Selasa, 27 Desember 2011

Road To Year End [Party] 2011

Road To Year End [Party] 2011

Di kantor mulai hari ini ada sedikit kehebohan yang sedikit massal. Sebetulnya dari kemaren pun sudah banyak kehebohan yang melibatkan banyak karyawan lintas departemen.
Tapi kehebohan yang kemaren-kemaren itu erat kaitannya dengan pekerjaan, mulai dari beberapa karyawan yang musti menyiapkan presentasi di Acara IBB untuk ASM dan RSM hingga kawan-kawan dari departemen lain yang sibuk terlibat di kepanitiaan acara ulang tahun Kantor yang ke-8.
Kehebohan kali ini, rada sedikit berbeda dengan yang lainnya. Kehebohan ini adalah dalam rangka mempersiapkan diri dan tim untuk memeriahkan acara Year End Party 2011.
Year End Party adalah acara rutin tiap tahun yang diadakan kantor, yang acaranya sebagian besar adalah untuk bersenang senang. Sekalipun biasanya pada Year End Party, sekalian juga ada kick off target untuk tahun 2012 mendatang.
Berbeda dengan tahun lalu yang mengusung tema Supporter Sepak Bola, tahun ini teman-teman di HR Departement menetapkan tema untuk Year End Party 2011 adalah K-Pop Invasion.
Waduh,, buatku tema ini lumayan ribet dari segi fashion yang musti aku persiapkan. Dibanding tahun lalu, yang temanya berkaitan dengan Supporter Sepak Bola, tentunya lebih mudah berdandan ala supporter sepak bola ketimbang berdandan dan berpakaian ala Smash.
Mulai hari ini, setelah tema resmi diumumkan, beberapa tim sudah sibuk mempersiapkan penampilan tim masing-masing. Bahkan informasi terkini yang tadi sore aku dengar, kompetitor dari Tim Marketing sudah menyewa Koreografer untuk persiapan panggung tim tersebut.
Memang pada acara kali ini, setiap tim akan diadu kekompakannya saat tampil di atas panggung nanti, kita semua akan dinilai dari segi koreografi, dan kehebohan kostum yang akan kami kenakan.
Selain urusan tari menari di atas panggung, setiap tim juga diharuskan bernyanyi secara Lip Sync. Oleh karena itu selain sibuk mempersiapkan kostum, kami juga disibukkan untuk menghapalkan lagu dan koreografi untuk dipamerkan di atas panggung.
Kebetulan tim kami akan mendapat giliran pertama untuk menunjukkan kebolehan aksi di atas panggung. Dan lagu yang sudah ditentukan untuk kelompok kami adalah, lagunya Tina And D’Girlz, Girl Bandnya Tina Toon yang dulu penyanyi cilik. Lagunya berjudul “Cinta Buta”.
Haduh, jangankan tahu lagunya, saya aja baru tahu kalo Tina Toon punya Girl Band!!
Sore tadi, sekitar Jam 6an, kami sudah melakukan meeting pertama untuk membahas persiapan aksi kita nanti. Dari hasil meeting tadi sore, disepakati bahwa nama Tim kita adalah GSM (Galau So Much), ini adalah usulan dari Om Becky, sebetulnya saya sempat mengusulkan nama lain, SDSB saya maksudkan sebagai plesetan SNSD, yang kepanjangannya, Sedikit Digoyang Semua Berkeringet.
Dan untuk acara ini sudah ditunjuk Si Prita, anak buahnya Agra di Investment untuk mengurus Wardrobe semua anggota Tim, dan gaya berpakaian yang tadi disepakati untuk Cowok adalah kemeja warna ngejreng dipadu dengan Jas atau Vest serta ada sedikit sentuhan Harajuku untuk riasan muka, kebayang sudah kalo muka gua bakal dibikin belang blentong kaya acara tahun lalu.
Untuk anggota cewek, kita semua sepakat untuk berpakaian warna ngejreng dengan paduan bawahan Hot Pants. Tapi tadi masih ada sedikit kebingungan untuk aksesoris yang akan dikenakan oleh semua peserta supaya kita bisa tampil sedikit beda. Hal yang sempet kepikiran tadi adalah kita musti mencari benda-benda yang bercahaya atau ada lampu-lampunya.
Saya sendiri, termasuk Agra, Bang Ari, dan Kang Deden, dipercaya untuk mengurus koreografinya. Waduh mumet juga nih belum ada ide, paling yang tadi sempat terpikirkan adalah gerakan-gerakan aerobik dan SKJ. Yah lihat saja besok ada masukkan apa lagi untuk koreografi.
Sekian dulu up date dari kegiatan Year End Party semoga tim saya mampu menggondol medali emas di acara tersebut. Up date lain waktu akan saya lengkapi dengan foto-foto acara.



