat gw!

 

Lagu terakhir adalah “OPEN WIDE” yang dinyanyikan oleh teh Widi Ariani yang dulu pernah bernyanyi untuk band Bandung Cherry Bombshell. Ini lagu bener-bener sukses melengkapi elemen dalam satu albumnya PS, dengan suara vokal yang mengawang, suara gitar akustik di belakang, dan efek meraung yang soft, asli alus pisan nih lagu. Cocok buat dibawa motoran, dan diajak ngawang-ngawang kaya potongan liriknya yang paling terngiang :

 

“Sweet pain was only thin shade”

 

Yap bagian paling akhir album ini ditutup oleh “outro” yang isinya instrumental, seolah PS mau pamit menutup rangkaian lagunya sebelum turun dari panggung.

 

Lewat tulisan ini, gw mau mengucapkan terima kasih tak terhingga, PS udah menciptakan karya yang sangat memberikan efek buat gw sampai hari ini. Gw ga tahu proses dan pengalaman spiritual seperti apa yang mereka lalui sehingga bisa melahirkan karya yang jenius dari sisi musikalitas, dan juga emosional sekali buat dirasakan!

 

Sekali lagi terima kasih Pure Saturday, karya kalian mampu membuat gw mampu melewati hal berat, dan semakin berat dalam hidup gw dan semoga ga akan pernah jatuh terlalu lama.

 

“So we holding each other

Flying forever

Higher and higher”

Senin, 29 November 2021

Pengalaman Pertama Menggunakan Ban Motor Dual Purpose di Motor Harian, VARIO 150

Halo manteman, pada tulisan kali ini gw ingin bercerita pengalaman pertama gw menggunakan ban dual purpose untuk diaplikasikan pada motor harian gw, sebuah skutik dari Honda type VARIO 150.

Okay pertama gw akan bercerita hal yang jadi pencetus kenapa gw akhirnya pingin menjajal ban dual purpose. Jadi pada Agustus yang lalu, masih di tahun 2021, gw pernah melakukan moto camping bersama rekan kantor gw, dokter Brian Gandhi ke Parang Gombong, Purwakarta, Jawa Barat.

Ini lokasi berada di area waduk Jatiluhur manteman, dan lumayan trending di kalangan para penggemar camping, bahkan di kalangan pesepeda. Gw inget beberapa event bike camp yang digagas oleh teman-teman Federal pernah juga berlokasi di sini.

Saat riding ke Parang Gombong, begitu memasuki wilayah waduk, gw melewati jalan kerikil plus bebatuan sekitar lebih kurang 1 KM an lah. Di jalan tersebut motor gw kok terasa “mleset mleset” saat dikendarai.

Dan gw perhatikan bahwa motor kawan gw kok bisa melaju dengan mulus. Saat itu analisa awal gw mengatakan bahwa tentu faktor lebar tapak ban motornya kawan gw yang paling berpengaruh, dengan tapak ban yang lebar, tentunya laju di kondisi jalan berkerikil akan lebih mulus.

Oh ya buat temen-teman yang penasaran dengan lokasi camping gw di Parang Gombong gw kasih beberapa photo nih :






Tapi saat di lokasi camp, gw perhatikan lagi ban motor kawan gw dengan lebih detail, ternyata kembangan/pattern ban temen gw berbeda dengan ban vario gw. Dan pada akhirnya gw baru tahu bahwa ban dengan pattern kotak-kotak lebar, namun tidak sedalam ban kembangan tahu merupakan ban tipe dual purpose, artinya ban yg bisa dipakai di dua kondisi jalan yang berbeda, di aspal, dan oke buat jalur gravel atau offroad ringan.

Okay berangkat dari pengalaman tadi, akhirnya gw memutuskan untuk mengganti ban bawaan pabrik di motor vario gw ke ban dual purpose. Hal lain yang jadi pertimbangan gw untuk mengganti ban adalah ban lama ini juga sudah ada tambalan dengan jumlah lebih dari dua tambalan seinget gw. Dan pernah gw cek salah satu tambalannya sudah bocor alus dan itu membuat kadang ban gw kempes sendiri.

