Rabu, 22 Juli 2026

Berkenalan Lebih Jauh dengan Pajak Tangguhan (Deferred Tax)

 


Mengenal Pajak Tangguhan: Analogi "Voucher Diskon" dan "Tagihan Paylater"

Halo manteman, balik lagi di tulisan gw! Kali ini gw mau ngebahas sesuatu yang lumayan bikin dahi berkerut nih, apalagi buat kita-kita yang lagi berkutat sama laporan keuangan. Yap, ngomongin Pajak Tangguhan. Jujur aja, pas gw lagi membedah materi kuliah Akuntansi Keuangan Menengah 1, topik ini sempet bikin gw pusing sendiri hahaha.

Kenapa sih konsep ini terasa ribet banget dan sering jadi momok? Akar masalahnya sebetulnya sederhana: ada beda "kacamata" antara aturan negara (Fiskal) dan aturan internal perusahaan (Komersial). Di proses yang kita sebut Rekonsiliasi Fiskal, kita sering menemukan bahwa apa yang menurut buku akuntansi kita adalah biaya, menurut negara belum tentu boleh dikurangkan saat ini.

Perbedaan sudut pandang inilah yang menciptakan selisih. Tapi kabar baiknya, selisih ini bisa dijelaskan dengan logika yang sangat manusiawi kok, asalkan kita berhenti sejenak dari istilah teknis yang berat. Cekidot!

1. Inti Masalahnya Cuma Soal "Geser-Geser" Waktu

Pada dasarnya, Pajak Tangguhan ini lahir murni karena perbedaan waktu bayar. Negara sama perusahaan seringkali sepakat soal apa yang harus dipajaki, tapi mereka kaga sepakat soal kapan pajak itu harus diakui dan dibayarkan.

"Pajak Tangguhan itu cuma urusan geser-geser waktu bayar. Kalau negara memaksa kita bayar lebih mahal hari ini, itu jadi Aset (Deposit) buat kita karena besok-besok kita bayarnya lebih murah. Kalau negara ngasih keringanan bayar murah hari ini, itu jadi Kewajiban (Utang) karena besok-besok kita pasti ditagih sisa kekurangannya."

Jadi, alih-alih mengartikan ini sebagai denda atau pajak tambahan, mending kita anggap ini sebagai penyesuaian waktu biar laporan keuangan perusahaan mencerminkan realita ekonomi yang jujur.

2. Aset Pajak Tangguhan Tuh Ibarat "Voucher Diskon" Masa Depan

Coba kita pakai analogi beli tiket terusan ya. Bayangkan kalian masuk ke taman bermain. Menurut hitungan kalian (Akuntansi), kalian cukup membayar 5 tiket sesuai wahana yang mau dinaiki. Tapi, aturan taman bermain (Pajak) mewajibkan kalian membeli paket 10 tiket di muka.

Hari ini, uang tunai kalian emang keluar lebih banyak. Tapi kelebihan ini kaga hilang frens; kalian memegang sisa tiket tersebut sebagai Aset Pajak Tangguhan (DTA). Contoh nyatanya di neraca biasanya muncul dari Penyisihan Piutang Tak Tertagih atau Rugi Fiskal yang bisa disimpan sebagai pengurang pajak di masa depan.

Karakteristik utamanya kira-kira begini:

·        Kondisi Hari Ini: Perusahaan membayar pajak tunai ke negara lebih besar dari hitungan beban akuntansi internal.

·        Logika: Kita terlanjur bayar lebih sekarang, sehingga kita memiliki deposit atau tabungan.

·        Dampak Masa Depan: Tagihan pajak di tahun-tahun mendatang akan menjadi lebih ringan karena kita sudah punya "voucher" pengurang.

3. Kewajiban Pajak Tangguhan Adalah Fitur "Paylater" Perusahaan

Sebaliknya nih, ada kalanya negara memberikan kelonggaran. Pakai analogi "makan buka tab" alias paylater. Kalian makan senilai Rp50.000, tapi pemilik warung membolehkan kalian membayar Rp20.000 saja hari ini.

Uang tunai yang keluar hari ini emang sedikit, tapi kalian sadar ada sisa Rp30.000 yang tetap harus dibayar nanti. Nah, sisa inilah yang disebut Kewajiban Pajak Tangguhan (DTL). Walaupun uangnya belum keluar secara tunai saat ini, perusahaan wajib mencatatnya sebagai utang karena ini adalah beban yang pasti akan menagih kalian di masa depan.

4. Kaga Semua Perbedaan Melahirkan Pajak Tangguhan

Penting banget buat kita untuk memilah mana perbedaan yang sifatnya sementara dan mana yang permanen. Kalau perbedaannya adalah soal apakah suatu biaya diakui (seperti biaya sumbangan atau denda pajak), maka itu adalah Beda Tetap. Sampai kiamat pun, negara kaga akan mengakui biaya ini hahaha. Pajak tangguhan cuma muncul dari Beda Temporer, di mana ujung-ujungnya total akhir bakal sama persis.

Kriteria

Beda Tetap (Permanent)

Beda Temporer (Temporary)

Akar Masalah

Perbedaan pengakuan (Boleh vs Tidak)

Perbedaan waktu (Tahun Berapa)

Sifat

Mutlak dan Final

Sementara (Akan berbalik/terhapus)

Total Angka Akhir

Berbeda selamanya

Sama persis pada akhirnya

Dampak Pajak

Tidak ada Pajak Tangguhan

Menghasilkan Aset (DTA) atau Kewajiban (DTL)

5. Prinsip Kehati-hatian dan Aturan Main (PSAK 212)

Sebagai tambahan amunisi buat kalian, aturan ini sekarang mengacu pada PSAK 212. Ada tiga aturan emas yang wajib kita pegang:

·        Asimetri Pengakuan: Akuntansi itu sangat konservatif. Kalau ada potensi utang (DTL), kalian wajib mencatatnya. Tapi, kalau itu berupa aset (DTA/Voucher), kalian hanya boleh mencatatnya jika kondisinya sangat mungkin (probable) perusahaan akan menghasilkan laba di masa depan untuk memakai voucher tersebut.

·        Tarif Masa Depan: Ini poin krusial. Kita tidak menghitung pajak tangguhan menggunakan tarif hari ini secara buta, melainkan menggunakan tarif pajak yang diperkirakan akan berlaku saat aset tersebut dipulihkan atau kewajiban tersebut diselesaikan.

·        Aturan "Netting": Di neraca, kalian tidak bisa sembarangan mengurangkan DTA dengan DTL (saling-hapus). Hal ini cuma boleh dilakukan jika perusahaan memiliki hak legal untuk menyelesaikannya secara neto.

6. Contoh Nyata dalam Penyusutan Mesin

Biar makin kebayang, penyusutan ini contoh paling klasik dari "Paylater Pajak". Perhatikan alurnya:

1.      Beli Mesin: Harga Rp100.000.000.

2.      Fase Akumulasi (Tahun 1–4): Pajak memperbolehkan mesin disusutkan cepat dalam 4 tahun (Rp25 juta/tahun), sementara Akuntansi menyusutkannya 10 tahun (Rp10 juta/tahun). Karena beban pajak lebih besar, laba kena pajak jadi kecil. Kita membayar pajak lebih murah hari ini—nah inilah momen kita membangun "Utang Paylater" (DTL).

3.      Fase Pembalikan (Tahun 5–10): Secara pajak, mesin sudah habis disusutkan (beban nol). Tapi secara akuntansi, masih ada beban Rp10 juta/tahun. Di sinilah "tagihan paylater" datang; laba kena pajak akan lebih tinggi dan perusahaan harus membayar pajak lebih mahal daripada hitungan akuntansinya.

4.      Hasil Akhir: Di akhir tahun ke-10, total biaya penyusutan di kedua buku akan sama persis (Rp100 juta). Ini membuktikan kalau ini murni masalah waktu doang frens!