Aku, Kamu, Bercerita



Pada baris-baris lembaran hatimu aku guratkan cerita
Tentang sore yang perlahan mengantarkan kita ke dalam gelap
Tentang langkahmu dan langkahku yang berderap
Mengisi hari-hari dengan keluh kesah sambil berdekap

Tanpa niat dihapal, tiap baris cerita begitu lekat
Dalam relung ingatanmu juga dalam tiap sudut benakku
Hingga mustahil rasanya akan terlupa
Sebab semua lekat, merekat, menyatu dan berpadu

Aku dan kamu, si pengarang cerita
Pembacanya pula, bahkan juga tokoh utama di dalamnya
Kita mungkin juga jadi penggemarnya,
Walau kadang pernah bosan dengan isinya

Cerita itu tetap ada
Mungkin akan kita paksakan tetap ada
Sampai kamu dan aku berjalan tidak menjejak
Sampai gunung-gunung lebur menjadi abu

Perjalanan Ke Daerah Istimewa Part I



Kawan, sudah lama rasanya aku tidak berbagi cerita di sini. Sebetulnya sudah cukup banyak kejadian yang aku alami dan cerita yang sudah berjejal di kepala menunggu untuk dituturkan.
Tapi ada beberapa kendala yang aku alami akhir-akhir ini. Mulai dari PC kesayangan yang ngambek minta ganti harddisk, dan waktu kerja yang lagi menggila karena mendekati akhir tahun dan harus menghadapi rongrongan audit interim dari PwC. Huff itu semua akhirnya menghambat aku untuk bisa berbagi cerita di sini.
Cerita ini akan ku awali dengan perjalanan ku ke Yogyakarta yang akhirnya bisa terlaksana juga. Puas sekali rasanya ketika rencana yang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari ini akhirnya bisa terlaksana.
Perjalanan ku ke Yogya rencananya akan bareng-bareng dengan Bertus, tapi mendekati hari H, Bertus tidak berhasil mendapatkan hak cutinya karena sudah keduluan sama seniornya di Kantor, alhasil perjalanan ke Yogya aku harus tempuh seorang diri. Rada sepi sih, tapi bukan berarti tidak seru.
Sepanjang perjalanan aku bebas merenung dan berbengong-bengong ria tanpa harus kerepotan untuk mengajak teman perjalanan ngobrol sana-sini. Dan yang aku suka dari perjalanan seorang diri adalah, semua keputusan yang berkaitan dengan perjalanan sepenuhnya ada di tanganku. He he bagai seorang jenderal perang yang punya kuasa penuh menggerakkan ribuan tentara sekehendak hati. Kira-kira rasanya seperti itu. Tapi karena namanya jalan sendiri, aku hanya menjadi pemimpin untuk diri aku sendiri.
Oke, segitu dulu prolognya, sekarang aku akan bercerita persiapan awal perjalanan ini. Aku berencana untuk mengambil cuti demi terlaksananya perjalanan ini. Dan waktu yang aku ambil adalah Kamis dan Jumat, tanggal 24 dan 25 November 2011. Nah karena aku berencana cuti tanggal 24, bisa terbayangkan kan bagaimana kondisi keuangan aku saat itu. Sedang megap-megap menghadapi akhir bulan.
Tapi akhirnya aku berhasil mengatasinya dengan beragam strategi mulai dari menagih uang aku yang pernah dipinjem temen, terus pinjem ke adik tercinta dan minta Cash Advance ke Bapak terakung.
Namun tetap saja pada akhirnya aku hanya berangkat dengan uang saku yang pas-pasan, tapi tekad sudah terlanjur bulat dan pantang berubah jadi lonjong ataupun elips, kaki ini harus tetap melangkah dan melaju mengarah ke Yogya.
Persoalan pertama adalah masalah finansial, karena pilihan waktu cuti yang aku ambil memang kurang menguntungkan, tapi ada juga masalah lainnya yang sedikit mengancam namun untungnya tidakalah berujung pada masalah yang fatal.
Menjelang hari H keberangkatan, aku mendapat beberapa informasi bahwa tiket kereta api menuju ke Yogya terancam habis. Mendengar kabar ngeri tersebut aku pun was was bukan kepalang, takut-takut rencana ini hanya tinggal wacana, kebayang sudah malunya hati ke semua teman kantor dan rekan yang lain. Sebab rencana ini sudah terlanjur diperdengarkan secara luas ke penjuru dunia.

