Perjalanan Ke Daerah Istimewa Part I



Kawan, sudah lama rasanya aku tidak berbagi cerita di sini. Sebetulnya sudah cukup banyak kejadian yang aku alami dan cerita yang sudah berjejal di kepala menunggu untuk dituturkan.
Tapi ada beberapa kendala yang aku alami akhir-akhir ini. Mulai dari PC kesayangan yang ngambek minta ganti harddisk, dan waktu kerja yang lagi menggila karena mendekati akhir tahun dan harus menghadapi rongrongan audit interim dari PwC. Huff itu semua akhirnya menghambat aku untuk bisa berbagi cerita di sini.
Cerita ini akan ku awali dengan perjalanan ku ke Yogyakarta yang akhirnya bisa terlaksana juga. Puas sekali rasanya ketika rencana yang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari ini akhirnya bisa terlaksana.
Perjalanan ku ke Yogya rencananya akan bareng-bareng dengan Bertus, tapi mendekati hari H, Bertus tidak berhasil mendapatkan hak cutinya karena sudah keduluan sama seniornya di Kantor, alhasil perjalanan ke Yogya aku harus tempuh seorang diri. Rada sepi sih, tapi bukan berarti tidak seru.
Sepanjang perjalanan aku bebas merenung dan berbengong-bengong ria tanpa harus kerepotan untuk mengajak teman perjalanan ngobrol sana-sini. Dan yang aku suka dari perjalanan seorang diri adalah, semua keputusan yang berkaitan dengan perjalanan sepenuhnya ada di tanganku. He he bagai seorang jenderal perang yang punya kuasa penuh menggerakkan ribuan tentara sekehendak hati. Kira-kira rasanya seperti itu. Tapi karena namanya jalan sendiri, aku hanya menjadi pemimpin untuk diri aku sendiri.
Oke, segitu dulu prolognya, sekarang aku akan bercerita persiapan awal perjalanan ini. Aku berencana untuk mengambil cuti demi terlaksananya perjalanan ini. Dan waktu yang aku ambil adalah Kamis dan Jumat, tanggal 24 dan 25 November 2011. Nah karena aku berencana cuti tanggal 24, bisa terbayangkan kan bagaimana kondisi keuangan aku saat itu. Sedang megap-megap menghadapi akhir bulan.
Tapi akhirnya aku berhasil mengatasinya dengan beragam strategi mulai dari menagih uang aku yang pernah dipinjem temen, terus pinjem ke adik tercinta dan minta Cash Advance ke Bapak terakung.
Namun tetap saja pada akhirnya aku hanya berangkat dengan uang saku yang pas-pasan, tapi tekad sudah terlanjur bulat dan pantang berubah jadi lonjong ataupun elips, kaki ini harus tetap melangkah dan melaju mengarah ke Yogya.
Persoalan pertama adalah masalah finansial, karena pilihan waktu cuti yang aku ambil memang kurang menguntungkan, tapi ada juga masalah lainnya yang sedikit mengancam namun untungnya tidakalah berujung pada masalah yang fatal.
Menjelang hari H keberangkatan, aku mendapat beberapa informasi bahwa tiket kereta api menuju ke Yogya terancam habis. Mendengar kabar ngeri tersebut aku pun was was bukan kepalang, takut-takut rencana ini hanya tinggal wacana, kebayang sudah malunya hati ke semua teman kantor dan rekan yang lain. Sebab rencana ini sudah terlanjur diperdengarkan secara luas ke penjuru dunia.

Untungnya setelah aku cek langsung ke PT KA, hanya tiket kereta api Agro saja yang habis untuk keberangkatan tanggal 23 November malam. Namun ternyata untuk kereta kelas bisnis masih tersisa banyak kursi. Akungnya untuk kereta ekonomi mereka tidak bisa memberikan informasi, aneh yah!? Tenang lah aku.
Kembali ke masalah kantong, rencana perjalanan paling masuk akal secara budget adalah berangkat dengan memakai kereta ekonomi jurusan Yogya dengan harga tiket sekitar 37.000 rupiah. Ini memang sudah aku maksudkan dari awal rencana ini aku gagas. Tapi mengingat jumlah kursi untuk kereta ekonomi juga tidak bisa aku akses, aku memiliki rencana cadangan untuk naik kereta kelas bisnis.