Penutup: Melampaui Angka di Neraca

Oke manteman, memahami pajak tangguhan ini sebetulnya adalah kunci buat memprediksi kesehatan arus kas di masa depan. Aset dan kewajiban ini selalu disajikan sebagai pos Tidak Lancar (Non-Current), mengingatkan kita bahwa ini adalah komitmen jangka panjang perusahaan dengan negara.

Sebagai penutup obrolan kita hari ini, coba deh tengok kembali laporan posisi keuangan kalian dan renungkan:

"Apakah saat ini perusahaan kalian sedang memegang banyak 'voucher diskon' yang bisa memperkuat arus kas, atau justru sedang menimbun 'utang paylater' yang tak terlihat dan siap menagih di masa depan?"

Semoga tulisan ini bisa memberikan efek recharged buat otak kalian ya! Terima kasih sudah membaca, dan terus bergerak maju!

BAB 2 Buku:TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764-1962

 


Halo Frens, gw mau melanjutkan rangkuman dari e book yang gw punya yang berjudul: TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764 – 1962

Ini buku merupakan karya dari Dr. Th. Stevens yang judul aslinya adalah Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands-Indiƫ en Indonesie 1764-1962.

 

Di rangkuman kali ini kita masuk ke Bab 2 yang berjudul “TRANSISI KE ZAMAN BARU 1870-1890”. Silahkan disimak ya, kali aja menemuka hal yang menarik dan layak untuk dimasukkan ke media penyimpanan pengetahuan di dalam otak kalian.

 

Jejak Modernitas yang Terlupakan: 5 Hal Tak Terduga dari Era Transisi Hindia Belanda (1870–1890)

Halo manteman, balik lagi di tulisan gw! Pernah ga sih kalian merasa kalau dunia zaman sekarang ini bergeraknya terlalu cepat? Menariknya, perasaan "akselerasi zaman" ini ternyata bukan monopoli generasi internet saja, lho. Di paruh kedua abad ke-19, penduduk Hindia Belanda juga merasakan guncangan yang sama.

Titik baliknya itu terjadi pada tahun 1869, saat Terusan Suez resmi dibuka. Jarak Eropa dan Asia Tenggara yang tadinya membentang ribuan kilometer mendadak menciut. Waktu tempuh yang tadinya butuh berbulan-bulan, sukses dipangkas hanya menjadi hitungan minggu. Transisi dari kapal layar ke kapal api ini bukan sekadar pergantian teknologi transportasi, tapi juga mengubah ritme kecepatan hidup. Dari periode 1870–1890 inilah lahir fondasi gaya hidup modern yang struktur dasarnya—mulai dari jam kerja kantoran sampai birokrasi yang gemuk—masih bisa kita temui sampai detik ini.

Yuk, kita bedah 5 hal tak terduga dari era transisi ini!

1. Runtuhnya "Budaya Bujang" dan Lahirnya Keluarga Modern

Sebelum tahun 1870, Hindia Belanda itu ibarat wilayah "pionir kaum lelaki". Karena perjalanan dari Eropa ke sini sangat sulit dan ada aturan ketat yang membatasi kedatangan pasangan menikah, sedikit sekali wanita Eropa yang menginjakkan kaki di tanah jajahan. Ujung-ujungnya, muncul deh "budaya bujang", di mana para pria Eropa biasanya hidup berdampingan dengan selir atau nyai. Sifat campuran ini sering terekam di foto-foto lama keluarga kolonial.

Namun, pembukaan Terusan Suez perlahan mengubah wajah sosiologis ini. Gelombang wanita Eropa "totok" mulai berdatangan, membawa serta standar moral dan struktur sosial baru yang lebih bernuansa Eropa. Komunitas yang tadinya lumayan membaur dan cair, perlahan bertransformasi menjadi masyarakat yang lebih kaku dan terpisah-pisah. Pertumbuhan orang Eropa di Jawa pun melonjak tajam, dari sekitar 44.000 jiwa di tahun 1860, melompat menjadi 91.000 jiwa pada tahun 1900.

2. Sisi Gelap Kolonial: Nasib "Golongan Paria" Indo-Eropa

Di balik kemegahan rumah-rumah berventilasi besar dengan lantai marmer, ternyata ada cerita sedih yang sering terabaikan. Tidak semua orang berdarah Belanda itu hidup mewah frens. Sejarawan Rob Nieuwenhuys sampai menggunakan istilah "golongan paria" untuk menggambarkan komunitas Indo-Eropa yang terpinggirkan akibat kalah bersaing dengan kaum "totok" yang baru datang.

Mereka banyak yang hidup dalam kemiskinan dan terjebak masalah sosial seperti penyelundupan opium. Ironisnya, meski secara hukum menyandang status "Eropa", sebuah penelitian mengungkap fakta mengejutkan: 41% anak Eropa yang masuk sekolah dasar sama sekali tidak bisa berbahasa Belanda. Mereka lebih akrab dengan bahasa daerah atau bahasa Melayu pasar. Realitas ini sukses membuat mereka makin tertekan di pasar tenaga kerja yang semakin menuntut kualifikasi formal.

3. "Amerika di Timur": Eksperimen Kewirausahaan di Deli

Sementara pemerintah pusat di Jawa tengah pusing mengurus krisis keuangan akibat biaya infrastruktur dan Perang Aceh yang sangat mahal, ada fenomena berbeda yang muncul di pesisir timur Sumatra. Di wilayah Deli, terjadi transformasi fisik yang sangat agresif. Hutan belantara yang tak terjamah disulap menjadi kota modern dalam sekejap berkat semangat kapitalisme swasta yang berani.

Deli seolah menjadi anomali. Semangat bisnis tembakau dan karet di sana menciptakan iklim "Amerika di Timur", sebuah model sukses wirausaha Barat yang bertolak belakang dengan birokrasi Jawa yang kaku. Tetapi ada ironi besar di sini, undang-undang agraria baru yang memberi ruang bagi swasta justru menuntut pengawasan pemerintah yang lebih ketat—mulai dari pendaftaran tanah hingga batas upah minimum. Alhasil, aparat birokrasi malah bertambah besar. Di sinilah cikal bakal dari apa yang kita sebut "negara pegawai negeri" mulai terbentuk.

4. Freemasonry: Bukan Sekadar Rahasia, Tapi Agen Sosial

Satu elemen yang sering disalahpahami dalam sejarah kita adalah peran Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij). Jauh dari sekadar sekte rahasia yang menyeramkan, pada masa transisi ini mereka justru berfungsi sebagai agen sosial aktif yang mencoba mengisi celah penderitaan masyarakat melalui inisiatif nyata:

·        Bank Pembantu (Hulpbank): Ini adalah upaya konkret mereka untuk melawan rentenir. Mereka memberikan pinjaman dengan bunga yang sangat manusiawi, kontras banget dengan rentenir yang bunganya bisa mencekik klien.

·        Pendidikan dan Keterampilan: Mereka mempelopori sekolah TK (Frobel), sekolah pertukangan (ambachtsschool), sampai kursus dagang. Tujuannya jelas, yaitu membekali kaum miskin agar bisa bersaing di zaman baru.

·        Literasi Masyarakat: Melalui perpustakaan rakyat "De Verlichting" di Semarang, mereka berusaha mencegah masyarakat di pedalaman agar tidak "tumpul secara rohani" akibat terisolasi.

Gedung-gedung loji ini juga menjadi ruang pertemuan unik yang melintasi batas rasial. Di sanalah para elite Belanda bisa berdiskusi dengan tokoh pribumi progresif seperti Pangeran Ario Notodirodjo dan Raden Adipati Tirto Koesoemo.

5. Penutup: Warisan dalam Struktur dan Pikiran

Periode 1870–1890 ini benar-benar meletakkan fondasi fisik bagi Indonesia modern: mulai dari rel kereta api yang membelah Jawa, sistem irigasi raksasa, sampai modernisasi pelabuhan. Namun, warisan yang paling membekas mungkin adalah lahirnya "negara pegawai negeri" tadi. Struktur birokrasi yang gemuk ini muncul karena pemerintah kolonial tetap ingin menjadi faktor pengendali utama di tengah arus liberalisasi ekonomi.

