Rabu, 13 Juli 2011

Patah tumbuh hilang berganti

Dari SD aku selalu suka peribahasa, buat ku ini bukti bahwa Bangsa Kita punya daya kreatifitas bermetafora yang layak diacungi 4 jempol sekaligus. Dan judul tulisan ini pun aku ambil dari salah satu peribahasa favoritku.

Kenapa aku suka yang ini, ini alasannya, “patah tumbuh hilang berganti”, mewakili kebenaran salah satu hukum alam, bahwa yang ada pasti akan hilang cepat atau lambat, dan akan ada selalu pengganti yang mengisi dan satu lagi, peribahasa ini membenarkan bahwa setiap pertemuan pastilah akan disudahi dengan sebuah perpisahan, dan ini juga rumus dunia.. (kata lagu dangdut, yang judulnya aku lupa).

Berbicara tentang perpisahan, pastilah banyak perasaan yang terlibat ketika kita mengalami sebuah perpisahan, entah sementara atau untuk yang selamanya. Dari sedih, kalut, gundah, resah, bahkan sampai bahagia atau bahkan perpaduan dari semuanya. Reaksi dari perpisahan pun beragam, tangisan, tatapan kosong, bahkan sampai melakukan tindakan nekat bisa saja terjadi.

Jujur saya pernah menangis karena perpisahan, dari berpisah dengan mantan tercinta sampai berpisah dengan teman kecil dan teman yang lain yang pergi kuliah di kota lain. Lucu, tapi buat ku menangis karena perpisahan masih sangat manusiawi bukan, iya ga?!

Perpisahan mungkin akan kita alami dimanapun dan kapanpun, di tempat kerja ku yang baru, aku pun sudah merasakan perpisahan dari rekan-rekan kerja sebanyak entah berapa kali aku pun lupa, saking banyaknya. Dari rekan kerja yang sekedar tahu namanya sampai teman kerja yang dekat, aku pernah rasakan di tempat yang baru ini.

Dan pada hari Jumat tgl 8 Juli 2011, adalah hari terakhir untuk seorang rekan kerja yang tergolong populer di kantor, dan lumayan dekat dengan ku karena masih satu departemen kerja dengan ku. Dia akan pindah kerja ke tempat yang baru setelah berkarir di tempat kerja ku selama 6 Tahun!

6 tahun kawan! Sama dengan 72 bulan, dan setara dengan kurang lebih 2.160 hari, tentu bukanlah waktu yang sebentar kan!? Aku yakin bukanlah hal yang ringan untuk melawati perpisahan hari itu buat dia. Terbukti dari linangan air mata sepanjang hari ini, ketika temanku itu berpamitan dengan rekan kerja yang lain.

Aku pun yakin dalam kurun waktu 6 tahun tentulah bayak terjalin cerita dengan seluruh komponen dalam ekosistem kantor saya, mulai dari rekan kerja, bos, load pekerjaan, kegiatan hura-hura dan beragam konflik yang pernah dialami. Aku yakin berpisah dengan ini semua bukanlah satu hal yang mudah, mengingat masa kita berkutat dengan hal tersebut tidaklah sebentar.

Sebuah perpisahan mungkin adalah hasil dari keputusan yang diambil oleh seseorang, dan perpisahan ku kali ini dikarenakan temanku tadi mengambil keputusan untuk pindah ke sebuah Bank yang berkantor dekat dengan rumahnya sekarang. Selain itu dia juga mempertimbangkan kepentingan anak dan keluarganya yang tidak mungkin terus-terusan ia tinggalkan dalam waktu-waktu kerja selama seminggu.

Dia berpikir dengan pindah ke kantornya yang baru, paling tidak dia bisa punya waktu lebih banyak dengan anak-anaknya ketimbang sekarang seandainya ia masih di kantor yang lama.

Jika kisah di atas adalah tentang perpisahan karena sebuah keputusan untuk pindah ke tempat lain, lalu bagaimana dengan sebuah perpisahan yang disebabkan oleh ajal yang ditentukan oleh Yang Kuasa?!

Sampai sekarang saya belum pernah berpisah dengan orang-orang terdekat saya karena sebuah kematian, namun saya pernah mengalami kehilangan dari beberapa teman dekat yang pergi karena panggilanNya.

