Tersengal Sambil Merapal
Tersengal
Sambil Merapal
Di bawah
langit malam yang cerah seolah berpendar karena sinaran purnama
Kami berjalan
beriringan meniti jalan setapak di antara rerumputan
Jalan tersebut
seharusnya memandu kami untuk sampai ke tempat kami berawal
Namun jalan
setapak itu seakan menyihir kami untuk mengayun langkah ke arah yang terasa
asing
Asing dan
samar dengan pepohanan yang seolah kami tak pernah lihat sebelumnya
Dan pada ujung
jalan yang kami telah tempuh, adalah sabana terbuka
Langkah kami
yang terlanjur tersengal, dan udara dingin yang mulai berani menyeruak ke balik
jaket
Mulai
mengacaukan cara kami berpikir, di alam pikiran mulai muncul semacam halusinasi
Halusinasi karena
dipicu rasa takut dan ngeri karena tersasar jauh dari tujuan semula
Entah disadari
atau tidak mulut ini, mulai komat kamit merapal doa yang sebisa mungkin kami
ingat
Di tengah
sengalan nafas, mulut ini juga tak berhenti merapal, mulai dari doa bahkan
akhirnya kami merapal mantra
Berharap bisa
terbang tinggi guna melihat medan dari ketinggian,
Berharap jalan
yang seharusnya kami lalui tampak di pandangan.
Kemana larinya
jalur ku?! Jalur itu sungguh jelas kami tapaki ketika terang
Entah kenapa
saat malam kau menghilang, menguap seolah kau tersusun dari molekul-molekul gas
yang mudah menguap
Nyali ini aku rasakan
semakin menipis, bahkan aku yakin dalam hitungan menit, aku pun mungkin bisa
saja menangis meraung-raung
Berharap tangisan
ku didengar rombongan lain yang kebetulan lewat, atau bahkan didengar Tuhan,
ketika doa yang kami rapal tidak didengarNya..
"sebuah pengalaman pribadi ketika turun dari Puncak Argo Dumilah, Mei 2005 silam"
"sebuah pengalaman pribadi ketika turun dari Puncak Argo Dumilah, Mei 2005 silam"
Komentar
Posting Komentar