Sebagai penutup, ada pertanyaan reflektif nih buat kita renungkan: Kalau infrastruktur dan institusi kita hari ini banyak yang lahir dari rahim transisi kolonial tersebut, sejauh mana sih mentalitas "zaman baru" itu—baik semangat wirausahanya yang berani maupun ketergantungannya pada birokrasi yang kaku—masih mengendap dalam cara kita bernegara saat ini? Hhm, menarik untuk dipikirkan ya manteman.

Perjalanan PULANG: 5 Pelajaran Tersembunyi dari Petualangan Odiseus (Odyssey) yang Masih Relevan Sampe Sekarang



Jadi pada tanggal 17 Juli 2026 yang lalu, karya terbaru Christopher Nolan yang berjudul The Odyssey akhirnya tayang di jaringan bioskop yang ada di Indonesia. Dan sebagai penikmat karya beliau, gw akhirnya menyempatkan diri juga untuk ikutan nonton karya terbaru beliau. Sebuah film kolosal dengan durasi 3 jam kurang 8 menit yang diangkat dari karya klasik penulis asal Yunani Homer yang aslinya merupakan buku-buku full puisi yang epik dan monumental. Kenapa gw bilang “buku-buku” karena emang karya asli Homer tentang petualangan Odiseus sepulang perang Troya berjumlah 24 buku!

 

Nah pada tulisan kali ini gw cuman mau merangkum cerita asli dari petualangan Odiseus sang pahlawan dan veteran perang Troya! Konon menurut banyak penggemar karya sastra klasik petualangan pulangnya Odiseus ini bukan hanya seru, tapi sarat dengan pelajaran tersembunyi. Oh ya balik lagi ke film adaptasinya Bang Nolan, kali ini film ini disajikan dengan plot yang cenderung sederhana, dan jauh dari typical karya Nolan yang lain. So buat kalian yang mau nonton, siapin aja cemilan yang pas, jangan lupa pipis dulu takut kebelet pipis di tengah film berjalan. Kaga bisa dipause coy klo nonton di bioskop mah. Buat gw pribadi nih film nuansanya mirip kaya triloginya Batman, jadi lo kaga usah berangkat dengan mode otak yang kritis dan on fire buat menerka “teka-teki” khas filmnya beliau! Just chill and watch aja Frens!

 

Pernah kaga sih lo pada ngerasa kejebak nungguin sesuatu yang kayanya kaga ada ujungnya? Atau mungkin lagi pusing nyari "jalan pulang" tapi hambatannya bikin emosi jiwa? Perasaan "nunggu lama banget" ini ternyata jadi nyawa dari cerita Odysseia karya Homer, epos Yunani kuno soal perjalanan Odiseus yang butuh waktu 20 taun buat balik ke rumah kelar Perang Troya.

Tapi frens, gw pribadi ngeliat cerita ini kaga cuman sekadar dongeng fiktif ngelawan monster atau dewa-dewi doang. Asli, karya yang nyampe 24 buku ini tuh kaya cermin psikologi kita pas lagi kena musibah. Lewat ceritanya yang megah, kita bisa metik pelajaran soal mental baja, nurunin ego, sampe kesetiaan yang masih ngena banget sama kerasnya kehidupan di jaman AI. Cekidot 5 pelajarannya!

1. Kekuatan Mulai dari Tengah (In Medias Res)

Homer nih pinter, doi kaga nyeritain dari awal secara urut. Doi pake teknik in medias res, yang langsung ngelempar kita ke tengah-tengah kekacauan di Ithaca, 20 taun abis perang kelar. Kita kaga diajak liat masa jayanya si pahlawan, tapi malah ngeliat galaunya keluarga yang ditinggalin. Teknik ini bikin kita ikutan ngerasain seberapa daruratnya sikon yang dirasain anaknya, Telemakhos, sama istrinya, Penelope.

"Istana Odiseus dikepung sama 108 cowok ningrat songong yang maksa Penelope kawin lagi. Mereka kaga cuman ngincer tahta, tapi juga pesta pora ngabisin hartanya Odiseus tiap hari, bikin krisis moral dan finansial di pusat kerajaan."

Di hidup nyata, kita juga sering kan nemuin diri kita kudu ngeberesin kekacauan di depan mata—masalah yang kudu gercep diselesaiin—sebelum bisa nyantai ngerayain kejayaan masa lalu. Strategi in medias res ini ngajarin kalo titik balik perjuangan tuh seringnya dimulai dari keberanian ngadepin masa-masa paling ancur, bukan pas lagi persiapan mateng.

2. Bahayanya Haus Pengakuan: Belajar dari Polifemos

Nah, ini salah satu adegan paling ikonik pas Odiseus ketemu raksasa kiklops Polifemos. Di sini keliatan banget bedanya antara kecerdikan murni sama kesombongan yang bikin hancur. Awalnya Odiseus sukses nyelamatin krunya pake trik nipu si raksasa, bilang kalo namanya "Bukan Siapa-siapa" (Noman).

Tapi pas udah berhasil kabur ke kapal, egonya Odiseus meledak frens. Doi kaga nahan pengen diakuin. Diteriakin dah tuh nama aslinya ke Polifemos, biar dunia tau siapa yang udah naklukin anaknya dewa laut Poseidon itu. Sumpah, pamer ginian malah jadi bumerang maut.

Kalo Polifemos kaga tau nama aslinya, doi kaga bakal bisa minta bapaknya ngutuk Odiseus. Jebule pas namanya disebut, kena dah tuh kutukan. Pelajarannya? Kadang musuh paling ngeri tuh bukan rintangan di luar sana, tapi ego kita sendiri yang kehausan pengakuan (hubris). Gara-gara ego ini, perjalanan yang harusnya cepet malah molor jadi penderitaan 20 taun!

3. Kesetiaan Tanpa Suara dari Si Anjing Argos

Setelah 20 taun dines ke Troya plus perjalanan mudiknya, Odiseus balik ke Ithaca dengan wujud yang kaga dikenalin. Dewi Athena membantu doi menyamar menjadi pengemis tua gembel biar bisa nyusup ke istananya sendiri. Penyamarannya gokil banget sampe manusia aja ketipu, tapi kaga buat sebuah kesetiaan yang murni.

Cuman Argos, anjing tuanya Odiseus yang lagi sakaratul maut, yang bisa ngenalin tuannya pake insting. Yah cuman insting dari seekor hewan, tapi di sini insting terbukti lebih setia ketimbang kepintaran!

"Di tengah kumpulan cowok-cowok yang mengkhianati rumahnya, cuman Argos yang ngenalin Odiseus. Pas liat tuannya balik abis dua dekade, tuh anjing ngibasin ekornya buat terakhir kali sebelum mati dengan tenang."

Asli, adegan ini ngena banget frens. Di dunia yang isinya intrik politik sama kepentingan pribadi, kesetiaan sejati seringnya dateng dari hal sederhana yang kaga minta imbalan apa-apa.

4. Tes Kecerdasan Penelope dan Ranjang Pohon Zaitun

Sering banget Penelope cuman dicap sebagai "istri yang setia nunggu". Padahal naskah aslinya nunjukin kalo doi tuh cerdas banget dan setara sama suaminya. Bahkan kelar Odiseus ngebantai semua pelamarnya, Penelope kaga langsung percaya gitu aja. Doi ngetes Odiseus dengan nyuruh pelayan mindahin ranjang kimpoi mereka.

Odiseus langsung ngamuk, soalnya doi tau rahasia tuh ranjang: dipahat langsung dari batang pohon zaitun yang akarnya masih nancep kuat di tanah istana! Rahasia ini cuman mereka berdua doang yang tau. Simbolis banget kan? Hubungan yang sehat dan tangguh tuh dibangun di atas fondasi "rahasia bersama" yang akarnya dalem, kaga gampang goyah ditebas badai waktu. Penelope ngebuktiin kalo sikap kritis tuh bentuk perlindungan diri yang mantep.

