Kamis, 11 Agustus 2011

Aku Melaju Menjauh


Bulan itu jauh di ujung pelupuk
Jauh, tapi masih nampak
Nampak jika awan kelabu tak berarak
Dan jadi penghalang bagi Si Pungguk

Aku tak mau terus berterkaan
Menerka selalu tentang jarak rembulan
Tak pernah jelas dengan kesudahan
Tak ada hasil nyata di alam pikiran

Lalu kamu malah menjadi semakin sulit
Sulit terurai dan selalu berkelit
Semakin hari rasa mu semakin pahit
Aku semakin enggan berlama di tepian sempit

Aku ingin beranjak dan mengambil langkah
Jauh… dan berbeda arah
Tak peduli dengan mu yang resah
Sebab langkahku pun dipenuhi gundah

Pada deretan ingatan
Dan pada kisah yang berserakan
Aku semakin resah di tiap pijakan
Tapi ini langkah tak boleh ada hambatan

Lalu aku menjauh dan melaju
Dipacu kecewa yang menderu
Sedang kamu, malah terpaku
Namun aku yang melaju juga sama sendu

SIHIR HUJAN


SIHIR HUJAN

Oleh :
Sapardi Djoko Damono


Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
suaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan


Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

Jalan Setapak



Jalan Setapak
Irna Kurniasari

Seperti biasa, malam itu aku pulang dengan bis kota favoritku. Bis kota pada umumnya, ada pengamen yang menjual suara di dalamnya. Malam itu ada seorang pengamen yang penampilan luarnya membuat orang enggan memperhatikannya. Rambut gondrong tak beraturan, baju kucel dan sepotong kertas.
Ia bersenandung, saat itu aku pun tidak terlalu menyimaknya. Aku hanya mendengar sepenggal-sepenggal liriknya dan aku tidak peduli. Selesai bersenandung, pengamen itu pun memberitahukan bahwa tembang yang ia senandungkan itu adalah puisi Taufiq Ismail.
Pernyataannya itu sedikit menggelitik keingintahuanku. Kemudian pengamen itu pun membacakan beberapa puisi dan aku pun lagi-lagi tidak terlalu menyimaknya. Di sesi terakhir pengamen itu menengadahkan wadah sawernya sambil menyenandungkan kembali tembang yang ia bawakan di awal tadi.
Tapi di sesi terakhir ini ada lirik tembang tersebut yang nyangkut di telingaku, aku jadi menyimak dengan seksama tembang yang ia senandungkan tersebut. Selesai pertunjukan pengamen itu, aku segera googling untuk menjawab keingintahuanku.

“Jika engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil, tapi jalan setapak yang mengantarkan orang ke mata air”
-Kerendahan Hati, Taufik Ismail-

Itulah lirik yang nyangkut di telingaku.

Jalan setapak yang mengantarkan orang ke mata air.. Jalan setapak ke mata air.. Kata-kata itu lalu-lalang di kepalaku. Ditambah lagi baris-baris terakhir dari puisi Taufik Ismail itu:


“Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu,
Jadilah dirimu sendiri, Sebaik-baiknya dari dirimu.”

Menyadarkanku betapa picik dan sempitnya pikiranku. Ketika aku merasa bukan siapa-siapa dan tidak melakukan apa-apa. Kenapa aku harus peduli dengan apa yang orang pikirkan tentang aku atau berapa nilai yang orang berikan atas diriku?
Harusnya ketika ku ikhlas melakukan semua dan hanya mengharapkan keridhoanNya, aku hanya peduli dengan “Sudah yang terbaikkah yang aku berikan?” atau “Sudah benarkah niat dan cara aku mengerjakannya?”
Karena aku hanya bertugas menyelesaikan bagianku dan hanya Dia lah yang berhak menilainya. Tak perlu khawatir dengan nilai kecil yang 'orang' berikan, karena yakinlah Dia memberikanmu nilai yang sangat BESAR atas usaha, kerja keras, kesungguhan dan keikhlasanmu.
Mungkin 'orang' itu hanya perlu waktu untuk menyadarkannya bahwa nilai kecil itu lah yang menjadi jalan baginya untuk menemukan mata air.

Kalau bisa jadi jalan raya yang mengantarkan orang ke mata air??