Mengingat gw sangat awam mengenai dunia otomotif khususnya motor, gw akhirnya bertanya ke temen gw Ade Wahyudi yang pernah touring dengan motor Kawasaki KLX nya sampai ke Timor Leste, mengenai rekomendasi ban jenis dual purpose. Ade memberikan rekomendasi ban merk Swallow seri SB. Gw pun juga mencari informasi sendiri dengan menjelajah youtube dan instagram sampai akhirnya gw menemukan merk FDR yang merupakan brand keluaran Astra juga selain merek Federal.

Okay setelah gw menukan merk FDR, gw akhirnya mengunjungi web site resminya FDR di :

http://fdrtire.com/product/search?search_by=function&tag=on_offroad 

Dari link di atas, temen-temen bisa lihat tuh beberapa series FDR yang masuk kategori ban dual purpose. Dari penampakan di web site tersebut gw menjatuhkan pilihan ke type Hover, hhm dengan alasan gw suka disain patternnya mirip dengan ban motornya dr. Brian. Dan sekaligus penasaran sama rasanya memakai ban dengan pattern kaya gitu. Selama ini gw menggunakan ban motor dengan pattern untuk kondisi jalan aspal.

Dari web sitenya FDR gw juga dapat informasi lokasi toko resmi mereka, dan sayangnya saat gw beli toko resmi mereka baru ada satu di area Jabodetabek, alamatnya di :

Jl. KH Hasyim Ashari No.20, RT.002/RW.005, Buaran Indah, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15119

Mengingat lokasi outletnya yang lumayan jauh dari tempat gw tinggal, akhirnya gw coba hunting dulu nih di planet ban sekitar depok, dan toko aneka ban di daerah Ciputat, rekomendasi dari Ade. Di hari gw beli itu ban, gw udah ke dua outlet planet ban di Depok, ternyata ga ada tuh yang punya FDR Hover. Bahkan Aneka Ban Ciputat yang jadi toko rekanan si FDR juga tidak punya stoknya. Alhasil gw musti sambangi juga tuh outlet resminya si FDR di Tangerang.

Perjalalan yang cukup jauh juga sih, ditambah gw musti nyasar dulu di daerah Bintaro. Dan lumayan capek juga karena udah beberapa tempat yang gw kunjungi sebelumnya, total ada empat tempat, dua planet ban di Depok, Aneka Ban Ciputat, dan Planet Ban di daerah Ciputat. Mana hari itu lumayan terik tuh matahari.

Oke singkat cerita akhirnya gw ke outlet resminya di Tangerang, beli bannya dan pasang sekalian di sana. Kemudian gw langsung pulang dengan mengambil rute lewat Serpong, kemudian Pamulang. 

Selama perjalanan pulang yang kondisinya hujan, gw merasa grip si FDR Hover lumayan mencengkram aspal nih. Dan seinget gw dan sepemahaman gw yang awam tentang otomotif ini ban sih beda tipis sih sensasinya dengan Michelin Pilot Street yang dulu gw suka pakai di motor Honda Blade gw. Hhm tebakan gw sih mungkin bedanya ada di durabilitynya kali ya, bisa jadi si FDR ga akan tahan selama Michelin. Yah ini sih perkiraan gw yang awam aja sih, kita lihat deh nanti ke depannya.

Oke gw akan tampilkan penampakannya si FDR Hover saat terpasang di Vario gw ya. Di bawah nih manteman foto-fotonya, sekilas sih jadi nambah gagah sih Vario gw.










Okay manteman, segini dulu cerita gw mengani dunia permotoran, lain waktu gw sambung lagi cerita lain dengan motor Vario gw ini, yang gw kasih nama Paryono, hehehe. Adios!!!