5. Keadilan Brutal dan Campur Tangan Ilahi

Bagian ujung epos ini lumayan berdarah-darah frens. Odiseus balas dendam ngebantai 108 pelamar itu kaga pake ampun di dalem istana. Tapi kemenangan ini kaga lantas bikin damai. Keluarga pelamar yang mokat langsung nuntut balas dendam, bikin ancaman siklus kekerasan yang kaga kelar-kelar.

Di sinilah Dewi Athena turun tangan buat nyetop tumpah darah. Pelajaran pentingnya: konflik yang udah mendarah daging tuh kaga bisa kelar cuman modal menang satu pihak doang. Butuh kesadaran bareng buat bener-bener mencapai perdamaian abadi. Keadilan emang udah ditegakin lewat panahnya Odiseus, tapi damai cuman bisa kejadian kalo semua pihak sepakat mutusin rantai kebencian. Jadi pemenang aja kaga cukup, lo kudu bisa bawa damai.

Penutup: Apa Sih Arti "Pulang" Sebenernya?

Perjalanan panjang Odiseus pada akhirnya bukan cuman soal ngarungin ribuan mil lautan, tapi soal proses ngikis ego sampe ke intinya. Buat bisa beneran "pulang", doi kudu belajar jadi "Bukan Siapa-siapa", nelen gengsinya, dan berani nanggung akibat dari kelakuannya.

Buat kita-kita sekarang, "pulang" mungkin bukan sekadar lokasi di peta frens, tapi soal balik ke jati diri abis tersesat ngejar ambisi duniawi. Hhm, sisa satu pertanyaan nih buat bahan renungan kita semua:

"Kalo lo jadi Odiseus, lo bakal milih tetep jadi 'Bukan Siapa-siapa' demi cepet nyampe rumah, atau milih teriak nyebut nama lo dan nerjang badai demi sebuah pengakuan?"

Okay, kayanya segini dulu celotehan gw. Nanti di tulisan selanjutnya gw bakal sambung lagi dengan topik yang kaga kalah seru ya manteman!

Kenapa Dunia Tidak Butuh Tambahan Sumber Daya, Tapi Butuh Manajemen yang Bener!



Halo manteman, balik lagi di tulisan gw. Kalo kemaren-kemaren gw cerita pengalaman soal ngulik motor XSR 155, di tulisan kali ini gw mau agak "serius" dikit nih. Maklum ya frens, di sela-sela gw pusing ngulik materi akuntansi keuangan menengah sama pengantar ekonomi makro di UT, gw jadi sering merenung dan kepikiran soal hal-hal begini hahaha. Jadi tulisan ini merupakan ringkasan yang gw buat untuk membantu proses belajar gw untuk mata kuliah Manajemen.

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu gw memahami konsep-konsep penting ilmu manajemen dan buat kalian, kali aja ada hal baru yang bisa memperkaya database pengetahuan kalian ya.

 

Pernah ga sih lo pada ngebayangin, gimana ceritanya tuh pesawat Boeing 747 bisa ngudara? Asli, tuh pesawat isinya 6 juta komponen spare part, kabelnya aja kalo ditarik panjangnya nyampe 274 km, dan tingginya setara gedung 6 lantai! Secara kasat mata, tumpukan besi segede gaban gitu tanpa koordinasi yang pas mah harusnya jadi rongsokan doang kan? Tapi nyatanya, dia bisa terbang anteng di ketinggian belasan kilometer.

Sama juga kaya Coca-Cola yang bisa nyajiin 1,7 miliar minuman tiap harinya di seluruh dunia. Kok bisa? Percaya atau tidak, ini kaga sekadar kebetulan atau karena modal gede doang frens. Di balik itu semua ada "ilmu gaib" yang namanya Manajemen. Manajemen ini ibarat mesin atau katalis yang ngerubah barang mentah jadi sesuatu yang punya nilai guna.

Dari hasil ngulik bahan ajar dan baca-baca, gw ngerangkum 6 alasan penting kenapa ilmu manajemen itu jauh lebih krusial daripada sekadar punya aset doang. Cekidot!

1. Kaga Ada Negara Miskin, yang Ada Tuh "Miskin Manajemen"

Kalian tau Peter Drucker kaga? Ini bapak manajemen modern frens. Doi sempet mematahkan logika kita soal kemiskinan dan kemakmuran suatu bangsa. Kita kan sering mikir kalo negara kaya itu pasti yang isi perut buminya tumpah ruah. Tapi Drucker punya pandangan yang menohok: "Kaga ada tuh negara kurang maju. Yang ada cuman negara yang manajemennya payah."

Asli, ini relate banget pas gw lagi belajar ekonomi makro. SDA itu cuman potensi doang frens. Beda antara negara maju sama berkembang ya kaga terletak di bahan bakunya, tapi di kualitas manusianya pas ngelola tuh sumber daya yang terbatas.

2. Nyari Manajer Jago Tuh Susahnya Minta Ampun

Kita sering kemakan mitos kalo orang jago di urusan teknis, otomatis pasti jago juga pas dijadiin manajer. Padahal mah kaga gitu! Dari data riset Gallup sama HBR yang gw baca, ngasih tamparan realita nih: cuman 1 dari 10 orang doang yang beneran punya bakat jadi manajer (kaya punya rasa tanggung jawab, gigih, dan pinter bangun hubungan).

Risikonya gede banget frens kalo kita maksa naruh orang di posisi manajerial. Sebaliknya, manajer yang emang bakat bisa naikin profit sampe 48%. Buat orang-orang yang akrab sama laporan keuangan kaya gw, ini ngefek banget ke EPS (Earnings Per Share) perusahaan yang bisa meroket sampe 147% dibanding kompetitornya. Gokil kan?

3. Efisien Tapi Kaga Efektif = Mubazir yang Rapi

Di dunia kerja, orang sering banget ngebanggain efisiensi. Intinya memaksimalkan output dari input yang sekecil-kecilnya. Lo kerja keras pake modal dikit, lo dinilai efisien. Tapi pertanyaannya, apakah lo efektif?

Gini gw kasih analogi gampangnya. Bayangin ada pabrik mesin ketik jadul yang kerjanya efisien banget: nol cacat produksi, ongkos kerjanya murah meriah. Tapi masalahnya, jaman sekarang orang butuhnya udah komputer atau hape layar sentuh, siapa coba yang mau beli mesin ketik? Hahaha. Pabriknya emang efisien secara teknis, tapi kaga efektif secara strategis. Intinya: pastiin dulu lo ngelakuin hal yang bener (doing the right things), baru deh lakuin hal itu pake cara yang sehemat mungkin (doing things right).

4. Efek Hawthorne: Kadang Perhatian Lebih Penting dari Fasilitas

Ini ada eksperimen jadul di pabrik Western Electric Company yang hasilnya counter-intuitive alias di luar nurul frens. Awalnya peneliti mikir buruh bakal kerja makin kenceng kalo fasilitas kaya tingkat pencahayaan lampunya diterangin.

Eh jebule hasilnya nunjukin kalo buruh makin produktif bukan karena lampunya terang benderang, tapi karena mereka ngerasa diperhatiin sama bos-bos manajemen. Suara mereka didengerin. Dari situ sadar deh, kita tuh bukan cuman "manusia ekonomi" yang digerakin pake duit, tapi juga "manusia sosial" yang butuh pengakuan.

5. Manajemen Tuh Gabungan Antara Teori Kaku Sama Seni yang Fleksibel

Manajemen itu gabungan ilmu pasti (sains) sama seni frens. Sebagai sains, lo butuh teori biar kaga asal nebak (trial and error) yang malah bikin boncos. Bayangin petani yang kaga ngerti unsur hara tanah, malah ngasih sesajen tiap malem jumat biar panennya subur hahaha. Kan mending pake perhitungan sains.

Tapi di sisi lain, ini juga seni karena objek utamanya itu manusia! Mary Parker Follett taun 1918 bilang manajemen itu "Seni mencapai sesuatu melalui orang lain". Jadi manajer butuh sains buat bikin keputusan logis, tapi tetep butuh "seni" buat empati sama anak buahnya yang kadang kelakuannya ga bisa ditebak.