Perpisahan seperti ini adalah sebuah perpisahan untuk selamanya, kita tak akan pernah punya kesempatan untuk bertemu kembali dengan orang yang telah pergi. Mungkin perasaan ditinggalkan dari perpisahan semacam ini pastilah lebih dalam dan lebih hebat dari perpisan seperti aku dengan teman kerjaku.

Sahabat terdekat ku pernah mengalami perpisahan seperti ini, perpisahan dengan orang yang paling dekat dengan kita di dunia ini, orang tua. Sungguh dalam efek yang ditimbulkan dari perpisahan macam ini. Kesedihan berkepanjangan, hilangnya semangat untuk maju mewujudkan cita-cita, hingga keptusasaan. Namun sahabatku adalah orang-orang yang hebat, yang tak pernah kalah dan mau tunduk pada keadaan.

Yah sekalipun untuk melaju kembali butuhlah waktu, namun akhirnya sahabatku tahu kembali cara bangun dan berlari dari keterpurukan. Semangat yang baru bisa juga lahir dari sebuah kesedihan yang ditimbulkan oleh perpisahan.

Banyaklah sudah contoh untuk hal ini, dari sebuah perpisahan dengan cinta, saya belajar untuk lebih menghargai wanita, sehingga pada akhirnya sayapun bisa menjaga seorang wanita agar tidak pergi meninggalkan ku

Jika kita melihat kembali bahwa sebuah perpisahan adalah hukum pasti dari dunia ini, saya yakin kalian sepaham denganku bahwa ketika sebuah perpisahan kita musti jalani, di masa yang akan datang, entah dalam jangka waktu yang pendek ataupun panjang, pertemuan dengan orang yang baru pun pastilah datang.

Selain itu, semangat, ataupun kesedihan yang mungkin pernah hilang dan muncul dari sebuah perpisahan pastilah akan muncul dan hilang kembali sejalan dengan perpisahan yang telah kita lewati.

Jika perpisahan adalah suatu hal yang pasti ada di dunia dan aku yakin siapapun pasti akan mengalaminya, maka buat apa kita larut dalam kesedihan terlalu lama, sebab seperti kata peribahasa, patah tumbuh hilang berganti, selaras dengan hukum alam bukan!?

Senin, 13 Juni 2011

Sebuah Ikrar yang ku harap dari mu yang sedang menanti

Sudah lama aku tidak mendengarkan koleksi lagu-lagunya Iwan Fals yang tersimpan dalam harddisk komputer ku, segera setelah aku punya waktu untuk bersibuk diri dengan koputer rumah, aku putar seluruh koleksi itu dalam pemutar AIMP yang terpasang di komputerku.

Sengaja aku hidupkan mode putar acak, dan Dua tiga lagu sudah mengalun, semua lagu tadi adalah lagu-lagu koleksi yang sering terdengar. Hingga pada lagu berikutnya mengalun karyanya berjudul IKRAR.

Sebuah lagu manis dengan aransemen gitar akustik yang sederhana namun syahdu dan sedikit berbeda dengan kebanyakan lagu Iwan lainnya yang kental nuansa Countrynya.

Lagu ini berisi tentang harapan seorang suami kepada istri yang ditinggalkannya. Sang suami yang meminta istrinya untuk berikrar agar menjaga segalah hal yang ditinggalkan dan selama sang suami berada di tempat yang terpisah jauh.

Berikut ini potongan liriknya, yang aku yakin sungguh bisa memberikan beragam inspirasi.


IKRAR


Meniti hari, meniti waktu.
Membelah langit, belah samudera
Ikhlas lah sayang, ku kirim tembang
Tunggu aku, tunggu aku
Rindu ku dalam, semakin dalam
Perjalanan pasti kan sampai
Penantiannmu semangat hidupku

Kau cintaku, kau bintangku
Doakan lah sayang, harapkanlah manis
Suamimu segera kembali
Doakan lah sayang, harapkanlah manis
Suamimu, suami yang baik

Ku titipkan  semua yang ku tinggalkan
Kau jagalah semua yang mesti kau jaga

Permataku aku percaya padamu
Permataku aku percaya padamu

Sabtu, 11 Juni 2011

Aku, kamu dan nafsu

Tulisan ini merupakan sebuah karya dari Kawan yang hingga kini belum pernah merasakan cinta seorang kekasih, namun piawai merangkai kata-kata cinta. Melalui tulisan di bawah ini teman ku bercerita tentang nafsu yang selalu ada dalam setiap hubungan cinta antara dua orang kekasih.