Untungnya setelah aku cek langsung ke PT KA, hanya tiket kereta api Agro saja yang habis untuk keberangkatan tanggal 23 November malam. Namun ternyata untuk kereta kelas bisnis masih tersisa banyak kursi. Akungnya untuk kereta ekonomi mereka tidak bisa memberikan informasi, aneh yah!? Tenang lah aku.
Kembali ke masalah kantong, rencana perjalanan paling masuk akal secara budget adalah berangkat dengan memakai kereta ekonomi jurusan Yogya dengan harga tiket sekitar 37.000 rupiah. Ini memang sudah aku maksudkan dari awal rencana ini aku gagas. Tapi mengingat jumlah kursi untuk kereta ekonomi juga tidak bisa aku akses, aku memiliki rencana cadangan untuk naik kereta kelas bisnis.
Alasan pertama adalah dari segi budget ini paling bersahabat, dan alasan lainnya adalah karena kangen yang menggelayut hati untuk mencoba perjalanan seorang diri dengan naik kereta ekonomi. Pengalaman terakhir aku naik kereta ekonomi sudah lawas sekali, Mei 2005 waktu berangkat pendakian massal ke Gunung Lawu, Solo, Jawa Tengah.
Dari perjalanan itu, aku sadar bahwa perjalan dengan memakai kereta ekonomi bisa sangat inspiratif bagi siapapun yang rela untuk sedikit merenung, dan mengais beragam pelajaran hidup sepanjang perjalanan. Oleh karena itu hati ini tak sabar untuk menjajal kembali pengalaman bepergian dengan kereta ekonomi.
Akhirnya tanggal 23 November tiba juga, tanggal ini jatuh pada hari Rabu, dan malamnya tas aku sudah aku jejalkan dengan pakaian ganti untuk keperluan selama aku berada di Yogya. Tidak lupa charger HP, iPod, dan bukunya Pak Pram, yang belum sempat aku buka sampul plastiknya.
Hari rabu aku pun berangkat ke kantor berboncengan dengan Bapak naik Supra milik bapak. Karena berangkat bareng bapak, aku pun musti rela bangun lebih pagi dari biasanya. Dan alhasil jam setengah delapan kurang, aku sudah duduk di depan PC Lenovo di kantor kerja tercinta.
Rekor baru datang ke kantor paling pagi, setidaknya sepanjang tahun 2011 ini. Sengaja aku berangkat pagi, supaya sore, aku bisa pulang dari kantor secara on time, atau istilah dunia perkantorannya Tengo, Teng and Go!!!
Aneka pekerjaan yang menghadang pada hari itu, untungnya biasa saja dan tidak ada yang menyita waktu dan perhatian yang mengharuskan aku pulang lebih malam, dan akhirnya rencana Tengo pun berhasil.
Jam 5 pas waktu casio merah aku pun menghambur keluar kantor, oh iya pada tanggal itu 23 November 2011, adalah hari terakhir kerja buat Mba Irna. Dia memutuskan untuk hengkang dari kantor ku untuk melanjutkan perjalanan hidupnya ke kantor Akuntan Publik, Ernst & Young (EY). Oh iya dulu sebelumm bekerja di kantor ku dia pernah kerja di EY setelah lulus dari bangku kuliah.
Yah dengan amat diakungkan aku tidak bisa menghadiri acara perpisahan dengan Mba Irna, tapi acara sebelumnya aku bisa datang. Jadi sebelum acara Farewell di kantor, teman-teman kantor punya acara lain untuk melepas kepergian Mba Irna. Acara karaoke-an di Mal FX, Senayan. Aku menyempatkan datang ke acara tersebut dan goyang dangdut abis-abisan berduet bersama Kakak seperguruan Mas Sutarmo.
Akhirnya Jam 5 lewat sedikit aku sudah keluar dari kantor, dengan sebelumnya berganti kostum memakai kaos Pure Saturday dibalik sweater abu-abu dan bersepatu New Balance terbaru yang aku punya. Kemudian aku pun siap berjibaku di dalam bus trans Jakarta menuju harmoni, dan kemudian berganti Jalur ke arah Stasiun Senen.
Perjalanan dari halte Trans Jakarta menuju halte Harmoni lancar-lancar saja sekalipun di dalam bus sesak pengap dengan penumpang, namun perjalanan tidak memakan waktu yang lama, karena Jalan Sudirman kala itu belumlah macet dengan orang-orang yang pulang kantor.
Kira-kira 45 menit, aku sudah tiba di halte Harmoni, dan cuaca Jakarta sudah berubah drastis dari sebelumnya aku keluar kantor. Sekarang hujan lebat sangat lebat bahkan mengguyur Jakarta yang kering kerontang meradang, diwarnai dengan gelegar halilintar dan kilatan petir. Ngeri sekali, sengeri hati ku begitu melihat antrian orang di halte Harmoni.
Kaget sangat aku melihat antrian orang yang berjubel di dalam kotak besi halte Harmoni, aku pun was-was kembali, takut-takut aku telat mengejar kereta menuju Yogya yang akan berangkat jam 8 kurang. Saat itu jam menunjukkan sekitar jam 6 sore lewat, hampir setengah 7!
Singkat cerita setelah berjuang di tengah kerumunan akhirnya aku mendapatkan juga bus trans Jakarta yang menuju Senen, dengan tujuan akhir Pulo Gadung. Jam setengah 8 kurang aku sudah tiba di halte bus trans Jakara Senen, dan ditengah gerimis aku mempercepat langkah menuju Senen.
Setibanya di depan loket pembelian tiket, ternyata sesuai dengan prediksi kawan-kawan aku, tiket kelas 3 jurusan Yogya sudah berhasil terjual habis, nasib serupa juga berlaku untuk tiket kereta api AC Ekonomi, Bogowonto jurusan Kutoarjo, sudah laku laris manis, bahkan sudah bertolak ke Yogya sekitar jam 6-an.