6. Manajer Tuh Tukang Beresin Kekacauan (Disturbance Handler)

Banyak yang mikir manajer tuh kerjanya cuman duduk manis merencanakan masa depan. Halah, itu mah mitos! Menurut Henry Mintzberg, manajer tuh harus action-oriented. Salah satu perannya yang paling vital tuh jadi Disturbance Handler alias penyelesai gangguan.

Dunia aslinya kan kaga seindah teori, tiba-tiba ada karyawan mogok, suplai barang macet, atau krisis dadakan. Manajer yang jago tuh malah lebih sering jadi "pemadam kebakaran" yang gercep ngambil tindakan biar organisasi kaga mokat pas diterjang masalah.

Penutup: Lo Bagian dari Solusi Kaga?

Okay manteman, intinya ngomongin manajemen ini kaga cuma buat kelas CEO di gedung bertingkat doang kok. Ini tuh skill dasar banget buat ngelola apapun yang kita punya—waktu, duit, sampe tenaga kita—demi nyapai tujuan.

Negara atau organisasi yang kuat belom tentu yang sumber dayanya berlimpah ruah; mereka cuman dikelola dengan cara yang bener aja lewat perpaduan sains dan seni tadi. Sebagai penutup, coba deh renungin ini: "Kalo sumber daya kita sama, kenapa hasilnya bisa beda?"

Hhm karena ini tulisan udh rada kepanjangan, gw udahin dulu sampe di sini ya. Nanti kapan-kapan gw sambung lagi dengan celotehan lainnya!

Ringkasan Buku:TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764-1962 - BAB 1



Halo Frens, gw mau berbagi sedikit rangkuman dari e book yang gw punya yang berjudul: TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAKAT DI HINDIA BELANDA DAN INDONESIA 1764 – 1962

Ini buku merupakan karya dari Dr. Th. Stevens yang judul aslinya adalah Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands-Indiƫ en Indonesie 1764-1962.

 

Nah kenapa gw tertarik buat merangkum buku ini, sebab gw merasa topik mengenai freemasonry sangat digemari di kalangan masyarakat. Apalagi setelah topik ini ada dalam budaya populer novelnya Dan Brown, The Lost Symbol. Dan gw yakin banyak circle tongkrongan yang sering menjadikan topik ini jadi bahan obrolan dan diskusi yang cukup seru.

 

Berhubung ini buku lumayan tebal ada 677 halaman dan dibagi menjadi 5 Bab, so biar lo semua ga boring bacanya gw akan bagi ringkasannya menjadi per Bab.

 

Silahkan disimak yah frens ringkasan dari Bab 1 yang berjudul “Seratus Tahun Pertama 1764 – KL 1870”. Mari kita telaah bareng-bareng dan harapan gw ketika udh kelar membaca ini, lo semua bisa dapat bahan diskusi baru tentang pergerakan Freemasonry yang ternyata pernah ada juga di Indonesia atau dalam konteks buku ini di wilayah Hindia Belanda.

 

Menelusuri Arsitek Rohani di Hindia Belanda: 5 Rahasia Loji Freemason di Indonesia (1764-1962)

Halo manteman, balik lagi di tulisan gw! Kali ini gw mau ngajak kalian ngulik sejarah yang agak-agak berbau misteri nih. Kalo biasanya gw asik ngebahas soal motor atau nyari-nyari pisau bushcraft buat naik gunung, kali ini gw lagi kepincut baca-baca sejarah "Rumah Pemujaan" alias loji Freemason (Vrijmetselarij) di Indonesia zaman baheula.

Buat mata awam, Tarekat Mason Bebas tuh kesannya selalu kaya sekte misterius yang dibungkus konspirasi elite dunia gitu ya kan? Tapi nyatanya, gedung-gedung loji di Hindia Belanda tuh punya realita yang lebih deep. Mereka ini semacam laboratorium intelektual tempat ide-ide pencerahan diuji di tengah ngerinya diskriminasi rasial zaman itu. Mari kita luruhin selubung waktu dan bedah 5 rahasia batin kaum "arsitek rohani" ini frens!

1. Manusia Tuh Ibarat "Batu Kasar" yang Kudu Diukir

Filosofi inti mereka tuh sebenernya asik banget, pake metafora arsitektur gitu. Jadi, tugas utama seorang Mason tuh bukan bangun struktur gedung beneran, tapi ngelakuin "pekerjaan rohani" demi ngebangun wujud diri yang sejati.

Manusia tuh diibaratkan kaya Batu Kasar (ruwe steen) yang belom sempurna. Lewat disiplin, tuh batu kudu dipahat pelan-pelan sampe jadi Batu Kubus yang murni dan presisi. Nah, ngomongin soal ngebangun karakter sama filosofi, gw jadi inget pas kemaren-kemaren gw ngulik dalemnya filosofi wayang golek kaya si Cepot di Jawa Barat. Sama-sama ngajarin kita buat berproses frens! Intinya, batu kubus ini harus pas disusun bareng batu-batu laen, maknanya biar kita bisa idup rukun ngebangun harmonisasi umat manusia tanpa mandang latar belakang.

2. Mimpi Universal vs Realita Penjajahan yang Pahit

Ada teka-teki seru nih di mari. Kaum Mason pengen banget ngejalanin idealisme persaudaraan universal, padahal zaman itu lagi kental-kentalnya colour bar (sekat rasisme buat pribumi) sama shade bar (sekat buat kaum blasteran). Visi ini sering dikaitin sama kredo Rudyard Kipling, si penulis legend yang juga seorang Mason.

Tapi ya gitu, realitanya visi Kipling soal bertemunya Timur dan Barat tuh seringan cuman jadi "impian romantis" doang yang kaga mempan nembus tembok politik Belanda. Di dalem loji mungkin mereka berusaha ngilangin batas, tapi di luar tetep aja paham white man's burden (beban orang kulit putih) yang jalan. Bule-bule tetep ngerasa jadi nakhoda peradaban. Hahaha, standar ganda emang kaga ada matinya dari dulu.

3. Proses "Hindianisasi": Dari Bule, Ningrat, Sampe Elit Tionghoa Ngumpul

Nah, sejarah Mason di Indonesia tuh unik karena ada proses Hindianisasi. Gara-gara ada ruang budaya campuran (Mestizo) di Batavia dan sekitarnya, kaum elit Eropa jadi gampang membaur. Ini yang bikin tokoh-tokoh non-Eropa pelan-pelan bisa ditarik masuk ke dalem loji.

Lo tau pelukis legend Raden Saleh? Doi tercatat dilantik jadi Mason di Den Haag taun 1836. Terus ada Abdul Rachman dari Kesultanan Pontianak, pangeran Afrika Aquasie Boachi yang malah jadi Ketua Loji di Bogor taun 1885, sampe elit Tionghoa Ko Ho Sing di Yogya. Yang paling gokil sih perannya dinasti Paku Alam lewat Loji Mataram yang jadi gerbang utama buat ningrat Jawa buat ngecap pemikiran modern!

4. Jejak Intelektual: Kaga Cuma Ngumpul di Dalem Loji Doang

Sumbangsih mereka tuh nyatanya melampaui urusan ritual doang frens. Mereka tuh semacam agen Pencerahan. Di Semarang, mereka bikin perpustakaan "De Verlichting" (Pencerahan) yang dipuji-puji sama koran kenamaan karena nyediain bacaan bermutu buat warga.

Terus mereka juga bikin Dana Studi "Midden-Java" yang ngasih beasiswa buat bocah-bocah pinter tapi kurang mampu biar bisa sekolah bergengsi kaya Hogere Burger School (HBS). Bahkan nih, pengaruh mereka nyampe ke gerakan kebangkitan nasional kita loh. Lewat pangeran Paku Alam tadi, kaum Mason Bebas ikut ngasih dukungan intelektual dan finansial buat Budi Utomo. Keren juga ya akal-akalannya.