Alasan pertama adalah dari segi budget ini paling bersahabat, dan alasan lainnya adalah karena kangen yang menggelayut hati untuk mencoba perjalanan seorang diri dengan naik kereta ekonomi. Pengalaman terakhir aku naik kereta ekonomi sudah lawas sekali, Mei 2005 waktu berangkat pendakian massal ke Gunung Lawu, Solo, Jawa Tengah.
Dari perjalanan itu, aku sadar bahwa perjalan dengan memakai kereta ekonomi bisa sangat inspiratif bagi siapapun yang rela untuk sedikit merenung, dan mengais beragam pelajaran hidup sepanjang perjalanan. Oleh karena itu hati ini tak sabar untuk menjajal kembali pengalaman bepergian dengan kereta ekonomi.
Akhirnya tanggal 23 November tiba juga, tanggal ini jatuh pada hari Rabu, dan malamnya tas aku sudah aku jejalkan dengan pakaian ganti untuk keperluan selama aku berada di Yogya. Tidak lupa charger HP, iPod, dan bukunya Pak Pram, yang belum sempat aku buka sampul plastiknya.
Hari rabu aku pun berangkat ke kantor berboncengan dengan Bapak naik Supra milik bapak. Karena berangkat bareng bapak, aku pun musti rela bangun lebih pagi dari biasanya. Dan alhasil jam setengah delapan kurang, aku sudah duduk di depan PC Lenovo di kantor kerja tercinta.
Rekor baru datang ke kantor paling pagi, setidaknya sepanjang tahun 2011 ini. Sengaja aku berangkat pagi, supaya sore, aku bisa pulang dari kantor secara on time, atau istilah dunia perkantorannya Tengo, Teng and Go!!!
Aneka pekerjaan yang menghadang pada hari itu, untungnya biasa saja dan tidak ada yang menyita waktu dan perhatian yang mengharuskan aku pulang lebih malam, dan akhirnya rencana Tengo pun berhasil.
Jam 5 pas waktu casio merah aku pun menghambur keluar kantor, oh iya pada tanggal itu 23 November 2011, adalah hari terakhir kerja buat Mba Irna. Dia memutuskan untuk hengkang dari kantor ku untuk melanjutkan perjalanan hidupnya ke kantor Akuntan Publik, Ernst & Young (EY). Oh iya dulu sebelumm bekerja di kantor ku dia pernah kerja di EY setelah lulus dari bangku kuliah.
Yah dengan amat diakungkan aku tidak bisa menghadiri acara perpisahan dengan Mba Irna, tapi acara sebelumnya aku bisa datang. Jadi sebelum acara Farewell di kantor, teman-teman kantor punya acara lain untuk melepas kepergian Mba Irna. Acara karaoke-an di Mal FX, Senayan. Aku menyempatkan datang ke acara tersebut dan goyang dangdut abis-abisan berduet bersama Kakak seperguruan Mas Sutarmo.
Akhirnya Jam 5 lewat sedikit aku sudah keluar dari kantor, dengan sebelumnya berganti kostum memakai kaos Pure Saturday dibalik sweater abu-abu dan bersepatu New Balance terbaru yang aku punya. Kemudian aku pun siap berjibaku di dalam bus trans Jakarta menuju harmoni, dan kemudian berganti Jalur ke arah Stasiun Senen.
Perjalanan dari halte Trans Jakarta menuju halte Harmoni lancar-lancar saja sekalipun di dalam bus sesak pengap dengan penumpang, namun perjalanan tidak memakan waktu yang lama, karena Jalan Sudirman kala itu belumlah macet dengan orang-orang yang pulang kantor.
Kira-kira 45 menit, aku sudah tiba di halte Harmoni, dan cuaca Jakarta sudah berubah drastis dari sebelumnya aku keluar kantor. Sekarang hujan lebat sangat lebat bahkan mengguyur Jakarta yang kering kerontang meradang, diwarnai dengan gelegar halilintar dan kilatan petir. Ngeri sekali, sengeri hati ku begitu melihat antrian orang di halte Harmoni.
Kaget sangat aku melihat antrian orang yang berjubel di dalam kotak besi halte Harmoni, aku pun was-was kembali, takut-takut aku telat mengejar kereta menuju Yogya yang akan berangkat jam 8 kurang. Saat itu jam menunjukkan sekitar jam 6 sore lewat, hampir setengah 7!
