Sabtu, 29 Juli 2023

Di konser rimpang, bertebar nilai yang antar generasi ia menjalar

Malam tadi, 27 Juli 2023 mungkin kali pertama buat saya menonton konser tunggal dari band Efek Rumah Kaca. Konser tunggal mereka di 2016 untuk merayakan rilisnya album Sinestesia gagal saya hadiri.

Namun ERK merupakan band yang boleh jadi saya tonton performanya di atas panggung mulai dari mereka menjadi band pembuka untuk sebuah konser tribute to Radiohead sampai mereka menelurkan albumnya sendiri.

Saya menonton ERK mulai dari era kuliah, lanjut sampai era berkarier, berstatus lajang, berstatus menikah, dan saat ini menjabat sebagai seorang ayah untuk dua anak saya.

Dengan kata lain keempat album studio mereka saya nikmati hampir di tiap aspek penting dalam hidup saya. Bolehlah dibilang saya menyimak karya mereka mulai dari saya belum berpenghasilan, sampai sekarang sudah bekerja. Mulai dari masih labil dalam berpikir hingga "setengah matang" karena telah berstatus sebagai orang tua.

Selama masa saya menyimak karya mereka, saya menemukan banyak serpihan nilai penting yang mungkin dalam perspektif saya pribadi bisa dijadikan referensi untuk memperkaya cara saya berpikir dan tentunya mendewasakan.

Topik yang ERK pilih dalam penulisan lirik berasal dari beragam aspek, kemudian sudut pandangnya pun begitu tidak "lumrah", lagi-lagi ini opini pribadi saya yah, mudah-mudahan ada pula pembaca yang menilai serupa.

Karena hal di atas akhirnya pendengar pun memiliki ruang yang sangat luas untuk mencoba menginterpretasikan tiap liriknya, tentunya lengkap dengan kesimpulan yang bermuara pada "ada nilai dalam tiap liriknya".

Saya berikan contoh bagaimana lirik lagu Tubuhmu Membiru Tragis akhirnya menuntun saya untuk memaknai bahwa hidup ini tak hanya membawa kita untuk mengejar pencapaian duniawi semata, yang akhirnya hanya akan berujung pada pencarian yang tak akan kunjung sampai dan tragisnya bisa sangat mengecewakan dan pada akhirnya "membunuh" segala keluhuran akal budi kita.

Kemudian lagu Putih dari album Sinestesia, sebuah lagu yang bisa kalian maknai sebagai pengingat akan tujuan kita hidup di dunia. Namun di waktu yang sama kita pun bisa melihat "bimbingan" dari sisi lain bahwa duniapun bisa penuh harapan dan pelajaran sarat ilmu yang luhur, jika kita menyelami siklus pasti dari cara dunia bekerja. Ada kematian dan di waktu yang sama ada kelahiran, ada yang kehilangan, adapun perolehan baru. Saya menarik kesimpulan bahwa dalam hidup yang singkat janganlah kita terlena, namun juga menebar manfaat senantiasa di dunia.

Pada lagu Di Udara dan Jingga, kita digeber untuk terus terdepan dan senantiasa peduli pada segala kitakadilan yang ada di dunia. Lawan segala yang salah, saling mempengaruhi dan menyemangati untuk sama-sama menghajar segala yang menindas.

Dan apa yang saya telah maknai dan renungkan, pada konser Rimpang semalam saya menyaksikan semangat dan nilai dalam karya-karya ERK menjalar ke benak dan pikiran tiap individu yang hadir pada malam itu. Sekumpulan manusia yang berbeda generasi, memekik lantang saat lagu Di Udara dimainkan. Kemudian bergetar merinding memaknai lagu Putih dan Debu-debu Beterbangan.

Sekali lagi terima kasih kepada Efek Rumah Kaca yang telah memberikan nilai luhur lewat karya-karya briliannya. Nilai tersebut saya saksikan sendiri menjalar dan bersemi melintasi generasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah?

Ketika Gunung Menjadi Ramai: Mengapa Kita Rela Membayar Mahal untuk Lelah? Halo Frens!   Dahulu, mungkin kenangan kolektif kita tentan...