Aku, kamu dan nafsu

Matahari turun.

Gelap naik perlahan.

Seperti birahi aku dan kamu yg lama tertahan.

Maafkan bibir ini, yg begitu pandai mencari tempat yg nyaman di bibir mu.

Dekapan kadang erat kadang terlepas.

Ritme nafas naik turun melaju bersama cumbu.

Segala yg tertutup terlanjur terbuka.

Berserak di lantai buta.

Lenguhan dan gesekan bersatu menjadi bunyi dgn sedikit harmonisasi.

Semua terjadi begitu saja.

Dimana dua menjadi satu.

Diantara peluh.
Diantara lenguh.
Diantara dekap tubuh.

Diantara itu semua kejadian terlewat cepat dan sulit teringat.

sampai klimaks datang mengundang lelah.

Berakhir dengan lelap.

Tersadar oleh sinar.

Jumat, 10 Juni 2011

kabar duka

tulisan ini terilhami dari salah satu lakon dalam Bharatayuda, Abimanyu gugur.Dalam perang bharatayuda,putra arjuna gugur dalam membela kehormatan keluarga Pandawa, dia gugur setelah kepalanya hancur dihantam Gada Kyai Glinggang milik Jayadrata, dan kala itu Dewi Utari sang istri tengah mengandung Putra Abimanyu.
Kelak putra Abimanyulah yang akan bertahta di Alengkadireja.
Perang Bharatayuda akan selalu memberi beragam kenangan, tentang persaudaraan, tentang permusuhan, tentang cinta, tentang muslihat dan tentang kejayaan dan kehormatan.



Lamat lamat suara itu bercerita tentang pilunya tragedi
Walau samar, aku masih sempat mendengar
Tentang isi kepala yang berhamburan,
Dan tentang Gada Jayadrata yang menghantam

Lalu dengan ngeri, tiba-tiba terbayang
Dua mata teduh yang perlahan mengatup
Sayu dan semakin sayu..
Hingga akhirnya terpejam..

Kamis, 09 Juni 2011

Ramalan

Kawan, apakah kalian percaya dengan apa yang namanya Ramalan? Aku pernah membaca bahwa ramalan bagi sebagian orang hanyalah sebuah kecocokan dari apa yang pernah dikatakan namun hanyalah sebuah pernyataan yang dipaksakan kebenarannya, bisa dibilang mungkin hanya sebuah kebetulan yang sangat dipaksakan.

Aku yakin bahwa tokoh sebesar Jayabaya yang masyur karena ramalannya hanyalah seorang pemikir yang punya visi jauh ke depan. Dia mampu membuat prediksi untuk masa yang jauh dari masanya hanya berbekal apa yang dipikirkan dan apa yang dia pertimbangkan namun masih dalam konteks logis.

Aku berpendapat bahwa tokoh Jayabaya mungkin bisa disamakan dengan para pemikir atau filsuf dari daratan Eropa yang masyur karena kemampuan nalar dan logikanya, sehingga mampu memiliki pandangan yang jauh ke depan, bahkan ketika orang-orang lain belum sempat untuk menilik berpikir ke arah sana.

Seorang kawanku yang gemar akan dunia ramal meramal, pernah berkata, sebetulnya apa maksud Tuhan menciptakan garis tangan? Lalu dia menjawab bahwa fungsi guratan tangan yang ada di setiap telapak tangan adalah untuk kita membaca peruntungan kita di dunia ini.

Tapi ada satu hal yang aku setujui dari ucapannya, adalah ketika kita diramal dan diprediksi akan menjadi orang yang sukses, maka saat itu adalah bukan saat kita untuk berleha-leha dan senyum-senyum penuh kepuasan dan kemenangan. Tapi mulai saat itu adalah saatnya kita untuk membuktikan ramalan tersebut agar menjadi kenyataan yang riil. Dengan apa? Dengan kerja keras dan doa tentunya Kawan!