Senin, 11 Oktober 2021

Pendakian ke Gunung Gede 24-25 September 2021

Halo manteman di tulisan gw sebelumnya di blog ini, gw bercerita mengenai rencana gw untuk mendaki Gunung Gede bersama beberapa teman SMA dan circle mendaki gw saat ini. Rencana yang sempet dinyinyirin oleh senior gw yang melihat bahwa mendaki ke Gede adalah pilihan yang konyol karena udah terlalu ramai kaya pasar.

 

Nah pada kesempatan kali ini gw akan bercerita sedikit mengenai rencana tersebut yang akhirnya bisa terwujud. Oke deh gw akan buat poin-poin aja kali ya untuk cerita tersebut, jadi begini ceritanya :

 

  • ·         Kegiatan hiking ini gw adakan di tanggal 24-25 September 2021, naik jumat dan turun sabtu. Dengan pilihan rute pendakian adalah naik dari pos Cibodas dan turun lagi lewat jalur yang sama.
  • ·         Urusan pendaftaran dan pengurusan simaksi seperti biasa gw serahkan ke Mang Angus untuk dibantu urus, ini udah kesekian kalinya gw menggunakan jasa Mang Angus untuk mengurus simaksi untuk naik ke Gede, sejauh ini service dari Mang Angus masih sangat istimewa dan gw sangat rekomendasikan buat temen-temen yang mau ke Gede tapi males ngurus simaksi sendiri, kalian bisa hubungi Mang Angus di no hape 0815 1075 3444 untuk dibantu pengurusan simaksi kalian, dijamin lancar jaya.
  • ·         Kami berangkat dari Jakarta, pada Kamis malam tanggal 23 September 2021, menggunakan mobil Acat. Peserta hiking kali ada total ada 6 orang. Ada gw, Acat, Doyok, Teming, Yoke dan Daus. Yoke dan Daus memilih untuk naik motor berboncengan berangkat dari Bekasi dan langsung ketemuan di warung Mang Angus.
  • ·         Start Hiking dari Cibodas sekitar jam 07:30 pagi, dan sampai di tempat camp, Kandang Badak jam 5 sore kurang, dengan Acat, Teming dan Daus sampai duluan di sana sekitar jam 3an sore.
  • ·         Dari base camp kami semua membungkus nasi untuk dimakan saat makan siang di jalur pendakian, cuaca sangat bersahabat dan yang terpenting jalur pendakian sangat sepi. Terbukti di Pos Air Panas yang biasanya berjubel para pendaki, saat gw lewat hanya kita bertiga tanpa ada orang yang lain, sebuah pengalaman yang langka di tengah ramainya kondisi Gunung era sekarang.
  • ·         Alhamdulillah semua peserta sampai dengan turun tidak ada yang mengalami cidera, dan kondisi kesehatan semuanya baik-baik saja.
  • ·         Oh ya trip kali ini hanya sampai Kandang Badak, dan tidak ada satupun yang muncak ke Puncak Gede di 2958 mdpl. Sebab dari awal trip ini kita set tanpa ada target ambisius untuk muncak, hanya untuk memuaskan kerinduan kami akan kegiatan hiking.
  • ·         Di sepanjang jalur kami menemukan rombongan owa jawa yang melintas di atas kepala kami bergelantungan, dan di Kandang Badak kami juga menyaksikan banyak ayam hutan yang tidak malu bertemu orang, dan bisa kita nikmati aktivitas mereka di habitat asli mereka.
  • ·         Di hari Sabtu tanggal 25 September sebelum adzan Isya kami semua sudah sampai lagi di pos pendaftaran Cibodas.
  • ·         Sampai di Mang Angus, kami berempat, gw, Acat, Doyok dan Teming memutuskan untuk menginap lagi di warung dan balik ke Jakarta, di hari Minggu tanggal 26 September, start dari Cibodas jam 5 pagi. Yoka dan Daus memutuskan untuk langsung pulang ke Bekasi kembali berboncengan naik motor di Sabtu malam sekitar jam 11an malam.