Yang ada hanya tiket kelas bisnis jurusan Yogya dan Solo, dengan harga Rp 130.000,- aku pun segera mengeluarkan uang untuk ditukarkan dengan tiket tersebut. Akhirnya tiket berhasil didapat dan sekarang saatnya masuk menuju peron menanti kereta yang akan membawa aku ke daerah Istimewa tempat Sultan Hamengku Buwono X bertahta.
Di peron aku segera mengabarkan teman kecil ku di Yogya yang sudah sedari tadi menanti kabar dari ku, aku kabarkan bahwa tiket sudah di tangan dan aku kemungkinan akan tiba pada pagi tanggal 24 November. Selain Doan, aku juga segera membombardir inbox kawan-kawan dengan sms yang membuat mereka iri dengan perjalanan aku ini.
Jam 8 lebih sedikit kereta tiba, ternyata hanya telat sedikit tidak seperti yang digambarkan oleh Om Iwan kalau kereta biasa telat sampe dua jam. Kereta yang aku tumpangi, ternyata ada orang ekspatriatnya loh. Rombongan muda mudi, dari belahan bumi lain yang tertarik juga untuk mengunjungi Yogya, akung aku tidak satu gerbong dengan salah satu rombongan mereka, padahal mereka seksi-seksi loh ceweknya!
Aku segera menuju gerbong 5, sesuai dengan yang tertera di tiket yang aku pegang, dan kursi yang bakal aku duduki bernomor 11B, sama dengan tanggal ulang tahun aku. Akungnya ini kursi tidak berada persis di samping jendela sesuai dengan harapan, kursi ku berada di sisi luar, yang artinya lebih dekat ke lorong gerbong ketimbang jendela. Dan kursi ku berada di belakang WC umum yang ada di gerbong.
Teman duduk di samping aku adalah orang yang kira-kira sepantaran dengan Andi Moneng yang akan pulang ke kampung halamannya di daerah Sleman, Yogya. Dan obrolan seputar PS Sleman mengalir antara aku dan dia. Ternyata orang ini cukup ramah, dan setelah obrolan seputar PS Sleman, aku bertanya mengenai anak dan keluarganya, ternyata anak dan istrinya tinggal di Sleman, dan dia musti berjuang menghidupi mereka dengan mencari nafkah di Ibu Kota.
Setelah ngobrol dan kereta terus melaju, orang itu akhirnya tidur dan aku pun tenggelam dalam perjalanan sambil membaca buku Pak Pram, dari seri tetralogi buru. Buku yang belum sempat aku buka sampul plastiknya semenjak dibeli.
Buku ini berjudul Anak Semua Bangsa, buku ke dua dari tetralogi buru, buku lanjutan dari Bumi Manusia. Oh iya, sebetulnya aku hampir melengkapi seri tetralogi ini, hanya kurang satu buku lagi, Bumi Manusia. Aku tidak membelinya karena aku sudah pernah membaca buku ini saat di bangku kuliah. Dan buku lanjutan dari buku yang aku pegang, Jejak Langkah, akhirnya aku berikan sebagai kenang-kenangan ke Mba Irna.
Buku ini lumayan ringan, tidak seperti yang aku bayangkan. Buku ini bercerita tentang kisah lanjutannya Mingke, yang dalam buku ini diceritakan tengah membangun dasar-dasar kecintaan kepada Tanah Airnya, dan ini cerita tentang munculnya benih-benih kecintaan yang akan membawa Mingke ke sebuah perjuangan membela Negerinya agar kelak mendapatkan kemerdekaan yang penuh dari tangan penjajah Belanda.
Hampir setengah dari buku ini sudah aku baca selama perjalanan ke Yogya, namun akhirnya sampai aku menulis cerita ini, buku itu belum aku tuntaskan.
Selama perjalanan aku tergoda untuk duduk di sambungan gerbong untuk menatap gelapnya malam dari jendela kereta dan menghabiskan rokok, sambil merenung tentang hidup yang sejauh ini sudah aku jalani, tentang pekerjaan dan tantangan yang akan datang, tentang kisah-kisah persahabatan aku di masa lalu dan sekarang yang sedang aku jalani.
Semakin aku tenggelam dalam lamunan kisah persahabatan, aku semakin kangen dengan Doan, ini salah satu sahabat terbaik yang aku miliki. Sahabat dari masa kanak-kanak sampai detik ini. Terlintas semua kenangan aku dengannya, membuat hati ini deg-degan tidak sabar untuk menyapanya di kota tempat tinggalnya sekarang.
Sekitar jam sepuluh malam, aku pun akhirnya mencoba untuk tidur, dan berhasil untuk sekitar satu setengah jam. Begitu terbangun, aku segera melongok ke luar, untuk mencoba tahu, perjalanan ini sudah sejauh mana.
Tapi pemandangan di luar sungguh gelap, dan mataku tak mampu menembus kegelapan malam. Yah akhirnya aku lanjutkan membaca lagi, dan begitu lewat pedagang kopi aku memesan satu gelas kopi hitam, untuk teman merokok dan menghabiskan malam.
Kejadian seru yang aku alami dalam perjalanan ini adalah, ketika waktu menunjukkan sekitar jam 2 pagi, dan kereta baru saja berjalan pelan meninggalkan stasiun kecil setelah Purwokerto, namanya stasiun Notog. Saat kereta sedang mulai berjalan meninggalkan stasiun Notog, tiba-tiba ada orang yang mengendap-endap berjalan mendekat ke arah tempat duduk seorang ibu, yang kala itu orang tersebut tengah terlelap. Dan tiba-tiba secepat kilat tangan orang itu menyambar tas ibu tersebut yang diletakkan di pangkuannya. Berhasil menyambar tas dan dengan sigap orang tersebut turun dari kereta yang melaju menjauh dari stasiun.
Sial, orang keparat itu sudah berhasil menjambret tas tangan sang Ibu. Kejadian serupa pernah pula aku saksikan di sebuah KRL dari Bogor. Sepulang dari kemping di Sukamantri, aku pernah melihat orang dijambret di atas kereta. Saat itu korban kehilangan camera pocket digitalnya, saat kereta bergerak lambat meninggalkan stasiun Depok Lama. Alhasil kereta yang tidak mungkin berhenti, akhirnya hanya bisa memaksa korban untuk merelakan benda berharganya amblas digondol jambret!
