Sabtu, 14 Januari 2012

With My Own Two Hands - Lyrics

Jack Johnson Featuring Ben Harper

I can change the world
With my own two hands
Make it a better place
With my own two hands
Make it a kinder place
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I can make peace on earth
With my own two hands
I can clean up the earth
With my own two hands
I can reach out to you
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I'm going to make it a brighter place
With my own two hands
I'm going to make it a safer place
With my own two hands
I'm going to help the human race
With my own two hands
With my own
With my own two hands
I can hold you
With my own two hands
I can comfort you
With my own two hands
But you've got to use
Use your own two hands
Use your own
Use your own two hands
With our own
With our own two hands
With my own
With my own two hands

Selasa, 10 Januari 2012

Kertas Berpesan



Ia duduk di beranda pada jam 9 malam

Mengais-ngais keberanian yang diterbangkan hujan

Demi melayangkan seuntai pesan

Tapi keberaniannya sudah terlampau jauh melayang

Lalu dia tuliskan pesan di sehelai kertas

Kemudian dia lipat, sampai esok masih terlipat

Dan...


Kertas-kertas berpesan, akhirnya tak pernah sampai padanya...

Minggu, 08 Januari 2012

Inginku Dibalas Tuhan, Tunai ..



Hari-hari dalam minggu ini, aku benar-benar mendambakan akhir pekan,
Akhir pekan yang tenang, dan bisa istirahat panjang
Bisa ngopi sambil tiduran
Dan sesekali merokok kretek ketengan
Dan Tuhan memang betul adanya Maha Mendengar..
Dia balas tunai semua keinginan ku di hari-hari lalu
Akhir pekan ini, Bumi Jakarta diguyur hujan tak sudah-sudah
Mulai dari gerimis, kemudian menderas, dan gerimis lagi
Kemudian udara Jakarta berubah menjadi sangat bersahabat
Jadi momen yang tepat untuk berlama-lama di kasur
Membuat diri ini nikmat bergulung di balik kehangatan Sleeping Bag
Bisa bangun rada siang, kemudian balik lagi ke kamar tanpa harus merasa gerah
Terima kasih Tuhan, kamu dengar apa yang ku inginkan
Akhir pekan ini aku bisa istirahat panjang
Bisa baca buku sambil tiduran,
Bisa ngopi dengan tenang, di tengah musik yang mengalun
Semoga besok semua tantangan terasa ringan...

Sabtu, 07 Januari 2012

Cerita Tentang Tjilik Riwut



Nama Tjilik Riwut, secara jelas atau samar-samar tentulah kalian pernah mendengarnya.

Apa yang terlintas di dalam kepala kalian ketika pertama mendengar nama Tjilik Riwut?

Nama Pahlawan Nasional ?!

Nama Bandar Udara kah ?!

Atau justru melintas dalam kepala kalian tentang Pulau Kalimantan dan Suku Dayaknya ?!

Tiga hal yang aku sebutkan di atas memang benar adanya berhubungan erat dengan nama Tjilik Riwut.

Beliau memang betul seorang Pahlawan Nasional yang diakui oleh bangsa ini semenjak ditetapkan secara resmi pada tahun 1998.

Nama belliaupun dipakai untuk Nama Bandara Kalimantan Tengah, yang dulu bernama Bandara Panarung.

Dan sang Pahlawan kita yang satu ini memang betul anak asli Suku Dayak yang bersumpah setia kepada NKRI di tahun 1946, di hadapan Presiden Soekarno.

Tjilik Riwut, nama yang terdengar asing dan unik di telinga ku ketika pertama kali mengetahuinya saat belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di bangku SD dulu.

Unik karena kata “cilik” merupakan salah satu kata dalam bahasa Jawa yang berarti kecil, tapi beliau bukanah berasal dari Jawa, malahan asli Kalimantan.

Dan riwut adalah kata yang asing sekali di telinga ku, bahkan aku berpikir kata ini mustilah bukan berasal Bahasa Indonesia.

Yang familiar di telingaku mungkin adalah kata Ribut, Ruwet, Rumit atau bahkan Rawit, dan kata Riwut sungguh asing sekali bagi ku.

Jujur ketika pertama kali mendengar nama ini, bayanganku tentang orang ini adalah orang yang berperawakan kecil yang suka berbuat onar dan keributan tapi sungguh disegani orang, seperti kata peribahasa “kecil-kecil cabe rawit”.