Berikut adalah beberapa foto selama pendakian.












okay segini dulu yah manteman cerita di kesempatan kali ini, lain waktu gw akan cerita lagi hal yang lain, adios!  


 

Minggu, 19 September 2021

Kini di Gunung Kian Ramai



Halo manteman jumpa lagi pada tulisan kali ini. Pada kesempatan ini gw mau bercerita mengenai tanggapan dari seorang teman yang boleh dibilang senior lah dari segi umur mengenai ramainya Gunung di Masa Kini.

 

Jadi begini ceritanya manteman, di tanggal 23 dan 24 September 2021 ini gw berencana akan mendaki gunung Gede dengan 2 orang teman SMA dan 2 orang lainnya yang merupakan teman mendaki gw saat ini. Dan di minggu lalu, gw kebetulan mendapat telepon dari si senior tadi. Beliau menanyakan apakah gw ada rencana untuk bersepeda di minggu depan atau ada rencana untuk berkegiatan outdoor lainnya. Kemudian gw jawablah, bahwa nanti di tanggal 23 gw ada rencana untuk mendaki Gede dengan beberapa orang temen gw. Nah berhubung di awal dia menanyakan rencana gw, maka setelah gw cerita rencana tadi, gw berbasa basi untuk mengajak doi dong. Tapi doi bilang : “kita lihat besok deh” sembari setengah nyinyir dengan bilang emang masih tertarik ya buat mendaki Gede.

 

Gw pun hanya menjawab bahwa gw udah kadung pengen banget hiking dan merasakan kabut di pegunungan, peduli setan deh sekalipun musti harus ke Gede lagi, dan kebetulan pada rencana ini temen-temen gw yang lain juga sudah cocok nih waktunya. Hal yang sangat susah dicari di tengah kesibukan aktifitas kita. Jadi gw ga memperdulikan lokasi tempat hikingnya lah.

 

Buat gw pribadi, perkara hiking atau berkegiatan di alam bebas lainnya bukanlah untuk mengejar stock foto atau eksistensi dengan sekedar merasa gagah-gagahan sudah pernah ke tempat baru yang anu lah, tempat yang paling anu lah, dan seterusnya. Buat gw berkegiatan di alam bebas memang salah satu bentuk terapi buat gw pribadi untuk menenangkan pikiran atau sekedar menyegarkan pikiran yang udah kadung ruwet dengan urusan pekerjaan dan urusan duniawi lainnya. Alasan lainnya buat, berkegiatan di alam bebas yah sekedar berinteraksi dengan teman-teman terbaik, buat sekedar bertukar cerita, keluh kesah dan tukar ide/gagasan aja.

 

Jadi perkara tempat buat gw nomor sekian lah, yang terpenting buat gw adalah faktor teman sejalannya dengan siapa, gw ga merasa keberatan untuk pergi ke tempat yang sama puluhan kali sekalipun selama itu dengan orang-orang terdekat gw. Cara pandang ini mungkin banyak berbeda dengan orang kebanyakan, biasanya sih orang-orang yang baru tertarik berkegiatan di alam bebas nih yang masih mencari tempat-tempat baru untuk dijadikan lokasi foto kemudian diunggah ke akun sosial media mereka. Hhhm hal ini sih sudah lewat jauh banget dalam hidup gw hahaha, mungkin di awal gw berkegiatan di alam bebas, gw juga suka mengumpulkan foto di tempat-tempat baru kemudian diceritakan dan dipamerkan lah ke teman-teman yang lain yang belum pernah ke sana.