Bukankah kita diajarkan untuk menentukan nasib kita di dunia ini dengan tenaga kita sendiri Kawan, jadi hanya tenaga dan niat kitalah yang kelak akan menggeser nasib kita sesuai dengan upaya kita. Jadi marilah berlelah lelah dalam hidup, sebab hidup ini sungguh manis terlihat dan terasa ketika kita bersandar untuk istirahat setelah lelah berjuang dalam laga kehidupan.

Kata orang, hidup adalah perjuangan, maka maju terus dan berjaya dalam setiap laga. Dan jika kalian meyakini hidup ini adalah sebuah permainan, maka ikutilah dan menangkan. Saya yakin ada jatahnya dalam sebuah permainan dimana kemenangan adalah hak kita.

Kawan apakah kau masih yakin bahwa hidup sudah digariskan?!
Sehingga garis tangan adalah lambang garis kehidupan
Lucu sekali rasanya, jika kita hanya hidup untuk berjalan di atas garis
Lalu ada orang yang bisa menerka dimana posisi kita hanya dari guratan telapak tangan...





Atas Nama Rakyat ??!!

Atas nama Rakyat, di panggung ia bicara berbusa tentang melaratnya Rakyat.
Pada sebuat teks pidato, ditulisnya pula tentang tentang mahalnya harga bangku sekolah.
Lalu dengan lantang dia bacakan semua yang tertulis, berkali-kali dia bilang “atas nama Rakyat”.
Dia janji tentang sebuah solusi.
Janji itu betul-betul diucapkan, sekali lagi, diucapkan kawan!
Kami yakin kami mendengarnya dia ucap janji!
Coba saja janji itu hanya dalam benaknya, sayangnya dia janji atas nama Rakyat.
Di pinggir kiri bibirnya, ada buih busa, bibirnya meracau tentang hal-hal yang akan menjadi lebih baik.
Aku sih samar mendengarnya, tapi aku yakin tentang itulah yang dia bilang, tentang esok yang katanya lebih cerah.
Bingung aku dan yang lainnya mendengarnya,
bagaimana bisa lebih cerah, wong untuk empat bulan ke depan masih musim penghujan,
sekarang saja mendung menjadi primadona di seantero mega tanah ini.
Tapi dia bukan wong gemblung sing ngomong, dia sarjana kawan, lulusan luar katanya. Sudah pernah pula ia berhaji.
Setelah periode pementasan rampung sepenuhnya, dia ternyata berhasil naik dan masuk ke gedung bundar, gedung hijau yang dibangun mirip labia mayora.
Dia berkantor di sana sekarang, dia rajin rapat hingga larut malam. Sehingga jika jenuh dia memilih pergi melancong ke negeri seberang.
Siapapun pasti jenuh jika kerja hingga larut malam, dan pastinya butuh penghiburan dan penyegaran.
Tapi dia sepertinya terlalu banyak melancong dan janjinya kok tidak pernah terwujud.
Jangankan terwujud, dia pun tidak pernah muncul barang sepucuk hidungnya!
Padahal Rakyat terlanjur ingat akan janjinya, kami ingat betul dengan janji yang dulu terucap. Apa salah jika kami mengingatnya?!
Sebab janji itu atas nama Rakyat. Sedang dia, tak lagi ingat pada janji yang terucap.
Seandainya janji itu dia simpan dalam-dalam di balik benaknya, niscaya rakyat tak akan pernah mendengarnya.
Lalu tak akan pernah ada harap yang kian berkembang dan merekah dari hari ke hari, menunggu untuk terwujud.
Menunggu janji yang terlanjur terucap, mungkin sama halnya dengan berjalan gontai di padang tandus, gontai karena di punggung bersesakan harapan hingga berat rasanya memanggulnya. Lalu di pelupuk mata ada oasis yang terlihat, tapi sayanganya semakin didekati malah semakin hilang menguap bagai gas, ternyata itu hanyalah hal yang semu.
Kenapa ya mereka senang dengan frasa “Atas Nama Rakyat”?!
Dan kenapa pula ia dan mereka gemar umbar janji atas nama Rakyat?!
Padahal Rakyat, menaruh harapan pada tiap janji.
Jika janji tak pernah terwujud, jangan salahkan kami jika kami kecewa.
Kecewa buat kami sudah biasa, sudah sering kami merasa.
Tapi, janganlah ditambah terus jika tak pernah tahu caranya mengobati kekecewaan.

