Pesepeda Angkatan Covid
Halo kali ini gw mau bercerita mengenai demam sepedaan yang melanda Indonesia selama Covid-19 mewabah dan menjadi pandemi di Negara kita tercinta. Cerita sedikit mengenai Covid-19 yang pertama kali konon masuk Indonesia di bulan Maret 2020. Presiden RI Pak Jokowi mengumumkan secara resmi di tanggal 2 bahwa ada 2 orang yang jadi korban pertama dari penyakit ini. Sampai hari ini jumlah pasien yang tertular virus corona jenis baru ini senantiasa bertambah, dan gw akan cerita lebih jauh mengenai hal ini, mengingat media baik elektronik dan daring kerap kali membombardir dengan berita yang lumayan “ngeri”.
Okay jadi setelah corona-19 menginvasi Indonesia kemudian pemerintah kita layaknya pemerintah negara lain yang lebih dulu menerima “kunjungan” corona, memberlakukan kebijakan yang namanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), manteman bisa cari sendiri details dari kebijakan ini. Secara singkat, semenjak kebijakan ini diterapkan di tempat gw tinggal dan beraktivitas (Depok dan Jakarta) seluruh aktivitas warga di kota tersebut menjadi sangat terbatas, dan puncaknya adalah hampir seluruh kantor di Jakarta mewajibkan karyawannya untuk bekerja dari rumah (work from home), termasuk kantor tempat gw bekerja. Kemudian seluruh aktivitas pembelajaran yang biasanya dilakukan di institusi pendidikan seperti sekolah atau kampus juga menerapkan aturan yang serupa, dimana seluruh pelajarnya musti belajar dari rumah.
Kebijakan PSBB seinget gw berjalan secara ketat selama 3 bulan, mulai Maret sampai dengan Mei 2020, dan kemudian kebijakan tersebut dikendurkan penerapannya. Nah selama periode dimana PSBB mulai dikendurkan, tiba-tiba tren bersepeda muncul kembali layaknya deman sepeda fixed gear di era 2000an awal.
Dari ingatan gw yang bisa jadi ngaco, bersepeda memang pernah direkomendasikan oleh Pemerintah untuk menjaga daya tahan tubuh warganya agar tidak mudah tertular virus corona. Wih ini rekomendasi paling gw suka dari Pemerintah terkait covid-19 nih. Cocok bener, sebab menurut gw sepedaan sangat cocok buat semua kalangan baik dari segi usia maupun strata ekonomi. Oke sekian dulu tulisan ini, eh maksudnya sekian dulu pendapat gw yang sotoy.
Oke setelah rekomendasi bersepeda dari Pemerintah, apakah efeknya? Wouw ternyata animo masyarakat sungguh luar biasa, mungkin memang dasarnya masyarakat udah jenuh banget di rokum selama periode PSBB kali ya. Makanya akhirnya virus bersepeda juga merebak di tengah penularan virus corona yang telek banget ini. Dengan deskripsi sederhana, corona akhirnya jauh lebih sukses menggerakkan masyarakat untuk bersepeda ketimbang kampanye dari teman-teman B2W (Bike to Work) yang sudah kampanye “memasyarakatkan” sepeda semenjak 15 tahun silam.
Corona akhirnya menyadarkan masyarakat bahwa sepedaan selain bisa menyehatkan juga bisa jadi semacam metode untuk merilekskan pikiran dan kegundahan yang banyak muncul selama corona, kaya stress baru yang muncul karena kebiasan WFH, stress karena banyak sodara-sodara kita kehilangan pekerjaan selama pandemi, stress karena ada potongan gaji selama karyawan WFH, atau mungkin stress karena pemberitaan corona yang membombardir kita baik dari layar kaca maupun layar gawai kita semua.
Oke kemudian apa lagi sih efek dari “demam sepedaan” yang baru ini? Serunya buat gw Jakarta jadi semacam Groningen dalam skala lebih kecil, dimana-mana banyak terlihat orang bersepeda. Ini gw saksikan sendiri ketika B2W, jadi setelah PSBB kendor, gw ada kena jatah masuk ke kantor selama seminggu kemudian lanjut kerja dari rumah lagi. Sebelumnya selama gw B2W pesepeda yang sering gw temuin hanya ada di hari Jumat, sekarang gw lebih sering lihat orang bersepeda untuk menuju kantornya. Dan malamnya giliran nak-anak moeda usia pelajar sekolah yang ingin menikmati Jakarta di waktu malam. Mereka acap kali dijumpai bersepeda secara rombongan dengan beragam tipe sepeda, mulai dari fixed gear sampai sepeda BMX. Ga jarang mereka berasal dari daerah-daerah satelitnya Jakarta, seperti Depok, Cibinong atau bahkan Bogor! Yap selain pekerja kantor, mereka pun jenuh lah pastinya kudu ngedekem di rumah dan ga bisa ketemu gebetan secara langsung di sekolah.
Bedanya demam sepedaan kali ini dibanding demam fixed gear di era 2000an tadi adalah di masa pandemi covid-19 ini jenis sepeda yang dipilih masyarakat sungguh beragam sekalipun mungkin sepeda lipat adalah tipe yang paling banyak dipilih, daaaaaan karena demand yang gila-gilaan mekanisme prinsip ekonomi akhirnya bekerja. Harga sepeda lipat naik tinggi, susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi anak kami kurang gizii.