QOUTES


"Emancipate Your Self From Mental Slavery, None But Our Self Can Free Our Mind"

- Bob Marley -

Main



Main

Di atas dipan bambu aku masih setia menuggu teman-temanku yang tengah asik memainkan permainan bola sodok. Aku memutuskan untuk tidak ikut bergabung dengan mereka dikarenakan ketidaktertarikanku akan permainan itu. Siang itu aku dan teman-temanku menuju sebuah rumah yang terletak di tengah sawah dan lapangan terbuka yang mungkin dulunya adalah sawah juga atau ladang para warga sekitar. Itulah tempat dimana teman-teman ku bermain billiard, sebuah rumah panggung yang dihalaman sampingnya terdapat sebuah meja billiard, yah hanya sebuah. Pemilik rumah tersebut menyewakan meja billiardnya dengan tarif 1500 rupiah untuk satu kali permainan.
Siang yang sebenarnya panas, tidak terlalu terasa bagi kami sebab tempat yamg kami datangi berada di dataran yang terbuka sehingga angin leluasa meniupkan kesejukkannya dan meredam panas sang surya. Selain itu halaman samping rumah sang pemilik meja billiard diteduhi kerindangan pohon jambu air, makanya halaman yang beratapkan asbes itu tidak terasa menyiksa dengan kesumpekkan layaknya gudang yang biasa beratapkan asbes.
Hiburan yang kami mainkan sebenarnya terkemas dengan cara yang unik dan kompatibel dengan kehidupan dan kemampuan ekonomis penduduk sub-urban. Coba kau perhatikan, berapa uang yang biasa dihabiskan para penggila olahraga satu ini jika mereka bermain di rumah billiard yang ada di kota-kota besar. Tadi ku bilang ada keunikan di sini, karena menurutku billiard sangat lekat dengan citra kehidupan kaum berduit dan berbanda sedang di sini ku menemukan bahwa billiard bisa dikemas dengan kemasan yang berbeda yang cocok bagi kalangan lain yang berseberangan secara ekonomis dengan golongan yang tadi telah ku sebutkan. Agaknya pandanganku mengenai elitnya kesan yang melekat pada permainan billiard tidaklah salah, sebab di beberapa kota besar di negara ini, Pemda-nya menerapkan sebuah pajak khusus bagi para pemilik rumah billiard. Karena apa, yah karena pemerintah melihat keelitan tersebut sehingga mereka berpendapat bahwa para pemain wajib menyumbangkan uang mereka bagi pembangunan. Yah mungkin di situlah peran yang dimainkan pemerintah terkait dengan fungsi distribusi mereka, pemerintah mencoba mendistribusikan uang-uang yang dimiliki oleh kalangan yang memang banyak memiliknya untuk kepentingan lain yang berpihak pada kalangan kurang mampu. Yap mekanisme dari sebuah teori yang ku pelajari di kampus, entah jalannya mekanisme tersebut pada kenyataannya…
Kawan-kawanku masih saja terlarut dalam keasyikan permainan mereka, bahkan salah seorang temanku sampai tak sempat menaruh tasnya,padahal ku tahu bahwa tas tersebut sarat dengan isi setelah temanku memasukkan buku-buku yang dipinjamnya dariku. Ku taksir mungkin beratnya sampai hampir dua kilo. Yah kukira taksiranku tak meleset jauh, di tas tersebut ada dua buah buku kumpulan undang-undang dan peraturan pemerintah yang cukup tebal dan berat.
Temanku yang lain bahkan sampai alpa bahwa dirinya belum makan siang, dan ku tahu perutnya pastilah keroncongan. Ku tertawa dalam hati, yang tentunya tak kan didengar olehnya. Di sudut lain alam pikiranku diriku dibawa larut dalam pemikiran yang mencoba mencari asal dari kekuatan dari sebuah permainan yang kadang menyebabkan kelarutan dalam nuansa yang asyik menghanyutkan. Apa mungkin sebuah permainan bekerja layaknya seorang ahli hipnosis, yang dapat membuat orang yang berada dalam pengaruhnya nurut begitu saja akan keinginan sang ahli.
Tapi ketika kita larut dalam keasyikan sebuah permainan, disanalah otak kita dicekoki oleh hal-hal yang sejenak dapat membuat kita melupakan sejenak kepenatan. Namun keasyikan tersebut kurasa tidak berlebihan jika ku beranggapan bahwa mirip dengan zat adiktif yang dalam kadar tertentu dapat membuat orang kecanduan. Namun layaknya cara kerja zat adiktif pada narkoba, keasyikan yang diciptakan oleh permainan sama-sama membuat syaraf menjadi rileks dan kadang bahkan sangat inspiratif.
Permainan telah berlangsung kurang lebih dua jam, selama itulah pikiranku disibukkan dan dibuat terkagum-kagum dengan keajaiban sebuah permainan, dan keajaiban tersebut sekarang tengah berlangsung dihadapanku.
