Floatspot Yang Bikin Mengapung
Kamis malam, sepulang kerja ketika jari ini asyik mengetik di atas keyboard Vaio anyar, HP Nokia ku bergetar karena satu pesan yang masuk.
Pesan singkat itu datang dari Kenya sang penulis. Dia mengabarkan bahwa Float besok akan main di Galeri Jurnalistik Antara di Pasar Baru, di sebuah acara bernama Floatspot.
Kenya mengabarkan dan sekalian mengajakku untuk
datang ke acara itu. Aku pun menjawab bahwa aku tertarik dan siap untuk
datang ke acara itu. Dan akhirnya kami sepakat untuk mengatur tempat dan
waktu untuk ketemuan, agar besok kita bisa berangkat bareng.
Selesai membalas pesan itu, aku menerka bahwa acara
tersebut mungkin adalah peluncuran album ke-2nya Float. Album itu
memang termasuk salah satu album yang sedang aku tunggu kemunculannya
selain albumnya Pure Saturday.
Tak sabar hati ini untuk mendengarkan lagu-lagu
barunya Float. Besok di tanggal 16 Desember 2011, aku dan Kenya sepakat
untuk bertemu di Ratu Plaza sekitar jam 7 malam. Dan rencananya segera
berangkat ke Galeri Antara, sebab acara akan dimulai pukul 9 dan
dijadwalkan akan rampung pada jam 11 malam. Lumayan malam juga acaranya.
Pada hari ketika Kenya mengabarkan tentang acara
tersebut, aku pun segera mengabarkan Bertus, berharap dia tertarik dan
turut serta. Tapi Bertus baru membalas SMS ku di Hari Jum’at sebelum aku
berangkat ke Masjid untuk Jum’atan.
Nampaknya Bertus enggan datang, mengingat Galeri
Antara letaknya lumayan jauh. Bertus malah menawarkan pilihan lain untuk
datang ke Rolling Stones Cafe, karena di hari yang sama di sana bakal
ada Naif, Gugun & Blues Shelter dan Piyu yang akan manggung.
Tapi karena janji dengan Kenya sudah terlanjur disepakati, akhirnya aku mantapkan hati untuk datang ke acara Floatspot.
Sebelumnya aku sudah sepakat untuk ketemuan di Ratu
Plaza jam 7 malam, namun karena Kenya mendapat tugas kerja mendadak,
sepertinya kami gagal untuk bertemu di jam 7. Dan akhirya jam 8 lebih
aku baru bisa bertemu Kenya secara langsung. Tempat ketemuan yang
awalnya di Raplaz, akhirnya direvisi. Dan kami sepakat bertemu di pintu
keluar gedung Kementrian Diknas.
Setelah motorku keluar dari Parkiran Diknas, segera
ku hampiri Kenya di pintu keluar gedung. Jam tanganku saat itu
menampilkan angka 8:23 PM, yang artinya sebentar lagi akan jam 9!
Was-was juga hati ini, ngeri jika harus telat
datang ke acara dan terpaksa tidak melihat Float main dari awal.
Ditambah macetnya jalan raya Sudirman pada jam segitu, makin deg-degan
jantung ini.
Untungnya setelah berhasil menembus belantara
kemacetan Ibu Kota di akhir pekan, kami berdua berhasil tiba di Galeri
Antara jam 9 lewat beberapa menit.
Segera kami melongok panggung yang akan dipakai
oleh Float, ternyata mereka belum datang dan masih ada waktu untuk
ngobrol-ngobrol dengan Kenya.
Tenang akhirnya hati ini, ternyata aku bakal menyaksikan Float manggung dari awal.
Sambil menunggu Float siap main, aku terlibat
obrolan seru dengan Kenya, sebetulnya selama perjalanan, kami sudah
asyik pula ngobrol di atas motor dan di tengah kebisingan lalu lintas
Jakarta.
Obrolan kita mengalir seputar kesibukan di kantor
masing-masing, selain itu ada topik seru yang kita bahas, “keanehan”
seorang Mbe yang sama-sama kami rasakan. Mbe yang tiba-tiba menghilang
secara aneh dari ajang kumpul bocah, antara aku dan kawan-kawan yang
lain.
Lalu tentang Mbe yang jadi senang menambahkan
“berita feature” tentang gadis berinisial “L” ketika membalas beberapa
pesan BBM dari Kenya.
Lalu ada juga cerita aneh tentang Mbe yang berubah menajadi asing perangainya ketika beberapa kali bertemu Kenya.