Lahh, malah nganu, jadi harga sepeda lipat mengalami lonjakan harga yang gila-gilaan. Contoh sebelum pandemi siapa sih yang melirik sepeda lipat merk Pacific? Palingan anak-anak kecil doang yang make Pacific, tapi di era pandemi ini harga sepeda pabrikan kaya Pacific, Element, dan United menjadi sangat tidak terjangkau. Memang sih pabrikan pun memoles produk-produk mereka dengan tampilan yang lebih wah, harus gw akuin, sekilas kualitas produk mereka pun kaya meroket. Hasil produk mereka secara tampilan memang hampir sama kerennya dengan keluaran Dahon atau bahkan Brompton yang made in UK! Tapi ya gw ga tahu sih durability produknya, karena gw juga ga beli tuh. Hehehe.
Banyak temen kantor yang tiba-tiba minta saran untuk pilihan sepeda yang dirasa cocok, cocok dipakai dan cocok harganya. Sampai-sampai bos gw sendiri juga menanyakan hal yang sama. Hal seru lainnya banyak di antara karyawan yang bertanya ke pihak kantor mengenai ketersediaan area parkir khusus sepeda dan kamar mandi yang bisa dipakai oleh karyawan yang mulai mencoba B2W ke kantor. Hehehe gw sebagai orang yang lebih paham (hehehe kali ini sengak dikit gpp lahh ya) akhirnya memberikan informasi kepeda mereka yang baru itu. Yap ada satu lagi dikotomi baru untuk para sepeda baru tersebut, di beberapa komunitas sepeda yang gw ikuti secara daring, pesepeda yang lebih senior menyebut pesepeda new wave ini dengan sebutan pesepeda angkatan covid hahaha lucu sih, tapi ya kok terkesan merundung ya hahaha, tapi tak bisa dipungkiri bahwa di dunia yang fana ini senioritas adalah hal yang nyata alih-alih fana.
Wets satu lagi nih imbas dari demam sepedaan ini, harga spare parts melambung tinggi juga coy, buat para pehobi hal ini mungkin masih bisa dimaklumi tapi gua suka kasihan ketika melihat ibu-ibu yang ingin membeli ban dalam untuk sepeda anaknya mengeluh bahwa harganya keliwat laham. Asli ini pemandangan yang ga enak banget di mata dan dirasa di hati gw, kepikiran gimana bingungnya si orang tua ketika anaknya merengek ingin segera sepedanya dibenerin agar segera bisa dipakai buat sepedaan bareng temen-temennya. Buat yang kanyab tiud sih it’s not a big problem ya kan tapiii.. ya udah lah ga kuat gw nerusinnya.
Spare parts langka, sepedanya juga langka, konon katanya sampai pabrikan sepeda kudu mengejar kapasitas produksinya buat memenuhi demand yang sungguh luar biasa ini. Buat jenama kaya Polygon yang punya jaringan toko resmi yang menjual produk mereka di seluruh Nusantara, harganya tidak ikut-ikutan “digoreng” tapi buat jenama yang kaya tadi gw sebut di atas dimana produk-produk mereka dijual lewat toko-toko sepeda biasa artinya bukan dijual oleh dealer resmi harganya tidak terkontrol bung. Dan si pabrikan pun juga kaya seolah-olah sengaja meraup cuan dengan menambahkan embel-embel LE (Limited Edition) di beberapa series produknya. Hanya karena embel-embel ini harga otomatis berubah lebih wah. Hehehe aji mumpung juga nih produsen buat mendulang cuan.
Buat gw sendiri yang memang udah punya sepeda, efek dari fenomena baru ini adalah bengkel sepeda ramai sekali dikunjungi orang-orang yang ingin menservis sepedanya yang sudah tidak enak dipakai, atau mau merestorasi sepeda lamanya sampai yang mau upgrade komponen sepedanya. Bahkan ketika gw merasa salah satu sepeda gw FD nya udah mulai ngaco gua kudu bawa sepeda gw muter-muter untuk mencari bengkel yang sepi mulai di area Depok sekitaran tempat gw tinggal, ke Cilandak bahkan sampai ke daerah Cirendeu cuman buat cari bengkel yang ga ngantri karena cuman mau setel FD aja. Beberapa bengkel rumahan yang udah kadung punya nama jangan ditanya lagi load pekerjaan mereka, sepeda kita kudu diinepin dulu buat nunggu giliran pengerjaan. Mantap juga nih, Corona insyaa Allah bisa membuat mekanik sepeda naik haji.
Yap setelah PSBB mengendur gw masih belum sepedaan jauh lagi sih, tapi gw banyak ngubek-ngubek area tempat gw tinggal, di Limo, Depok. Sampai akhirnya gw nemu pacuan kuda Limo, yang sebetulnya dari jaman gw SMA keberadaan pacuan kuda itu udah gw tahu, tapi lokasinya yang gw belum tahu. Dan gw pernah sepedaan dengan beberapa temen SMA di area ga jauh dari pacuan kuda itu, gw sepedaan ke arah kebun sayur yang memang masih bisa ditemui di daerah Depok, dan setelah gw sampai di kebun sayur tersebut gw sengaja menghabiskan waktu sampai malem di kebun sambil ngobrol, ngopi dan merokok, dan ada hal yang buat gw terkejut, di sana gw nemuin kunang-kunang fren! Kunang-kunang di daerah yang ga sampe 30an kilometer dari pusat kota Jakarta masih ada kunang-kunang. Nanti gw post vidionya di postingan ini sembari gw kulik caranya masukin vidio di blogspot.
Oke sekian dulu lah ya, cerita tentang tren sepedaan yang mewabah di tengah pandemi covid-19, nanti klo gua ga males gw cerita lebih lanjut tentang jalur sepedaan yang gw kulik selama pandemi. Jampai Sumpa dan salam dua pedal, kring kring!!





Komentar
Posting Komentar