Sebelum kereta tersebut sampai di stasiun Notog, aku sempat melewati sambungan gerbong, yang menjadi tempat sang jambret masuk ke dalam kereta. Saat itu setelah aku memakai WC yang ada di sambungan gerbong tersebut, aku memang sadar bahwa pintu kereta terbuka, dan sungguh berbahaya membiarkan pintu tersebut terbuka, karena bisa-bisa ada orang berbahaya yang ikutan naik ke kereta ku.
Tapi sayang, aku tak jadi menutup pintu itu, dan akhirnya kejadian mengerikan yang sempat terlintas dalam pikiranku menjadi nyata hanya dalam hitungan menit, semenjak aku meninggalkan sambungan gerbong. Menyesal rasanya kenapa tadi aku tidak jadi menutup pintu kereta. Dan akhirnya setelah melihat kejadian itu, aku segera mengecek pintu yang ada di sambungan gerbong di belakang tempat duduk ku.
Oke pelajaran berharga buat ku dan buat kalian semua, ketika kalian bepergian menggunakan kereta api ekonomi ataupun kereta bisnis sekalipun, tetaplah kalian waspada dengan barang berharga yang kalian bawa. Usahakan semua barang berharga kalian, disimpan di dalam tas kecil yang senantiasa kalian bawa, dan jangan menggeletakkan tas tersebut di kursi tempat duduk ataupun meja di depan tempat duduk kalian. Dan satu hal penting lainnya, janganlah pernah kalian mengeluarkan benda-benda berharga kalian, yang mungkin bisa memancing niat jahat orang yang melihatnya.
Kalian musti yakin kebenaran pesan Bang Napi, bahwa kejahatan bukan hanya timbul dari niat sang pelaku, tapi juga karena kesempatan, dan waspadalah kesempatan buat orang lain untuk berbuat jahat bisa jadi datang dari kamu sendiri!
Kalian juga musti mengenali daerah-daerah yang musti kalian waspadai ketika kalian bepergian, untuk daerah Pantura, jika kalian bepergian dengan Bus, waspadalah jika kalian melewati daerah Ajibarang, daerah setelah Indramayu, perbatasan dengan daerah Bumi Ayu. Daerah tersebut terkenal dengan tukang copetnya, bahkan beberapa cerita yang pernah aku dengar, di daerah tersebut ada sebuah perguruan khusus yang mendidik orang-orang agar lihai menjadi seorang Pick Pocket, gila kan!? Tapi ini riil loh, dan aku pernah menontonnya di salah satu program stasiun televisi.
Lewat dari Purwokerto, orang yang jadi teman duduk ku bangun untuk memsan Pop Mie, tak lupa orang tersebut menwarkan ke aku. Aku hanya menucapkan terima kasih tas tawarannya, aku tolak dengan halus, karena kau belum lapar. Akupun hanya memesan kopi kembali, entah ini sudah gelas yang keberapa. Tapi buatku nikmat sekali ngopi di tengah kereta dengan sebatang rokok, dan nuansa kebebasan selama perjalanan. Ini sungguh tidak tergantikan oleh apapun. Sulit sekali menjelaskannya, tapi jika kalian ingin menikmati sensasi seperti itu, pergilah, tempuhlah perjalanan kemanapun kau suka. Kau bisa mengunjungi saudara mu di kampung, teman, atau bahkan kau sungguh berani untuk mengunjungi tempat jauh, tanpa punya tujuan. Silahkan, sok wae, monggo kerso! Aku jamin, semua pasti akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan berharga untuk sekedar kalian kenang ataupun kalian ceritakan ke orang lain.
Perjalanan melewati stasiun lainnya tidaklah terlalu seru untuk diceritakan, dan akupun tertidur, dan baru bangun setelah stasiun bernama Wates, seingatku ini sudah dekat dengan Yogya. Dan lucunya ketika aku bangun, orang yang duduk di seberang kursi ku, bertanya ini sudah sampai mana, padahal aku pun tidak yakin ini sudah sampai Wates, he he dikiranya aku hapal betul rute ke Yogya.
Oke akhirnya perjalanan panjang menuju buminya Mbah Maridjan, berakhir juga di pemberhentian terakhir, stasiun, Tugu Daerah Istimewa Yogyakarta. Jam tangan yang melingkar di pergelangan lengan menunjukkan jam 5 pagi. Wah ga enak rasanya mau mengabarkan Doan, kalo aku sudah sampai. Karena mungkin dari tempatnya Doan di Bantul ke sini, sangatlah jauh, dan karena ini juga masih jam istirahatnya orang normal, akhirnya aku tidak mengabarkan kalo aku sudah sampai.
Berhubung perut sudah minta diisi, akhirnya aku segera keluar dari stasiun Tugu, untuk sekedar mencari makanan dan menikmati secangkir teh atau kopi. Akupun keluar menuju stasiun tugu, dan berbelok ke arah kanan. Di luar stasiun aku diservu tawaran dari tukang ojek dan tukang becak untuk memakai jasa mereka. Ramai betul, tapi bedanya mereka semua menawarkan dengan penuh etika dan sopan santun, beda sekali dengan tukang ojek di Jakarta ataupun tukang Ojek di kampungku Purbalingga, yang terkesan maksa dan kurang sopan santun.
Aku pun jalan terus, dan terus menolak tawaran tukang-tukang ojek dan becak, aku berkilah bahwa kau menunggu jemputan dari temanku. Dan akhirnya aku berjalan terus ke aras kanan stasiun Tugu, hingga akhirnya aku terkaget-kaget begitu membaca papan nama toko yang berderet sepanjang jalan. Ternyata ini daerah legendaris, Pasar Kembang (Sarkem). Kaget juga, sambil senyum-senyum sendiri.