Senin, 06 Juni 2011

Kenangan Dari Masa Lalu

Semua orang pastinya pernah terkenang akan masa lalu yang pernah dilewatinya, termasuk juga aku. Setiap kita, punya hak untuk masa lalu dan bebas mengenangnya kapan pun kita mau.
Kita bebas pula bercerita kepada siapapun bahkan dengan diri kita sendiri, sehingga tanpa sadar kadang kita bisa tersenyum-senyum sendiri.
Cerita masa lalu itu bisa berasal dari urusan apapun, sebab sampai sekarang kita tak pernah punya hak untuk meminta ingatan memilah-milah kenangan yang patut untuk disimpan.
Beberapa waktu lalu, saat libur dari rutinitas pekerjaan, aku sempat menengok tanah lapang di belakang pemukiman tempat ku tinggal. Lapangan itu dulu adalah arena bermain ku saat masa kanak-kanak.
Di sana, aku dan teman sebayaku bermain segala macam permainan khas anak-anak, mulai dari kasti, kucing kaleng, benteng, petak jongkok, tapak gunung hingga permainan favorit sepanjang masa, sepak bola.
Di lapangan itu, persahabatan terjalin dan hingga kini hangatnya persahabatan masih kental terasa. Beranjak dewasa kita pun mulai meninggalkan permainan yang dulu sama-sama kami mainkan. Mungkin hanya sepak bola yang sampai sekarang masih kami mainkan bersama di tempat yang sama.
Tempat itu masih menjadi favorit kami sekalipun sekarang kami sudah dewasa sepenuhnya, kami masih suka berbagi cerita dengan duduk-duduk di atas hamparan rumput yang menutupi tepian tanah lapang itu.
Sekalipun dengan hanya saling bertukar cerita, penat yang menggelayut di pundak seakan sirna terbawa angin lapang, dan suara-suara kawan-kawanku seakan mengisi dan menyegarkan rongga kepala ku yang sesak dengan bermacam urusan duniawi.
Aku pernah mendapat sebuah nasihat dari seorang senior di tempat ku tinggal, bunyinya seperti ini :
“Orang-orang yang terlahir dengan kesenangan sederhana seperti kita sudah sepantasnya untuk banyak-banyak bersyukur, sebab hiburan untuk orang-orang seperti kita sangatlah sederhana dan nyaris tanpa mengeluarkan biaya. Kita bisa dengan senang dan terhibur hanya dengan saling bertukar cerita dan saling berbagi canda, sekalipun itu hanya dalam suasana dan tempat yang sederhana. Orang lain mungkin butuh dana lebih besar untuk mendapatkan kesenangan yang sama seperti yang kita rasakan”
Kawan, marilah kita banyak-banyak mengenang tentang masa lalu, tanpa harus takut dan enggan melangkah ke depan. Di masa lalu kita bisa temukan kebahagian dan ketenangan, tapi jangan lupa sebab hidup tetaplah arahnya adalah ke depan.

Dulu lapangan ini adalah belukar ilalang setinggi badan
Dan tanahnya rapat tertutup rerumputan
Di sana ada dataran tempat kita berkejaran
Berkejaran dengan waktu yang arogan

Arogan tak mau mundur barang sejengkal
Lalu waktu memaksa kamu dan aku untuk terpental
Terpental merasakan dunia yang emosional
Dengan pahit dan getir yang kental

Dulu di lapangan ini kita bercanda
Hingga kini, derai tawa masih menggema

Sahabat ku, aku rindu dulu
Aku rindu ketika padamnya lampu
Dan purnama sidi bersinar dengan sendu
Lalu kita berkejaran dengan waktu

Sayang sang waktu begitu pemaksa
Dia tak rela kaki ini berputar langkah
Untuk menengok diri kita di saat basah
Basah dengan keringat saat kita melangkah

Melangkah pulang ke peraduan setelah lelah..

Jakarta, 04 Juni 2011

ART CRAFT & Kemunculan AI Clone Software

Apakah Anda pernah merasa lelah terus-menerus membayar biaya langganan bulanan hanya untuk menggunakan perangkat lunak yang sama selama bert...