Disela keasyikan ku berkontemplasi, ku tak sadar bahwa sedari tadi ada segerombolan bocah usia SD sedang ikut memperhatikan permainan kawan-kawanku. Ku hampiri bocah terdekat dari tempat ku duduk, dan ku tanyakan maksud keberadan mereka. Bocah tersebut mengatakan, “kita juga pengen maen bang”. Ku tanya lagi apa mereka mengerti peraturan billiard, “ngerti bang, tapi kalo yang pake kartu kita kaga ngerti, soalnya kita belum boleh maen pake kartu” jawab si bocah. Lalu ku bilang padanya bahwa mungkin permainan masih lama selesainya. Dan si bocah hanya menjawab bahwa dia akan menunggu, tapi kalo sampai magrib belum selesai dia mengatakan akan pulang saja karena terlalu lama. Ku hanya tersenyum mendengar jawab anak itu.
Gila pikirku, bocah usia SD udah tertarik sama permainan kya begini! Semoga aja dia tidak meniru memainkan billliard pakai judi, kaya temen-temen ku.
Setelah kumerasa jengah juga menunggu tanpa melakukan apapun, ku ajak teman ku tuk segara meniggalkan tempat ini. Dan akhirnya kami beranjak pergi dari tempat billiard tersbut.
Di jalan salah seorang temanku memberi usul untuk mampir ke warteg yang ada di pinggir jalan. Sayangnya karena hari telah terlanjur sore, di warung tersebut kami hanya mendapatkan menu sayur bening bayam dan gorengan tahu saja. Dengan sigap penjaga warung mengambilkan nasi untuk kami semua, dan tanpa berlama-lama kami segera menuntaskan makan kami.
Di kepalaku sebenarnya terlintas keinginan tuk segera berada di kamarku yang sangat tak tertata, yah sebenarnya istirahat sembari tidur-tiduran yang ku inginkan. Sejurus kemudian muncul suara temanku yang berdarah batak sehingga udara di warung tersebut ikut tergetar menguapkan lamunanku akan kamarku. Sang kawan dari tanah karo tersebut yang memang kawan SMP ku mengajak tuk melangkahkan kaki ke warung kopi yang ada di depan SMP ku. Entah pikiran dari mana yang tiba-tiba terlintas di kepalanya dan entah kekuatan apapula yang menyebabkan kami serempak mengiyakan gagasannya. Seakan lenyap tak berbekas keinginan yang semula timbul dalam pikiranku tadi.
Kami pun bergegas menunggu angkot yang kan membawa kami ke sekolahku dulu. Kurang dari sepuluh menit menunggu angkot biru telah berhenti di hadapan kami semua, kami pun masuk ke dalam dengan menundukkan kepala. Kebetulan aku mimilih tuk duduk di kursi paling depan tepat di sebelah sopir. Sopir yang melajukan angkot kami terlihat masih muda, ku taksir usianya belumlah genap 30 tahun. Ku tawarkan rokok kepada sang sopir sebagai senjata yang ampuh tuk memulai percakapan. Dan terbukti setelah ku menawari rokok, aku segera berhadapan dengan pertanyaan si sopir, dia menanyakan apakah aku seorang mahasiswa. Segera ku mengiyakan, kemudian dia bertanya kembali mengenai biaya kuliah di kampusku. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia berniat ingin menguliahkan adik kandungnya yang akan lulus SMU tahun ini. Saat ini ku benar-benar percaya bahwa kebaikan sedekat-dekatnya berasal dari saudara kita sendiri, yang memang, kadang sepercik kebaikan bisa saja datang dari seorang yang bahkan kau tak mengenalnya. Kemudian sopir tersebut mengeluarkan rokoknya sendiri dan menyulutnya dengan korek gas, asap dari rokoknya segera tersapu oleh angin yang menyeruak masuk dari jendela angkot. Si abang menawarkan rokoknya kepadaku, ku lihat bahwa ada kesungguhan dalam tawarannya bahkan dia meletakkan rokok tersebut di dashboard tepat di depanku. Yang dari sana ku dapat melihat bahwa dia memang tidak sekedar berbasa-basi. Segera ku sambut tawarannya, dan ku juga mulai membakar rokok putih yang bungkusnya didominasi oleh warna merah dan putih. Obroalan kami pun mengembang sampai seputar masalah demo mahasiswa yang memang kerap sekali terjadi belakangan ini.
Lewat dari setengah jam angkot kami mulai menyusuri udara sore yang mulai mengelam, angin yang menerpa pipiku mulai terasa makin sejuk seiring jauhnya angkot kami meninggalkan jakarta, semakin jauh ke arah pinggiran Jakarta. Tujuan yang sekarang dilirik oleh penggiat industri pariwisata dengan penawaran alam daerah yang asri dengan janji yang tak pernah lupa mereka tawarkan yaitu menghilangkan kepenatan rutinitas kehidupan urban.  