Floatspot Yang Bikin Mengapung



Kamis malam, sepulang kerja ketika jari ini asyik mengetik di atas keyboard Vaio anyar, HP Nokia ku bergetar karena satu pesan yang masuk.
Pesan singkat itu datang dari Kenya sang penulis. Dia mengabarkan bahwa Float besok akan main di Galeri Jurnalistik Antara di Pasar Baru, di sebuah acara bernama Floatspot.
Kenya mengabarkan dan sekalian mengajakku untuk datang ke acara itu. Aku pun menjawab bahwa aku tertarik dan siap untuk datang ke acara itu. Dan akhirnya kami sepakat untuk mengatur tempat dan waktu untuk ketemuan, agar besok kita bisa berangkat bareng.
Selesai membalas pesan itu, aku menerka bahwa acara tersebut mungkin adalah peluncuran album ke-2nya Float. Album itu memang termasuk salah satu album yang sedang aku tunggu kemunculannya selain albumnya Pure Saturday.
Tak sabar hati ini untuk mendengarkan lagu-lagu barunya Float. Besok di tanggal 16 Desember 2011, aku dan Kenya sepakat untuk bertemu di Ratu Plaza sekitar jam 7 malam. Dan rencananya segera berangkat ke Galeri Antara, sebab acara akan dimulai pukul 9 dan dijadwalkan akan rampung pada jam 11 malam. Lumayan malam juga acaranya.
Pada hari ketika Kenya mengabarkan tentang acara tersebut, aku pun segera mengabarkan Bertus, berharap dia tertarik dan turut serta. Tapi Bertus baru membalas SMS ku di Hari Jum’at sebelum aku berangkat ke Masjid untuk Jum’atan.
Nampaknya Bertus enggan datang, mengingat Galeri Antara letaknya lumayan jauh. Bertus malah menawarkan pilihan lain untuk datang ke Rolling Stones Cafe, karena di hari yang sama di sana bakal ada Naif, Gugun & Blues Shelter dan Piyu yang akan manggung.
Tapi karena janji dengan Kenya sudah terlanjur disepakati, akhirnya aku mantapkan hati untuk datang ke acara Floatspot.
Sebelumnya aku sudah sepakat untuk ketemuan di Ratu Plaza jam 7 malam, namun karena Kenya mendapat tugas kerja mendadak, sepertinya kami gagal untuk bertemu di jam 7. Dan akhirya jam 8 lebih aku baru bisa bertemu Kenya secara langsung. Tempat ketemuan yang awalnya di Raplaz, akhirnya direvisi. Dan kami sepakat bertemu di pintu keluar gedung Kementrian Diknas.
Setelah motorku keluar dari Parkiran Diknas, segera ku hampiri Kenya di pintu keluar gedung. Jam tanganku saat itu menampilkan angka 8:23 PM, yang artinya sebentar lagi akan jam 9!
Was-was juga hati ini, ngeri jika harus telat datang ke acara dan terpaksa tidak melihat Float main dari awal. Ditambah macetnya jalan raya Sudirman pada jam segitu, makin deg-degan jantung ini.
Untungnya setelah berhasil menembus belantara kemacetan Ibu Kota di akhir pekan, kami berdua berhasil tiba di Galeri Antara jam 9 lewat beberapa menit.
Segera kami melongok panggung yang akan dipakai oleh Float, ternyata mereka belum datang dan masih ada waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan Kenya.
Tenang akhirnya hati ini, ternyata aku bakal menyaksikan Float manggung dari awal.
Sambil menunggu Float siap main, aku terlibat obrolan seru dengan Kenya, sebetulnya selama perjalanan, kami sudah asyik pula ngobrol di atas motor dan di tengah kebisingan lalu lintas Jakarta.
Obrolan kita mengalir seputar kesibukan di kantor masing-masing, selain itu ada topik seru yang kita bahas, “keanehan” seorang Mbe yang sama-sama kami rasakan. Mbe yang tiba-tiba menghilang secara aneh dari ajang kumpul bocah, antara aku dan kawan-kawan yang lain.
Lalu tentang Mbe yang jadi senang menambahkan “berita feature” tentang gadis berinisial “L” ketika membalas beberapa pesan BBM dari Kenya.
Lalu ada juga cerita aneh tentang Mbe yang berubah menajadi asing perangainya ketika beberapa kali bertemu Kenya.
He he… sepertinya tema obrolan tentang Mbe mendominasi obrolan malam ini, banyak cerita tentang Mbe yang menjadi beda bin ajaib semenjak kepulangan Mbe dan Kenya dari Elok Progo.
Sekalipun obrolan tentang Mbe Mbean lumayan banyak, bukan berarti tidak ada tema lain yang kami perbincangkan. Cerita tentang liburan ku di Yogya bersama Doan juga seru dan tidak kalah banyaknya dibanding tema Mbe yang memang Ngehits belakangan ini.
Setelah dinanti-nanti, nampaknya Float sudah siap dan sepertinya sedang stem sana-sini di atas panggung. Aku dan Kenya, segera masuk kembali, melangkah dengan antusias dan tidak sabar.
Kami duduk di pinggir panggung, duduk bersila di atas lantai persis seperti sedang menonton marawis di Pesantren Kilat jaman SMP.