 

Jadi pada hari ini ceritanya dia mengabarkan ke gw bahwa dia ga bisa ikutan rombongan gw nih untuk mendaki ke Gede, tapi yang gw merasa sedikit aneh adalah, pesan singkatnya di Whatsapp diawali dengan link ke reels instagram salah satu akun pendaki, yang menggambarkan kondisi jalur Gede yang sangat ramai di hari Sabtu dan Minggu. Kemudia di bawah link tersebut doi kasih emoticon ketawa ngakak sampai 4 buah hahaha. Ini terkesan kaya menertawakan rencana gw untuk tetap mendaki, dan seolah olah mau bilang bahwa ngapain mendaki kondisinya aja ramai begini.

 

Untungnya gw balas dengan style tetep kalem sih, gw bilang bahwa kondisi itu udah gw perhitungkan, dan mudah-mudahan tidak seramai itu mengingat waktu yang akan gw pilih untuk mendaki adalah Jumat ke Sabtu bukan saat wiken malem mingguan. Memang biasanya tetep ramai sih tapi ya mungkin ga seramai saat wiken. Yah gw bilang juga sih ke doi bahwa yahh jamannya memang sudah berubah, dulu kegiatan atau hobi naik gunung mah ga populer ga kaya sekarang, jadi yah wajar saja jika era dulu gunung di Pulau Jawa yah relatif sepi.

 

Nah yang bikin gw bingung adalah dasar pemikiran dia buat memandang fenomena ini. Yah boleh lah kita lebih tua secara usia dari mereka yang baru-baru mendaki, dan kita mungkin bisa jadi memulai hobi ini lebih dahulu ketimbang mereka. Tapi masak iya mereka yang lebih mudah dan baru memulai hobi ini ga boleh punya hak untuk ikutan nyoba ke Gede juga, ya ga gitu juga dong cara berpikirnya ya kan?!

 

Kemudian ada satu lagi kan yang mustinya dia pikirkan bahwa lokasi yang terdekat dan paling feasible untuk didaki bagi kalangan pendaki yang sudah bekerja dan berkeluarga yah Gunung Gede dan Gunung Salak atau lokasi lainnya di sekitaran Bogor ya kan!? Kecuali jika memang kita punya kesempatan untuk mendaki gunung lain yang lebih sepi kaya Argopuro, Arjuno atau Binaiya baru deh pilihan mendaki ke Gede bisa kita anggap pilihan yang konyol.

 

Yap memang jalur pendakian Gunung Gede yang termasuk pilihan paling favorit bagi pendaki pemula saat ini sudah sangat-sangat ramai. Tapi mustinya kita melihat bahwa dengan ramainya para pendaki di jalur pendakian bisa jadi mendatangkan rezeki bagi para pemilik warung di sekitar base camp Cibodas atau Gunung Putri atau para pedagang yang berjualan di sepanjang jalur pendakian, masak sih hal remeh gini aja dia sampai ga kepikiran. Memang sih para pendaki pemula ini banyak yang abai pada faktor keamanan saat melakukan pendakian, tapi jika kita hanya mencibir hal ini tanpa berusaha untuk merubah mereka yah sama aja bodohnya sih dengan mereka.

 

Oke segini dulu deh tulisan kali ini. Mungkin jika ada di antara pembaca yang baru gemar mendaki, pesan gw buat kalian dan buat gw juga sih, jangan abai pada faktor keamanan dan keselamatan pribadi kalian ya. Bawa perlengkapan yang bisa membuat kalian aman dan nyaman saat beraktifitas di luar ruangan, dan yang juga penting jaga kebersihan “tempat bermain” kalian ya. Adios!

Jumat, 17 September 2021

ALASAN PRIBADI GW MEMILIH KOMPOR SPIRTUS

 Halo manteman berjumpa lagi dengan Gw. Pada tulisan kali ini Gw akan bercerita sedikit mengenai alasan yang melatar belakangi Gw untuk membeli kompor spirtus dan akhirnya sampai saat ini, kompor dengan bahan bakar spirtus lebih sering Gw pakai saat berkegiatan di alam bebas ketimbang kompor gas.