Singkat cerita setelah berjuang di tengah kerumunan akhirnya aku mendapatkan juga bus trans Jakarta yang menuju Senen, dengan tujuan akhir Pulo Gadung. Jam setengah 8 kurang aku sudah tiba di halte bus trans Jakara Senen, dan ditengah gerimis aku mempercepat langkah menuju Senen.
Setibanya di depan loket pembelian tiket, ternyata sesuai dengan prediksi kawan-kawan aku, tiket kelas 3 jurusan Yogya sudah berhasil terjual habis, nasib serupa juga berlaku untuk tiket kereta api AC Ekonomi, Bogowonto jurusan Kutoarjo, sudah laku laris manis, bahkan sudah bertolak ke Yogya sekitar jam 6-an.
Yang ada hanya tiket kelas bisnis jurusan Yogya dan Solo, dengan harga Rp 130.000,- aku pun segera mengeluarkan uang untuk ditukarkan dengan tiket tersebut. Akhirnya tiket berhasil didapat dan sekarang saatnya masuk menuju peron menanti kereta yang akan membawa aku ke daerah Istimewa tempat Sultan Hamengku Buwono X bertahta.
Di peron aku segera mengabarkan teman kecil ku di Yogya yang sudah sedari tadi menanti kabar dari ku, aku kabarkan bahwa tiket sudah di tangan dan aku kemungkinan akan tiba pada pagi tanggal 24 November. Selain Doan, aku juga segera membombardir inbox kawan-kawan dengan sms yang membuat mereka iri dengan perjalanan aku ini.
Jam 8 lebih sedikit kereta tiba, ternyata hanya telat sedikit tidak seperti yang digambarkan oleh Om Iwan kalau kereta biasa telat sampe dua jam. Kereta yang aku tumpangi, ternyata ada orang ekspatriatnya loh. Rombongan muda mudi, dari belahan bumi lain yang tertarik juga untuk mengunjungi Yogya, akung aku tidak satu gerbong dengan salah satu rombongan mereka, padahal mereka seksi-seksi loh ceweknya!
Aku segera menuju gerbong 5, sesuai dengan yang tertera di tiket yang aku pegang, dan kursi yang bakal aku duduki bernomor 11B, sama dengan tanggal ulang tahun aku. Akungnya ini kursi tidak berada persis di samping jendela sesuai dengan harapan, kursi ku berada di sisi luar, yang artinya lebih dekat ke lorong gerbong ketimbang jendela. Dan kursi ku berada di belakang WC umum yang ada di gerbong.
Teman duduk di samping aku adalah orang yang kira-kira sepantaran dengan Andi Moneng yang akan pulang ke kampung halamannya di daerah Sleman, Yogya. Dan obrolan seputar PS Sleman mengalir antara aku dan dia. Ternyata orang ini cukup ramah, dan setelah obrolan seputar PS Sleman, aku bertanya mengenai anak dan keluarganya, ternyata anak dan istrinya tinggal di Sleman, dan dia musti berjuang menghidupi mereka dengan mencari nafkah di Ibu Kota.
Setelah ngobrol dan kereta terus melaju, orang itu akhirnya tidur dan aku pun tenggelam dalam perjalanan sambil membaca buku Pak Pram, dari seri tetralogi buru. Buku yang belum sempat aku buka sampul plastiknya semenjak dibeli.
Buku ini berjudul Anak Semua Bangsa, buku ke dua dari tetralogi buru, buku lanjutan dari Bumi Manusia. Oh iya, sebetulnya aku hampir melengkapi seri tetralogi ini, hanya kurang satu buku lagi, Bumi Manusia. Aku tidak membelinya karena aku sudah pernah membaca buku ini saat di bangku kuliah. Dan buku lanjutan dari buku yang aku pegang, Jejak Langkah, akhirnya aku berikan sebagai kenang-kenangan ke Mba Irna.
Buku ini lumayan ringan, tidak seperti yang aku bayangkan. Buku ini bercerita tentang kisah lanjutannya Mingke, yang dalam buku ini diceritakan tengah membangun dasar-dasar kecintaan kepada Tanah Airnya, dan ini cerita tentang munculnya benih-benih kecintaan yang akan membawa Mingke ke sebuah perjuangan membela Negerinya agar kelak mendapatkan kemerdekaan yang penuh dari tangan penjajah Belanda.