Oh iya saat di pintu masuk Galeri tadi, punggungku dicolek oleh seorang pria bertopi Sherlock Holmes, sialnya si Pria langsung menyalipku sebelum aku sempat mengenali wajahnya. Penasaran siapa gerangan ia, Ku salip kembali dia di pintu masuk ke ruangan tempat Float manggung. Ternyata doi si Fazlur aka Osbone, konco ku di Kampus dulu.
Busyet itu orang dari dulu memang lebih mudah ditemui di acara macam ini ketimbang di kampus. Dan kali ini aku bertemu kembali dengannya setelah lebih dari 2 tahun tidak pernah lagi. Sekarang dia tidak lagi berambut kribo, sekarang dia berpotongan lebih rapih dan formal. Kangen juga dengan anak ini.
Ada cerita seru tentang anak ini, di kampus karena gaya rambutnya, aku menilainya sebagai anak yang sok asyik, dan rada-rada senga. Alhasil aku menjadi kurang suka dengan dia, karena kesan pertamaku melihatnya sudah ngga ngenakin. Padahal sama sekali aku belum pernah ngobrol ataupun berinteraksi dengannya. Ini bahayanya kesan pertama pada penilaian terhadap seseorang secara objektif!!
Suatu ketika, aku sedang mencari kaset di Aquarius Mahakam, dan tanpa di sengaja aku bertemu dengan Osbone di sana. Dan ternyata anak itu yang menegor ku pertama, dan dia menegor dengan ramah pula. Dan seketika penilaianku tentangnya ambyar, ternyata aku sudah salah menilai. Ini anak baik banget dan ramah pula, ternyata selera musik anak ini sama kerennya dengan Bertus dan kawan-kawanku yang lain!
Aku masih ingat kala itu dia ingin membeli kasetnya The Thrills, dan ia meminta penilaianku tentang band itu sebelum ia membelinya. Dan saat itu aku membeli kasetnya The Bravery, karena kala itu musik model-modelnya The Bravery memang sedang digandrungi.
Oke sekarang kembali lagi ke panggung, karena penonton sudah terlanjur berebut tempat, akhirnya hanya ada space untuk dua orang, akhirnya aku dan kenya yang duduk di sana, dan terpaksa kami harus pisah rada berjauhan dengan Osbone.
Float siap main, dengan formasi sama ketika terakhir kali aku menontonnya di acara Koin Sastra di Kompas Gramedia.
Dan lagu pertama yang membahana, Surrender. Lagu dengan intro yang menurutku mengingatkan pada musik tradisional Minangkabau. Lagu ini dibawakan dengan mantap sekali baik alunan musiknya serta vokal yang sama sempurnanya!
 Malam ini Float benar-benar mengapungkan pikiranku untuk kemudian berayun ayun mengambang di keromantisan lirik dan musik yang mereka mainkan. Apalagi ketika mereka memainkan lagu Sementara, seakan benakku ikutan menggelayut terombang ambing dalam keresahan yang digambarkan oleh lirik lagu itu.
Di acara kali ini ada satu lagu yang baru pertama kalinya aku dengar, lagu itu berjudul I.H.I (Indah Hari Itu). Lagu yang becerita tentang sepasang kekasih yang bersepeda berboncengan untuk menikmati keindahan telaga. Wiihh romantis yah ceritanya, apalagi si Gadis dibonceng di depan lagi, kebayang kan gimana romantisnya!!
Oh iya ternyata ini bukan konser launching album barunya Float, menurut informasi dari sang Vokalis, harusnya pada November tahun ini Float bisa meluncurkan album barunya tapi karena materinya dirasa masih kurang, akhirnya rencana itu ditunda sampai Bulan Maret tahun depan. Yah ternyata aku musti bersabar sampai bulan Maret.
Selain lagu Sementara, aku terkesima dengan lagu berjudul Pulang, lagu ini berhasil melemparkan aku ke masa-masa ketika aku harus meninggalkan rumah hampir seminggu lamanya karena saat itu aku sedang ada sedikit masalah dengan Ibuku. Lagu ini berhasil menghadirkan semua keresahan dan kegundahan hatiku kala itu, dan lagu ini juga berhasil membawaku merasakan kembali kerinduan yang sangat untuk segera bertemu dengan Ibuku, padahal aku sendiri yang kala itu mengambil keputusan untuk  meninggalkannya dengan hati disesaki amarah.
Sampai sekarang ketika aku mendegarkan lagu itu di dalam perjalanan ku yang jauh dari rumah, lagu itu sukses membuatku Homesick, dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah!
Ada informasi sedikit terkait dengan Lagu Pulang, ternyata ini adalah lagu pertama yang diaransemen oleh gitaris W. Benyamin, dia adalah gitaris awalnya Float dan di acara Floatspot, seklaipun Float main dengan formasi teranyarnya dan tapi kemudian menyempatkan bermain dalam formasi awal.
Lagu Pulang ini juga merupakan cinta pertamaku terhadap Float dan karya-karyanya yang lain.