5. Susahnya Nulis "Sejarah Batin"

Tantangan paling berat buat sejarawan yang bedah ginian tuh memahami apa yang disebut "Sejarah Batin". Beda sama sejarah konvensional yang ngapalin deretan angka sama tanggal (asli, ngehafal tanggal gini kadang bikin otak gw ngebul, ngingetin gw susahnya ngafalin PSAK pas lagi belajar akuntansi, hahaha).

Sejarah Mason tuh soal apa yang kejadian di dalem benak sama sanubari manusianya. Ini tuh narasi soal "pembangunan rohani" yang pengalamannya personal banget dan susah diungkapin pake kata-kata resmi. Kalo kita cuman ngeliat dari luar atau struktur organisasinya doang, esensi aslinya dapet manusia yang lebih baek bakal luput dari kacamata kita.

Penutup: Masih Relate Kaga Buat Zaman Now?

Perjalanan Tarekat Mason Bebas di Indonesia (1764-1962) tuh jadi bukti kronik soal upaya manusia nyari titik temu di tengah kaku-nya sekat penjajahan. Walaupun secara formal organisasi ini udah lama nutup pintunya di mari, tapi semangat buat ngolah "batu kasar" dalem diri kita demi ngebangun "rumah kemanusiaan" itu idenya bener-bener nembus zaman.

Di tengah masyarakat kita sekarang yang kadang masih gampang terkotak-kotak urusan perbedaan background, cita-cita persaudaraan universal dari loji tua ini tetep jadi refleksi asik: kira-kira, kita-kita ini udah mampukah jadi batu kubus yang pas buat hidup rukun berdampingan sama orang laen?

Hhm karena ini tulisan udh rada kepanjangan, gw udahin dulu sampe di sini ya frens. Nanti di tulisan selanjutnya gw bakal lanjutin bab berikutnya ya! Tungguin ye, masih ada 4 bab laen yang seru juga! Adios.

Kamis, 16 Mei 2024

Pengalaman pertama memilki motor “laki” Yamaha XSR 155

Halo manteman, di tulisan kali ini gw mau cerita pengalam pertama dalam hidup gw memiliki motor laki, dengan merek Yamaha type XSR 155.

Layaknya pengalaman pertama yang lain, pengalaman ini juga kayanya ga akan terlupakan nih. Ini adalah pertama dalam hidup gw memilih Yamaha sebagai merek tunggangan gw, setelah sebelumnya gw selalu memilih merek Honda sebagai tunggangan gw. Ini pun adalah motor “laki” dan kopling pertama yang gw miliki.

Percaya atau tidak, gw belum pernah bisa mengendarai motor kopling sebelumnya. Hahaha maklum dulu kaga pernah mampu kebeli jadi ga pernah bisa lah.

Okay jadi PR pertama gw adalah gw musti bisa menggunakan motor kopling nih. Step pertama gw belajar dari sumber yang paling dekat yakni video di youtube. Gw belajar secara teori dulu nih ceritanya, mau praktik gimana ya kan, motornya aja belom ada. Nih video yang dulu gw pake buat menimba ilmu :

https://youtu.be/Jb1Wy5eTdHM?si=xll6bi8G1TCnDqzY

Kemudian saat tuh motor akhirnya dateng, baru deh ada kesempatan untuk mencobanya. Apakah langsung bisa?! Tentu tidak! Asli saat pertama motor datang gw udh coba ikutin apa yang diajarin di video di atas tuh. Gw ikutin buat lepas koplingnya pelan-pelan tapi selalu aja tuh motor mati mesinnya. Asli sampe gw hampir putus aja, sempet muncul perasaan menyesal dikit sih sebab udah gw coba setengah jalan untuk mencoba membuat tuh motor maju tapi ga berhasil.

Akhirnya gw kontek kawan gw si Acad, trs doi ngasih tips tambahan via chat WA. Doi bilang coba aja jangan dilepas semua tuh kopling sambil tambah gas dikit-dikit, trs misal tuh mesin udh ada gejala mau mokat langsung buru-buru tarik kopling lagi. Dan at the very first time akhirnya gw berhasil melajukan tuh motor kopling manual! Cek list baru dalam hal hidup gw frens!

Okay kemudian latihan berikutnya gw coba ngoper gigi dalam kondisi motor berjalan. Dan tes pertama langsung gw bawa ke pom bensin terdekat untuk segera ngisi full tank pertamax.

Wets dalam perjalanan menuju pom bensin yang palingan secara jarak kaga sampe 2 kilometer, gw ngerasa jauh banget tuh pom. Dan di jalan nih motor mati-mati mulu di posisi gigi 1 dan asli susah banget buat dapet feeling ketika dari gigi 1 buat melajukan nih motor.

Belum lagi nih motor secara dimensi kaga cocok sebetulnya buat tinggi badan gw frens, asli tinggi banget. Secara spesifik nih motor punya Tinggi Tempat Duduk 810 mm. Beda 30 mm dengan tingginya vario gw, vario aja gw masih jinjit hahaha.

Selain urusan tinggi nih motor, bodinya yang bongsor dan bobot yang berat juga jadi kendala baru buat gw. Alhasil gw susah banget buat belokin nih motor saat putar balik atau nyebrang di jalan yang ramai. Grogi karena kondisi lalin, kaga pede karena belom bisa, akhirnya sukses bikin gw ketakutan pas melaju di jalan raya Limo menuju pom bensin.

Okay jadi gw mau cerita nih kenapa gw ngebet banget pengen punya nih motor. Latar belakang pertama adalah, gw dapet masukan dari temen kantor gw yang pemotor beneran untuk menggunakan motor kopling di usia yang mulai mendekati kepala 4. Tujuannya agar otak gw selalu dipake buat mengordinasikan ke empat anggota tubuh gw, dua tangan dan dua kaki. Harapannya buat mencegah kepikunan secara dini hahaha, mudah-mudahan ampuh beneran ya.

Alesan ke dua, gw emang pada dasarnya suka dengan barang-barang yang masuk kategori jadul atau klasikan. Tapi di sisi yang lain, gw juga “menghormati” banget teknologi, gw menaruh rispek besar buat orang-orang inovatif yang melahirkan teknologi baru, nah makanya si Yamaha XSR 155 masuk banget nih dengan dua paham gw di atas hahaha. Yamaha XSR 155 merupakan motor bertemakan retro modern, tampilan retro, tp jeroan mesin teknologi modern manteman!

Alesan ketiga yah alesan klasik sih, self reward gw aja. Padahal mah ini hasrat kebendaan aja sih yang sadar ga sadar emang ada di alam bawah sadar gw. Halah gw yakin lo semua pasti ada juga kok. Gw pengen punya motor laki, motor yang mungkin bisa dipake touring, motor baru yang bisa mendongkrak kegantengan dan beragam pembenaran laennya.

Okay gw pribadi sih menurut penilaian sendiri, lumayan ngulik orangnya. Gw kumpulin beragam info penting tentang nih motor, kelebihan, kekurangan, teknologi mesinnya, sejarah mesinnya, komunitasnya, sampe gw cari juga orang di dunia maya yang udh duluan pake nih motor. Gw cari, akhirnya nemu satu orang yang jebule kawan kuliah si Bertus. Namanya Om Boi, doi punya channel youtube yang isinya trip-trip motoran doi ke segala penjuru pake Yamaha XSR 155. Nih gw kasih link channel YT doi :

https://youtube.com/@omboynih?si=HBa3xP_4HEADCju9

Dari hasil riset kecil-kecilan, gw menemukan keluhan orang-orang yang lebih dulu punya nih motor. Di bawah nih frens gw list :


Nih motor tinggi banget, terutama buat orang-orang kaya gw yg tingginya palingan cuman 160 cm. Tapi bisa diakalin pake lowering kit frens. Nanti gw bahas lebih details di bawah ya


Nih motor riding positionnya terlalu menunduk, sebetulnya saat kali pertama gw coba nih motor ga kerasa nunduk banget ya, mungkin karena gw pribadi dari dulu suka banget posisi agak nunduk terutama di dunia persepedaan. Nah cuman gw belum tahu juga efeknya buat gw ketika dipake dalam jangka waktu riding yang lama, pegel apa kaga gw blom sempet ngerasain sebab gw udh… ntar gw ceritain hahaha


Nih motor ga punya standar dua


Nih motor menurut beberapa orang punya lebar stang yang terlampau lebar, sehingga dinilai ngribetin saat selap selip di rimba kemacetan Jakarta. Tapi gw merasa dengan stang lebar, nih motor enak dikendalikan


Nih motor kaga punya handle di bagian jok belakang sehingga suseh buat digeser, ditambah bobotnya yang termasuk berat apalagi buat gw yg badan kecil dan kaga pernah fitness


Disain spionnya dinilai kurang retro, sebab pakai spion yang sama dengan yang dipakai di yamaha mio klo ga salah, dengan disian yang agak lancip.