Hampir setengah dari buku ini sudah aku baca selama perjalanan ke Yogya, namun akhirnya sampai aku menulis cerita ini, buku itu belum aku tuntaskan.
Selama perjalanan aku tergoda untuk duduk di sambungan gerbong untuk menatap gelapnya malam dari jendela kereta dan menghabiskan rokok, sambil merenung tentang hidup yang sejauh ini sudah aku jalani, tentang pekerjaan dan tantangan yang akan datang, tentang kisah-kisah persahabatan aku di masa lalu dan sekarang yang sedang aku jalani.
Semakin aku tenggelam dalam lamunan kisah persahabatan, aku semakin kangen dengan Doan, ini salah satu sahabat terbaik yang aku miliki. Sahabat dari masa kanak-kanak sampai detik ini. Terlintas semua kenangan aku dengannya, membuat hati ini deg-degan tidak sabar untuk menyapanya di kota tempat tinggalnya sekarang.
Sekitar jam sepuluh malam, aku pun akhirnya mencoba untuk tidur, dan berhasil untuk sekitar satu setengah jam. Begitu terbangun, aku segera melongok ke luar, untuk mencoba tahu, perjalanan ini sudah sejauh mana.
Tapi pemandangan di luar sungguh gelap, dan mataku tak mampu menembus kegelapan malam. Yah akhirnya aku lanjutkan membaca lagi, dan begitu lewat pedagang kopi aku memesan satu gelas kopi hitam, untuk teman merokok dan menghabiskan malam.
Kejadian seru yang aku alami dalam perjalanan ini adalah, ketika waktu menunjukkan sekitar jam 2 pagi, dan kereta baru saja berjalan pelan meninggalkan stasiun kecil setelah Purwokerto, namanya stasiun Notog. Saat kereta sedang mulai berjalan meninggalkan stasiun Notog, tiba-tiba ada orang yang mengendap-endap berjalan mendekat ke arah tempat duduk seorang ibu, yang kala itu orang tersebut tengah terlelap. Dan tiba-tiba secepat kilat tangan orang itu menyambar tas ibu tersebut yang diletakkan di pangkuannya. Berhasil menyambar tas dan dengan sigap orang tersebut turun dari kereta yang melaju menjauh dari stasiun.
Sial, orang keparat itu sudah berhasil menjambret tas tangan sang Ibu. Kejadian serupa pernah pula aku saksikan di sebuah KRL dari Bogor. Sepulang dari kemping di Sukamantri, aku pernah melihat orang dijambret di atas kereta. Saat itu korban kehilangan camera pocket digitalnya, saat kereta bergerak lambat meninggalkan stasiun Depok Lama. Alhasil kereta yang tidak mungkin berhenti, akhirnya hanya bisa memaksa korban untuk merelakan benda berharganya amblas digondol jambret!
Sebelum kereta tersebut sampai di stasiun Notog, aku sempat melewati sambungan gerbong, yang menjadi tempat sang jambret masuk ke dalam kereta. Saat itu setelah aku memakai WC yang ada di sambungan gerbong tersebut, aku memang sadar bahwa pintu kereta terbuka, dan sungguh berbahaya membiarkan pintu tersebut terbuka, karena bisa-bisa ada orang berbahaya yang ikutan naik ke kereta ku.
Tapi sayang, aku tak jadi menutup pintu itu, dan akhirnya kejadian mengerikan yang sempat terlintas dalam pikiranku menjadi nyata hanya dalam hitungan menit, semenjak aku meninggalkan sambungan gerbong. Menyesal rasanya kenapa tadi aku tidak jadi menutup pintu kereta. Dan akhirnya setelah melihat kejadian itu, aku segera mengecek pintu yang ada di sambungan gerbong di belakang tempat duduk ku.
Oke pelajaran berharga buat ku dan buat kalian semua, ketika kalian bepergian menggunakan kereta api ekonomi ataupun kereta bisnis sekalipun, tetaplah kalian waspada dengan barang berharga yang kalian bawa. Usahakan semua barang berharga kalian, disimpan di dalam tas kecil yang senantiasa kalian bawa, dan jangan menggeletakkan tas tersebut di kursi tempat duduk ataupun meja di depan tempat duduk kalian. Dan satu hal penting lainnya, janganlah pernah kalian mengeluarkan benda-benda berharga kalian, yang mungkin bisa memancing niat jahat orang yang melihatnya.