Waktu yang diperlukan untuk menyusun aransemen lagu itu adalah 1,5 tahun, begitu kata W. Benyamin!! Dan dialah penyusun seluruh aransemen lagu dalam full albumnya Float yang pertama.
Ada kejadian seru pada konser kali ini, Float memainkan versi asli dari lagu 3 Hari Tuk Selamanya, jadi lagu ini ada sedikit perbedaan lirik antara versi asli dan versi yang sekarang kita kenal, yang dijakdikan OST untuk film berjudul sama.
Lucunya ketika Float memainkan dengan versi full band untuk lagu ini, oh iya versi yang sekarang kita kenal dimainkan dalam versi full band, sedang aslinya dimainkan dalam format lebih ke akustik. Float main dengan lirik yang tercampur campur antara versi asli dan barunya, seru banget, kocak dan menghibur sekali. Sebetulnya secara kualitas, lirik yang baru dan aslinya sama bagusnya, jadi buatku kesalahan ini tidak menjadi soal. Malah jadi terkesan unik.
Akhirnya hampir semua lagu di album pertama sudah dimainkan, dan tibalah penghujung acara ini. Namun setelah lagu terakhir (Will Have U’r Band’s Name On The Wall) selesai dimainkan, ternyata hampir seluruh penonton yang ada, tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya. Sudah bisa ditebak, penonton belumlah puas menikmati Performance Float malam ini. Mereka berteriak minta nambah.
Dan Float yang sudah hampir selesai membereskan peralatan bandnya, akhirnya berembug dan siap menggeber panggung lagi dengan lagu tambahan. Lagu tambahan yang dipilih sebagai penutup acara malam ini adalah Come Together milik The Beatles, selesai lagu itu, akhirnya acara malam ini selesai beneran.
Puasnya saya malam itu, dan aku segera keluar dari Galeri.
Di luar, aku hampiri Osbone dan ada sedikit perbincangan dengannya. Kami saling menanyakan kabar, wajar karena terakhir kami bertemu sudah lama sekali, dulu mungkin belum ada Smash dan sampai sekarang muncul Smash akhirnya baru kita bertemu lagi.
Dari obrolan itu saya pun akhirnya tahu bahwa Osbone juga suka menulis, akhirnya kami bertiga, saling bertukar alamat blog masing-masing. Oke karena hari sudah larut sekali, dan Kenya kebetulan punya jam malam yang tidak bisa dilanggar, akhirnya saya berpamitan dengan Osbone.
Saya hampiri sepeda motor saya,  saya keluarkan kunci dari saku kantong, dan segera kami berdua pun kembali menyusuri jalanan Jakarta kala tengah malam.
Saya berniat untuk mengantar Kenya sampai Pamulang dan saya pun segera meluncur ke rumah Eggy untuk bergabung dengan kawan-kawan yang lain yang sudah dari tadi “bersenang-senang” di sana.
Di telinga ini seakan alunan lagu-lagunya Float masih wara wiri terngiang, membuat aku melayang-layang terombang-ambing di atas sepeda motorku.

Rabu, 14 Desember 2011

Dia memilih mati


Setiap hari daftar orang yang mati selalu bertambah panjang

Mereka yang telah mati, pergi dari dunia menuju ke sebuah penantian

Ketika mereka yang mati masih hidup, mereka pun pernah menanti

Lalu ketika mati, malah mereka harus menanti lagi

Mereka yang mati pergi dengan beragam cara

Beragam sebab, disembarang tempat dan waktu yang beragam

Ada yang mati karena memang jatah hidupnya sudah habis

Seperti yang sehat di siang dan tiada di sorenya

Yang mati bagai daun yang gugur di sembarang waktu

tak hanya saat musim rontok, tapi ada sepanjang musim

itu yang mati karena ajal,

lalu mereka yang memilih untuk mati?!

Mereka mati dengan tenaga keputusasaan

Lalu kenapa mereka memilih mati saja?!

Mungkin mereka mati karena cinta…

Jika memang mereka mati karena cinta,

Sulit didebat, dan disalahkan

Karena cinta mungkin punya perspektifnya sendiri dalam mengartikan

sebuah kegilaan dan kesedihan…

Kamis, 10 November 2011

QOUTES

LET THE WORLD TO CHANGE YOU, AND YOU CAN CHANGE THE WORLD!!
- ERNESTO "CHE" GUEVARA -

ART CRAFT & Kemunculan AI Clone Software

Apakah Anda pernah merasa lelah terus-menerus membayar biaya langganan bulanan hanya untuk menggunakan perangkat lunak yang sama selama bert...