Tjilik Riwut lahir di wilayah Kasongan, yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Katingan, Propinsi Kalimantan Tengah. Beliau lahir pada tanggal 2 Februari 1918 dari orang tua yang asli Suku Dayak Ngaju.

Beliau semenjak muda dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai Kalimantan, beserta Suku Dayak dan Kebudayaannya.

Bahkan ketika beliau, beliau pernah tiga kali mengelilingi Pulau Kalimantan dengan berjalan kaki, naik perahu ataupun rakit !!

Nah sampai sini, ceritanya mirip dengan Ernesto “Che” Guevara kan, yang masa mudanya juga pernah berkeliling Amerika Selatan dengan Sepeda Motornya !?

Boleh dibilang Tjilik Riwut adalah orang Dayak pertama yang menuntut ilmu sampai Ke Pulau Jawa. Dan beliaupun pernah tercatat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Setelah Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaannya, Tjilik kembali pulang ke kampung halamannya di Kalimantan Tengah.

Beliau pulang sembari mengemban tugas dari Pemerintah Republik Indonesia untuk memberikan persepsi yang sama tentang kemerdekaan kepada 142 Suku Dayak yang tersebar di seluruh Pulau Kalimantan.

Dan tugas ini dijalani dengan hasil yang memuaskan, ketika pada tahun 1946 di hadapan Presiden Soekarno, Tjilik Riwut yang mewakili 142 suku Dayak mengangkat sumpah untuk setia sampai mati membela NKRI.

Semenjak saat itu Tjilik Riwut aktif dalam Pemerintahan di tanah kelahirannya. Dan pada puncaknya beliau pernah dipercaya untuk naik menjadi Gubernur Kalimantan Tengah.

Karena beliau asli suku Dayak, maka tak heran rasanya jika cerita tentang belliau juga erat dengan hal-hal yang berbau mistik.

Konon ketika beliau belum lahir ke dunia, kedua orang tua Tjilik Riwut sering malakukan “Balampah” atau bertapa memohon kepada Hattala (Dewa Tertinggi Dalam Kepercayaan Suku Dayak Ngaju) di sebuah tempat bernama Bukit Batu.

Kedua orang tua Tjilik sedari dulu memang mendambakan kehadiran sosok anak laki-laki. Namun berkali-kali sang Ibu, Piai Riwut melahirkan anak laki-laki selalu saja meninggal saat usian balita.

Hal inilah yang mendorong sang Ayah, Riwut Dahiang, untuk melakukan Balampah kepada Sang Hattala.

Di salah satu pertapaannya, Riwut Dahiang memperoleh wangsit yang isinya, kelak ketika pasangan ini dikaruniai anak laki-laki, anak tersebut akan menjadi seorang pemimpin besar yang akan mengemban tugas khusus bagi sukunya.

Dan ternyata wangsit  itu menjadi kenyataan.

Sejak kecil, Tjilik kerap kali diajak oleh Riwut Dahiang mengunjungi Bukit Batu.

Dan pada akhirnya, setelah dewasa Tjilik mengikuti kebiasaan sang Ayah untuk melakukan Balampah di Bukit Batu.

Konon keputusan Tjilik untuk meninggalkan kampung halamannya untuk menuju tanah Jawa juga dikarenakan oleh wangsit yang diterimanya kala bertapa di Bukit Batu.

Ada satu lagi cerita mistik saat masa perang merebut kemerdekaan RI.

Tjilik yang bertugas memimpin perang melawan Penjajah, selalu mencari wangsit dengan bertapa di Bukit Batu.

Sampai pada suatu ketika, Tjilik menemukan batu pipih yang berbentuk mirip dengan Daun Telinga sepulangnnya dari melakukan Balampah.

Dan batu ini bukanlah sembarang batu, jika ditempelkan ke telinga, batu ini akan memberikan kekuatan yang dapat mendengarkan dan memonitor keberadaan musuh dan strategi perang yang tengah disusun musuh.

Sehingga lewat bantuan batu ini, tiap kali berperang dengan musuh-musuhnya pasukan Tjilik selalu dapat memenangkan Pertempuran.

Namun setelah kemerdekaan berhasil diraih, batu itu tiba-tiba hilang secara misterius dan tak meninggalkan bekas..

Sampai sekarang, tempat bernama Bukit Batu masih ada. Terletak sekitar 40 KM dari pusat Kota Palangkaraya, atau hanya berjarak 10 KM dari Kabupaten Katingan, tanah kelahiran Tjilik Riwut.