Kalian musti yakin kebenaran pesan Bang Napi, bahwa kejahatan bukan hanya timbul dari niat sang pelaku, tapi juga karena kesempatan, dan waspadalah kesempatan buat orang lain untuk berbuat jahat bisa jadi datang dari kamu sendiri!
Kalian juga musti mengenali daerah-daerah yang musti kalian waspadai ketika kalian bepergian, untuk daerah Pantura, jika kalian bepergian dengan Bus, waspadalah jika kalian melewati daerah Ajibarang, daerah setelah Indramayu, perbatasan dengan daerah Bumi Ayu. Daerah tersebut terkenal dengan tukang copetnya, bahkan beberapa cerita yang pernah aku dengar, di daerah tersebut ada sebuah perguruan khusus yang mendidik orang-orang agar lihai menjadi seorang Pick Pocket, gila kan!? Tapi ini riil loh, dan aku pernah menontonnya di salah satu program stasiun televisi.
Lewat dari Purwokerto, orang yang jadi teman duduk ku bangun untuk memsan Pop Mie, tak lupa orang tersebut menwarkan ke aku. Aku hanya menucapkan terima kasih tas tawarannya, aku tolak dengan halus, karena kau belum lapar. Akupun hanya memesan kopi kembali, entah ini sudah gelas yang keberapa. Tapi buatku nikmat sekali ngopi di tengah kereta dengan sebatang rokok, dan nuansa kebebasan selama perjalanan. Ini sungguh tidak tergantikan oleh apapun. Sulit sekali menjelaskannya, tapi jika kalian ingin menikmati sensasi seperti itu, pergilah, tempuhlah perjalanan kemanapun kau suka. Kau bisa mengunjungi saudara mu di kampung, teman, atau bahkan kau sungguh berani untuk mengunjungi tempat jauh, tanpa punya tujuan. Silahkan, sok wae, monggo kerso! Aku jamin, semua pasti akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan berharga untuk sekedar kalian kenang ataupun kalian ceritakan ke orang lain.
Perjalanan melewati stasiun lainnya tidaklah terlalu seru untuk diceritakan, dan akupun tertidur, dan baru bangun setelah stasiun bernama Wates, seingatku ini sudah dekat dengan Yogya. Dan lucunya ketika aku bangun, orang yang duduk di seberang kursi ku, bertanya ini sudah sampai mana, padahal aku pun tidak yakin ini sudah sampai Wates, he he dikiranya aku hapal betul rute ke Yogya.
Oke akhirnya perjalanan panjang menuju buminya Mbah Maridjan, berakhir juga di pemberhentian terakhir, stasiun, Tugu Daerah Istimewa Yogyakarta. Jam tangan yang melingkar di pergelangan lengan menunjukkan jam 5 pagi. Wah ga enak rasanya mau mengabarkan Doan, kalo aku sudah sampai. Karena mungkin dari tempatnya Doan di Bantul ke sini, sangatlah jauh, dan karena ini juga masih jam istirahatnya orang normal, akhirnya aku tidak mengabarkan kalo aku sudah sampai.
Berhubung perut sudah minta diisi, akhirnya aku segera keluar dari stasiun Tugu, untuk sekedar mencari makanan dan menikmati secangkir teh atau kopi. Akupun keluar menuju stasiun tugu, dan berbelok ke arah kanan. Di luar stasiun aku diservu tawaran dari tukang ojek dan tukang becak untuk memakai jasa mereka. Ramai betul, tapi bedanya mereka semua menawarkan dengan penuh etika dan sopan santun, beda sekali dengan tukang ojek di Jakarta ataupun tukang Ojek di kampungku Purbalingga, yang terkesan maksa dan kurang sopan santun.
Aku pun jalan terus, dan terus menolak tawaran tukang-tukang ojek dan becak, aku berkilah bahwa kau menunggu jemputan dari temanku. Dan akhirnya aku berjalan terus ke aras kanan stasiun Tugu, hingga akhirnya aku terkaget-kaget begitu membaca papan nama toko yang berderet sepanjang jalan. Ternyata ini daerah legendaris, Pasar Kembang (Sarkem). Kaget juga, sambil senyum-senyum sendiri.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bebenah “Niu Kantoor”

Hola blogspot, kita jumpa kembali!