Minggu, 07 Agustus 2011

Sebuah Khayalanku




Dalam salah satu relung khayalku ada sebuah rumah mungil di kaki gunung. Lalu di halaman belakangnya membentang lahan yang berujung pada hutan pinus di kaki gunung.

Dan obrolan yang ada di rumah itu hanyalah tentang hari-hari yang sungguh mudah dan sederhana untuk dijalani. Penghuni rumah tak pernah pusing tentang beban hidup yang katanya semakin berat dijalani.

Dalam pikiran penghuni rumah, yang ada hanyalah rencana-rencana sederhana untuk mengisi hari-hari yang sederhana. Tak pernah kurang, walaupun tak pernah juga merasa berlebihan.

Semuanya serba cukup untuk sebuah hidup yang sederhana.

Di tiap malam, penghuni rumah asyik mengobrol dengan tetangga tentang panen sayuran yang sebentar lagi tiba.

Lalu hujan dengan kabutnya berkawan dengan gelapnya malam yang misterius. Sekalipun misterius, namun sungguh menenangkan, damai sepanjang malam.

Lalu pagi yang masih tipis berkabut, penghuni rumah sudah terbangun untuk menjerang air. Kemudian kopi hitam adalah penanda awal dimulainya hari. Kopi yang hitam, tidak terlalu manis mengalirkan semangat serta senyum indah menyambut pagi yang semakin cerah.

Dengan langkah ringan penghuni rumah menuju ladang. Berjuang dengan panen sayurnya yang pertama di akhir bulan Juni.
Lalu setelah matahari tepat di atas kepala, adalah saat untuk beristirahat di bawah dangau di pinggir ladang.

Ditemani sungai kecil yang bergemiricik, penghuni rumah membuka rantang hijau makan siangnya. Lalu air putih yang dingin dan segar mengalir melewati kerongkongan yang kering karena bekerja. Air yang lewat sekan menyapu penat dan mengurangi gerah karena aktivitas.

Lalu panen berlanjut hingga senja. Dan mobil bak segera penuh dengan keranjang sayur bertumpukkan. Hasil panen meluncur ke rumah, dan esok siap diantar untuk dijajakan.

Sore yang tenang, dengan senyum yang mengembang. Penghuni rumah bertukar tembang tentang hari-hari yang riang. Riang karena hidup sungguh ringan, seringan langkah di atas awan berarakan.

Senyum yang mengembang seakan hidup di surga yang senantiasa tenang.

Lalu suara alam saat langit mulai malam mengisi udara. Serangga-serangga malam berorkestra sama riang. Seriang penghuni rumah sepulang berladang.

Kemudian syukur tak pernah berhenti berkumandang, lalu sembah sujud kepada Tuhan senantiasa.