Tempat  itu sekarang dikenal sebagai Pertapaan Tjilik Riwut, dan menjadi salah satu objek wisata sejarah yang kerap kali dikunjungi wisatawan.

Demikian cerita tentang Tjilik Riwut, yang bagi ku ceritanya sama hebatnya dengan cerita tentang Winnetou dan Che Guevara, tapi ini adalah tokoh asli dari Indonesia.

Dan semoga dengan cerita ini makin menambah wawasan kita dan memupuk kecintaan kita kepada tokoh Pahlawan Nasional.

Kamis, 05 Januari 2012

Kisah dari dusun Kinahrejo




Liburan saya terkahir ke buminya Sultan HB X, saya menyempatkan diri berkunjung ke dusun Kinahrejo, tanah kelahiran dari Raden Ngabehi Surakso Hargo atau kalian lebih mengenalnya Mbah Maridjan, dari kaki gunung Merapi.

Pasca erupsi Merapi terakhir di bulan November dan awal Desember 2010, akhirnya dusun kinahrejo kembali menggeliat dengan dibukanya wisata erupsi merapi di dusun Kinahrejo, Sleman, DI Yogyakarta.

Betul-betul bangkit kondisi di sana, terlihat dengan tidak adanya warga yang meminta-minta sumbangan seperti biasa kita saksikan di Jakarta.

Penduduk di sekitar daerah erupsi sudah betul-betul mandiri dan kembali melajutkan perjuangan hidup, tanpa mengharap belas kasihan pihak lain. Setidaknya begitulah yang saya saksikan ketika November 2011 saya ke sana.

Satu hal yang saya catat, penduduk di sana sangat bangga dengan Mbah Maridjan, terbukti ketika saya bertanya tentang lokasi Dusun Kinahrejo, warga sekitar menyebutkan bahwa jika mau menuju rumahnya AYAH, saya sudah berada di jalur yang  tepat.

Penduduk sekitar memanggil Mbah Maridjan dengan sebutan AYAH, saya rasa ini bukti bahwa mereka sungguh sangat menghormati dan menyayangi beliau.

Ada satu nasihat dari Mbah Maridjan, yang saya baca di Banner  dekat rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, bunyinya begini :
“Ajining Manungsa Iku Gumantung Ana Ing Tanggung Jawabe Maring Kewajibane, Kehormatan Seseorang Dinilai dari Tanggung Jawab terhadap Kewajibannya”

Mari sama-sama kita renungkan nasihat ini...


Dari Mbah Maridjan saya belajar bahwa loyalitas bukanlah berlaku untuk seorang budak saja, tapi loyalitas adalah sebuah kehormatan dan tolak ukur kemuliaan.


Labik Lamem Basan Rahi



Minggu ini sungguh berat terasa, hampir satu minggu full balik di atas jam normal.

Hari-hari dalam minggu ini sungguh saya amat mendambakan akhir pekan

Rindu kasur

Rindu tidur nyenyak

Rindu kopi yang bisa dinikmati dengan tenang

Hari-hari dalam minggu ini sungguh saya semakin sadar betapa beratnya perjuangan hidup,

Makin ngerti akan kata-kata orang tua bahwa nyari duit itu susah,

Makin ngerti bahwa jadi orang dewasa beban hidup juga semakin sarat

Bagusnya saya masih bisa ketawa-tawa di kantor, 

bagusnya saya masih berani bangun pagi untuk kembali berjuang di kantor.

Yah ini hidup, kadang kita musti berlelah lelah menempuh perjalanan hidup, 

kata orang manisnya hidup akan terasa ketika kita telah lelah berjuang.


(mencoba menyemangati diri)

Selasa, 03 Januari 2012

Untuk Kamu Yang Tersipu Dan Memerah


Kamu gadis manis, sederhana, yang senang dengan berdiam

Anggun memang, dan aku yang dari jauh ingin sekali bertukar lisan

Tapi ,melihatmu yang selalu tenggelam dalam diam

Membuatku enggan bercampur sungkan

Enggan jika ternyata sapaku tidak berbalas

Lalu jadi sungkan karena aku sadar, diantara aku dan kamu tergaris batas..

ART CRAFT & Kemunculan AI Clone Software

Apakah Anda pernah merasa lelah terus-menerus membayar biaya langganan bulanan hanya untuk menggunakan perangkat lunak yang sama selama bert...