Patah tumbuh hilang berganti
Dari SD aku selalu suka peribahasa, buat ku ini bukti bahwa Bangsa Kita punya daya kreatifitas bermetafora yang layak diacungi 4 jempol sekaligus. Dan judul tulisan ini pun aku ambil dari salah satu peribahasa favoritku.
Kenapa aku suka yang ini, ini alasannya, “patah tumbuh hilang berganti”, mewakili kebenaran salah satu hukum alam, bahwa yang ada pasti akan hilang cepat atau lambat, dan akan ada selalu pengganti yang mengisi dan satu lagi, peribahasa ini membenarkan bahwa setiap pertemuan pastilah akan disudahi dengan sebuah perpisahan, dan ini juga rumus dunia.. (kata lagu dangdut, yang judulnya aku lupa).
Berbicara tentang perpisahan, pastilah banyak perasaan yang terlibat ketika kita mengalami sebuah perpisahan, entah sementara atau untuk yang selamanya. Dari sedih, kalut, gundah, resah, bahkan sampai bahagia atau bahkan perpaduan dari semuanya. Reaksi dari perpisahan pun beragam, tangisan, tatapan kosong, bahkan sampai melakukan tindakan nekat bisa saja terjadi.
Jujur saya pernah menangis karena perpisahan, dari berpisah dengan mantan tercinta sampai berpisah dengan teman kecil dan teman yang lain yang pergi kuliah di kota lain. Lucu, tapi buat ku menangis karena perpisahan masih sangat manusiawi bukan, iya ga?!
Perpisahan mungkin akan kita alami dimanapun dan kapanpun, di tempat kerja ku yang baru, aku pun sudah merasakan perpisahan dari rekan-rekan kerja sebanyak entah berapa kali aku pun lupa, saking banyaknya. Dari rekan kerja yang sekedar tahu namanya sampai teman kerja yang dekat, aku pernah rasakan di tempat yang baru ini.
Dan pada hari Jumat tgl 8 Juli 2011, adalah hari terakhir untuk seorang rekan kerja yang tergolong populer di kantor, dan lumayan dekat dengan ku karena masih satu departemen kerja dengan ku. Dia akan pindah kerja ke tempat yang baru setelah berkarir di tempat kerja ku selama 6 Tahun!
6 tahun kawan! Sama dengan 72 bulan, dan setara dengan kurang lebih 2.160 hari, tentu bukanlah waktu yang sebentar kan!? Aku yakin bukanlah hal yang ringan untuk melawati perpisahan hari itu buat dia. Terbukti dari linangan air mata sepanjang hari ini, ketika temanku itu berpamitan dengan rekan kerja yang lain.
Aku pun yakin dalam kurun waktu 6 tahun tentulah bayak terjalin cerita dengan seluruh komponen dalam ekosistem kantor saya, mulai dari rekan kerja, bos, load pekerjaan, kegiatan hura-hura dan beragam konflik yang pernah dialami. Aku yakin berpisah dengan ini semua bukanlah satu hal yang mudah, mengingat masa kita berkutat dengan hal tersebut tidaklah sebentar.
Sebuah perpisahan mungkin adalah hasil dari keputusan yang diambil oleh seseorang, dan perpisahan ku kali ini dikarenakan temanku tadi mengambil keputusan untuk pindah ke sebuah Bank yang berkantor dekat dengan rumahnya sekarang. Selain itu dia juga mempertimbangkan kepentingan anak dan keluarganya yang tidak mungkin terus-terusan ia tinggalkan dalam waktu-waktu kerja selama seminggu.
Dia berpikir dengan pindah ke kantornya yang baru, paling tidak dia bisa punya waktu lebih banyak dengan anak-anaknya ketimbang sekarang seandainya ia masih di kantor yang lama.
Jika kisah di atas adalah tentang perpisahan karena sebuah keputusan untuk pindah ke tempat lain, lalu bagaimana dengan sebuah perpisahan yang disebabkan oleh ajal yang ditentukan oleh Yang Kuasa?!
Sampai sekarang saya belum pernah berpisah dengan orang-orang terdekat saya karena sebuah kematian, namun saya pernah mengalami kehilangan dari beberapa teman dekat yang pergi karena panggilanNya.
Perpisahan seperti ini adalah sebuah perpisahan untuk selamanya, kita tak akan pernah punya kesempatan untuk bertemu kembali dengan orang yang telah pergi. Mungkin perasaan ditinggalkan dari perpisahan semacam ini pastilah lebih dalam dan lebih hebat dari perpisan seperti aku dengan teman kerjaku.
Sahabat terdekat ku pernah mengalami perpisahan seperti ini, perpisahan dengan orang yang paling dekat dengan kita di dunia ini, orang tua. Sungguh dalam efek yang ditimbulkan dari perpisahan macam ini. Kesedihan berkepanjangan, hilangnya semangat untuk maju mewujudkan cita-cita, hingga keptusasaan. Namun sahabatku adalah orang-orang yang hebat, yang tak pernah kalah dan mau tunduk pada keadaan.
Yah sekalipun untuk melaju kembali butuhlah waktu, namun akhirnya sahabatku tahu kembali cara bangun dan berlari dari keterpurukan. Semangat yang baru bisa juga lahir dari sebuah kesedihan yang ditimbulkan oleh perpisahan.
Banyaklah sudah contoh untuk hal ini, dari sebuah perpisahan dengan cinta, saya belajar untuk lebih menghargai wanita, sehingga pada akhirnya sayapun bisa menjaga seorang wanita agar tidak pergi meninggalkan ku
Jika kita melihat kembali bahwa sebuah perpisahan adalah hukum pasti dari dunia ini, saya yakin kalian sepaham denganku bahwa ketika sebuah perpisahan kita musti jalani, di masa yang akan datang, entah dalam jangka waktu yang pendek ataupun panjang, pertemuan dengan orang yang baru pun pastilah datang.
Selain itu, semangat, ataupun kesedihan yang mungkin pernah hilang dan muncul dari sebuah perpisahan pastilah akan muncul dan hilang kembali sejalan dengan perpisahan yang telah kita lewati.
Jika perpisahan adalah suatu hal yang pasti ada di dunia dan aku yakin siapapun pasti akan mengalaminya, maka buat apa kita larut dalam kesedihan terlalu lama, sebab seperti kata peribahasa, patah tumbuh hilang berganti, selaras dengan hukum alam bukan!?
Komentar
Posting Komentar