 

Dari awal Gw mulai aktif berkegiatan di alam bebas di circa tahun 2001, kompor oudoor berbahan bakar gas merupakan pilihan utama Gw. Alasannya memang saat itu Gw hanya punya kompor tersebut dan hampir tidak punya pilihan lain selain meminjam dari teman atau senior Gw. Gw merasa bahwa kompor gas cukup bisa diandalkan saat dipakai berkegiatan di alam bebas, mulai dari camping atau hiking.

 

Gw memang pernah memiliki pengalaman menggunakan kompor berbahan bakar spirtus saat di bangku kuliah, dan dari pengalaman tersebut Gw merasa bahwa untuk urusan efisiensi waktu, kompor gas memang lebih unggul ketimbang spirtus yang relatif lebih lama, ditambah saat itu Gw hanya tahu tempat membeli spirtus di toko material bahan bangunan saja. Gw merasa bahwa saat itu harga spirtus lebih mahal ketimbang harga gas hi cook atau sejenisnya. Kenapa lebih mahal, sebab dengan harga yg hanya selisih 1000-2000 rupiah, lo bisa dapet satu kaleng gas hi cook dgn bobot 220gr, sementara dgn uang yg hampir sama lo hanya bisa dapet spirtus di toko bangunan dengan volume kurang dari 600ml. Tapi ini harga di Jakarta ya, bisa jadi harga spirtus di luar Jakarta lebih murah.

 

Kemudian setelah Gw mulai bekerja, Gw mulai jarang sekali berkegiatan di alam bebas seperti dulu. Dan sampai akhirnya Gw punya kesempatan untuk mendaki gunung lagi satu tahun sebelum Gw menikah, Gw menikah di tahun 2014, dan kira-kira Gw mendaki di tahun 2013an lah, Gw mendaki gunung Prau via Dieng Kulon.

 

Era itu Gunung Prau masih belum seramai sekarang dikunjungi oleh para pendaki. Tapi saat itu bisa dibilang kegiatan pendakian gunung sudah mulai banyak dilirik oleh kalangan anak muda guna keperluan petualangan atau sekedar mengumpulkan stok photo bagus untuk diunggah ke platform sosial media seperti facebook, instagram atau path di era itu.

 

Jadi kondisi gunung yang dahulu relatif sepi, saat ini semakin ramai dikunjungi oleh orang-orang. Banyak yang bilang pemicu ramainya gunung dikunjungi para pendaki adalah setelah boomingnya film 5 CM. Oleh karena itu sampah di gunung pun akhirnya jadi makin berserakan, dan selain tisu basah, bekas botol air mineral, sampah kaleng bekas gas portable pun cukup banyak dijumpai di gunung.

 

Nah berdasarkan hal itu, Gw akhirnya memutuskan untuk mulai meninggalkan kompor berbahan gas. Ditambah pengalaman buruk Gw dengan canister gas murah yang sempet ramai muncul di market place di Indonesia. Saat itu Gw tengah mendaki gunung Lawu lewat jalur Candi Cetho, dan saat berada di pos Gupak Menjangan, Canister yang akan Gw pakai tiba2 bocor dan alhasil ga bisa Gw pakai, beruntungnya saat itu masih ada beberapa temen Gw yang akhirnya bisa Gw pinjem kompornya untuk menyiapkan makanan Gw.

 

Mulai dari saat itu Gw berniat berhenti untuk menggunakan kompor gas. Dan saat mulai memantapkan niat tadi, Gw mulai berpikir bahwa Gw musti punya kompor spirtus yang mumpuni. Sebetulnya di market place memang banyak dijumpai pilihan model kompor spirtus mulai dari yang simple sampai yg model rada serius. Harganya pun cukup variatif.

 

Sebetulnya Gw punya kompor spirtus yang Gw beli setelah menikah, kompor spirtus merk consina lengkap dengan cooking setnya. Tapi berhubung saat itu Gw masih sering memakai kompor gas, alhasil kompor tadi hanya Gw pakai cooking setnya saja. Alasan lainnya yg membuat Gw malas pakai kompor itu adalah dudukan atau tempat melekatnya spirit burnernya tuh ringkih banget. Yg Gw maksud ringkih, kaki2 yang akan menyangga nesting mudah sekali terlipat jd kurang kokoh lah.