He he… sepertinya tema obrolan tentang Mbe
mendominasi obrolan malam ini, banyak cerita tentang Mbe yang menjadi
beda bin ajaib semenjak kepulangan Mbe dan Kenya dari Elok Progo.
Sekalipun obrolan tentang Mbe Mbean lumayan banyak,
bukan berarti tidak ada tema lain yang kami perbincangkan. Cerita
tentang liburan ku di Yogya bersama Doan juga seru dan tidak kalah
banyaknya dibanding tema Mbe yang memang Ngehits belakangan ini.
Setelah dinanti-nanti, nampaknya Float sudah siap
dan sepertinya sedang stem sana-sini di atas panggung. Aku dan Kenya,
segera masuk kembali, melangkah dengan antusias dan tidak sabar.
Kami duduk di pinggir panggung, duduk bersila di
atas lantai persis seperti sedang menonton marawis di Pesantren Kilat
jaman SMP.
Oh iya saat di pintu masuk Galeri tadi, punggungku
dicolek oleh seorang pria bertopi Sherlock Holmes, sialnya si Pria
langsung menyalipku sebelum aku sempat mengenali wajahnya. Penasaran
siapa gerangan ia, Ku salip kembali dia di pintu masuk ke ruangan tempat
Float manggung. Ternyata doi si Fazlur aka Osbone, konco ku di Kampus
dulu.
Busyet itu orang dari dulu memang lebih mudah
ditemui di acara macam ini ketimbang di kampus. Dan kali ini aku bertemu
kembali dengannya setelah lebih dari 2 tahun tidak pernah lagi.
Sekarang dia tidak lagi berambut kribo, sekarang dia berpotongan lebih
rapih dan formal. Kangen juga dengan anak ini.
Ada cerita seru tentang anak ini, di kampus karena
gaya rambutnya, aku menilainya sebagai anak yang sok asyik, dan
rada-rada senga. Alhasil aku menjadi kurang suka dengan dia, karena
kesan pertamaku melihatnya sudah ngga ngenakin. Padahal sama sekali aku
belum pernah ngobrol ataupun berinteraksi dengannya. Ini bahayanya kesan
pertama pada penilaian terhadap seseorang secara objektif!!
Suatu ketika, aku sedang mencari kaset di Aquarius
Mahakam, dan tanpa di sengaja aku bertemu dengan Osbone di sana. Dan
ternyata anak itu yang menegor ku pertama, dan dia menegor dengan ramah
pula. Dan seketika penilaianku tentangnya ambyar, ternyata aku sudah
salah menilai. Ini anak baik banget dan ramah pula, ternyata selera
musik anak ini sama kerennya dengan Bertus dan kawan-kawanku yang lain!
Aku masih ingat kala itu dia ingin membeli kasetnya
The Thrills, dan ia meminta penilaianku tentang band itu sebelum ia
membelinya. Dan saat itu aku membeli kasetnya The Bravery, karena kala
itu musik model-modelnya The Bravery memang sedang digandrungi.
Oke sekarang kembali lagi ke panggung, karena penonton sudah terlanjur berebut tempat, akhirnya hanya ada space untuk dua orang, akhirnya aku dan kenya yang duduk di sana, dan terpaksa kami harus pisah rada berjauhan dengan Osbone.
Float siap main, dengan formasi sama ketika terakhir kali aku menontonnya di acara Koin Sastra di Kompas Gramedia.
Dan lagu pertama yang membahana, Surrender.
Lagu dengan intro yang menurutku mengingatkan pada musik tradisional
Minangkabau. Lagu ini dibawakan dengan mantap sekali baik alunan
musiknya serta vokal yang sama sempurnanya!
Malam ini Float benar-benar mengapungkan pikiranku
untuk kemudian berayun ayun mengambang di keromantisan lirik dan musik
yang mereka mainkan. Apalagi ketika mereka memainkan lagu Sementara, seakan benakku ikutan menggelayut terombang ambing dalam keresahan yang digambarkan oleh lirik lagu itu.
Di acara kali ini ada satu lagu yang baru pertama kalinya aku dengar, lagu itu berjudul I.H.I (Indah Hari Itu).
Lagu yang becerita tentang sepasang kekasih yang bersepeda berboncengan
untuk menikmati keindahan telaga. Wiihh romantis yah ceritanya, apalagi
si Gadis dibonceng di depan lagi, kebayang kan gimana romantisnya!!
Oh iya ternyata ini bukan konser launching album
barunya Float, menurut informasi dari sang Vokalis, harusnya pada
November tahun ini Float bisa meluncurkan album barunya tapi karena
materinya dirasa masih kurang, akhirnya rencana itu ditunda sampai Bulan
Maret tahun depan. Yah ternyata aku musti bersabar sampai bulan Maret.