Kayanya itu aja sih yg gw rekam dari keluhan orang-orang di internet.

Okay berangkat dari “minus” di atas gw langsung berencana buat ngakalinnya. Hal pertama yang gw riset adalah lowering kit, jadi Yamaha secara resmi mengeluarkan lowering kit yang katanya cocok diaplikasikan di Yamaha XSR nih linknya ya :

https://www.yamaha-motor.co.id/part-accessories/accessories/lowering-kit/

Katanya nih bisa menurunkan ground clearancenya sampai 3cm. Nah berhubung klo kalian mau beli di dealer resmi musti inden, dan harganya dinaikin dari harga di website yang senilai 300 ribu pas, alhasil gw kaga jadi beli dari dealer. Udh dua dealer resmi yamaha yg gw tanyain, ngasih harga di atas itu.

Gw akhirnya beli dari SAC, Depok yang bikin lowering kit juga nih buat XSR 155. Saat gw beli, di tokped barangnya ready dan langsung gw beli frens. Klo kalian lagi nyari lowering kit juga, kalian bisa beli dari link di bawah :

https://tokopedia.link/90jRDqhkfJb

Ini ada merek laen juga, merek VCOS yang gw perhatiin di FB Grup XSR, banyak yang pakai juga.

https://tokopedia.link/9GqFR0mkfJb

Hhm karena gw rasa ini tulisan udh rada kepanjangan, gw udahin dulu sampai di point lowering kit dulu ya.

Nanti di tulisan selanjutnya gw akan sambung akal-akalan lain yg gw lakukan buat dipasang di XSR 155 supaya kerasa nyaman buat gw pribadi.

Senin, 15 April 2024

Menilik kembali media sosial dan market place yang dilahirkan oleh Internet

Media sosial kian berkembang sejalan dengan perkembangan internet. Kemudahan akses terhadap internet membuat media sosial menjelma menjadi beragam wujud dan kian besar dampaknya bagi manusia.

Tak berlebihan jika dampak media sosial bisa melahirkan sebuah generasi yang betul-betul "baru" dan belum pernah ada sebelumnya. Jika kalian tidak percaya dengan pernyataan tersebut, kalian bandingkan saja "model" generasi orang tua kita dengan sebuah generasi yang berlabel Gen Z.Generasi ini lahir dan berkembang di tengah internet menjelma menjadi sebuah kebutuhan pokok baru.

Layaknya semua hal di dunia, perkembangan internet dan media sosial juga memiliki dua sisi yang berbeda, sisi baik dan dampak buruk di sisi lainnya. Kalian bisa mencari sendiri artikel terkait hal ini. Di tulisan ini saya hanya akan membahas dalam dua aspek saja, dari aspek ekonomi dan sosial.

Pada ranah ekonomi perkembangan internet dan sosial media mampu melahirkan sebuah interaksi pasar yang belum pernah ada sebelumnya. Jaman dahulu sebuah pasar bekerja dengan interaksi fisik antara penjual dan pembeli. Namun hal ini berubah total dengan lahirnya loka pasar atau market place di dalam jaringan internet. Sebuah pasar baru mampu menjalankan transaksi jual beli hanya melalui interaksi dalam jaringan.

Pola interaksi ini membuat transaksi berjalan jauh lebih cepat dan efisien. Hal ini pada akhirnya mampu mendongkrak volume transaksi di sebuah pasar dan akhirnya ekonomi bergerak lebih cepat. Pada masa pandemi, ketika segala interaksi fisik sangat dibatasi, market place mampu bergerak bahkan jauh lebih aktif.

Market place menjelma menjadi sebuah kekuatan bisnis yang mampu menggerakkan pelaku usaha lain seperti penjual dan perusahaan kurir atau logistik yang berperan aktif menopang distribusi barang dari penjual ke pembelinya. Digadang gadang market place lah yang menjadi penyelamat bisnis logistik yang sempat meredup.

Berbarengan dengan kenaikan volume transaksi di market place, perusahaan penyedia loka pasar juga mempermudah terjadinya transaksi, mulai dari cara pembayaran perbankan daring atau online ataupun pembayaran melalui toko-toko minimarket atau agen pembayaran resmi yang bekerjasama dengan bank dan loka pasar. Puncaknya terciptalah sebuah "hal" baru yang bernama dompet elektronik atau e wallet yang merupakan wadah lain dari uang cash kita yang dulu lazimnya ada di dompet saku kita atau di rekening bank kita.

Market place juga mampu memberikan kontribusi positif bagi penjualan barang-barang dari industri lokal atau bahkan para pelaku UMKM. Beberapa market place bahkan menyediakan halaman khusus untuk penjual barang asli buatan dalam negeri dan para pelaku UMKM lainnya. Dan label 100% Indonesia atau Bangga Lokal sering kali disematkan sebagai pemikat bagi usaha pemasaran mereka.

Penulis pribadi pun termasuk yang tergoda untuk mencoba belanja melalui halaman tersebut. Menurut pengamatan penulis, maraknya media sosial juga mampu membakar semangat untuk mencintai produk-produk lokal, gerakan ini juga diperkuat oleh market place dan dengan salah satu cara seperti yang di atas telah penulis singgung.

Namun kolaborasi antara market place dan media sosial juga mampu meningkatkan kecenderungan kita untuk menjadi lebih boros, dan cenderung konsumtif yang membabi buta hehehe. Okay contoh ya dari pengalaman pribadi saya, terkadang saya sering kali membeli sebuah barang dengan alasan barang tersebut sedang diskon atau ada promo bundling dari market place misalnya atau ada potongan harga dengan membeli melalui transaksi dengan menggunakan e wallet tertentu misalnya, padahal jika saya pikir kembali sebetulnya saya belum terlalu perlu untuk membeli barang tersebut.

Contoh perilaku konsumtif di luar nalar yang lain adalah kita jadi ikut-ikutan membeli sebuah barang karena idola kita di sosial media membeli barang tersebut atau memang mereka mempromosikan barang tersebut lewat akun media sosial mereka.

Nah kecenderungan menjadi konsumtif tersebut akhirnya melahirkan pula sebuah hal baru yang bernama "pinjol" atau pinjaman online. Skema berhutang yang terjadi dalam sebuah jaringan internet.

Bahkan market place juga memberikan pelayanan serupa dengan nama pay later atau kalian bisa membeli dulu barang inceran kalian kemudian bayar kemudian. Pinjol ini akhirnya mampu menelan korban yang tidak sedikit loh. Banyak sudah para korban yang akhirnya terjerat hutang dan akhirnya gagal membayar hutang yang terlanjur menumpuk dan senantiasa berbunga. Ngeri yaa!

Dan semua hal di atas yang digerakkan oleh market place diperkuat gaungnya oleh sosial media. Tiap market place menjadikan media sosial apapun bentuknya sebagai corong promosi mereka.

Ditambah dengan penggunaan artis, influencer, selebgram ataupun nama lainnya yang merujuk ke para pengguna media sosial yang memiliki banyak pengikut dan mampu "menggerakan" orang lewat media sosialnya. Mereka sangat berperan dalam memperkuat gaung promosi si market place. Kombinasi hal di atas lah yang menjadi racun dahsyat untuk mendorong kita berperilaku lebih konsumtif.