Sabtu, 06 Agustus 2011

Bulan Ku Berjumlah Dua


Bulan Ku Berjumlah Dua

Kalian mungkin berpikir bahwa judul tulisan ini adalah sebuah puisi kan?! Kalo kalian berpikir seperti itu berarti kalian salah.

Aku akan bercerita tentang apa yang baru saja aku baca dari sebuah koran yang terbit pada Jumat 5 Agustus 2011.

Aku akan bercerita tentang Bulan, bukan cerita tentang keindahan bulan dengan bahasa bergaya romannya para pujangga.

Tapi aku akan berbagi sedikit pengetahuan tentang Bulan, satu-satunya satelit alam yang setia mengorbit Bumi kita tersayang.

Bulan adalah satu-satunya satelit alam yang kita miliki, dan bulan ketika purnama mampu menghadirkan sejuta inspirasi bagi siapa saja yang rela memandangnya.

Bulan kala purnama sejatinya tidaklah benar-benar berpendar dengan cahayanya sendiri. Kalian pastilah tahu hal ini, ya bulan hanyalah berperan sebagai cermin yang memantulkan cahaya matahari yang menghujami permukaannya dan akhirnya cahaya matahari tetap kita rasakan bahkan ketika malam.

Cahaya matahari yang dipantulkan bulan, memiliki karakter dan nuansa yang jauh berbeda ketimbang dengan cahaya sang mentari kala siang.

Cahaya bulan, punya nuansa indah dan syahdu bahkan sedikit beraroma magis. Terbukti dengan banyaknya cerita mistis terkait dengan cahaya sang rembulan. Mulai dari cerita tentang manusia serigala yang berubah menjadi separuh manusia dan separuh serigala kala terpapar cahayanya. Bahkan sampai cerita tentang Son Goku yang berubah menjadi kera raksasa saat matanya beradu dengan cahaya bulan.

Cahaya bulan kala purnama juga berperan dalam pasang surutnya air laut. Bahkan katanya ketika bulan sedang dalam kondisi penuh, mampu memberikan pengaruh pada aktivitas vulkanik gunung berapi dan aktivitas seismik kerak bumi.

Tapi saya tidak akan bercerita tentang keajaiban bulan di atas. Saya hanya akan berbagi info bahwa ternyata pada 4 milyar tahun yang lalu, bulan memiliki adik yang jauh lebih kecil dari sang bulan.

Iya, ternyata bulan kita dulu ada dua, yang satu besar dan yang satunya lebih kecil, hanya 1/30 ukuran bulan yang besar.

Ceritanya, dulu kedua bulan tersebut akhirnya mengorbit makin jauh dari posisi orbitnya dengan bumi. Lalu ketika semakin jauh dari bumi, kedua bulan tersebut mendapat pengaruh gaya gravitasi dari sang mentari, sehingga kestabilan orbit kedua bulan sedikit oleng.

Dan pada akhirnya kedua bulan tersebut bertabrakan, satu dengan yang lain!!

Kalian bisa bayangkan ketika kedua benda luar angkasa tersebut bertabrakan hanya dalam jangka waktu kurang dari tiga jam ketika keduanya sudah berada pada posisi saling berhadapan!

Dan pada akhirnya kedua bulan tersebut merger menjadi bentuk yang seperti kita lihat sekarang.

Yah kedua bulan tersebut akhirnya menjadi satu, melebur menjadi satu.

Hal ini terbukti dari hasil penelitian para ilmuwan, bahwa kedua sisi bulan memiliki karakter yang jauh berbeda. Sisi yang menghadap bumi lebih halus, dan sisi yang tidak menghadap bumi jauh lebih kasar dan berbatu batu.

Selain sisi yang berbeda permukaannya, sisi yang lain yang menghadap luar bumi juga memiliki kerak yang lebih tebal. Sebab bulan yang kecil dulu menghantam sisi bulan yang menghadap luar bumi.

Demikian cerita tentang bulan yang ternyata dulu punya adik dan akhirnya berfusion menjadi satu seperti dalam jurus fusionnya Son Goku. Tapi ini bukanlah dongeng loh, ini sebuah fakta hasil penelitian para ilmuwan.

ART CRAFT & Kemunculan AI Clone Software

Apakah Anda pernah merasa lelah terus-menerus membayar biaya langganan bulanan hanya untuk menggunakan perangkat lunak yang sama selama bert...