Selain lagu Sementara, aku terkesima dengan lagu berjudul Pulang,
lagu ini berhasil melemparkan aku ke masa-masa ketika aku harus
meninggalkan rumah hampir seminggu lamanya karena saat itu aku sedang
ada sedikit masalah dengan Ibuku. Lagu ini berhasil menghadirkan semua
keresahan dan kegundahan hatiku kala itu, dan lagu ini juga berhasil
membawaku merasakan kembali kerinduan yang sangat untuk segera bertemu
dengan Ibuku, padahal aku sendiri yang kala itu mengambil keputusan
untuk meninggalkannya dengan hati disesaki amarah.
Sampai sekarang ketika aku mendegarkan lagu itu di dalam perjalanan ku yang jauh dari rumah, lagu itu sukses membuatku Homesick, dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah!
Ada informasi sedikit terkait dengan Lagu Pulang, ternyata ini adalah lagu pertama yang diaransemen oleh gitaris W. Benyamin,
dia adalah gitaris awalnya Float dan di acara Floatspot, seklaipun
Float main dengan formasi teranyarnya dan tapi kemudian menyempatkan
bermain dalam formasi awal.
Lagu Pulang ini juga merupakan cinta pertamaku terhadap Float dan karya-karyanya yang lain.
Waktu yang diperlukan untuk menyusun aransemen lagu
itu adalah 1,5 tahun, begitu kata W. Benyamin!! Dan dialah penyusun
seluruh aransemen lagu dalam full albumnya Float yang pertama.
Ada kejadian seru pada konser kali ini, Float memainkan versi asli dari lagu 3 Hari Tuk Selamanya,
jadi lagu ini ada sedikit perbedaan lirik antara versi asli dan versi
yang sekarang kita kenal, yang dijakdikan OST untuk film berjudul sama.
Lucunya ketika Float memainkan dengan versi full band untuk lagu ini, oh iya versi yang sekarang kita kenal dimainkan dalam versi full band,
sedang aslinya dimainkan dalam format lebih ke akustik. Float main
dengan lirik yang tercampur campur antara versi asli dan barunya, seru
banget, kocak dan menghibur sekali. Sebetulnya secara kualitas, lirik
yang baru dan aslinya sama bagusnya, jadi buatku kesalahan ini tidak
menjadi soal. Malah jadi terkesan unik.
Akhirnya hampir semua lagu di album pertama sudah dimainkan, dan tibalah penghujung acara ini. Namun setelah lagu terakhir (Will Have U’r Band’s Name On The Wall)
selesai dimainkan, ternyata hampir seluruh penonton yang ada, tidak ada
yang beranjak dari tempat duduknya. Sudah bisa ditebak, penonton
belumlah puas menikmati Performance Float malam ini. Mereka berteriak
minta nambah.
Dan Float yang sudah hampir selesai membereskan
peralatan bandnya, akhirnya berembug dan siap menggeber panggung lagi
dengan lagu tambahan. Lagu tambahan yang dipilih sebagai penutup acara
malam ini adalah Come Together milik The Beatles, selesai lagu itu, akhirnya acara malam ini selesai beneran.
Puasnya saya malam itu, dan aku segera keluar dari Galeri.
Di luar, aku hampiri Osbone dan ada sedikit
perbincangan dengannya. Kami saling menanyakan kabar, wajar karena
terakhir kami bertemu sudah lama sekali, dulu mungkin belum ada Smash dan sampai sekarang muncul Smash akhirnya baru kita bertemu lagi.
Dari obrolan itu saya pun akhirnya tahu bahwa
Osbone juga suka menulis, akhirnya kami bertiga, saling bertukar alamat
blog masing-masing. Oke karena hari sudah larut sekali, dan Kenya
kebetulan punya jam malam yang tidak bisa dilanggar, akhirnya saya
berpamitan dengan Osbone.
Saya hampiri sepeda motor saya, saya keluarkan
kunci dari saku kantong, dan segera kami berdua pun kembali menyusuri
jalanan Jakarta kala tengah malam.
Saya berniat untuk mengantar Kenya sampai Pamulang
dan saya pun segera meluncur ke rumah Eggy untuk bergabung dengan
kawan-kawan yang lain yang sudah dari tadi “bersenang-senang” di sana.
Di telinga ini seakan alunan lagu-lagunya Float
masih wara wiri terngiang, membuat aku melayang-layang terombang-ambing
di atas sepeda motorku.
Komentar
Posting Komentar