Itu semua mungkin dampak positif dan negatif dari aspek ekonomi. Kemudian bagaimana internet dan media sosial berdampak di sektor sosial? Di bawah saya akan mencoba menulisnya dalam perspektif saya dan dari kapasitas dan kapabilitas otak saya yang sangat terbatas hehehe.

Di awal saya sudah menyinggung mengenai sebuah generasi baru yang berlabel Gen Z. Yap generasi ini merupakan sebuah generasi yang lahir di era internet amat sangat jamak digunakan oleh semua kalangan. Di atas saya berpendapat bahwa generasi ini lahir dimana internet telah merangkak naik ke lapisan kebutuhan primer/pokok.

Beberapa sumber di internet mengatakan generasi ini adalah mereka yang lahir pada rentang waktu tahun 1996 sampai dengan 2009. Dari rentang waktu tersebut, usia tertua dari gen z saat awal tahun 2023 sekitar 26 tahunan.

Kemudian apa yang membuat mereka berbeda dengan generasi sebelumnya, katakanlah dengan penulis yang masuk dalam kategori milenial. Okay pandangan penulis secara pribadi yang penulis rangkum dari sumber-sumber di internet, Gen Z merupakan generasi yang mengalami paparan perkembangan internet mungkin hampir sepanjang hidupnya. Dengan kata lain dosis mereka mengonsumsi internet paling besar ketimbang milenial katakanlah.

Sebagai contoh, misal gen Z yg lahir di tahun 1996, saat tahun 2009 mungkin mereka sudah duduk di bangku SMP. Dan saat itu internet sudah mulai jamak dikonsumsi, artinya internet mungkin sudah banyak dipasang di rumah-rumah. Bandingkan ketika saya seusia mereka, mungkin internet masih belum banyak menjangkau rumah. Dan hanya di warnet lah kita bisa berselancar di dalam jaringan internet. Dan itupun terbatas secara waktu.

Okay kemudian apa dampak dari paparan internet dosting tersebut?! Hhm pertama, mereka merupakan generasi yang mudah mendapatkan informasi melalui internet, informasi apapun bisa mereka dapatkan dengan mudah melalui internet. Sebagai contoh, misal di usia saya SMP, saat saya gemar mengikuti perkembangan liga Italia, dan ingin mengetahui hasil pertandingan dari team favorit, mungkin sumber informasi pertama saya adalah dari berita di TV atau ulasan lebih lengkapnya bisa dibaca dari tabloid olahraga. Namun gen z bisa mendapatkan berita tersebut dengan lebih cepat dan lengkap melalui jaringan internet.

Sumber informasi yang melimpah tersebut menjadikan mereka cepat mengenal dan mempelajari hal-hal baru, baik terkait dengan kesenangan pribadi mereka atau bahkan hal-hal terkait pendidikan.

Faktor sumber informasi yang melimpah tadi pada akhirnya membuat generasi milenial dan juga gen z berkembang menjadi generasi yang mandiri. Namun apakah hal ini membuat mereka mudah menjadi "ahli" dalam suatu bidang?! Jawabannya tentu tidak.

Sekalipun pasokan informasi penunjang keilmuan dan skill mudah sekali didapatkan para gen z, namun pasokan yang sangat melimpah di dunia internet membuat kami milenial dan juga gen z mengalami tsunami informasi yang terlampau banyak.

Hal ini membuat kelelahan dalam menyortir informasi yang dinilai paling berguna, sehingga pada akhirnya kami hanya mengulik sedikit dan akhirnya cukup sering tidak dituntaskan. Ditambah lagi keengganan untuk mengulik informasi pelengkap yang biasanya ada dalam format tulisan.

Hal yang tadi disebutkan di atas membuat kami menjadi generasi yang banyak tahu sekedar kulitnya saja tanpa jauh menyelam lebih details dan mencoba mempraktikan dalam tindakan nyata sebagai tahapan dalam mengasah skill tadi.

Segala informasi yang teramat mudah didapatkan tadi membuat kami menjadi generasi yang ingin segalanya cepat dan mudah alias instan, namun di antara generasi kami yang tergolong tekun, ada juga yang mengulik jauh lebih dalam dan pula rajin mengasah skill mereka. Dan dari hasil pengamatan minim dari penulis, populasi mereka yang tekun amat sangat sedikit jumlahnya.

Sikap dan perilaku “instan” dari gen z dan mungkin juga milenial menciptakan dinamika interaksi baru di lingkungan pekerjaan. Gap generasi yang ada di lingkungan pekerjaan, seringkali membuat gen z dilabeli sebagai generasi yang sulit diajak bekerjasama. Sulit menerima tanggung jawab baru, dirasa sok pintar, namun hasil kerjanya berantakan.

Hhm mengenai dinamika interaksi di atas, penulis pribadi berpendapat bahwa gen z sebetulnya lahir sebagai pribadi yang punya bakat alami sebagai “fast learner”. Sebab mereka amat terbiasa untuk mandiri mencari sumber penyelesaian pekerjaan mereka namun sayangnya mereka amat minim mendapat bimbingan teknis terkait skill mereka dari para generasi di atas mereka.

Selaras dengan yang saya ucapkan di atas bahwa, segela info, tutorial, panduan dan lainnya mudah mereka dapatkan dengan bantuan internet dan media sosial, yang mereka kurang hanya perkara berlatih untuk mempraktikkan “modal” tadi sehingga menjadikan skill baru bagi mereka. Dan jangan lupa perkara praktiknya mereka yang kurang baik, boleh jadi ada andil kita-kita juga yang lebih tua. Kita kadung menganggap mereka sulit diajak bekerjasama sehingga bimbingan dari kita ke mereka minim sekali.

Hai para milenial dan generasi yang lebih tua, sadarkah kalian bahwa dunia kerja bagi gen z merupakan hal baru yang sedang mereka alami di hidupnya?!

Okay sekarang apa sih yang aneh pada pola interaksi mereka dengan generasi yang berbeda di dalam lingkup pekerjaan? Gen z tumbuh dengan kemudahan akses ke dunia informasi, hal ini menjadikan mereka punya bakat alami menjadi seorang fast learner dan menjadikan pribadi yang sangat mandiri. Kemandirian mereka memberikan kesan bagi kita yang lebih tua sebagai sebuah sikap yang dinilai kurang kolaboratif.

Padahal perkara kerjasama, di dalam pikiran penulis pangkal masalahnya adalah komunikasi. Hahaha klise banget ya, tapi coba jika kita renungkan, gw yakin akan sampai pada titik itu juga kok. Kita milenial yang tumbuh dalam budaya “nongkrong” mulai dari era sekolah, kampus, sampai di masyarakat mustinya mampu berperilaku lebih luwes ke mereka dong, baik interaksi dalam konteks pergaulan dan kudunya mampu memilah metode komunikasi yang paling efektif dan “nyambung”.

Ingat frens, pengalaman interaksi gen z terbesar boleh jadi ada di dalam media sosial, mereka mungkin sedikit bergaul dengan para senior di lingkungan tongkrongan, mereka mungkin ga pernah banyak hidup dalam lingkup pergaulan yang sarat dengan tekanan senioritas, jadi wajar mereka kurang luwes dalam bergaul.

Nah kita yang kenyang bergaul, musti sabar dan pelan-pelan menjalin interaksi dan komunikasi yang efektif dengan adik kita tadi.

Okay segini dulu ya, ini merupakan pendapat pribadi dari penulis ya, masih jauh dari sempurna dan perlu ditelaah dan sangat perlu dikritisi ulang. Semoga interaksi sempurna antara kita milenial yang merupakan populasi terbesar di rata-rata kantor dengan adik kita yang gen z mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih maju sehingga bonus demografi bisa diraih.

Adios frens, sampai ketemu di tulisan dan cerita yang lain yak.

Tentang Shinrin Yoku, Forest Bathing ala Jepang!

    "Mandi Hutan" Konon Katanya adalah Resep Medis Terbaik untuk Manusia Modern 1. Pendahuluan: Jebakan Kehidupan Modern...