 

Berangkat dari alasan2 di atas akhirnya Gw berniat membeli kompor spirtus paling legendaris, TRANGIA. Hhm berhubung harganya yang lumayan, Gw musti berdiskusi dulu dengan istri untuk mendapat restunya. Kemudian Gw juga musti melihat momen yang pas dari sisi cash flow nih. Dan akhrinya pada momen setelah Gw terima bonus tahunan akhirnya gw jadiin deh untuk membeli kompor trangia ukuran 27.

 




Yap itu lah beberapa pertimbangan pribadi gw saat memutuskan untuk beralih dari kompor gas ke kompor spirtus. Di tulisan yang lain akan gw bagikan tips ke kalian mengenai cara yang biasa gw pakai untuk memasak nasi dengan menggunakan kompor trangia tersebut. Sampai jumpa di tulisan yang lain, selamat berpetualang! Adios!

Selasa, 14 September 2021

PENGALAMAN MEMBUAT SEBUAH CHANNEL YOUTUBE

Halo manteman, pada tulisan kali ini gw akan bercerita mengenai sebuah aktivitas yang baru aja gw jalani bersama tiga orang teman SMA gw, yakni membuat sebuah channel youtube. Sampai dengan tulisan ini dibuat, channel tersebut juga masih belum ada vidio hasil karya bersama yang diunggah. Tapi nantinya akan gw share kok nama dan link youtube channelnya di blog ini.

 

Hal pertama yang akan gw ceritakan adalah latar belakang ide ini muncul. Ide ini muncul dari seorang temen SMA gw yang dulu dia adalah orang yang kali pertama mengajak gw untuk mendaki gunung di jaman masih duduk di bangku SMA. Kawan gw yang memunculkan ide ini merupakan salah satu dari sekian banyak orang di Indonesia yang mengalami dampak langsung secara ekonomi akibat pandemi covid-19 yang masih melanda Indonesia. Singkat cerita karena temen gw ini bekerja di jasa pariwisata, dimana sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak dari pandemi ini, temen gw ini hampir ga ada kerjaan yang bisa menghasilkan pemasukan. Dan berhubung dia merupakan pendaki profesional dan berlisensi, doi memilik banyak stok video dan photo hasil dari dokumentasinya mendaki gunung tinggi baik di Indonesia maupun di luar negeri. Nah berangkat dari stok video dan photo tersebut, temen gw melontarkan ide untuk membuat sebuah channel youtube dengan rencana menambahkan content bermuatan edukasi tentang dunia petualangan.

 

Kemudian ada satu dari temen SMA yg lain yang tertarik buat mewujudkan ide tersebut, kebetulan temen gw itu bekerja di stasiun televisi dan mempunyai kemampuan videography dan video editing. Setelah bertemu langsung, saat itu ada gw, temen gw si pencetus ide, dan sang videographer, kami mulai membahas rincian konten yang akan kita buat. Mulai dari kategori content, sampai dengan rencana pembuatan series tutorial mulai dari panjat tebing, mendaki gunung, kayaking, sampai dengan bersepeda jarak jauh.

 

Pada perjalanannya, ada hal-hal yang menjadi tantangan, mulai dari gear untuk shooting video dan akses untuk meminjam alat-alat panjat tebing yang akan membantu dalam pembuatan content tutorial panjat tebing. Tapi akhirnya kami sepakat akan mewujudkan content dengan bahan dan gear yang ada, alhasil segala tantangan yang semula muncul akhirnya menemukan solusinya satu persatu. Bahkan ada temen lain yang merasa tertarik untuk membantu menggarap project ini. Kebetulan dia juga bekerja di TV dan ada di team produksi, sehingga ide dan kemampuan dia membawa team kita yang akhirnya berjumlah empat orang sepertinya cukup kuat nih.

 

Keterlibatan gw sendiri di sini, sejauh ini masih membantu dalam urusan script untuk content yang akan dibahas. Di sini gw belajar banyak hal, mulai dari menulis script yang enak untuk dilisankan di sebuah video, hingga akhirnya gw mengulik software video editing, yang beberapa hasil dari gw latihan ngedit video gw upload ke channel youtube pribadi gw. Oh ya jika diantara pembaca yang ingin melihat hasil editing gw yang masih newbie, bisa cek ke channel gw di link :

https://www.youtube.com/channel/UCyTjU63czILgJcQ-62Mh8Ug/featured

 

oh ya selain mulai belajar ngedit gw akhirnya juga mengulik aplikasi adobe spark post untuk membuat logo channel baik untuk channel gw pribadi di atas dan logo yang gw coba tawarkan untuk dipakai di channel bersama tadi. Di bawah adalah beberapa foto logo yang sudah gw coba buat pake aplikasi adobe spark post :






 


Dan akhirnya pada hari Senin, 13 September 2021 kami memulai shooting pertama untuk membuat karya pertama kami, nanti jika sudah jadi akan gw update juga hasilnya di postingan kali ini. Nanti akan gw edit lagi postingan ini untuk menginformasikan ke temen-temen hasil karya kami.

 

Dari pengalaman pertama shooting tersebut, gw makin merasa suka dengan dunia kreatif nih, dulu emang gw pernah berkeinginan bekerja di industri kreatif sekalipun masih dalam bidang accounting, tapi sekarang gw beneran merasa bekerja di dunia kreatif memang menyenangkan. Dan apalagi channel yang sedang kami bangun ini akan banyak memuat content mengenai dunia pariwisata juga, dan ga melulu mengenai petualangan.

Di bawah adalah beberapa foto dokumentasi shooting pertama kami nih :




 

Dunia pariwisata merupakan dunia yang dulu memang pernah gw cita-citakan. Jadi saat lulus SMP dulu, gw pernah meminta ke orang tua gw untuk masuk ke sekolah kejuruan bidang pariwisata, tapi keinginan gw tersebut ga mendapat restu dari bokap dan wali kelas gw saat kelas 3 SMP, dan ada faktor lain juga sih yang dulu membuat gw susah buat masuk ke sekolah kejuruan pariwisata, yakni faktor tinggi badan gw yang dulu ga cukup untuk memenuhi syarat minimal untuk masuk ke sekolah pariwisata tersebut. Hhhm tapi passion gw akan dunia pariwisata sepertinya belum sepenuhnya padam dari alam bawah sadar gw, mungkin terbukti bahwa sampai hari ini gw masih suka berkegiatan di alam bebas seperti naik gunung, camping atau naik sepeda ke tempat-tempat pedesaan. Hhm bisa dibilang dulu gw mungkin sudah menemukan passion gw di bidang apa ya hehehe. Semoga dengan kegiatan gw di channel youtube ini bisa menjadi penyaluran pikiran dan tenaga gw di bidang yang dulu gw idam-idamkan.

 

So mohon doanya semoga channel ini bisa berkembang, syukur-syukur bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan tentunya buat team yang ada di channel tersebut baik dari sisi ekonomi maupung dari sisi yang lain, yah dengan hal baru ini paling tidak skill dan wawasan gw makin kaya.

 

Oke segini dulu ya manteman, sampai ketemu lagi di tulisan gw yang lain, terima kasih jika sudah baca, dan jangan lupa yah buat apresiasi channel kami dan channel youtube pribadi gw. Adios!

ART CRAFT & Kemunculan AI Clone Software

Apakah Anda pernah merasa lelah terus-menerus membayar biaya langganan bulanan hanya untuk menggunakan perangkat lunak yang sama selama bert...